Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Kemarahan adalah bahan bakar terbaik untuk kecantikan. Pagi ini, Vivian Wheeler tidak bangun sebagai wanita karier yang elegan dengan setelan blazer kaku atau gaun midi yang memancarkan otoritas. Dia bangun dengan satu misi: penghancuran reputasi Logan Enver-Valerio dan pembuktian bahwa kata "tua" adalah sebuah penghinaan yang salah alamat.
Di depan cermin walk-in closet-nya, Vivian menatap tumpukan pakaian. Dia menyingkirkan koleksi gaun malamnya dan meraih sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Sebuah crop top putih bersih yang dipadukan dengan varsity jacket berukuran oversized dan rok mini lipit berwarna abu-abu gelap. Dia mengenakan sepatu sneakers putih bersih dengan kaos kaki tinggi sebetis.
"Dua puluh tujuh?" gumamnya, memulas bibirnya dengan lip gloss merah muda yang memberi kesan segar dan basah. "Hari ini, aku adalah mahasiswi paling berbakat di kampus ini."
Vivian memang diberkati dengan wajah yang sering menipu orang lain. Tulang pipinya tinggi namun pipinya tetap berisi, memberikan kesan youthful yang alami. Matanya yang bulat dan jernih selalu membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda. Alasan George, si brengsek itu, jatuh cinta padanya bukan hanya karena status sosialnya, tapi karena aura kemurnian yang terpancar darinya.
Dan satu hal yang tidak diketahui dunia—bahkan George sekalipun—adalah bahwa di balik citranya yang berani, Vivian masih menjaga dirinya dengan sangat ketat. Di usia dua puluh tujuh tahun, di tengah gemerlapnya Los Angeles yang bebas, dia masih memegang teguh prinsipnya. Dia masih seorang gadis yang belum tersentuh di balik semua drama dewasa yang mengelilinginya. Dia bersyukur setengah mati karena tidak pernah menyerahkan mahkotanya pada George.
Vivian menguncir rambutnya menjadi high ponytail, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah imutnya. Dia tampak seperti berusia dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun—paling maksimal.
"Mari kita lihat seberapa 'tua' aku di matamu, Logan," ucapnya sambil menyambar kunci mobil pengganti—sebuah Range Rover hitam yang lebih tangguh.
Kampus University of Southern California (USC) siang itu tampak sibuk. Vivian berjalan melewati gerbang utama dengan langkah percaya diri. Tidak ada yang meliriknya sebagai orang asing; mereka justru menatapnya sebagai mahasiswi baru yang sangat cantik.
Asistennya sudah memberikan koordinat yang tepat: Logan selalu berada di kafetaria outdoor dekat fakultas bisnis saat jam makan siang.
Begitu sampai di area kantin yang luas, mata Vivian menyapu kerumunan. Tidak sulit menemukan Logan. Dia duduk di meja panjang di tengah area terbuka, dikelilingi oleh beberapa pria yang tampak seperti anggota tim olahraga dan beberapa gadis yang terus tertawa pada setiap kalimat yang ia ucapkan.
Logan tampak sangat santai dengan kaos hitam polos dan celana cargo. Wajahnya yang tampan terlihat sangat menyebalkan di mata Vivian. Dengan gerakan tenang namun tegas, Vivian berjalan mendekat. Dia tidak ragu, tidak ada lagi rasa malu seperti saat di kafetaria kemarin.
Tanpa permisi, Vivian menarik kursi tepat di samping Logan. Dia meletakkan tas kecilnya di atas meja dengan bunyi brak yang cukup keras untuk menghentikan percakapan di meja itu.
Logan tersentak, menoleh ke samping. Matanya yang tajam langsung bertemu dengan mata jernih Vivian. Untuk sesaat, Logan terpaku. Dia melihat seorang gadis yang tampak sangat manis, dengan gaya berpakaian yang sangat sesuai dengan lingkungan kampus, namun memiliki tatapan mata yang bisa membekukan air.
"Ada yang bisa ku bantu, Cantik?" tanya Logan, suaranya rendah dan serak, dengan senyum miring yang mulai terkembang.
Vivian tidak membalas senyum itu. Dia justru mendekatkan wajahnya, membuat aroma parfum vanilla-floral miliknya menyerang indra penciuman Logan.
"Kau menggunakan ku sebagai umpan untuk memutuskan kekasihmu yang histeris itu, Logan Enver-Valerio?" suara Vivian dingin, meski wajahnya tampak imut. "Dan karena kebohonganmu, mobilku hancur dan aku disebut wanita tua di depan umum."
Senyum Logan tidak luntur, justru semakin lebar. Dia mengenali suara itu. Ini adalah wanita di foto itu—Vivian Wheeler. Namun, melihatnya secara langsung dengan pakaian seperti ini benar-benar di luar ekspektasinya. Logan menyandarkan punggungnya, lengannya dengan sengaja ia letakkan di sandaran kursi Vivian, seolah sedang merangkulnya tanpa menyentuh.
"Wow," gumam Logan, matanya menelusuri wajah Vivian dengan cara yang menurut Vivian sangat mesum. "Foto itu benar-benar tidak adil bagimu. Kau jauh lebih... menggiurkan secara langsung, Kak."
Vivian mengernyit. "Kak?"
"Ya, Kak Vivian, kan?" Logan tertawa kecil, mengabaikan teman-temannya yang mulai bersiul nakal. "Aku harus berterima kasih pada Moana. Karena dia, kau akhirnya datang mencariku. Aku suka wanita yang agresif. Apalagi yang sudah berpengalaman sepertimu."
Deg.
Vivian mematung. Kata "berpengalaman" itu keluar dari mulut Logan dengan nada yang begitu eksplisit. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena pesona Logan, tapi karena kemarahan dan rasa tersinggung yang luar biasa. Berpengalaman? Bagaimana mungkin bocah ini bisa menyimpulkan hal seperti itu?
Dia yang bahkan belum pernah membiarkan tangan pria mana pun meraba lebih dari sekadar pinggangnya, kini dikategorikan sebagai "wanita berpengalaman" oleh seorang anak berusia dua puluh tahun yang mungkin menganggap seks sebagai olahraga harian.
Logan condong ke arah telinga Vivian, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Vivian berdiri—bukan karena nikmat, tapi karena jijik. "Jangan khawatir, aku murid yang cepat belajar. Aku yakin kau bisa mengajariku banyak hal yang tidak bisa dilakukan gadis-gadis seumuran Moana."
Vivian menarik napas panjang. Dia tidak boleh kalah mental. Dia adalah seorang Wheeler. Dia tidak akan membiarkan anak ingusan ini merasa menang hanya karena dia punya wajah tampan dan kepercayaan diri yang overdosis.
Vivian memutar tubuhnya, menatap tepat ke dalam manik mata Logan yang berwarna gelap. Dia mengangkat tangannya, bukan untuk menampar, tapi untuk menyentuh kerah kaos Logan dengan ujung jarinya, lalu menariknya sedikit agar wajah mereka sejajar.
"Berpengalaman, katamu?" Vivian tersenyum sinis, senyum yang sangat kontras dengan wajah imutnya saat ini. "Dengar baik-baik, Bocah. Kau bicara tentang pengalaman seolah kau sudah menaklukkan dunia."
Vivian melepaskan cengkeramannya dan mendorong dada Logan pelan, membuatnya sedikit bersandar kembali ke kursinya. Seluruh kantin kini menonton mereka.
"Kau ingin aku mengajarimu sesuatu?" tanya Vivian dengan suara yang cukup keras agar teman-teman Logan mendengar. "Pelajaran pertama: perbaiki etikamu sebelum kau mencoba merayu wanita yang kelasnya berada jauh di atas jangkauanmu."
Logan baru saja akan membalas dengan gombalan lain, namun Vivian memotongnya dengan kalimat yang lebih tajam dari silet.
"Dan pelajaran kedua," Vivian menatap Logan dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Jangan bicara soal pengalaman di ranjang padaku. Melihat cara bicaramu yang sombong ini, aku berani bertaruh... kencingmu saja bahkan belum lurus."
Skakmat.
Tawa pecah dari meja-meja di sekitar mereka. Teman-teman Logan—para atlet yang tadi terlihat mengintimidasi—kini terbahak-bahak sambil memukul meja. Logan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasakan wajahnya memanas karena malu yang luar biasa. Dia, si penakluk kampus, baru saja dikuliti oleh seorang wanita yang ia sebut "tua" dan "berpengalaman".
Vivian berdiri, merapikan rok mininya dengan anggun. "Oh, dan soal mobilku yang dirusak pacarmu... tagihannya akan sampai di meja ayahmu besok pagi. Pastikan kau belajar cara pipis yang benar sebelum tagihan itu datang, Logan."
Vivian berbalik dan berjalan pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Logan yang mematung dengan kepalan tangan di atas meja, menatap punggung Vivian dengan campuran rasa marah, malu, dan ketertarikan yang kini berubah menjadi obsesi yang berbahaya.
"Belum lurus, ya?" gumam Logan pelan, suaranya berubah menjadi geraman rendah sementara matanya tidak lepas dari lekuk tubuh Vivian yang menjauh. "Kita lihat saja nanti, Vivian Wheeler. Kita lihat siapa yang akan mengajari siapa."
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
gimana bisa ada gunung Argopuro ya