Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata dan Darah Dua Kembang Desa
Samudra berdiri mematung dengan tatapan kosong... dan kain perak di tangannya kembali memendek.
"Hahaha.... dia cukup kuat juga, aku pikir dia kebal dari serbuk mustika pasuryon pemberian dari Datuk Ringgih." Ucap Bapak pemilik warung.
"Semuanya sekarang masuk kedalam gudang..."
Siapa sangka tubuh semua orang yang tergeletak berjalan dengan sendirinya memasuki gudang, termasuk Samudra.
"Hahahaha... tutup warungnya, nak. jumlah mereka sudah sangat cukup untuk melaksanakan ritual dari Datuk Ringgih. Nanti malam, kita akan bawa mereka ke goa kediaman Datuk Ringgih."
"Baik pak..." jawab anaknya.
***
Sementara itu Mahesapati saat ini berada di desa Sumber. Tepatnya di sebuah warung yang sangat ramai.
Tujuan ia di sana tidak lain adalah mencari informasi tentang kembang desa, karena warung yang ramai adalah salah satu tempat informasi yang paling akurat.
Mahesapati mendekati seorang bapak bapak petani yang baru saja selesai makan dan sedang menikmati minumannya.
"Permisi pak? Apakah aku boleh ikut duduk disini?" Tanya Mahesapati.
"Boleh.... silahkan Pak..." jawab bapak itu bergeser dan memberikan ruang duduk untuk Mahesapati.
Mahesapati memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Petani pak? Tanam apa pak?" Tanya Mahesapati basa basi.
"Kentang pak, sana wortel... kamu sendiri kerjanya apa, pak?"
"Hala cuma tukang becak keliling pak, tadi baru aja nganter penumpang di desa ini, sekalian istirahat makan siang di sini." Bohong Mahesapati.
"Oh.... bukan orang sini, ya pak.. orang mana pak?"
"Banyu Urip, Pak."
"Oh desa Banyu Urip... gak terlalu jauh ya pak. disana katanya harga bawang merah lagi turun ya pak?"
"Gak terlalu tau aku pak, aku kan bukan petani. Bisa jadi sih, soalnya ibuku kemarin beli bawang merah banyak banget."
Tidak lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang teramat mewah, bebek bakar sambal dan lalapan, tidak hanya itu dua bumbung tuak khusus juga terlihat disana.
"Ehh... i... itu bukannya Tuak Niar, Pak? Katanya tukang becak kok bisa beli tuak mahal gitu." Bapak petani itu terkejut melihat tuak itu, karena tuak itu sangat mahal. Alasan mahalnya karena proses pembuatannya yang sangat sulit.
"Hala.. lagi banyak rejeki aja pak makanya saya beli tuak ini. Ini satu buat bapak..."
Bapak itu kebingungan, "loh? Yakin pak? Mahal banget loh ini..."
"Iya pak, minum aja... emmm aku bisa kasih bapak lebih asalkan bapak kasih tau alamat rumah para kembang desa di desa ini." Ucap Mahesapati.
Bapak itu memicingkan matanya curiga menatap Mahesapati, namun sebelum ia berucap Mahesapati mengeluarkan kantung yang berisi koin koin emas.
"Kantung ini untuk bapak kalau bapak mau menjawab." Ucap Mahesapati.
Mulut bapak itu langsung melongo, ia tidak perduli lagi kecurigaan di dalam hatinya ketika sudah melihat kilauan emas yang terlihat sangat indah apabila di tatap.
Bapak itu langsung menjelaskan alamat alamat kembang desa, di desa tersebut.
Mahesapati tertawa terbahak bahak dalam hatinya, "hahahaha manusia bodoh... dia rela menumbalkan warga tempat ia tinggal hanya demi emas ini. Benar benar bodoh!" Batin Mahesapati.
Setelah makan Mahesapati langsung menuju kesana.
"Sihirku harus aku tingkatkan lagi, hanya tersisa lima kembang desa untuk bisa menggenapkan seratus kembang desa yang akan meningkatkan sihirku." Batin Mahesapati.
"Ketika aku sudah berhasil menggenapkan seratus kembang desa, maka aku bisa meminta bantuan Eyang Urug untuk membantuku menghabisi orang gila bangsat itu!"
Mahesapati dengan langkah ringan menuju ke kediaman kembang desa itu berada.
Rumah yang di kunjungi Mahesapati terdapat dua kembang desa, kakak beradik.
Sesampainya di sana Mahesapati tersenyum sumringah begitu mengetahui bahwa kedua kembang desa itu hanya tinggal bertiga saja bersama ayah mereka. Dan secara kebetulan ayah mereka sedang pergi ke ladang.
Tanpa ragu-ragu Mahesapati pura-pura bertamu di rumah kedua kembang desa itu.
Sang adik langsung terpesona dengan ketampanan Mahesapati. Dia tidak tahu saja bahwa di balik wajah tampanya Mahesapati sebenarnya adalah seorang bajingan.
Memang inilah salah satu kelebihan sihir hitam yang di anut Mahesapati, dimana ia akan terlihat tampan walaupun sudah paru baya.
"Tuan mencari siapa?" Tanya Lasmi sang adik.
"Ayah kalian apakah ada di rumah?" Tanya Mahesapati basa-basi walaupun sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
"Ayah kami sedang pergi ke ladang." Jawab Lasmi.
"Apakah aku boleh masuk?" Tanya Mahesapati.
"Maaf tuan, ayahku tidak mengijinkan laki-laki masuk ke dalam rumah ini, jika tidak ada ayahku." Jawab Lasmi.
"Lasmi, siapa Tuan itu?" Tanya Sari kakaknya.
"Aku juga tidak tahu mbak yu." Sahutnya.
Melihat tubuh dari kedua kembang desa di depannya membuat Mahesapati sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi, dia langsung menotok tengkuk Lasmi dan Sari.
Seketika itu juga Lasmi dan Sari tidak bisa bergerak, tubuh mereka kaku bagaikan patung. Mahesapati langsung membawa keduanya masuk ke dalam rumah dan secara kebetulan memang di sekitar rumah dua kembang desa ini sangat sepi karena rumahnya berada di ujung desa.
Mahesapati melakukan aksi bejatnya di salah satu kamar di dalam rumah itu, Lasmi dan Sari tidak bisa melawan sama sekali karena mereka berdua hanyalah manusia biasa, mereka juga tidak bisa berteriak apalagi bergerak karena tubuh mereka kaku. Mereka hanya bisa meneteskan air mata sambil memandangi wajah Mahesapati dengan tatapan penuh dengan kebencian.
30 menit kemudian....
Setelah puas menikmati tubuh Lasmi dan Sari, Mahesapati terlihat memakai kembali pakaian dengan wajah puas dan bangga. Kini ilmunya semakin bertambah dan hanya perlu 3 kembang desa lagi untuk menyempurnakan ilmunya.
Namun siapa sangka setelah 30 puluh menit efek kaku di tubuh Lasmi dan Sari menghilang. Tanpa basa-basi lagi Lasmi sang adik langsung berlari dan mengambil parang milik ayahnya.
Mahesapati tidak sempat mencegah Lasmi karena dia sedang mengenakan pakaian.
"Keparat! Aku lupa efek totokan itu hanya berlangsung selama 30 menit!" Batin Mahesapati.
Lasmi menebaskan parangnya ke arah Mahesapati. Dengan mudah Mahesapati menghindari tebasan itu dia kemudian merebut paksa parang itu dari tangan Lasmi dan menusuk Lasmi.
Kini Lasmi mati dengan senjatanya sendiri. Sementara Sari yang melihat adiknya mati di tusuk berteriak histeris, mengundang perhatian orang-orang yang lewat di sekitar rumahnya. Menyadari teriakan Sari dapat mendatangkan orang Mahesapati mencabut parang itu kemudian menghujamkan ke Sari hingga Sari tewas.
Sontak warga berkumpul ramai di sekitaran rumah itu, Mahesapati langsung menutupi wajahnya menggunakan baju yang di ikat dan membentuk ala ala ninja kemudian terbang menerobos atap.
"Woi.... lihat itu, pasti dia orang jahat!" Ucap salah satu warga.
Mereka semua langsung mengejar Mahesapati.
Namun kecepatan terbang Mahesapati sangat cepat, bahkan penyihir junior bukan tandingannya, membuat para warga tertinggal jauh.