Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Pagi itu, sinar matahari Los Angeles yang tajam menembus jendela kaca ruang kuliah, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah debu di udara.
Suasana kelas sebenarnya cukup tenang; profesor sedang sibuk menuliskan poin-poin penting mengenai hukum kontrak di papan tulis. Namun, di barisan belakang, atmosfer terasa sangat berbeda.
Marco, yang duduk di samping Vivian, memajukan tubuhnya sedikit ke arah Kensington yang duduk di ujung meja.
Wajah Marco tampak bersemangat, sebuah kontras dari raut wajah Kensington yang tetap sedatar permukaan air di gelas kaca.
"Kau jadi balapan nanti sore, Ken?" bisik Marco lirih, namun cukup tajam untuk didengar oleh telinga Audrey yang duduk beberapa baris di depan mereka. "Aku sudah mengaturnya. Jalur Ngarai Mulholland sudah bersih pukul lima sore nanti."
Kensington tidak menoleh. Ia hanya mencoret-coret sesuatu di pinggir buku catatannya—mungkin sebuah diagram, atau mungkin hanya coretan tanpa arti. "Atur saja," jawabnya pendek. "Tapi pastikan tidak ada gangguan. Aku juga akan ada di arena boxing liar malam ini."
Vivian, yang sejak tadi menyimak, langsung memutar tubuhnya menghadap Kensington dengan raut wajah khawatir. "Kau benar-benar akan melakukan tinju liar yang berbahaya itu lagi? Ken, ayolah! Wajahmu itu adalah aset yang sempurna. Jika hidungmu patah atau rahangmu bergeser, kau akan membuat jutaan gadis di kota ini patah hati."
Kensington hanya memberikan senyum sinis yang tipis. Ia menatap Vivian sekilas sebelum kembali pada bukunya. "Luka di wajah akan sembuh, Vi. Kebosanan adalah hal yang jauh lebih mematikan."
Marco menyentuh lengan Vivian, mencoba menenangkan kekasihnya. "Kau tidak mengerti, sayang. Bagi pria seperti Ken, rasa sakit fisik adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa benar-benar hidup. Biarkan saja dia."
Audrey, yang berpura-pura sibuk mencatat penjelasan profesor, merasa jemarinya sedikit gemetar. Balapan liar? Tinju liar? Sosok Kensington yang ia lihat di perpustakaan—pria yang membaca novel cinta dan sejarah arsitektur—mendadak bertabrakan dengan sosok pria yang mencari bahaya demi membunuh rasa bosan. Ia merasa ada kegelapan yang jauh lebih dalam dari sekadar rahasia kematian sahabatnya.
Sore harinya, Audrey sedang bergelung di atas ranjangnya dengan sebuah buku tebal tentang Hukum Perdata. Ia mengenakan kaos putih kebesaran yang menutupi paha atasnya, pakaian favoritnya untuk belajar karena terasa sangat nyaman. Pintu kamar asrama mendadak terbuka dengan kasar.
Vivian masuk dengan tergesa-gesa. Napasnya sedikit memburu, dan ia langsung menuju lemarinya, melemparkan jaket kulit ke atas ranjang.
"Hey, ada apa Vivian? Kau tampak seperti dikejar hantu," tanya Audrey tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
"Drey, aku akan ke arena balap sore ini. Jalur Mulholland," ucap Vivian sambil menyisir rambut pirangnya dengan jari. "Dan mungkin aku baru pulang pagi hari. Marco akan menjemputku sepuluh menit lagi."
Audrey menutup bukunya. Sebuah dorongan impulsif mendadak menguasai dirinya. Ia teringat percakapan di kelas pagi tadi. Rasa penasarannya pada Kensington Valerio telah melampaui batas logika sehatnya. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana "Raja Pesta" itu berfungsi di dunianya yang paling berbahaya.
"Baiklah," jawab Audrey pelan. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. "Apa Marco kekasihmu yang balapan?"
"Oh tidak, tidak. Bukan Marco," sahut Vivian sambil memoleskan lipstik merah menyala di bibirnya. "Marco hanya pengelola taruhannya. Yang balapan adalah Kensington. Dia akan melawan salah satu pembalap dari geng San Fernando."
Mendengar nama Kensington disebut, jantung Audrey berdegup kencang. "Apa... apa boleh aku ikut, Vivian?"
Vivian menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu tertawa renyah. "Kau ingin ikut ke arena balap liar? Audrey Hepburn yang manis dan penurut ingin melihat aksi kriminal di sore hari?"
Audrey mengangguk mantap. "Aku hanya... ingin melihat suasana Los Angeles yang sebenarnya."
"Tentu! Kenapa tidak?" Vivian meraih tas kecilnya. "Ayo kita pergi sekarang. Tidak usah mengganti pakaianmu. Kau sudah terlihat cantik dengan kaos kebesaran itu. Lagipula, tanpa celana begitu, kau terlihat sangat seksi, haha!"
Audrey terbelalak, wajahnya seketika merona merah. Ia segera menyambar celana jeans pendeknya yang tergeletak di kursi. "Kau gila, Vi! Aku tidak mungkin keluar hanya dengan kaos ini."
Vivian tertawa semakin keras, melihat Audrey terburu-buru memakai celananya. "Bukankah itu hal yang bagus? Memakai kaos tanpa celana di bawahnya adalah cara tercepat agar kau bisa bercinta dengan mudah. Kau hanya tinggal mengangkat sedikit kainnya, dan boom! Sander akan sangat berterima kasih padaku jika dia melihatmu begitu."
"Wah, kau benar-benar menyebalkan, Vivian!" seru Audrey sambil mengancingkan celananya dengan gusar. "Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Simpan saja tips gilamu untuk dirimu dan Marco."
"Ah, sayang sekali," Vivian mengerling nakal. "Padahal di arena balap nanti, adrenalin akan membuatmu merasa sangat panas. Kau mungkin butuh udara lebih."
Perjalanan menuju perbukitan Mulholland terasa mencekam. Marco mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara musik techno berdentum keras di dalam kabin. Audrey duduk di kursi belakang, menatap pemandangan kota yang mulai menyalakan lampunya di bawah sana.
Saat mereka sampai di titik lokasi, suasananya sudah sangat riuh. Puluhan mobil mewah dan motor sport terparkir di sepanjang bahu jalan yang gelap. Aroma bensin, karet terbakar, dan asap rokok memenuhi udara sore yang dingin.
Di tengah kerumunan, sebuah mobil Lamborghini hitam legam tampak berkilau di bawah lampu jalan yang remang.
Di samping mobil itu, Kensington berdiri. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuhnya, sedang berbicara dengan seorang pria bertato. Ekspresinya sangat tenang, seolah-olah ia tidak akan melakukan aksi yang bisa merenggut nyawanya dalam hitungan detik.
"Lihat itu," bisik Vivian saat mereka turun dari mobil. "Si Raja sudah siap."
Kensington menoleh saat mendengar suara Marco. Matanya langsung tertuju pada sosok Audrey yang berdiri di belakang Vivian. Ia tampak sedikit terkejut—kilatan emosi yang sangat langka—melihat gadis "kutu buku" itu berada di sarang serigala.
Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mendominasi. "Audrey?" sapanya dengan suara bariton yang berat. "Aku tidak menyangka akan melihatmu di tempat seperti ini. Kupikir kau sedang sibuk menghafal pasal-pasal hukum."
Audrey memberanikan diri menatap mata perak pria itu. "Terkadang hukum perlu dilihat dari sisi pelanggarannya, bukan?"
Kensington tersenyum, kali ini sebuah senyum yang terasa lebih nyata, meski tetap misterius. "Jawaban yang cerdas. Tapi hati-hati, maba. Di sini, hukum gravitasi dan kecepatan jauh lebih berlaku daripada hukum manusia yang kau pelajari."
Tiba-tiba, seorang pria dari pihak lawan mendekat, menantang Kensington dengan kata-kata kasar. Kensington hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam mobilnya. Sebelum menutup pintu, ia menatap Audrey sekali lagi.
Deru mesin Lamborghini itu meledak, memecah kesunyian bukit. Saat bendera dijatuhkan, mobil itu melesat seperti peluru hitam, menghilang di kegelapan tikungan tajam.
Audrey menahan napas, tangannya mencengkeram pembatas jalan. Di detik itu, ia menyadari satu hal: ia tidak hanya ingin tahu rahasia Kensington, ia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari kegilaan pria itu.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭