NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 - Tiga Pangeran Kaelros

Putri Jovienne baru saja berulang tahun yang ke-delapan belas.

Aku sedikit iri menyadari betapa muda usia gadis ini.

Baru delapan belas tahun dan dia punya hampir segalanya. Kekayaan, yah tentu saja. Wajah yang cantik, tidak perlu polesan make up. Kulitnya memang sedikit terbakar matahari, tapi ia bersinar sehat, eksotis. Lalu tubuh yang body goals seperti para influencer diet dan kebugaran. Bahkan, anak ini punya abs yang terbentuk dengan sempurna, yang dia pamerkan begitu saja. Ini adalah fakta yang belakangan aku pelajari; orang-orang di sini tampak nyaman memamerkan kulit mereka, bahkan para bangsawan dan keluarga kerajaan sekalipun. Mungkin karena suhu yang relatif selalu hangat di negara ini. Yah, mereka punya badan dan kulit yang bagus, kalau jadi mereka aku juga akan pamer.

Kembali ke Jovienne, biarpun emosinya suka meledak-ledak (khas remaja puber) gadis itu dipuja dan dicintai rakyatnya. Para pelayan sering mengeluhkan kelakuannya, tapi mereka berujar dengan hela napas dan senyum penuh afeksi. Lalu, gadis ini memiliki orang tua yang sangat memanjakannya. Raja dan Ratu Solmara adalah pasangan harmonis (yang kadang-kadang aku geli sendiri melihat mereka bermesraan).

Singkatnya, anak ini punya segalanya.

Aku tidak akan heran kalau ternyata dia pemeran utama wanita.

Atau, mungkin karena ini dunia isekai, jadi semuanya harus sempurna.

Tidak tahulah.

Jovienne, entah kenapa, jadi sering merajuk menjelang perayaan ulang tahunnya. Seperti bocah yang sering tantrum. Mau tak mau mengingatkanku pada hari pertamaku di sini.

Hujan belati itu, untungnya, tidak lagi terjadi di kamar. Tapi, kadang-kadang aku menyaksikan sejumlah prajurit yang terkapar ketakutan di arena latihan, entah kengerian apa yang sudah diakibatkan Jovienne pada jiwa-jiwa malang itu.

Belakangan aku baru tahu penyebab mood jelek Tuan Putri adalah karena ia harus tinggal di Kaelros setelah usianya delapan belas.

Perjodohan dengan Pangeran Havren itu rupanya sungguhan. Meski pernikahan tidak akan dilangsungkan dalam waktu dekat, dan meski Havren bukanlah pewaris tahta, Jovienne sebagai calon istri pangeran dituntut mempelajari dan membiasakan diri dengan budaya dan keseharian Kaelros.

Ada pertengkaran hebat di malam sebelum keberangkatan (lebih tepatnya Jovienne kembali mengamuk, dan semua orang hanya menghela napas membiarkannya, sudah terlalu lelah untuk menanggapi).

“Seharusnya DIA yang datang ke sini dan belajar budaya Solmara! Aku pewaris tahta, seharusnya dia yang bergabung dengan Keluarga Argena!!”

Sejujurnya, aku sempat sepakat dan mendukung protesan Jovienne—all hail women supremacy!!

Tapi, mengingat Kaelros berbentuk Kekaisaran dengan wilayah kekuasaan raksasa, tampaknya tuntutan Jovienne memang hanya akan jadi bahan tertawaan. Solmara sendiri adalah negara yang subur dan tangguh, namun, menentang Kaelros bukanlah pilihan bijak.

Mungkin gara-gara malam sebelumnya habis mengamuk, dalam perjalanan menuju Kaelros, Jovienne jadi pendiam. Di beberapa hari awal perjalanan, gadis itu hanya menatap keluar jendela, seolah ingin mematri pemandangan familiar untuk terakhir kalinya.

Sementara itu, nyaris di sepanjang perjalanan kuhabiskan dengan tidur. Sampai bosan.

Kenapa? Biar kuberitahu, satu hal yang menyebalkan di sini: transportasinya masih terbelakang!

Satu-satunya moda yang tersedia adalah kereta kuda!

Dari Solmara menuju ibu kota Kaelros saja butuh waktu tiga minggu! Tidak ada kereta, apalagi pesawat!

Aku sempat berharap ada hewan sihir untuk dijadikan transportasi udara, misalnya. Tapi sepertinya, tempat ini bukan dunia yang seperti itu.

Solmara memiliki transportasi laut paling mumpuni, aku dengar sih begitu. Sayangnya, jalur menuju Valtheris, ibu kota Kaelros, tidak bisa sepenuhnya diakses lewat laut.

Keluar dari ibu kota Azharis, kami bergerak menjauhi garis pantai, melewati padang pasir kecil—kabarnya ada padang pasir lebih besar di sisi sebelah barat. Setelah melewati savannah yang membatasi wilayah Solmara dengan Kaelros, kami masuk melalui kota pelabuhan Corvayne, dan melewati kota pusat perdagangan Eldmere.

Terkadang kami berhenti di penginapan, kadang kala juga kami tidur di dalam karavan atau membuat tenda.

Sungguh perjuangan!

Semakin dekat dengan ibu kota Kaelros, wajah Jovienne semakin masam. Mata cokelatnya berkilat dan bibirnya terus-terusan menekuk turun. Yang menyebalkan adalah, gadis itu seperti tiba-tiba punya lem perekat dan tidak mau melepasku dari pangkuannya.

Bukannya aku sama sekali tidak suka dipeluk, hanya yah… aku masih belum terbiasa dengan ketiadaan personal space ini.

“Mereka menyebutnya mempelajari budaya, huh, aku tahu mereka hanya ingin mengkritisi sifatku. Mereka kira mereka siapa, mau mengerdilkan nilai turun-temurun Solmara!” Jovienne menggerutu sambil menghela napas panjang.

“Kalau aku membangkang dan melarikan diri, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Gadis itu terlihat sendu.

Mendengar kata-katanya, kejadian tragis di Solmara kembali melintas di benakku.

Apa jangan-jangan semua itu terjadi karena Jovienne menolak perjodohan?

Masa sih….

Aku mengeong pelan dan menaruh tanganku di wajah gadis itu. Kuharap ia mengerti bahwa aku menentang idenya untuk melarikan diri.

Jangan gegabah, anak muda.

Menikahi Havren adalah pilihan terbaik.

...*...

...*...

...*...

Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami tiba di Valtheris, Ibu Kota Kaelros.

Tempat ini sesuai gambaran di dalam game. Akan tetapi, melihat langsung seperti ini sungguh berbeda. Kota itu megah. Ramai. Jalanan besar membelah kota dengan bangunan-bangunan mewah. Jembatan lengkung yang indah melintasi sungai yang jernih. Ada patung besar di alun-alun kota, dikelilingi air mancur yang dijadikan tempat bermain anak-anak. Aku tidak tahu patung siapa itu, mungkin raja pendiri Kaelros.

Lalu, bahkan dari perbatasan kota, istana Astryion sudah terlihat jelas. Ia seperti mahkota raksasa yang menjulang permanen. Menara-menaranya yang tinggi seolah menghunus langit. Puncaknya runcing berkelip memantulkan sinar matahari, membuat tampak semakin megah, melengkapi dinding-dinding batu putih.

Semakin mendekati istana, aku semakin dibuat terpana.

Setelah melewati benteng dan gerbang besar, di tengah pekarangan yang luas, terdapat patung naga. Moncongnya terbuka seolah siap menyemburkan api.

Melihat patung ini di malam hari pasti menyeramkan sekali.

Bagian ini rasanya tidak ada dalam game.

Aku tidak pernah melihat naga langsung, tapi patung ini besaaaarrr sekali. Begitu melewati gerbang, dia yang pertama kali dilihat. Matanya tajam dan bersinar seolah hidup. Menjulang melebihi gerbang.

Apa ini ukuran asli?

“Patut kuakui, patung naga itu selalu terlihat mengagumkan.” Jovienne berkomentar, ikut melongok dari jendela karavan.

“Kau tahu, Lumi, kabarnya itu bukan ukuran asli Thaelgor sewaktu Kaelros berdiri, tapi ukurannya saat remaja sewaktu pertama kali bertemu Raja Othrynn.” Seakan membaca pikiranku, Jovienne menjelaskan.

Hah!

Ukuran remaja?

Gila!

Aku tidak tahu Kaelros ternyata memiliki naga.

Apa naga adalah transportasi udara kekaisaran besar ini?

Setelah turun dari karavan, kami langsung dibawa ke aula utama—ruang singgasana?

Sangat mendebarkan!

Padahal yang mau bertemu calon tunangan adalah Jovienne, tapi aku ikut gugup. Terlalu gugup sampai aku tidak sempat mengagumi kemegahan istana itu lebih jauh.

Kami tiba di sana sore hari. Posisi matahari yang masuk lewat jendela tinggi membentuk garis sinar oranye hangat. Seperti cahaya dari surga, tepat menyinari singgasana. Tidak berniat puitis, tapi matahari di sini berbeda dengan di Solmara. Warna jingga yang jatuh terlihat lembut, sedikit sendu di antara kelip sinarnya.

Aku sama sekali tidak memperhatikan ada siapa saja di ruangan. Tidak juga menaruh perhatian pada kaisar yang sedang mengucapkan sambutan.

Sejak memasuki aula utama aku dititipkan pada Sharla, pelayan kepercayaan Jovienne, sementara putri kerajaan Solmara itu maju seorang diri untuk menyampaikan salam dan penyerahan hadiah. Dari Solmara, ada menteri diplomasi yang menemani, tapi pria itu sepertinya memberikan kepercayaan penuh pada tuan putri mereka.

Di waktu lain, aku mungkin akan mengagumi pembawaan gadis majikanku itu, yang terlihat percaya diri dan tampak tidak gentar di hadapan Kaisar Kaelros (siapa ya namanya aku tidak tahu?). Apa boleh buat di waktu itu, perhatianku tak bisa dialihkan dari keberadaan tiga sosok mempesona di samping Kaisar.

Tiga pangeran Kaelros!

Akhirnya aku bertemu mereka!!

KYAAAAAHHHHHHH!!!!!

Sungguh kalau tidak sadar diri ini adalah prosesi formal dan sangat penting untuk Jovienne, aku ingin menjerit dan melompat-lompat histeris.

Demi Dewa Dewi alam semesta sejagat raya!!!!

Seberapapun menawannya grafis otome game itu, sama sekali tidak mewakili ketampanan tiga pemuda ini!!!!!

NYYAAAAAAAAAAAAHHH!!

Rambut emas Caelian terlihat sangat lembut, berkilau, seperti mahkota. Benar-benar tampan seperti pangeran di dongeng. Keberadaannya benar-benar menjeritkan posisi pewaris tahta!

Raien sangat tinggi, besar menjulang dan teramat kokoh. Garis wajahnya begitu tegas dan terlihat mengancam biarpun dia hanya berdiri diam. Bahkan dengan pakaian formal dan plat baja pelindung itu pun ototnya tidak bisa disembunyikan!

Lalu Havren, Havren yang manis, Havren dengan mata besar dan senyum secerah matahari pagi. Rambut keperakan yang menjuntai melewati bahu itu membuat wajahnya terlihat ethereal. Seperti peri, seperti makhluk dari—

Eh, sebentar.

Setelah dilihat baik-baik, aku baru sadar…. Havren terlihat begitu muda.

Sangat muda, malah!!

Dia memang pangeran bungsu dan jelas lebih muda dari Caelian dan Raien, tapi, TAPI! Tidak kukira dia semuda ini!!!????

Dia seperti masih remaja….

Haa….

Bocah.

Apa ini salah satu alasan Jovienne ngamuk-ngamuk sewaktu tahu dijodohkan dengan Havren?

Hmm, tapi sepertinya usia mereka tidak terpaut jauh. Havren tidak se-muda itu. Hanya, yah… muda.

Sebenarnya Jovienne sendiri juga masih anak-anak.

Sungguh iri sekali bocah-bocah ini sudah punya jodoh masing-masing. Sementara aku? Cuma bisa jadi mak comblang.

Oh!

Havren melihat ke arahku.

Dia tersenyum!

Aaaaaa terlalu menggemaskan!!!

"Myaaw~"

Ups.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!