"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan untuk Salbiah
"Aakkhhh! kuyang! toloong! ada kuyang toloong!"
Lamunan Parta terhenti karena terdengar suara teriakan pemuda yang ada di sana, pemuda itu ternyata tidak sendirian, dia bersama ayahnya karena keduanya sedang mencari ikan untuk di jual di pasar kampung cadas besok paginya.
"Hus... pergi sana kuyang jangan ganggu anakku!" teriak lelaki yang sedang membawa bambu di tangannya.
Wush..
"Aaaaaa!"
Kedua lelaki itu terhempas saat Salbiah meniupkan angin di mulutnya yang langsung membuat keduanya terlempar cukup jauh, bahkan si pemuda sudah terluka karena sempat di gigit Salbiah di bagian leher, tapi berhasil ditolong ayahnya.
"Hahaha... aku hanya butuh satu mangsa saja, aku tidak butuh kamu orang tua!" bentak Salbiah
"Pergi! jangan ganggu Anakku!" teriak lelaki itu melempar batu ke arah Salbiah
"Hahahah... kamu tidak akan bisa menyakitiku manusia lemah!" teriak Salbiah
Bukh. Bukh.
"Aarrrggg!"
Parta melemparkan dua batu dan berhasil membuat Salbiah terjatuh. Parta juga menyamar sebagai manusia supaya dua lelaki itu tidak ketakutan melihat wujud seorang panglima dengan pakaian perang jaman dulu di depan mereka.
"Si... siapa kamu!" bentak Salbiah
"Aku hanya seorang pengembara" jawab Parta
"Pak.. tolong kami pak, tolong anak saya dia terluka" ucap ayah pemuda itu
"Gunakan tanaman ini, ini bisa menghentikan pendarahan, dan segera bawa anak kamu ke rumah Mbah Rumi untuk di obati, di sana dan anaknya Nurdin yang seorang dokter, luka di leher anak kamu mungkin harus di jahit" jawab Parta memberikan satu tanaman yang dia ambil dari dalam hutan.
"Te.. terima kasih pak" ucap ayah anak itu segera menumbuk tanaman dan menempelkan tanaman itu ke leher anaknya yang terlihat sudah tak sadarkan diri.
"Rangga! Bantu kedua orang ini" panggil Parta pada salah satu pasukannya dan datanglah sesosok pemuda tinggi dari balik pohon besar dan menggendong pemuda yang terluka dengan begitu mudah.
"Pergi ke tempat Mbah Rumi, jangan melihat ke belakang dan tetap berlari" perintah Parta
"Baik pak, terima kasih sudah membantu" ucap orang tua itu yang tahu Parta bukan manusia karena Parta tidak menapak di tanah.
Setelah kepergian dua orang yang di lukai Salbiah, Parta menunggu reaksi Salbiah terlebih dahulu, dia memastikan Salbiah tidak akan bisa kabur bahkan menatap tajam Salbiah yang sedang mencari celah untuk pergi dari sana.
"Aku tidak bisa di sini, bau lelaki itu sangat mirip dengan bau pasukan tanpa nama yang ada di rumah Jamal, dia pasti sudah mengetahui keberadaan ari ari itu makanya dia menyerangku supaya aku tidak menemukan ari ari itu" batin Salbiah
"Kamu tidak akan bisa lari kemanapun Salbiah, riwayat kamu akan tamat hari ini juga, dan aku mendapatkan amanah dari seseorang untuk menyampaikan pesannya" ucap Parta
"Siapa?" tanya Salbiah waspada
"Karso" jawab Parta menyeringai karena Salbiah nampak ketakutan mendengar nama Karso yang tak lain adalah Abidin.
"Ka... Karso!" kegat Salbiah
"Dia menitipkan pesan, kalau dia masih hidup dan sudah punya keturunan yang begitu kuat, bahkan Kunto yang jadi sekutumu dulu juga sudah bertaubat, dia menitipkan salam perpisahan untuk kamu" jawab Parta melemparkan sebuah tongkat bambu ke arah jantung Salbiah.
Srak.
"Aakhhh! tongkat ini...."
"Ya, itu adalah tingkat yang kamu gunakan untuk membangkitkan khal, dia sudah lenyap dan sekarang giliran kamu!" jawab Parta
"Tidak semudah itu! Bahkan meskipun aku di bakar dan di rusak aku akan tetap hidup!" bentak Salbiah
"Iya, jika tubuhmu masih utuh, tapi kalau tubuhmu terbakar.... "
"Tidak! Apa yang kamu rencanakan! kamu panglima Parta kan!" bentak Salbiah
"Ya, aku Parta! Panglima pasukan tanpa nama!" jawab Parta memperlihatkan wujud aslinya.
"Apa kamu sedang menjebak ku?" tanya Salbiah yang ujung jantungnya sudah mengeluarkan banyak darah dan dia harus segera kembali ke tubuhnya"
"Kamu pintar juga, tapi sekarang percuma kamu kembali, mungkin tubuh kamu itu sudah di bakar warga" jawab Parta
"Tidaaak!" teriak Salbiah segera terbang ke arah kampung cadas
"Kaelan, sekarang giliran kamu karena ini kesempatan bagus untuk melenyapkan kuyang itu" gumam Parta menatap bulan purnama yang malam itu begitu terang menerangi malam di seluruh kampung di tempat itu.
°°°°°°°°°°°°
Di kampung cadas.
"Oek... Oek... Oek.."
"Kaelan! Apa yang kamu lakukan malam malam begini mengganggu kami dengan tangisan anak Kunti ini! dan kamu melanggar hukuman Mbah Narno!" bentak salah seorang warga karena Kaelan membawa Kalingga malam itu berkeliling kampung.
"Aku sedang melindungi anakku dari kuyang, dia terus terlihat mengelilingi rumah bapak bahkan Maryani juga kalah oleh dia" jawab Kaelan
"Kuyang! Anakku! Apa benar ada kuyang di sini?" tanya seorang warga yang memiliki anak bayi juga di rumahnya
"Iya, untuk yang punya anak bayi bahkan ari ari yang baru di kubur sebaiknya di jaga karena aku melihat kuyang itu kabur ke rumah Salbiah, dia masuk ke sana" jawab Kaelan
"Salbiah! kamu menuduh Salbiah!" bentak yang lain
"Tidak, aku justru khawatir Salbiah terluka, kuyang juga kan suka darah perempuan cantik supaya dia tetap awet muda" jawab Kaelan berbohong
"Kaelan benar, Salbiah begitu cantik jadi pasti kuyang itu ingin membunuhnya, ayo kita tolong Salbiah"
"Aku tidak bisa, aku akan tetap di rumah menjaga istriku dan bayiku"
"Aku juga, aku tidak mau anakku kenapa napa"
"Yang tidak punya anak bayi saja yang ikut, ayo aku juga penasaran kenapa kuyang itu masuk ke sini, aku ingin membuatnya mati karena sudah mengganggu tidur anakku" bujuk Kaelan dan mereka setuju meskipun mereka berjalan sambil menjaga jarak dari Kaelan karena takut dengan Kalingga.
"Ada apa?" tanya Narno yang mendengar keributan di depan rumahnya"
"Ada kuyang Mbah, dia mencoba memakan Kalingga, lihat jari Kalingga dia gigit" jawab Kaelan memperlihatkan jari Kalingga yang memerah karena di berikan pewarna merah.
"Jangan gegabah, mungkin kuyang itu sudah pergi" ucap Narno kaget karena dia hanya memerintahkan Salbiah mencari ari ari Kalingga, bukan malah menyakiti Kalingga.
"Dia masuk kerumah Salbiah Mbah, Kaelan lihat sendiri, lihat tuh rumahnya mengeluarkan asap merah, ayo tolong dia" jawab Kaelan membuat amarah warga semakin naik.
"Bagaimana ini, aku tidak mungkin menolak warga, tapi aku juga tidak mau Salbiah ketahuan, semoga saja dia sudah kembali" batin Narno
"Ayo kita ke sana untuk memastikan, tapi kamu akan kembali di hukum Kaelan, kamu sudah melanggar hukum adat di kampung ini lagi" ucap Narno
"Iya Mbah, saya akan patuh hukum setelah ini, karena saya melindungi anak saya" jawab Kaelan
Mereka berjalan ke rumah Salbiah yang hanya berjarak dua puluh meter dari rumah Narno, warga melihat asap merah keluar dari arah jendela rumah Salbiah yang terbuka, asap itu sebenarnya berasal dari Maryani yang sengaja mengeluarkan energinya untuk membuat warga semakin yakin kalau di sana ada kuyang.
"Lihat di sana ada asap, intip Mbah Wisnu" ucap Kaelan dan Wisnu pergi ke sana
"Hati hati" ucap Narno berpura pura tenang
"Astaga! Mbah Narno ada tubuh tanpa kepala di dalam rumah Salbiah! dia pakai baju Salbiah apa mungkin itu Salbiah!" teriak Wisnu