Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tetua Pertama yang Haus Darah
Hujan abu masih turun ketika langkah kaki berat terdengar dari lereng Puncak Pelana Kayu.
Xiao Fan duduk bersila di dalam gubuk, matanya terpejam. Tapi kesadarannya menyebar seperti jaring laba-laba, merasakan setiap getaran di tanah. Satu orang. Langkahnya tidak tergesa, tapi penuh keyakinan. Seperti predator yang tahu mangsanya tidak akan lari.
Tetua Pertama.
Liu Ruyan yang setengah tertidur di sudut ruangan tiba-tiba tersentak bangun. "Ada orang datang," bisiknya. "Auranya... kuat. Sangat kuat."
Xiao Fan membuka mata. "Aku tahu."
Ia bangkit dan membuka pintu. Di luar, malam hampir habis. Langit di timur mulai memerah samar. Dan di ujung jalan setanah, sesosok pria tua berjubah emas berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung.
Tetua Pertama Sekte Langit Biru. Mo Tianfeng.
Usianya sudah lebih dari dua ratus tahun, tapi wajahnya masih terlihat seperti pria empat puluhan. Hanya rambut putihnya yang memberi tahu kebenaran. Matanya tajam seperti elang. Bibirnya tipis, selalu melengkung ke bawah seolah dunia ini tidak pernah cukup baik untuknya.
"Xiao Fan," suaranya dalam dan bergema. "Murid sampah dari Puncak Pelana Kayu."
Xiao Fan menyandarkan bahu ke kusen pintu. Sikapnya santai, tapi otot-ototnya sudah siaga penuh. "Tetua Pertama. Tumben sekali mengunjungi tempat terpencil ini."
Mo Tianfeng tidak tersenyum. Matanya menyapu gubuk reyot itu, lalu berhenti pada sosok Liu Ruyan yang mengintip dari balik bahu Xiao Fan. "Gadis Klan Liu. Kau di sini."
Itu bukan pertanyaan.
"Tetua Leng Yue yang menempatkannya di sini," kata Xiao Fan.
"Aku tahu." Mo Tianfeng akhirnya menatap Xiao Fan langsung. Tatapannya menusuk. "Aku juga tahu kau membunuh tiga penyusup dari Sekte Api Merah malam ini. Sendirian. Dengan mudah."
Hening.
Liu Ruyan menahan napas. Xiao Fan tidak bereaksi.
"Aku juga tahu," lanjut Mo Tianfeng, suaranya semakin rendah, "bahwa kau menggunakan Qi Kematian. Energi terlarang yang seharusnya tidak bisa digunakan oleh manusia hidup."
Satu kalimat itu menggantung di udara seperti pedang.
Xiao Fan tetap diam. Tapi di dalam kepalanya, sistem bersuara.
[Analisis musuh selesai.]
[Mo Tianfeng: Alam Inti Emas Lapis Ketiga.]
[Jalur: Es Gelap.]
[Peringatan: Musuh ini tiga tingkat di atas inang. Pertarungan langsung tidak disarankan.]
Inti Emas. Tiga tingkat di atas Fondasi Inti. Di kehidupan sebelumnya, kultivator level ini bahkan tidak layak menjadi pelayan Xiao Fan. Tapi sekarang, dengan tubuh mudanya yang baru mencapai Kondensasi Qi Lapis Kelima, perbedaan itu seperti semut melawan naga.
"Kau tidak menyangkal," kata Mo Tianfeng. "Bagus. Setidaknya kau tidak membuang waktuku dengan kebohongan."
"Apa yang Tetua inginkan?" tanya Xiao Fan akhirnya.
Mo Tianfeng melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Berhenti tepat tiga meter di depan Xiao Fan. "Kitab Api Matahari yang dicuri penyusup itu tidak penting. Aku yang menyuruh mereka datang."
Mata Xiao Fan menyipit.
"Aku butuh alasan untuk menggeledah Paviliun Kitab Suci tanpa dicurigai. Kebakaran tadi malam adalah kesempatan sempurna. Tapi penyusup itu terlalu bodoh. Mereka malah menyerang sungguhan." Mo Tianfeng mendengus. "Kau membunuh mereka, jadi kau menghemat waktuku. Untuk itu, aku berterima kasih."
"Tapi?" Xiao Fan tahu ada kelanjutannya.
"Tapi kau menggunakan Qi Kematian. Dan itu artinya kau tahu sesuatu tentang Pedang Penelan Surga."
Nama itu disebut. Udara di sekitar Puncak Pelana Kayu tiba-tiba berubah dingin. Pedang di lautan kesadaran Xiao Fan bergetar—bukan karena takut, tapi karena mengenali.
Mo Tianfeng melanjutkan, "Sepuluh ribu tahun lalu, Kaisar Pedang dikhianati dan dibunuh di tempat ini. Tepat di bawah bukit tempat kau berdiri sekarang. Pedangnya—Pedang Penelan Surga—pecah menjadi tujuh fragmen dan tersebar ke seluruh benua."
Ia menatap Xiao Fan dengan mata menyala. "Aku sudah mencari fragmen itu selama lima puluh tahun. Dan malam ini, aku merasakan getarannya. Di sini. Di dalam dirimu."
Liu Ruyan tanpa sadar mundur selangkah. Tangan Xiao Fan masih santai di sisi tubuh, tapi jari-jarinya sudah melengkung siap menyerang.
"Jadi," Xiao Fan bersuara datar, "Tetua ingin mengambilnya dariku?"
Mo Tianfeng tersenyum. Senyum itu tidak mencapai matanya. "Awalnya, ya. Tapi sekarang aku punya ide yang lebih baik."
Ia mengulurkan tangan. Bukan untuk menyerang. Tapi seperti seseorang yang menawarkan kesepakatan.
"Xiao Fan. Kau memiliki pedang itu. Aku memiliki sumber daya dan pengetahuan. Bergabunglah denganku. Bersama, kita bisa mengumpulkan ketujuh fragmen. Kau bisa menjadi Kaisar Pedang berikutnya. Dan aku... aku hanya ingin satu hal."
"Apa?"
"Keabadian."
Kata itu keluar dari mulut Mo Tianfeng seperti doa. Seperti orang yang sudah terlalu lama mengejar sesuatu yang selalu di luar jangkauan.
Xiao Fan menatap pria tua itu. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar nama Mo Tianfeng. Bukan sebagai Tetua sekte kecil. Tapi sebagai salah satu pemburu harta paling licik di Benua Tengah. Pria ini tidak punya loyalitas. Hanya ambisi.
"Aku menolak," kata Xiao Fan.
Senyum Mo Tianfeng tidak berubah. Tapi suhu di sekitar mereka turun drastis. Embun di dedaunan membeku seketika. Liu Ruyan menggigil hebat.
"Kau yakin?" suara Mo Tianfeng kini sedingin es. "Aku bisa membunuhmu sekarang. Mengambil pedang itu dari mayatmu. Dan menjadikan gadis di belakangmu sebagai budak."
Xiao Fan tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia mengangkat tangan kanannya. Perlahan. Jarinya menunjuk ke arah Mo Tianfeng.
Teknik Siklus Pembalik Surga.
Qi Kematian yang tersimpan di 108 meridiannya berputar liar. Bukan untuk menyerang. Tapi untuk memanggil.
Tanah di bawah kaki Mo Tianfeng tiba-tiba retak. Dari dalam retakan itu, sesuatu merangkak keluar. Bukan makhluk hidup. Tapi ingatan. Ingatan tanah ini tentang pertempuran sepuluh ribu tahun lalu. Tentang darah yang tumpah. Tentang jeritan kematian.
Mo Tianfeng melihatnya. Puluhan ribu sosok bayangan bangkit dari tanah, mengepungnya. Wajah-wajah mereka buram, tapi aura mereka nyata. Aura para kultivator yang mati di tangan Kaisar Pedang.
"Ini... ilusi?" Mo Tianfeng mundur selangkah. Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.
"Ilusi?" Xiao Fan terkekeh. "Coba sentuh salah satunya."
Satu bayangan melesat ke arah Mo Tianfeng. Pria tua itu mengelak, tapi ujung jubah emasnya tersentuh. Dan bagian yang tersentuh itu langsung membusuk. Lapuk. Hancur menjadi debu hitam.
Ini bukan ilusi. Ini adalah kemarahan tanah yang telah menyimpan dendam selama sepuluh ribu tahun.
Mo Tianfeng melompat mundur. Jauh. Sampai ke ujung jalan setanah. Wajahnya pucat. "Kau... apa yang kau lakukan?!"
Xiao Fan menurunkan tangannya. Bayangan-bayangan itu perlahan tenggelam kembali ke dalam tanah. "Aku hanya menunjukkan pada Tetua bahwa Puncak Pelana Kayu ini bukan tempatmu. Ini adalah tanahku. Tanah Kaisar Pedang. Selama kau berdiri di atasnya, kau tidak akan pernah bisa menyakitiku."
Mo Tianfeng menatap Xiao Fan dengan mata membelalak. Kemarahan, ketakutan, dan... rasa hormat yang enggan. Bercampur jadi satu.
"Hari ini aku pergi," katanya akhirnya. "Tapi ini belum selesai, Xiao Fan. Atau siapapun kau sebenarnya. Aku akan kembali. Dan saat itu, aku akan membawa sesuatu yang bahkan tanah ini tidak bisa melindungimu."
Ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan yang tersisa.
Xiao Fan menunggu sampai auranya benar-benar lenyap. Lalu ia terhuyung. Darah menetes dari sudut bibirnya.
"Kau terluka!" Liu Ruyan berlari menghampiri.
"Bukan apa-apa." Xiao Fan menyeka darah itu. Memanggil dendam tanah menghabiskan hampir setengah Qi Kematiannya. Jika Mo Tianfeng bertahan sedikit lebih lama, ia akan tahu itu semua gertakan.
[Peringatan. Mo Tianfeng akan kembali dalam 7 hari dengan bala bantuan.]
[Saran: Tingkatkan kultivasi atau tinggalkan lokasi sebelum waktu habis.]
Xiao Fan menatap langit timur yang mulai terang. Fajar hari ketiga akhirnya tiba.
"Tujuh hari," bisiknya. "Itu lebih dari cukup."
Ia berbalik ke Liu Ruyan. "Kau masih ingin bisa berkultivasi?"
Gadis itu mengangguk cepat.
"Bagus. Karena mulai hari ini, latihanmu dimulai. Aku akan menjadikanmu murid pertamaku."
Mata Liu Ruyan membelalak. "Murid? Tapi kau... kau sendiri masih..."
"Masih apa? Sampah?" Xiao Fan tersenyum tipis. "Kata 'sampah' akan segera kehilangan artinya di dunia ini. Percayalah."
Fajar hari ketiga menyingsing. Sekte Langit Biru belum tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka dalam kedamaian.