NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Langkah kaki Maximilian Valerio terasa begitu berat saat menapak lantai keramik ruang kelas bisnis.

Di sampingnya, Carter dan Demon terus mengekor dengan wajah yang masih dipenuhi sisa-sisa keterkejutan dari insiden di pelataran parkir tadi.

Atmosfer di dalam kelas yang mulai ramai oleh mahasiswa lain seolah tidak mampu meredam ketegangan yang menguar dari tubuh tegap Max.

Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya di kursi barisan belakang, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap kosong ke arah papan tulis.

"Sumpah, Max... lo bener-bener dalam bahaya besar, Bro," bisik Carter setengah berteriak sembari menarik kursinya agar lebih dekat dengan meja Max. Wajahnya tampak luar biasa cemas.

"Bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal sekasar dan sememalukan itu di depan kami? Dia menuduh lo melakukan hal gila dengan fotonya!"

Demon ikut duduk di sisi lain Max, melipat tangannya di atas meja dengan raut wajah yang sama seriusnya. "Gue tahu lo bener-bener nggk sengaja soal menyukai fotonya semalam, atau soal pembicaraan mobil tadi. Tapi Yara... dia benar-benar mengira lo adalah pria mesum yang terobsesi padanya. Lo harus hati-hati, Max. Wanita seperti dia bisa menghancurkan reputasimu dalam sekejap di kampus ini."

Max tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh gelombang amarah dan harga diri yang koyak.

Di sepanjang dua puluh tahun usianya, hidup sebagai putra mahkota keluarga Valerio yang terpandang, dia selalu dikelilingi oleh rasa hormat, pujian, dan kepatuhan.

Belum pernah ada satu orang pun, terlebih seorang wanita, yang berani menghinanya dengan kata-kata serendah itu. Dan kini, Amieyara Walker telah melakukannya dua hari berturut-turut—merobek martabatnya tanpa ampun di depan umum.

Kau salah memilih lawan, Yara, batin Max, cengkeraman tangannya pada pulpen di atas meja semakin mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Keheningan Max bukanlah tanda bahwa dia menyerah, melainkan tanda bahwa sang elang sedang mengasah cakarnya, bersiap untuk pembalasan yang jauh lebih dingin.

Sementara itu, di belahan gedung yang lain, atmosfer yang tak kalah mencekam tengah menyelimuti ruang kelas Lain di Fakultas Bisnis.

Amieyara Walker baru saja menyelesaikan persiapan materi di meja dosen ketika pintu kelas terbuka dengan dentuman yang sengaja dikeras-keraskan.

Seorang gadis muda melangkah masuk dengan gaya yang terkesan manja namun sarat akan keangkuhan.

Dia mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala hingga ujung kaki, memamerkan tas jinjing keluaran terbaru yang sengaja digantungkan di lengannya. Gadis itu adalah Cinmocha Walker, atau yang biasa dipanggil Caca. Adik tiri Yara, anak sah dari pernikahan ayahnya dengan Nyonya Melano Walker.

Caca berjalan melewati barisan kursi mahasiswa dengan dagu yang terangkat tinggi. Dia adalah tipe gadis yang akan merasa sangat puas dan bahagia jika mendengar nama Yara dibicarakan secara buruk oleh seluruh mahasiswa di kampus ini. Dialah dalang, muara dari segala racun yang selama ini mengotori nama baik kakak Tirinya.

Selama ini, Caca yang menyebarkan rumor gila bahwa Yara hanyalah simpanan dari kolega bisnis ayah mereka, seorang pelacur kelas atas, dan gadis panggilan yang bisa dibeli dengan uang.

Ditambah lagi, perawakan fisik Yara yang begitu sempurna, dengan tubuh yang berisi dan kecantikan yang intimidatif, justru seolah mendukung dan memvalidasi kebohongan tersebut di mata manusia-manusia dangkal di universitas ini.

Bagi mahasiswa-mahasiswa sampah di sekitar mereka, tidak masuk akal jika seorang anak haram seperti Yara bisa memiliki barang-barang mewah, mengendarai sedan sport mahal, dan hidup dalam gelimang fasilitas jika bukan karena menjual tubuhnya pada pria tua kaya. Mereka terlalu buta untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.

Padahal, semua kemewahan yang dimiliki Yara adalah pemberian murni dari sang ayah, Tuan Berto Walker.

Ayahnya memang begitu menyayangi Yara. Sebagai seorang kepala keluarga, Berto tidak pernah berat sebelah dalam membagikan kasih sayang maupun materi. Dia selalu berlaku adil kepada kedua putrinya, bukan karena gosip murahan yang beredar di luar sana, melainkan karena dia tahu Yara adalah darah dagingnya yang berhak mendapatkan masa depan yang layak.

Caca menghentikan langkahnya tepat di depan meja dosen tempat Yara berdiri. Tanpa memedulikan beberapa mahasiswa yang mulai memperhatikan mereka, Caca menyunggingkan senyum kemenangan yang sarat akan racun.

Dia selalu saja mencari kesempatan untuk mengatakan hal-hal gila dan menyakitkan tentang Yara, bahkan langsung di depan wajah kakak tirinya itu.

"Wah, lihat siapa yang sudah kembali mengajar setelah cuti seminggu," sindir Caca dengan nada suara yang sengaja ditinggikan.

"Kudengar, predikatmu bertambah Kakak Sayang? Janda satu malam yang kesepian? Kasihan sekali, sepertinya David benar-benar muak setelah tahu bagaimana aslimu yang sudah longgar."

Yara mencengkeram pinggiran meja dosen. Dadanya bergetar menahan luapan emosi yang siap meledak.

Dia ingin sekali membalas. Namun, kata-kata sang ayah mendadak terngiang kembali dengan sangat jelas.

“Yara, sayang... Daddy mohon maklumi saudarimu. Sifat Caca memang seperti itu karena dia selalu merasa butuh perhatian lebih. Mengalahlah sedikit demi kedamaian rumah kita, Nak.”

Nasihat lembut ayahnya selalu menjadi rantai yang mengikat amarah Yara. Setiap kali Caca bertingkah gila, Yara akan memilih untuk mengalah dan menelan kepahitan itu sendirian, semata-mata karena dia tidak ingin membuat ayahnya yang paruh baya itu merasa terbebani atau sedih melihat pertengkaran anak-anaknya.

Sejak dulu, Caca memang tidak pernah bisa menang dalam hal mendapatkan kasih sayang dan perhatian mendalam dari Tuan Berto Walker.

Di dalam rumah mereka, sang ayah selalu memuji Yara sebagai anak yang pintar, rajin, dan memiliki bakat luar biasa dalam memasak. Masakan Yara selalu menjadi favorit sang ayah setiap Hari.

Sebaliknya, sejak mereka masih kecil, sang ayah selalu memarahi Caca karena Caca tidak pernah bisa pintar seperti Yara.

Caca selalu malas belajar dan hanya peduli pada penampilan luarnya. Yara masih ingat betul bagaimana ayahnya, dengan suara yang diusahakan tetap lembut namun sarat akan kekecewaan, sering kali menyuruh Caca masuk ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya karena saking bodohnya gadis itu dalam urusan akademis.

Dan pada akhirnya, setelah sesi omelan itu selesai, sang ayah akan kembali berbalik pada Yara, memuji kecerdasannya, dan memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang.

Yara sangat menyayangi ayahnya. Bagi Yara, di dunia yang penuh dengan cacian dan penolakan ini, hanya sang ayah satu-satunya pelindung dan sosok berharga yang dia miliki. Karena cinta yang besar kepada ayahnya itulah, Yara rela membiarkan dirinya dihina oleh Caca di depan umum sekarang.

Yara menarik napas panjang, menatap Caca dengan pandangan mata yang dingin dan datar, mengubur dalam-dalam segala rasa sakitnya.

"Masuk ke kursimu, Caca. Kelas akan segera dimulai," ucap Yara dengan suara yang tenang dan profesional, mengabaikan seluruh kalimat provokasi adiknya.

Caca mendengus kesal karena tidak mendapatkan reaksi ledakan amarah yang dia harapkan dari Yara. Dia mengibaskan rambutnya dengan kasar, lalu berjalan menuju kursi barisan tengah dengan hentakan kaki penuh kekesalan.

Yara memandangi punggung adiknya dengan tatapan yang menyiratkan luka yang teramat dalam, namun di balik itu semua, benteng pertahanan di hatinya justru semakin mengeras. Dia akan bertahan, demi ayahnya.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!