Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terperangkap di Mansion Mewah
"Lepaskan aku, Xavier! Lepaskan!" Eli menjerit histeris, tubuhnya meronta-ronta di dalam dekapan kekar sang CEO. Air matanya mengalir deras membasahi kemeja hitam yang dikenakan pria itu. Namun, sekeras apa pun Eli berjuang, lengan Xavier yang melingkar di pinggangnya terasa seperti borgol besi yang mustahil untuk dipatahkan.
Di depan matanya, pintu kamar terbuka paksa. Dua pengawal berjas hitam melangkah keluar sambil menggendong Kenji dan Kiana. Kiana menangis ketakutan sambil mengulurkan tangan kecilnya ke arah Eli, sedangkan Kenji diam dengan wajah menegang, matanya menatap tajam ke arah Xavier dengan kilatan permusuhan yang sangat kentara.
"Ibu! Ibu!" tangis Kiana pecah, membelah keheningan malam yang mencekam.
"Jangan sentuh adikku! Lepaskan!" teriak Kenji, mencoba memukul pundak pengawal yang menggendongnya.
Hati Eli hancur berkeping-keping mendengar jeritan anak-anaknya. "Xavier, aku mohon... jangan sakiti mereka. Ambil saja aku, tapi tolong biarkan anak-anakku pergi!" ratap Eli, suaranya parau karena putus asa. Dia bahkan tidak sadar telah memanggil nama pria itu secara langsung.
Xavier tidak memperedulikan rona ketakutan di wajah Eli. Dengan gerakan cepat dan efisien, dia mengangkat tubuh mungil Eli ke dalam gendongannya, mengabaikan pukulan-pukulan lemah yang mendarat di dada bidangnya. Xavier melangkah keluar dari kontrakan sempit itu dengan langkah tegap, membiarkan rumah batako itu tetap terbuka di belakang mereka.
Mereka dimasukkan ke dalam mobil Rolls-Royce hitam yang sangat mewah. Kiana dan Kenji sudah berada di kursi tengah bersama seorang pelayan wanita paruh baya yang terus berusaha menenangkan mereka. Begitu Eli didudukkan di samping Xavier di kursi belakang, dia langsung merosot ke lantai mobil, memeluk erat kedua anaknya yang langsung menghambur ke pelukannya.
"Ibu di sini, Nak. Ibu di sini, jangan takut," bisik Eli berulang kali, menciumi puncak kepala Kenji dan Kiana sambil terisak.
Di sudut kursi yang gelap, Xavier memperhatikan interaksi itu dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Ada secercah rasa aneh yang menggelitik hatinya saat melihat bagaimana kedua anak itu begitu bergantung pada Eli. Namun, keangkuhan dan ego seorang Arisatya dengan cepat menutupi rasa itu. Bagi Xavier, yang paling penting adalah darah dagingnya kini telah kembali ke tempat yang seharusnya.
Iring-iringan mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi, menuju ke kawasan elite di perbukitan kota. Setelah perjalanan selama hampir satu jam yang menyiksa batin Eli, mobil akhirnya melambat dan melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat. Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik yang berdiri angkuh di atas lahan seluas beberapa hektar.
Pintu mobil dibuka dari luar. Xavier turun terlebih dahulu, lalu berbalik menatap Eli yang masih mendekap erat kedua anaknya di dalam mobil.
"Turun," perintah Xavier dingin. "Atau aku akan menyuruh orang-orangku memisahkanmu dari mereka sekarang juga."
Ancaman itu bekerja dengan instan. Dengan tubuh yang masih lemas, Eli melangkah turun sambil menggandeng erat tangan Kenji dan Kiana. Mereka berdua berjalan di bawah bayang-bayang tubuh jangkung Xavier, memasuki lobi mansion yang sangat luas dengan lantai marmer mengkilap dan lampu gantung kristal yang berkilauan mewah. Tempat ini terlalu megah, sangat kontras dengan kontrakan batako mereka yang baru saja ditinggalkan beberapa jam lalu.
Xavier menghentikan langkahnya di tengah lobi, membalikkan badan menghadap Eli. "Daniel akan mengantar anak-anak ke kamar mereka. Kamar yang sudah disiapkan khusus dengan fasilitas terbaik yang tidak akan pernah bisa kamu berikan selama enam tahun ini," ucap Xavier, nadanya menyindir dengan kejam.
"Aku tidak mau berpisah dengan anak-anakku!" tegas Eli, mencoba menutupi rasa takutnya dengan keberanian seorang ibu.
Xavier melangkah maju satu langkah, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Eli. Aura posesifnya yang pekat kembali menekan Eli hingga wanita itu menahan napas. "Kamu tidak punya hak untuk menawar di rumah ini, Eli. Anak-anak butuh istirahat di kamar yang layak. Sedangkan kamu... ikut aku ke ruang kerja. Kita punya urusan yang belum selesai dari enam tahun lalu."
Kenji menatap Xavier dengan berani, mencoba berdiri di depan ibunya lagi. Namun, Eli dengan cepat menahan putranya. Dia tahu, melawan monster seperti Xavier di sarangnya sendiri hanya akan membawa petaka. Eli berlutut, menatap lekat mata kedua anaknya.
"Kenji, bawa adikmu ikut paman Daniel dulu, ya? Ibu ada urusan sebentar dengan... Paman ini. Ibu janji akan langsung menemui kalian setelah ini," bisik Eli, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin meski hatinya berdarah.
Kenji menatap ibunya lama, lalu melirik Xavier dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Daniel dengan sangat sopan menuntun kedua anak kembar itu menaiki tangga megah menuju lantai atas.
Setelah punggung anak-anaknya menghilang di belokan tangga, Eli berdiri dan berbalik menatap Xavier. Matanya yang sembap kini memancarkan kilatan emosi yang campur aduk. "Sekarang kita hanya berdua. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Xavier Arisatya?"
Xavier tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sarat akan dominasi. Dia mencengkeram pergelangan tangan Eli dengan lembut namun tegas, lalu menariknya menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di lorong gelap. "Aku menginginkan banyak hal, Eli. Dan malam ini, kamu akan menandatangani kontrak yang akan mengikatmu denganku seumur hidupmu."