NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Mencekam

Matahari kembar perlahan menyundul ufuk timur Benua Awan Surgawi, memancarkan semburat cahaya keemasan yang menembus tebalnya kabut pagi. Sinar hangat itu jatuh menerpa dedaunan pinus biru yang basah oleh embun, memantulkan kilauan menyilaukan layaknya lautan berlian yang bertaburan di atas dahan.

Angin gunung berhembus membawa aroma khas tanah basah yang menyegarkan, menyapu sisa-sisa hawa dingin malam yang membekukan tulang. Di halaman paviliun megah tersebut, penderitaan puluhan kultivator elit Sekte Teratai Angin masih berlanjut tanpa ada tanda-tanda akan segera berakhir.

Kepala Sekte Zhao Wuji berdiri kaku seperti arca batu, kedua kakinya yang biasanya kokoh kini bergetar hebat menahan kelelahan tingkat ekstrim. Pria paruh baya itu menggigit bibir bawahnya hingga darah segar menetes membasahi kerah jubah emasnya yang sudah sangat kotor oleh lumpur.

Korset baja di balik pakaiannya terasa semakin mencekik lambungnya, membuat napasnya putus-putus dan dadanya naik turun dengan sangat tidak teratur. Dia tidak berani memejamkan mata sedetik pun, takut jika pemuda fana di dalam paviliun itu tiba-tiba keluar dan membongkar aib memalukannya lagi.

Di sisi barat beranda, Penatua Mo Jian masih menggores pilar emas spiritual menggunakan kuku ibu jarinya yang sudah patah dan berdarah. Darah merah kental menetes dari ujung jarinya, menodai ukiran naga yang kini terlihat semakin berantakan dan jauh dari kata sempurna.

Pria tua berbaju zirah itu menangis dalam diam, air matanya terus mengalir tanpa henti membasahi janggut putihnya yang kusut masai. Dia merindukan pelukan hangat boneka kelinci merah mudanya, meratapi nasib tragisnya yang dipaksa menjadi seniman ukir rendahan semalaman suntuk.

Di dalam selokan kering di ujung halaman, murid jenius Chen Feng duduk memeluk kedua lututnya yang gemetar dengan tatapan mata yang sangat kosong. Pemuda tampan idola sekte itu sesekali tertawa sumbang layaknya orang yang sudah kehilangan akal sehat, meratapi reputasinya yang hancur berkeping-keping.

Tangan halusnya yang selama ini hanya memegang pedang pusaka kini melepuh dan berdarah akibat menyikat batu berlumut sepanjang malam. Bau lumpur busuk menempel kuat di tubuhnya, menghancurkan sisa-sisa kesombongan yang pernah dia miliki sebagai pewaris masa depan sekte tersebut.

Sementara penderitaan merajalela di luar, dengkuran halus Li Zhen perlahan mulai berhenti di dalam ruang utama paviliun yang mewah itu. Pemuda kurus itu berguling dengan malas di atas kasur bulu angsanya yang sangat tebal, meremas selimut sutra merah marunnya dengan erat.

Dia membuka sebelah matanya dengan susah payah, mendecakkan lidah karena cahaya matahari pagi mulai menyilaukan pandangannya dari balik jendela giok. Li Zhen merentangkan kedua lengannya ke atas, menguap sangat lebar hingga otot-otot rahangnya berbunyi gemeretak memecah kesunyian ruangan.

"Burung-burung spiritual di tempat ini benar-benar tidak punya otak, berkicau sepagi ini seolah-olah mereka sedang mengikuti lomba paduan suara," gerutunya parau. Dia mengusap matanya yang masih lengket dengan punggung tangan, lalu bangkit duduk dengan wajah yang ditekuk sangat masam.

Perutnya kembali mengeluarkan bunyi keroncongan yang panjang, menandakan bahwa ayam spiritual panggang semalam sudah habis dicerna oleh tubuhnya. Li Zhen menyentuh perutnya yang kempis, alisnya berkerut tajam karena rasa lapar selalu berhasil merusak suasana hatinya di pagi hari.

Dia turun dari ranjang mewahnya dengan langkah yang sengaja diseret, tidak mempedulikan jubahnya yang kusut dan penuh noda minyak. Rasa dingin dari lantai Giok Putih Kutub Utara menyapa telapak kakinya, memberikan sensasi sejuk yang langsung membuat matanya terbuka sepenuhnya.

"Setidaknya lantai giok norak ini berguna untuk membangunkan orang tidur, meskipun uap dinginnya masih terasa sangat mengganggu," gumamnya sambil berjalan menuju pintu. Dia mendorong pintu kayu jati berukir naga itu hingga terbuka lebar, membiarkan udara pagi masuk membawa aroma embun gunung.

Kehadiran Li Zhen di ambang pintu langsung mengubah suasana halaman yang sunyi menjadi medan teror psikologis yang sangat mencekam. Puluhan tetua sekte yang sedang berdiri berjaga serempak menahan napas mereka, tubuh mereka menegang kaku layaknya rusa yang melihat harimau buas.

Li Zhen melipat lengannya di dada, matanya menyapu sekeliling halaman dengan pandangan menilai yang sangat tajam dan merendahkan. Dia melihat wajah-wajah pucat para dewa persilatan itu, lalu tersenyum miring menikmati pemandangan penyiksaan fisik yang dia ciptakan semalaman.

"Apakah kalian semua tertidur sambil berdiri layaknya sekumpulan kuda tua yang sudah tidak laku dijual di pasar hewan?" sindir Li Zhen memecah keheningan. Suaranya menggema lantang, membuat beberapa tetua yang kelelahan langsung tersentak kaget hingga nyaris jatuh tersungkur ke tanah.

Kepala Sekte Zhao Wuji memaksakan dirinya untuk melangkah maju, kakinya yang kaku bergerak dengan sangat canggung dan bergetar hebat. Pria itu menyatukan kedua tangannya di depan dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut wajah yang penuh dengan penderitaan.

"S-Senior Agung, kami sama sekali tidak memejamkan mata semalaman penuh demi menjaga ketenangan tidur Anda," lapor Zhao Wuji dengan suara serak. Dia menggigit lidahnya sendiri untuk menahan rasa sakit dari korset baja yang kini terasa menggesek kulit perutnya hingga lecet.

Li Zhen mendengus meremehkan, melangkah perlahan menuruni anak tangga beranda dengan postur tubuh yang sangat arogan dan angkuh. Kemampuan sistem di kepalanya kembali aktif, memunculkan layar biru neon yang menganalisis kondisi fisik sang Kepala Sekte secara instan.

"Menjaga ketenanganku? Napasmu yang tersengal-sengal karena korset baja itu terdengar sampai ke dalam kamarku dan sangat mengganggu mimpiku," ejek Li Zhen kejam. Wajah Zhao Wuji langsung memerah padam menahan rasa malu, tangannya secara refleks bergerak melindungi area perutnya sendiri dengan panik.

"D-demi para dewa, hamba mohon ampun atas kelancangan napas hamba yang mengganggu Anda," ratap Zhao Wuji sambil menjatuhkan diri berlutut. Pria perkasa penguasa benua itu menangis tersedu-sedu, meremas tanah merah dengan jari-jarinya karena harga dirinya kembali diinjak-injak tanpa ampun.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!