NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Tamu Tak Diundang dari Masa Lalu

Musim kemarau mulai menunjukkan taringnya. Sungai kecil di belakang Green Valley menyusut drastis, meninggalkan bebatuan licin yang sebelumnya tertutup air deras. Debu beterbangan setiap kali ada kendaraan melintas di jalan akses utama. Namun, di tengah kekeringan alam itu, semangat di sekolah justru semakin membara. Program "Satu Santri Satu Pohon" yang digagas Arya berhasil menghijaukan kembali lereng bukit dengan ribuan bibit pohon keras dan tanaman buah yang tahan kering.

Pagi itu, udara terasa lebih panas dari biasanya. Termometer di teras kelas menunjukkan angka 34 derajat Celsius. Anak-anak belajar di bawah naungan tenda-tenda besar yang dipasang strategis untuk menghalau terik matahari, sambil sesekali minum air kelapa muda yang disediakan ibu-ibu pengurus dapur.

Arya sedang asyik memeriksa sistem irigasi tetes baru yang dipasang bersama tim relawan teknik ketika Pak Ujang datang dengan wajah cemas. Ia memegang sebuah amplop cokelat tebal dengan logo kantor hukum ternama di Jakarta.

"Mas," bisik Pak Ujang, suaranya rendah agar tidak terdengar anak-anak. "Ada surat resmi. Dikirim kurir khusus tadi pagi. Ini... ini dari pengacara lama keluarga Wiguna, Pak Hendra (bukan Hendra staf kita, tapi pengacaranya). Tapi yang menandatanganinya bukan dia."

Arya menerima amplop itu, tangannya sedikit gemetar saat melihat nama pengirim di sudut kiri atas: PT. NUSANTARA PRIMA JAYA - Divisi Hukum & Aset. Di bawahnya tertera nama Direktur Utama baru: Viktor Bramantyo.

Jantung Arya berdegup kencang. Viktor Bramantyo. Nama itu membangkitkan memori pahit masa lalu. Viktor adalah sepupu jauh Arya yang dulu selalu iri dengan kesuksesan Arya, dan pernah beberapa kali mencoba menjatuhkan harga saham Wiguna Cipta Nusantara saat Arya masih menjabat. Setelah Arya masuk penjara dan mengundurkan diri secara tidak hormat, kabar burung menyebutkan bahwa Viktor berhasil mengambil alih sisa-sisa aset perusahaan melalui manuver pasar yang agresif, meski kini perusahaan itu sudah berganti nama dan fokus bisnisnya berubah total menjadi lebih konservatif.

"Apa isinya, Mas?" tanya Nadia yang kebetulan lewat membawa tumpukan buku pelajaran. Ia menangkap gelagat aneh pada wajah suaminya.

Arya membuka amplop itu perlahan, mengeluarkan selembar surat bermaterai. Matanya menyapu baris demi baris kalimat formal yang dingin dan kaku. Wajahnya semakin serius, alisnya bertaut.

"Baca keras-keras, Mas," pinta Nadia lembut, meletakkan tangannya di bahu Arya.

"Kepada Yth. Sdr. Arya Wiguna di Cisarua. Sehubungan dengan penyelesaian akhir likuidasi aset PT. Wiguna Cipta Nusantara (lama) dan audit forensik lanjutan yang dilakukan oleh pemegang saham mayoritas baru, PT. Nusantara Prima Jaya, kami menemukan adanya sengketa kepemilikan lahan seluas 5 hektar di kawasan Cisarua, Bogor, yang secara administratif masih tercatat atas nama aset bekas perusahaan lama tersebut. Berdasarkan sertifikat hak guna bangunan nomor XYZ tahun 1998, lahan yang kini ditempati oleh 'Sekolah Tahfizh & Keterampilan Wiguna-Nadia' ternyata adalah aset yang belum dialihkan secara legal sebelum pembubaran perusahaan. Oleh karena itu, kami menuntut pengosongan lahan tersebut dalam waktu 14 hari kerja sejak surat ini diterima, atau kami akan menempuh jalur hukum berupa gugatan penyerobotan lahan dan permintaan ganti rugi atas penggunaan aset tanpa izin."

Surat itu jatuh dari tangan Arya, terhempas ke tanah berdebu. Angin panas menerbangkannya beberapa meter sebelum ditangkap oleh Pak Ujang.

"Mereka... mereka mau menggusur kita?" bisik Nadia, wajahnya pucat pasi. "Lahan ini? Sekolah ini? Setelah semua yang sudah kita bangun? Setelah anak-anak betah di sini?"

Arya mengepalkan tangannya erat-erat. Rasa marah, kecewa, dan takut bercampur menjadi satu di dadanya. "Ini pasti ulah Viktor. Dia tahu lahan ini sekarang berharga bukan karena tanahnya, tapi karena sekolah yang sudah berdiri kokoh di atasnya. Dia ingin mengambil alih dengan cara licik, memanfaatkan celah administrasi yang mungkin memang tertinggal saat aku... saat aku sibuk mengurus kasus korupsi dulu."

"Apa yang harus kita lakukan, Mas?" tanya Pak Ujang panik. "Haruskah kita lapor polisi? Atau kita lawan di pengadilan?"

Arya menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke arah gedung asrama yang ramai oleh suara tawa anak-anak. "Kalau kita lawan di pengadilan, prosesnya bisa bertahun-tahun, Nd. Anak-anak akan hidup dalam ketidakpastian. Mereka akan takut setiap hari apakah besok masih bisa sekolah di sini atau tidak. Itu akan merusak konsentrasi belajar mereka. Dan Viktor tahu itu. Dia bermain psikologis."

"Tapi kita nggak bisa cuma menyerah begitu saja, Mas!" seru Nadia, air matanya mulai menetes. "Ini rumah bagi ratusan anak ini. Ini mimpi kita, Mas! Kamu sudah kehilangan segalanya demi kejujuran, jangan sampai kita kehilangan tempat berlindung bagi anak-anak ini karena kelalaian administratif masa lalu!"

Arya memeluk istrinya erat, mencoba menenangkan badai emosi yang sedang terjadi di antara mereka. "Aku nggak akan nyerah, Nd. Aku janji. Tapi kita harus cerdas. Kita nggak bisa pakai cara lama: main kuasa, main uang, atau main pengaruh. Kita harus pakai cara baru: cara kebenaran dan kekuatan komunitas."

Siang harinya, Arya memanggil rapat darurat. Hadir dalam pertemuan itu: Nadia, Pak Gunawan, Pak Darman, Irfan, perwakilan santri senior, dan beberapa tokoh masyarakat desa sekitar. Suasana ruang pertemuan sederhana itu terasa berat, seolah udara panas di luar ikut masuk menyelimuti hati mereka semua.

Arya membacakan surat tuntutan itu di hadapan mereka. Hening mencekam menyelimuti ruangan setelah bacaan selesai. Hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan memecah keheningan.

"Jadi, intinya," mulai Pak Darman dengan suara berat, "orang kaya dari Jakarta itu mau ambil tanah kita? Mau gusur sekolah kita?"

"Secara hukum, posisi kita lemah, Pak," aku Arya jujur, menatap mata para hadirin satu per satu. "Sertifikat tanah ini memang masih atas nama perusahaan lamaku yang sudah bubar. Saat aku menyerahkan aset ke negara dulu, mungkin ada dokumen ini yang terlewat atau sengaja disembunyikan oleh oknum tertentu yang bekerja sama dengan Viktor. Sekarang, secara administratif, mereka punya dasar kuat untuk mengklaim."

"Lalu kita diusir?" tanya seorang ibu pengurus dapur, suaranya bergetar. "Anak-anak saya sekolah di mana? Kami mau ngaji di mana?"

"Tenang, Bu," sela Pak Gunawan tiba-tiba. Suaranya tenang namun berwibawa, membuat semua orang menoleh. Pria tua itu bangkit dari kursinya, menopang tubuhnya dengan tongkat kayu. Wajahnya yang keriput menampilkan ekspresi determinasi yang jarang terlihat.

"Dulu," mulai Pak Gunawan lambat laun, "saat saya masih jadi komisaris serakah, saya sering menggunakan celah hukum seperti ini untuk mengusur petani miskin dari tanah leluhur mereka. Saya punya tim pengacara hebat, saya punya uang untuk menyuap pejabat pertanahan. Saya pikir hukum itu bisa dibeli. Dan seringkali, memang bisa."

Ia berhenti sejenak, menatap Arya dengan pandangan penuh penyesalan. "Tapi hari ini, saya sadar satu hal: hukum buatan manusia bisa dibelokkan, tapi hukum Tuhan dan hukum hati nurani rakyat tidak bisa dibeli. Jika mereka ingin mengambil tanah ini secara paksa, mereka harus menginjak tubuh kita semua terlebih dahulu."

"Pak Gunawan benar," sambung Irfan semangat, matanya berapi-api. "Mas Arya, ingat cerita Mas tentang Nabi Ibrahim yang mempertahankan tanah suci? Ingat kisah para sahabat yang rela mati demi mempertahankan masjid pertama? Tanah ini sudah disucikan dengan doa ratusan anak, dengan keringat pekerja, dengan air mata pertobatan Mas dan Pak Gunawan. Tanah ini bukan lagi sekadar aset properti. Ini adalah wakaf hati umat. Siapa pun yang mencoba mengambilnya, berarti melawan ridho Allah dan melawan rakyat."

"Benar!" seru salah satu santri senior berdiri. "Kami nggak akan pergi! Kalau mereka mau gusur, mereka gusur kami sambil angkat mayat kami!"

Sorak setuju bergema di ruangan kecil itu. Semangat perlawanan yang damai namun tegas mulai menyala di mata semua orang.

Arya merasa dadanya lapang mendengar dukungan itu. Air matanya menetes, tapi kali ini air mata kebanggaan. "Terima kasih... Terima kasih semuanya. Kalian memberi saya kekuatan baru. Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan emosi. Kita butuh strategi."

Arya berdiri, berjalan menuju papan tulis putih di dinding. Ia mengambil spidol dan mulai menulis poin-poin rencana aksi.

"Strategi kita ada tiga," ucap Arya tegas.

"Pertama: Validasi Moral dan Sosial. Kita akan segera mengurus akta wakaf tanah ini melalui Badan Wakaf Indonesia cabang Bogor. Kita libatkan Kyai Abdullah dari Jombang sebagai nazhir (pengelola wakaf). Begitu statusnya berubah menjadi tanah wakaf umat, maka secara syariah dan moral, klaim sepihak menjadi sangat sulit dilakukan tanpa menimbulkan gejolak sosial besar."

"Kedua," lanjut Arya, " Mobilisasi Dukungan Publik. Kita akan ceritakan kisah ini secara transparan kepada media, donatur, dan masyarakat luas. Bukan untuk mengadu domba, tapi untuk meminta keadilan. Biarkan publik menilai: apakah pantas sebuah sekolah tahfizh yang dibangun dari kejujuran digusur demi ambisi segelintir orang? Kita akan undang tokoh agama, akademisi, dan aktivis HAM untuk datang ke sini dan melihat langsung apa yang akan hilang jika penggusuran terjadi."

"Ketiga," Arya menatap Pak Gunawan, " Pendekatan Humanis ke Lawan. Saya akan menemui Viktor Bramantyo secara pribadi. Bukan untuk mengemis, tapi untuk berbicara dari hati ke hati. Saya akan bawa serta Pak Gunawan. Mungkin, sangat kecil kemungkinannya, tapi mungkin saja hatinya masih punya sisa kemanusiaan. Jika dia melihat langsung apa yang akan ia hancurkan, siapa tahu ia sadar."

"Bagaimana jika dia tetap keras kepala, Mas?" tanya Nadia khawatir.

Arya tersenyum tipis, senyum penuh keyakinan. "Jika dia tetap keras kepala, maka kita siap menghadapi apapun. Kita akan bertahan di sini sampai titik darah penghabisan. Karena kita tahu, kebenaran tidak pernah sendirian. Allah pasti punya cara-Nya sendiri untuk melindungi rumah-rumah ibadah dan pendidikan."

Rapat berakhir dengan tekad bulat. Semua orang pulang dengan misi masing-masing. Pak Darman dan para pekerja mulai mengamankan dokumen-dokumen sejarah pembangunan sekolah. Ibu-ibu mulai menghubungi jaringan pengajian di seluruh Jawa Barat untuk mengumpulkan dukungan doa. Irfan dan santri senior mulai membuat konten video dokumenter singkat tentang kehidupan di sekolah untuk disebarluaskan di media sosial.

Sore itu, Arya dan Nadia duduk berdua di teras, menatap matahari terbenam yang warnanya tampak lebih merah dari biasanya, seolah mencerminkan bahaya yang mengintai.

"Mas," bisik Nadia sambil menggenggam tangan Arya. "Aku takut. Bukan untuk diriku, tapi untuk anak-anak. Mereka sudah terlalu mencintai tempat ini."

"Aku juga takut, Nd," aku Arya jujur. "Tapi ketakutan itu baik. Itu membuat kita waspada dan terus berusaha. Ingat kata-kata Pak Gunawan tadi? Tanah ini sudah disucikan. Aku yakin, sehebat apapun rencana jahat manusia, kalau Allah berkehendak melindungi, tidak ada yang bisa menyentuh sehelai daun pun dari pohon di sini."

Tiba-tiba, ponsel Arya berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya singkat: "Besok sore, saya akan datang ke lokasi. Sendirian. Jangan bawa pengacara, jangan bawa massa. Saya ingin lihat sendiri 'sekolah ajaib' yang bikin kamu rela jadi guru kampungan. - Viktor."

Arya menunjukkan pesan itu pada Nadia. Wajah mereka saling berpandangan.

"Dia datang," gumam Arya. "Besok, kita akan menghadapi masa lalu kita secara langsung. Ini ujian terbesar sejak kita bebas."

"Kita hadapi bersama, Mas," kata Nada mantap. "Dengan doa, dengan kejujuran, dan dengan cinta."

Malam itu, suasana di Green Valley berbeda. Tidak ada tawa riang seperti biasa. Anak-anak tampak merasakan ketegangan yang dirasakan para guru mereka. Mereka salat Maghrib dan Isya dengan lebih khusyuk, doa-doa mereka terdengar lebih panjang, lebih mendesak.

Arya menghabiskan malamnya dengan membaca ulang sejarah tanah tersebut, mencari celah-celah harapan. Ia juga menyiapkan materi presentasi sederhana: foto-foto anak-anak, grafik perkembangan hafalan Quran, dan testimoni warga. Ia ingin menunjukkan pada Viktor bahwa yang akan ia hancurkan bukan sekadar tanah, tapi masa depan ratusan manusia.

Fajar esok akan membawa tamu tak diundang yang bisa menjadi malaikat pencabut nyawa bagi mimpi mereka, atau mungkin, siapa tahu, menjadi alat Tuhan untuk menguji seberapa kuat fondasi iman yang telah mereka bangun.

Perjalanan menuju bab empat puluh semakin menanjak. Badai hukum ini adalah gunung terjal yang harus didaki sebelum mereka bisa mencapai puncak kedamaian abadi di epilog nanti. Arya Wiguna menarik napas panjang, menatap bintang-bintang di langit malam.

"Ayo kita lihat, Viktor," bisiknya pada angin malam. "Apakah hatimu masih bisa tersentuh oleh cahaya kebenaran, atau kau sudah terlalu gelap ditelan ambisi?"

Dan demikianlah, babak baru konflik dimulai. Bukan dengan senjata tajam atau teriakan perang, melainkan dengan benturan antara keserakahan masa lalu dan ketulusan masa kini. Pertaruhan besarnya adalah sebuah rumah bagi harapan, dan taruhannya adalah jiwa dari ratusan anak bangsa.

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!