Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
"Tuan muda," ucap Danu dengan raut sedikit prihatin.
"Ayo pulang, Danu."
"Pulang? Tapi, kan-- "
"Lain kali saja. Sekarang, kita pulang."
"Baiklah."
Danu bisa melihat kesedihan yang sedang Wana sembunyikan. Mata merah bekas tangisan masih terlihat walau tidak cukup jelas. Yah ... bagaimanapun, yang paling memahami sulitnya hidup Wana adalah Danu. Pria yang sudah bersama dengan Wana selama belasan tahun itu.
Rahwana benar-benar meninggalkan kediaman orang tuanya tanpa menoleh. Membawa luka hati yang terasa masih sangat jelas. Kepercayaan dirinya kembali runtuh. Kebahagiaan atas pernikahan yang ada di depan mata, sirna seketika.
'Pernikahan ini ... mungkin salah. Aku tidak layak untuk bersama dengannya,' kata Wana dalam hati sambil terus melamun.
'Mama benar. Aku bukan pilihan yang bisa Sinta pilih. Gadis secantik dia, mana mungkin cocok dengan lelaki buruk rupa ini. Itu sama saja dengan dia yang menjatuhkan diri ke jurang tanpa dasar. Menyeret hidupnya ke lembah kehancuran.'
"Danu."
"Ya, tuan muda."
"Cari waktu untuk bertemu Sinta dalam waktu dekat. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Ba-- baik, tuan muda. Saya akan atur nanti."
Sementara itu, di kediaman Hermawan. Obrolan Sinta dan nyonya Hermawan masih terus berlanjut. Sayang saja Wana pergi lebih cepat. Jika tidak, dia akan mendengarkan jawaban Sinta yang benar-benar sudah bulat dalam memilih dia.
"Perbandingan apa yang tante maksudkan? Aku tidak merasa kalau kak Wana adalah pilihan yang salah, Tante."
"Gini deh, Sinta. Kamu tahu seperti apa Wana, bukan? Fisiknya, kamu tidak pernah melihat sebelumnya. Bagaimana jika saat kamu melihat, kamu akan merasa takut."
"Sinta. Tante tahu kamu kesal dengan ulah Rama. Tapi, jangan jerumuskan dirimu ke lemah kehancuran, Nak. Pilihan yang kamu buat, jangan sampai membuatnya hidup dalam kesengsaraan, Sinta."
"Tante. Jangan bicara begitu. Pilihan ku tidak salah. Jika fisik yang akan jadi perbandingan, aku jadi keberatan. Karena aku tidak perduli dengan fisik seseorang. Iya ... tidak sepenuhnya aku tidak perduli. Hanya saja, aku lebih memilih hidup dengan hati yang tenang dari pada hidup dengan hati yang luka."
"Kak Wana tidak sepenuhnya buruk. Dia mungkin punya fisik yang tidak sempurna. Tapi aku yakin, hatinya luar biasa. Aku percaya, kalau dia tidak akan pernah mendua. Karena sepertinya, dia orangnya tidak mudah untuk berpaling, berpindah hati. Dan juga tidak akan mudah tergoda dengan kehadiran orang baru."
Mata nyonya Hermawan menatap lekat Sinta. "Sinta, kamu yakin?"
"Aku sangat yakin, Tante. Pilihan yang telah aku buat, tidak akan aku ubah. Aku tetap memilih kak Wana untuk menjadi suamiku."
"Baiklah kalau gitu. Tante hanya bisa berharap satu hal padamu, semoga saja kamu tidak menyesal dengan apa yang telah kamu pilih, Sinta. Karena saat sudah menikah, penyesalan itu sudah terlambat."
"Ah iya. Jika kamu tidak mau, sebenarnya, kamu tidak perlu memilih Rama atau Wana, Sin. Pernikahan keluarga ini masih bisa kita batalkan. Jangan persulit dirimu dengan pernikahan keluarga yang telah sama-sama disepakati ini. Karena sebenarnya, pernikahan keluarga ini bertujuan untuk membuat anak-anak bahagia. Bukan untuk memberatkan generasi muda kedua keluarga."
Sinta tersenyum lebar. Penjelasan panjang lebar yang nyonya Hermawan ucapkan membuat hatinya sedikit bahagia. Dan, dia juga tahu kalau kedua orang tuanya juga tidak keberatan jika perjanjian pernikahan itu langsung dibatalkan saja tanpa harus memilih untuk menikah salah satu dari penerus keluarga tersebut.
Tapi tidak. Sinta tetap ingin menikah. Bukan karena terpaksa. Melainkan, karena hatinya memang ingin. Entah karena apa, hatinya sangat tertarik pada Wana. Bukan karena rasa cinta yang telah tumbuh. Karena untuk saat ini, cinta itu masih belum ada. Atau mungkin sudah ada, tapi Sinta saja yang masih belum bisa menyadari akan keberadaan dari cinta tersebut.
Singkatnya, gadis itu tetap ingin menikah dengan Rahwana. Pria buruk rupa yang mungkin tersisihkan dari pandangan mata semua orang. Yang tidak dianggap ada, atau lebih tepatnya, yang dianggap sebagai makhluk tidak bernyawa di keluarga Hermawan.
"Tante. Aku memilih kak Wana bukan karena aku tidak punya pilihan lain selain menikah. Aku memilih dia, karena hatiku yang menginginkannya. Bukan karena terpaksa. Melainkan, karena aku suka."
"Suka? Kamu suka Rahwana, Sinta? Ba-- bagaimana bisa? Anak sulung keluarga Hermawan itu kan ... buruk rupa. Bagaimana kamu .... "
"Tante. Bukankah aku susah bilang sebelumnya. Fisik tidak menjamin hati tidak suka, bukan? Meskipun fisik penting, tapi rasa tertarik bukan cuma hanya karena fisik saja. Masih banyak hal yang lainnya lagi yang bisa dijadikan pertimbangan untuk membangun rasa ketertarikan pada seseorang."
Tatapan mata nyonya Hermawan kembali terpaku pada Sinta. Hembusan napas berat nan panjang wanita itu lepaskan.
"Heh ... baiklah kalau itu yang kamu katakan. Tante akan mencoba untuk yakin dengan pilihan mu, Sinta. Besar harapan tante, setelah menikah, kamu tidak akan menyesal. Tidak akan membuat hati Wana terluka. Bagaimanapun, dia adalah anak tante. Seburuk apapun fisiknya, tetap saja dia manusia yang punya hati."
Pada dasarnya, nyonya Hermawan tetaplah seorang ibu. Ibu yang masih memikirkan perasaan anaknya. Hanya saja, terkadang, caranya untuk melindungi sedikit berbeda. Buktinya saja sekarang. Ternyata yang dia takutkan tetaplah luka hati anak pertamanya itu.
Dia takut Sinta akan menyesal setelah menikah. Lalu, penyesalan itu akan membuat hati anaknya terluka. Dia takut hidup anaknya akan sengsara.
Sinta pun tersenyum manis.
"Percayalah, tante. Aku bukan tipe orang yang langsung menyesal setelah membuat pilihan. Lagian, aku juga masih punya hati nurani. Tidak akan mengecewakan tante dengan apa yang telah aku pilih."
"Hah ... baiklah. Tante percaya kamu. Pernikahan akan tetap kita lanjut sesuai tanggal, bukan?"
"Hm." Sinta berucap sambil mengangguk mantap. "Tentu saja. Pernikahan tidak akan berubah."
"Baiklah kalau begitu, persiapannya akan terus dilanjutkan."
"Hm."
Pertemuan itu akhirnya berakhir. Keputusan yang Sinta ambil, tetap tidak tergoyahkan. Dia tetap ingin melanjutkan pernikahannya dengan Wana.
Sementara itu, di sisi lain, Danu sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan Sinta dengan Wana. Seperti yang Wana inginkan, Danu akan mengaturnya dengan sangat baik.
Keesokan harinya, Danu datang ke kediaman Wijaya untuk menemui Sinta. Saat dia datang, Sinta sedang menyiram bunga di depan rumahnya.
"Danu. Ada apa?"
"Nona Sinta, bisa ke cafe Cemara jam tiga sore nanti?"
"Cafe Cemara? Kenapa ke sana?"
"Tuan muda ingin bertemu."
"Kak Awan? Kenapa tidak langsung datang ke rumah ku saja jika ingin bertemu?"
Danu langsung tersenyum kecil.
"Nona muda, tuan muda ku sedikit berbeda. Dia akan membutuhkan banyak waktu untuk menyesuaikan diri. Jadi, tidak mudah untuk bertamu jika ia belum terbiasa dengan lingkungan itu."
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️