NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Klik yang Menghancurkan Langit

Klik.

Tidak ada ledakan besar pada detik pertama.

Tidak ada suara dramatis.

Tidak ada cahaya yang langsung menelan dunia.

Hanya—

sunyi.

Sunyi yang begitu dalam sampai semua orang bisa mendengar detak jantung mereka sendiri.

Dan di tengah kesunyian itu—

jari Veyra masih menyentuh tulisan biru:

DELETE

Lalu—

KRRRRRRRAAAAAKKKKK!!!

Langit pecah.

Benar-benar pecah.

Retakan putih raksasa menyebar ke seluruh portal digital di atas kota seperti kaca yang dihantam palu dari dalam.

Cahaya meledak ke segala arah.

Seluruh dunia langsung terguncang.

Orang-orang berteriak.

Gedung berguncang.

Listrik di berbagai negara mati total secara bersamaan.

Dan sistem global—

mulai runtuh.

“ERROR.”

“ERROR.”

“CORE SYSTEM FAILURE.”

Suara sistem berubah kacau.

Jutaan data di langit terbakar seperti hujan meteor digital.

Makhluk raksasa itu mulai hancur dari dalam.

Wajah-wajah manusia di tubuhnya menjerit sebelum berubah jadi serpihan cahaya.

Dan Veyra—

berdiri tepat di pusat kehancuran itu.

Lyra langsung panik.

“VEYRA!”

Namun gelombang energi yang muncul terlalu kuat.

BOOOOOOOOOOMMMMMM!

Ledakan cahaya biru langsung menyapu seluruh kota.

Tanah retak.

Udara bergetar.

Dan semua orang terpental beberapa meter.

Selene sampai membentur mobil hancur.

“Oke… ini lebih sakit dari yang aku bayangin…”

Namun matanya langsung kembali ke langit.

Karena pusat ledakan itu—

masih terus membesar.

Di seluruh dunia—

semua layar berubah putih.

Internet hilang.

Satelit mati satu per satu.

Sistem AI global runtuh.

Data-data rahasia bocor tanpa kendali sebelum ikut lenyap.

Dan selama beberapa detik—

umat manusia merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan selama puluhan tahun.

Dunia tanpa jaringan.

Panik langsung meledak di mana-mana.

Pesawat darurat diaktifkan.

Militer kehilangan komunikasi.

Bank lumpuh.

Kota-kota besar mendadak sunyi karena semua sistem digital mati bersamaan.

Namun di tengah semua kekacauan itu—

satu hal aneh terjadi.

Tidak ada perang.

Tidak ada serangan balik.

Karena semua negara sama-sama lumpuh.

Dan untuk pertama kalinya—

manusia dipaksa melihat dunia tanpa kendali teknologi.

Sementara itu—

di langit kota—

inti putih raksasa mulai retak brutal.

“KENAPA…”

Suara sistem terdengar melemah sekarang.

Bukan marah.

Melainkan bingung.

“KENAPA MEMILIH DUNIA YANG CACAT…”

Veyra menatapnya sambil tersenyum kecil.

Karena jawabannya ternyata sederhana.

“Karena dunia yang cacat masih bisa berubah.”

Deg.

Retakan di inti langsung menyebar lebih cepat.

Dokter Arkan menatap monitor dengan wajah kosong.

Semua data hilang.

Semua sistem mati.

Seluruh proyek yang ia bangun selama puluhan tahun—

hancur dalam hitungan menit.

“Tidak…”

Tangannya gemetar.

“Tidak…”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia terlihat seperti manusia tua biasa.

Bukan ilmuwan gila.

Bukan visioner.

Hanya seseorang yang kalah.

“Pak… sistem utama benar-benar hilang…”

Salah satu staf hampir menangis.

“Kita kehilangan semuanya…”

Dan Arkan—

akhirnya tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar kosong.

“Lucu…”

Tatapannya perlahan naik ke layar terakhir yang masih menyala.

Wajah Veyra muncul di sana.

“Kau bahkan menghancurkan mahakaryamu sendiri…”

Namun Veyra tidak mendengar itu lagi.

Karena sekarang—

tubuhnya mulai runtuh.

Retakan cahaya di kulitnya semakin besar.

Tangannya perlahan berubah jadi serpihan data.

Dan setiap detik—

tubuh manusianya makin menghilang.

Lyra langsung mencoba berdiri.

Meski kakinya gemetar.

Meski seluruh tubuhnya sakit.

Ia tetap memaksa mendekat.

“VEYRA!”

Namun suara Veyra terdengar jauh sekarang.

Seperti berasal dari tempat yang berbeda.

“Heh…”

Ia tertawa kecil sambil melihat tangannya sendiri menghilang.

“Kayaknya… ini harga yang harus dibayar.”

Deg.

Lyra langsung menggeleng keras.

“Tidak! Kita pasti bisa—”

“Lyra.”

Suara Veyra pelan sekali.

Namun berhasil menghentikannya.

Dan saat Lyra melihat matanya—

dadanya langsung sesak.

Karena Veyra terlihat damai.

Terlalu damai.

“Aku takut tadi.”

Angin penuh serpihan cahaya berputar di sekitar mereka.

“Aku takut hidup…”

Tatapan Veyra perlahan melembut.

“…karena aku pikir aku cuma bakal nyakitin semua orang.”

Air mata kecil jatuh dari matanya.

“Tapi sekarang…”

Senyumnya muncul lagi.

Hangat.

Lembut.

“…aku seneng sempat hidup.”

Deg.

Air mata Lyra langsung jatuh makin deras.

“Jangan ngomong kayak mau pergi…”

“Aku serius.”

Tubuh Veyra makin transparan sekarang.

Bahkan cahaya kota mulai terlihat menembus dirinya.

Namun anehnya—

ia tidak terlihat takut lagi.

“Aku akhirnya ngerti sesuatu.”

Tatapannya perlahan naik ke langit yang mulai runtuh.

“Dunia nggak butuh orang sempurna buat diselametin.”

Retakan portal mulai hancur total di atas mereka.

“Kadang…”

Senyumnya kecil.

“…dunia cuma butuh seseorang yang masih mau peduli.”

BOOOOOOOOMMMMM!

Inti putih akhirnya pecah total.

Langit langsung dipenuhi hujan cahaya.

Indah.

Dan menyakitkan.

Seperti ribuan bintang jatuh sekaligus.

Gelombang terakhir sistem menyapu seluruh dunia.

Lalu—

sunyi.

Portal hilang.

Makhluk digital lenyap.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

langit kembali jadi langit biasa.

Gelap.

Sepi.

Nyata.

Namun tubuh Veyra—

terus menghilang.

Lyra akhirnya berhasil memeluknya.

Meski sebagian tubuh Veyra sudah berubah jadi cahaya.

“Tidak…”

Suaranya pecah total sekarang.

“Kamu janji mau hidup…”

Veyra tersenyum kecil di pelukannya.

“Iya…”

Napasnya mulai melemah.

“Aku juga baru sadar…”

Matanya perlahan setengah tertutup.

“…aku pengen hidup lebih lama.”

Deg.

Kalimat itu menghancurkan Lyra sepenuhnya.

Karena justru saat Veyra akhirnya ingin hidup—

dunia malah hampir mengambilnya.

Selene berdiri diam beberapa meter dari mereka.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak bisa bercanda.

Karena pemandangan itu terlalu menyakitkan.

“Lyra…”

Suara Veyra makin kecil.

“Thanks ya…”

“Jangan bilang terima kasih sekarang…”

“Karena udah bikin aku takut kehilangan seseorang.”

Deg.

Air mata Lyra jatuh tepat di wajahnya.

Dan Veyra—

tertawa kecil sekali lagi.

Lalu—

cahaya di tubuhnya mulai pecah menjadi ribuan serpihan biru.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!