NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Aturan Keras di Istana Dingin

Luna mengikuti langkah Bu Rina dari belakang dengan langkah pelan dan ragu. Kakinya rasanya berat banget, seolah ada besi beton yang mengikatnya ke tanah. Di sekelilingnya, pemandangan yang dia lihat rasanya kayak mimpi atau masuk ke dalam istana raja zaman dulu. Lantai marmer putih berkilauan sampai bisa memantulkan bayangan tubuhnya sendiri, dinding-dindingnya tinggi dihiasi lukisan-lukisan mahal yang indah, langit-langitnya tinggi menjulang dengan ornamen ukiran emas, dan di sudut-sudut ruangan ada vas-vas bunga besar yang harganya mungkin bisa buat makan satu desa setahun penuh.

Udara di dalam rumah ini terasa sejuk, dingin, dan wangi wewangian mahal yang lembut. Tapi di balik kemewahan itu, Luna bisa merasakan ketegangan yang tebal banget. Suasana hening, sunyi, nggak ada suara tawa atau obrolan santai kayak di kampungnya dulu atau di warung Bu Yati. Semuanya serba tertib, serba rapi, serba baku. Beberapa pelayan lain yang lewat selalu jalan menunduk, berjalan cepat, wajahnya kaku dan hati-hati banget, seolah-olah satu kesalahan kecil aja bisa bikin mereka hancur seketika.

"Berhenti di sini," suara Bu Rina memecah keheningan, tegas dan dingin. Wanita paruh baya itu berbalik menghadap Luna tepat di depan sebuah pintu kayu besar berukir indah di lantai dua. "Ini kamar kamu. Kecil, sempit, cuma ada kasur dan lemari kecil, tapi cukup buat kamu. Ingat ya, di rumah ini, kamu itu pelayan. Bukan keluarga, bukan tamu, apalagi nyonya. Jadi jangan harap dapat fasilitas mewah kayak Tuan Aditya atau tamu-tamunya."

Luna melongok sebentar ke dalam kamar itu. Memang bener kata Bu Rina, kamarnya sederhana banget, jauh banget bedanya sama kemewahan ruangan lain di rumah itu. Tapi bagi Luna yang biasa tidur di kamar kontrakan beralaskan tanah, kamar ini udah kelihatan bagus banget. Bersih, kering, aman, dan ada kasur empuk.

"Te... terima kasih, Bu," jawab Luna pelan, menunduk hormat.

Bu Rina mendengus pelan, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada tegas dan mengancam. Dia mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari saku roknya, lalu menyodorkan ke arah Luna.

"Dengerin baik-baik ya, ini aturan mutlak di rumah ini, aturan yang dibuat langsung sama Tuan Aditya sendiri. Sekali kamu langgar satu aja, jangan salahkan siapa-siapa kalau kamu diusir, dikirim balik ke penjara, atau dapet hukuman yang jauh lebih parah. Ingat posisi kamu, kamu itu lagi punya hutang nyawa sama Tuan. Kamu ada di sini cuma karena dia berbaik hati ngasih kamu kesempatan bayar pakai tenaga."

Luna menelan ludah susah payah, dia mendekat, matanya menatap Bu Rina lekat-lekat, siap mendengarkan setiap kata yang keluar.

"Pertama," Bu Rina mulai menghitung dengan jari telunjuknya, suaranya berat dan serius. "Jam kerja kamu mulai jam 4 pagi sampai jam 12 malam. Nggak ada hari libur, nggak ada cuti, nggak ada istirahat panjang. Tugas utama kamu: urus semua keperluan pribadi Tuan Aditya. Mulai dari siapin air mandi, siapkan baju, siapin makan, antar dokumen, bersihin ruang kerja, sampai siap panggil kapan pun dia butuh, apa pun itu. Tugas lain: bantu pelayan lain bersihin rumah, nyapu, ngepel, cuci piring, apapun yang disuruh, kamu harus lakuin."

Luna mengangguk pelan, dalam hati dia ngitung. Kerja hampir 20 jam sehari? Itu jauh lebih berat daripada kerja di warung Bu Yati dulu. Tapi dia nggak berani ngeluh. Dia tau dia lagi di posisi lemah. Dia harus terima.

"Kedua," lanjut Bu Rina lagi. "Jangan pernah natap mata Tuan Aditya lebih dari tiga detik. Jangan pernah berani ngomong duluan kalau nggak disuruh. Jangan pernah natap dia kayak natap orang biasa. Dia itu majikanmu, dia itu tuanmu, dia itu rajamu di rumah ini. Kamu harus selalu menunduk, selalu hormat, selalu panggil 'Tuan' di setiap kalimat. Ngerti?"

"Ngerti, Bu..." jawab Luna lirih.

"Ketiga. Dilarang keras masuk ke ruangan tertentu tanpa izin: kamar pribadi Tuan, ruang kerja tertutup, ruang bawah tanah, dan ruang koleksi pribadinya. Dilarang pegang barang-barang milik Tuan, barang-barang antik, lukisan, atau apa pun yang ada di rumah ini selain alat kebersihan. Sekali ada barang hilang atau rusak, kamu yang tanggung jawabnya."

"Keempat. Dilarang ngomong, duduk, atau makan sama pelayan lain atau orang lain sembarangan. Waktu istirahat makan cuma 10 menit pagi, siang, malem. Makanan kamu cuma sisa-sisa atau makanan biasa, jangan harap bisa nyicip makanan mewah di meja makan utama."

"Dan yang paling penting, poin nomor lima..." Bu Rina mendekatkan wajahnya, nadanya makin rendah dan serius banget, seolah mau kasih rahasia paling besar. "Dilarang keras jatuh cinta, atau punya perasaan apa pun sama Tuan Aditya. Jangan pernah mimpi jadi nyonya rumah ini, jangan pernah mimpi dia bakal sayang atau perhatian sama kamu. Dia itu orang yang dingin, kejam, dan nggak pernah peduli sama perasaan orang lain. Kamu cuma pelayan, dia majikan. Garis batas itu harus tegas banget di kepalamu. Kalau sampai ketahuan kamu punya rasa lebih, atau berusaha manja-manja atau minta perhatian... saya jamin, nyawamu nggak bakal selamat di tangan dia."

Dada Luna rasanya sesak banget denger semua aturan itu. Rasanya kayak dia dikurung lagi, dikurung di dalam istana emas tapi penuh jeruji besi. Dia inget lagi kata-kata Ibu Sumi dulu: "Luna, hidup itu penuh ujian. Semakin berat ujiannya, semakin besar kemenangan di akhir nanti." Dia harus kuat. Dia harus jalanin ini semua. Demi kebebasannya, demi mimpinya, demi balas dendamnya.

"Siap, Bu Rina. Saya janji bakal nurut semua aturan itu. Saya bakal kerja keras, saya bakal jaga sikap. Makasih udah diingetin," jawab Luna dengan suara yang berusaha dia tegarin.

Bu Rina mengangguk puas, lalu menyodorkan selembar baju seragam berwarna abu-abu polos sederhana tapi bersih. "Ini seragam kamu. Pakai ini setiap hari. Besok jam 4 pagi tepat kamu udah harus berdiri di depan kamar Tuan, siap antar dia ke kantor. Kalau telat semenit aja... kamu tau sendiri akibatnya. Istirahatlah, besok hidup barumu dimulai."

Setelah Bu Rina pergi dan menutup pintu, Luna langsung jatuh terduduk di pinggir kasur. Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya tumpah lagi. Dia peluk lututnya erat-erat, nangis diam-diam di kamar sunyi itu. Rasanya capek banget, rasanya pengen bangun dari mimpi buruk ini. Tapi dia tau, ini nyata. Ini kenyataan pahit yang harus dia hadapi.

Malam itu Luna nggak bisa tidur nyenyak. Dia terbangun tiap jam, takut kebangunannya telat. Dia terus mikirin gimana besok dia bakal ketemu Aditya lagi, gimana caranya dia ngadepin laki-laki dingin itu.

Dan akhirnya, pagi pun datang. Jam 3 pagi, Luna udah bangun. Dia mandi cepat, pakai seragam barunya, sisir rambutnya rapi ke belakang, cuci muka sampai bersih biar kelihatan segar dan siap kerja. Dia lihat dirinya di cermin kecil di kamarnya. Wajahnya pucat, matanya agak bengkak, tapi kecantikannya tetap bersinar, malah seragam sederhana itu bikin dia kelihatan makin polos dan manis banget.

Jam 4 kurang 10 menit, Luna udah berdiri tegap di depan pintu kamar tidur utama Aditya. Dia menunduk dalam, tangannya menggenggam erat di depan perut, napasnya diatur pelan-pelan biar nggak kedengeran gemetar. Jantungnya berdegup kencang banget, rasanya mau copot aja.

Tepat jam 4 pagi, pintu kamar itu terbuka lebar.

Aditya Pratama keluar. Dia udah rapi banget pake jas kerja berwarna hitam elegan, kemeja putih bersih, dasi rapi, rambutnya disisir klimis. Wajahnya ganteng banget, sempurna, tapi dingin banget kayak patung. Aura berkuasa dan mengintimidasi itu langsung menyebar bikin Luna makin menunduk dalam-dalam, nyaris nggak berani napas.

Aditya berhenti tepat di depan Luna. Dia diam sebentar, menatap cewek itu dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan tajam dan mengawasi. Dia lihat Luna berdiri tegak, sopan, tepat waktu, pakai seragam rapi, menunduk hormat banget.

"Hmm... lumayan," gumam Aditya pelan, nadanya datar banget nggak ada puas atau kecewa. "Tepat waktu. Bagus, itu awal yang bener."

"Se... selamat pagi, Tuan," ucap Luna terbata-bata, suaranya halus banget, hampir bisikan.

Aditya melangkah terus melewati Luna, nggak nengok sedikit pun. "Ikut aku. Bawain berkas-berkas di meja ruang kerja, masukin ke tas kerja aku. Cepat, nggak usah lambat-lambat."

"Siap, Tuan!"

Luna langsung bergerak cepat, mengikuti perintah itu. Dia masuk ke ruang kerja Aditya yang luas, dingin, dan berbau wangi mahal. Dia melihat tumpukan berkas tebal di meja besar itu, mengangkatnya hati-hati banget takut salah pegang atau jatuh, lalu memasukkan satu per satu ke dalam tas kulit mahal yang disuruh. Tangannya gemetar dikit, tapi dia berusaha sekuat tenaga biar tetap mantap.

Sepanjang pagi itu, Luna sibuk banget. Dia harus siapin sarapan di meja makan, menuang air, berdiri di pinggir sambil nunggu perintah, ngambilin apa yang kurang, bersihin piring bekas makan, terus ikut ke depan buat antar sampai ke mobil. Semua dia lakuin dengan cepat, tepat, sopan, dan diam. Dia inget banget aturan Bu Rina: jangan ngomong kalau nggak disuruh, jangan natap mata, jadi bayangan aja.

Tapi meskipun dia udah berusaha sebaik mungkin, Aditya tetep aja nggak pernah puas. Sedikit aja ada yang kurang, dia langsung komentar ketus.

"Ini kopi apa air cucian piring? Pahit banget! Buatin lagi!" bentak Aditya pas pertama kali Luna buatin kopi.

"Maaf, Tuan! Sekarang saya buatin ulang!" Luna langsung ambil cangkir itu, lari dapur dengan napas terengah-engah, takut banget.

Atau pas dia salah taruh sendok di meja makan: "Kamu nggak punya mata apa? Sendok di kanan, garpu di kiri! Dasar kampung, susah diajarin!"

Kata-kata pedas itu menusuk tepat ke hati Luna. Dia sakit banget, dia malu banget, tapi dia nggak boleh bales, nggak boleh nangis, cuma bisa minta maaf dan perbaiki. Dia inget, dia lagi hutang budi, dia lagi hutang nyawa, dia lagi di posisi paling bawah.

Hari-hari berlalu begitu aja. Minggu berganti minggu. Luna menjalani hidupnya kayak robot. Bangun jam 3 pagi, tidur jam 12 malem, kerja terus tanpa henti, dapet omelan, caci maki, kadang diperlakukan kayak barang nggak berharga. Dia sering banget nangis diam-diam di gudang, di belakang pintu, atau di kamar mandi. Capek fisiknya sakit banget, tapi sakit hatinya jauh lebih parah.

Tapi ada satu hal yang nggak disadari sama mereka berdua. Semakin lama Luna ada di sana, semakin sering dia melayani Aditya, semakin sering dia lihat sifat aslinya... Aditya perlahan mulai berubah.

Dia yang tadinya selalu kasar, selalu nyindir, selalu dingin, mulai ada momen-momen aneh. Misalnya pas Luna sakit demam tinggi tapi tetep maksa kerja karena takut dihukum, Aditya nggak marah, malah nyuruh dia istirahat dan suruh dokter datang. Atau pas Luna jatuh keseleo kaki, Aditya diam-diam beliin obat salep mahal dan taruh di meja kamarnya tanpa ada tulisan nama pengirimnya.

Dia sering marah kalau Luna telat, tapi dia juga sering diam-diam nungguin Luna kalau cewek itu lagi jalan pelan karena capek. Dia sering nyindir Luna kampung dan nggak tau apa-apa, tapi dia juga diam-diam seneng lihat ketulusan dan kejujuran Luna yang nggak pernah dia temuin di cewek lain.

Suatu sore, pas cuaca lagi hujan deras banget, petir menyambar-nyambar bikin kaget. Luna lagi ada di ruang kerja, beres-beres berkas yang berantakan karena angin masuk. Aditya duduk di kursi besarnya, natap keluar jendela dengan tatapan kosong dan jauh. Wajahnya kelihatan lebih sedih, lebih pendiam, lebih rapuh daripada biasanya.

Tiba-tiba dia ngomong pelan, nggak natap Luna, cuma ngomong ke arah hujan di luar.

"Kamu tau nggak, Luna... orang-orang kira aku punya segalanya. Uang, kuasa, kemewahan. Semua orang takut sama aku, semua orang mau jadi aku. Padahal..." Aditya diam sebentar, suaranya terdengar jauh banget. "Padahal aku ini cuma orang yang kesepian. Orang yang nggak pernah ngerasain kasih sayang tulus, orang yang dari kecil cuma diajarin buat jadi kuat, jadi dingin, jangan nunjukin perasaan. Aku jadi begini karena lingkungan aku begini. Aku jahat sama orang lain, supaya orang lain nggak sempat jahat sama aku duluan."

Luna yang dari tadi diam menunduk, kaget banget denger pengakuan itu. Ini pertama kalinya Aditya ngomong panjang lebar, ngomongin perasaan, ngomongin sisi lemahnya. Luna beraniin diri angkat muka dikit, natap punggung lebar itu yang kelihatan kaku dan kesepian banget.

Dia sadar sekarang. Di balik wajah dingin, kejam, dan sombong itu... Aditya Pratama ternyata manusia biasa. Manusia yang terluka, manusia yang kesepian, manusia yang nggak tau cara nunjukin kasih sayang.

Perlahan, rasa takut Luna mulai berkurang diganti rasa pengertian dan rasa kasihan. Dia mulai ngerti kenapa Aditya begitu. Dan di sisi lain, Aditya pun mulai sadar... dia mulai nggak bisa hidup tanpa ada Luna di sampingnya. Kehadiran Luna yang tulus, sabar, dan kuat itu perlahan mulai jadi obat buat hatinya yang kesepian.

Benang merah takdir mereka makin erat terjalin. Hutang ratusan juta itu masih ada, tapi rasanya makin lama makin bukan alasan utama mereka tetap bersama. Ada perasaan lain yang tumbuh diam-diam, perasaan indah yang mereka berdua tolak mati-matian tapi makin ditolak makin kuat tumbuhnya.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!