NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - MHB

Ketegangan pasca insiden "sepupu jauh" di depan gerbang apartemen menyisakan atmosfer yang lebih dingin dari suhu AC di lantai 28 itu. Selama tiga hari terakhir, Arka benar-benar menjalankan perannya sebagai orang asing yang menumpang tinggal. Tidak ada sapaan pagi, tidak ada sarapan bersama, bahkan suara motor besarnya pun tak lagi terdengar saat Maya berangkat kerja. Arka sengaja berangkat lebih pagi atau lebih lambat demi menghindari pertemuan.

​Maya, di sisi lain, merasa seperti pemenang yang kesepian. Ia bisa fokus bekerja tanpa gangguan, namun ada sesuatu yang mengganjal setiap kali ia melihat kursi kosong di meja makan.

​Hari Kamis tiba. Pekerjaan Maya di kantor sedikit lebih ringan. Ia pulang pukul enam sore, sebuah keajaiban bagi seorang Account Director. Saat melangkah keluar dari lift, hidungnya menangkap aroma yang sangat kuat—bukan parfum maskulin Arka, melainkan aroma bawang putih yang digoreng dan sesuatu yang agak... gosong.

​Maya mengerutkan kening. Ia membuka pintu apartemen dan mendapati kepulan asap tipis menyelimuti ruang tengah.

​"Arka?" panggilnya dengan suara waspada.

​Tidak ada jawaban. Namun, dari arah dapur, terdengar suara desisan minyak yang sangat keras. Maya melempar tasnya ke sofa dan berlari menuju dapur. Pemandangan di sana membuatnya hampir terkena serangan jantung.

​Sebuah wajan di atas kompor sedang mengeluarkan api kecil. Minyak di dalamnya sudah menghitam dan meluap. Di sampingnya, beberapa potong daging sapi yang belum matang berserakan di atas talenan, sementara panci lain berisi air mendidih hampir meluap hingga membasahi sirkuit kompor listrik.

​"ASTAGA, ARKA!" teriak Maya.

​Ia segera menyambar kain serbet basah, mematikan saklar kompor dengan gerakan panik, dan menutupi wajan yang terbakar itu. Asap hitam mengepul semakin pekat. Maya terbatuk-batuk sambil membuka jendela balkon lebar-lebar untuk membuang udara panas.

​Tepat saat itu, Arka muncul dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. Ia masih memakai headset besar yang melingkar di lehernya, tangan kanannya memegang controller game. Wajahnya yang tadi tampak tegang karena permainan, mendadak berubah pucat pasi saat melihat kondisi dapurnya.

​"Kak... Kak Maya? Sudah pulang?" tanya Arka gagap.

​Maya berbalik, wajahnya merah padam karena amarah dan sisa ketakutan. "Kamu mau membakar apartemen ini, hah?! Apa yang kamu lakukan?!"

​Arka meletakkan controller-nya di meja terdekat, tampak sangat bersalah. "Aku... aku tadi cuma mau masak. Aku lihat di YouTube cara bikin steak untuk permintaan maaf soal kemarin. Tapi pas lagi nunggu minyak panas, ada notifikasi raid dari tim game-ku... aku pikir cuma sebentar..."

​"Cuma sebentar?!" suara Maya naik satu oktaf. "Kamu hampir membakar gedung ini hanya karena game konyol itu! Kamu pikir ini main-main? Ini apartemen orang tua kita, Arka! Kalau tadi aku tidak pulang cepat, mungkin sekarang kita sudah tidak punya tempat tinggal!"

​Arka menunduk. "Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku cuma mau kasih kejutan..."

​"Kejutan? Ini bukan kejutan, ini bencana!" potong Maya tajam. Ia melangkah mendekati Arka, menunjuk-nunjuk tumpukan bahan makanan yang kini hancur di meja dapur. "Inilah alasannya kenapa aku bilang kamu itu masih anak kecil. Kamu tidak punya rasa tanggung jawab. Kamu masih hidup di duniamu sendiri tanpa peduli bahaya di sekitarmu. Menikah denganmu memang keputusan terburuk yang pernah dibuat ayahku!"

​Kalimat terakhir itu keluar begitu saja, tajam dan dingin seperti sembilu.

​Ruangan itu mendadak sunyi. Arka mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya penuh kilatan jenaka kini tampak redup dan terluka. Ia tidak membalas, tidak juga membela diri seperti biasanya. Keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan Maya sebelumnya.

​Maya yang tersadar kalimatnya terlalu kasar, segera membuang muka. "Bersihkan ini semua. Aku tidak mau melihat dapur ini berantakan saat aku bangun besok pagi."

​Maya melangkah cepat menuju kamarnya dan membanting pintu. Ia melempar tubuhnya ke ranjang, dadanya masih naik turun karena emosi. Namun, seiring berjalannya waktu, gema kalimatnya tadi—keputusan terburuk yang pernah dibuat ayahku—mulai menghantui pikirannya. Ia tahu Arka salah, sangat salah karena lalai. Tapi ia juga tahu Arka melakukannya karena ingin meminta maaf.

​Pukul sepuluh malam.

​Maya tidak bisa tidur. Perutnya lapar karena ia belum sempat makan malam, namun ia enggan keluar kamar. Rasa bersalah mulai menggerogoti harga dirinya. Ia mendengar suara gesekan sikat, gemericik air, dan denting piring dari arah dapur. Suara itu tidak berhenti selama berjam-jam.

​Akhirnya, karena haus yang tak tertahankan, Maya membuka pintu kamarnya sedikit. Ia melongok ke arah dapur.

​Di sana, Arka masih bekerja. Ia sudah melepas kaus putihnya, hanya menyisakan kaus dalam yang basah oleh keringat. Arka sedang berlutut di lantai, menggosok bekas minyak yang membandel di bawah lemari dapur dengan sikat kecil. Wajahnya terlihat sangat lelah, ada noda jelaga di pipinya, namun ia melakukannya dengan sangat teliti.

​Tidak ada suara game, tidak ada ponsel di dekatnya. Arka benar-benar fokus membersihkan setiap sudut yang berantakan akibat kelalaiannya.

​Maya berdiri di bayang-bayang lorong, memperhatikan suaminya. Ia melihat tangan Arka yang memerah karena terlalu lama terkena sabun pembersih yang keras. Tiba-tiba, ia teringat bagaimana Arka selalu berusaha mencairkan suasana dengan candaan, meskipun Maya selalu membalasnya dengan dingin. Arka mungkin masih muda, tapi usaha yang ia tunjukkan malam ini untuk menebus kesalahannya terasa sangat... dewasa.

​Maya melangkah perlahan menuju dapur. Arka tersentak kaget saat melihat bayangan Maya, ia segera berdiri dan menyeka keringat di dahinya dengan lengan.

​"Ah, Kak Maya... maaf kalau berisik. Sebentar lagi selesai, kok. Tinggal bagian pojok ini saja," ucap Arka dengan suara serak. Ia tidak berani menatap mata Maya langsung.

​Maya terdiam, menatap dapur yang kini tampak jauh lebih bersih daripada saat mereka pertama kali pindah. Dinding yang tadi terkena asap sudah dilap bersih, lantai berkilau, dan alat masak sudah tertata rapi.

​"Kamu sudah melakukannya dari jam tujuh?" tanya Maya pelan.

​Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya. Aku tidak mau Kakak marah lagi besok pagi. Dan... aku benar-benar minta maaf soal tadi. Kakak benar, aku terlalu kekanak-kanakan. Harusnya aku tidak tinggalin kompor nyala."

​Maya melihat tangan Arka yang lecet kecil, mungkin terkena pinggiran wajan yang panas tadi. Ia menghela napas panjang, kemarahannya yang meluap-luap tadi sore kini benar-benar padam, berganti dengan rasa sesak yang aneh di dada.

​"Sudahlah, Arka. Berhenti," ujar Maya.

​"Sedikit lagi, Kak—"

​"Aku bilang berhenti," Maya melangkah mendekat dan mengambil sikat dari tangan Arka. "Ini sudah jam dua belas lewat. Tidurlah. Kamu ada kelas pagi besok, kan?"

​Arka menatap Maya dengan bingung. "Kak Maya tidak marah lagi?"

​Maya tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil sebuah kotak P3K kecil yang selalu ia simpan. Ia menarik tangan Arka, membuat pemuda itu tersentak kaget. Dengan teliti, Maya mengobati lecet di jari Arka dengan cairan antiseptik.

​"Aku masih marah," bisik Maya sambil menempelkan plester. "Tapi... aku juga minta maaf karena tadi bicara terlalu kasar. Kalimat soal keputusan terburuk itu... aku tidak bermaksud mengucapkannya."

​Arka terdiam. Ia menatap puncak kepala Maya yang sedang fokus membalut jarinya. Sebuah senyum tipis, kali ini tulus dan tanpa nada mengejek, muncul di wajahnya.

​"Terima kasih, Kak," bisik Arka. "Sebenarnya, meskipun Kakak galak, Kakak masih lebih cantik daripada bos di game-ku."

​Maya mendongak, matanya bertemu dengan mata Arka. Kali ini, ia tidak memarahi candaan itu. Ia hanya memberikan pukulan ringan di bahu Arka.

​"Masuk kamar dan mandi. Bau asapmu ini bisa bikin aku pingsan," ketus Maya, meski rona merah samar muncul di pipinya.

​Arka tertawa kecil, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. "Siap, Senior! Oh ya, di dalam microwave ada nasi goreng yang sempat aku selamatkan tadi. Tidak hangus, kok. Makanlah, aku tahu Kakak lapar."

​Maya melihat ke arah microwave dan menemukan sebuah piring yang tertutup rapi. Arka melambaikan tangan dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang lebih ringan.

​Malam itu, saat Maya memakan nasi goreng buatan Arka yang rasanya ternyata cukup enak meski bumbunya agak terlalu kuat, ia menyadari sesuatu. Arka mungkin sering melakukan kesalahan layaknya anak muda, tapi cara pria itu mengakui kesalahan dan bertanggung jawab tanpa banyak alasan, justru mulai meruntuhkan tembok persepsi Maya tentang apa arti menjadi "dewasa" yang sebenarnya.

Bersambung....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!