Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Aroma kertas tua dan pembersih lantai yang khas menyambut Arga saat ia melangkah memasuki Perpustakaan Graha Pustaka. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah jendela-jendela tinggi, menciptakan garis-garis emas yang menari di antara rak buku kayu yang menjulang. Di salah satu meja bundar di sudut ruangan yang paling tenang, Dimas sudah melambaikan tangan dengan semangat yang berlebihan untuk ukuran tempat sunyi seperti ini.
Arga mengatur napasnya. Di sana, duduk berdampingan dengan Rara, ada Nala. Gadis itu tampak serius membolak-balik buku paket biologi yang tebal, rambutnya diikat asal namun justru menambah kesan mandiri yang kuat.
Arga, akhirnya sampai juga. Ayo duduk, kita harus selesaikan bagian pengamatan sel ini sekarang juga, ujar Dimas dengan suara yang ditekan agar tidak ditegur petugas perpustakaan.
Arga menarik kursi di sebelah Dimas, yang berarti ia berada tepat di hadapan Nala. Jarak mereka hanya terpisah oleh permukaan meja kayu yang lecet di beberapa bagian. Gadis itu mendongak sebentar, memberikan senyum tipis yang sangat sopan, lalu kembali fokus pada catatannya. Senyum itu terasa seperti tembok transparan bagi Arga, sebuah batasan yang menegaskan bahwa mereka adalah dua orang asing yang kebetulan berada dalam satu kelompok.
Mereka mulai bekerja dalam keheningan yang produktif. Dimas sesekali melontarkan candaan kecil untuk mencairkan suasana, sementara Rara sibuk menandai bagian-bagian penting di buku referensi. Arga mencoba fokus pada tugasnya mencari literatur tentang jaringan tumbuhan, namun konsentrasinya buyar setiap kali mendengar suara goresan pena Nala di atas kertas.
Tiba-tiba, suara goresan itu berhenti. Arga melirik dari balik bukunya. Nala tampak mengernyit, mengguncang-guncang penanya beberapa kali, lalu mencoba mencoret-coret di pinggiran kertas. Hasilnya nihil. Tinta pena itu benar-benar habis.
Nala menghela napas pendek, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling meja. Ia tampak ragu sejenak sebelum tatapannya jatuh pada Arga.
Arga, boleh aku pinjam pena? Sepertinya punyaku habis, tanya Nala dengan nada suara yang tenang namun terdengar sangat asing di telinga Arga.
Arga tidak langsung menjawab. Jantungnya berdegup lebih kencang dari yang seharusnya. Ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah pena cadangan berwarna hitam sederhana. Saat ia mengulurkan benda itu, jemari mereka bersentuhan selama sepersekian detik. Dingin. Kulit Nala terasa dingin, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan yang membuat Arga seolah terlempar kembali ke masa delapan tahun yang lalu.
Kejadiannya hampir sama. Saat itu mereka masih berusia sembilan tahun, duduk di bawah pohon mangga di halaman belakang rumah lama Nala di Kota Biru. Nala menangis karena ujung pensil warnanya terus-menerus patah saat ia ingin menggambar langit. Arga kecil, dengan gaya sok pahlawan, memberikan pensil warna miliknya yang paling tajam.
Jangan menangis, pakai punyaku saja, ujar Arga kecil saat itu.
Nala kecil tersenyum lebar, menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu berjanji akan mengembalikan pensil itu setelah gambarnya selesai. Namun, sore itu mereka malah asyik mengejar capung sampai lupa dengan urusan alat tulis.
Terima kasih ya, Arga, ucap Nala, memutus lamunan laki-laki itu.
Suara Nala sekarang terdengar jauh lebih dewasa, tanpa sisa memori tentang pohon mangga atau janji masa kecil mereka. Ia mulai menulis lagi dengan pena milik Arga, tampak sangat efisien dan tidak terganggu oleh apa pun.
Dimas menyenggol lengan Arga, memberikan tatapan penuh arti yang seolah berkata untuk berhenti melamun dan kembali bekerja. Arga berdeham kecil, mencoba mengembalikan fokusnya ke buku di depannya. Namun, sulit baginya untuk mengabaikan kenyataan bahwa pena yang kini digenggam Nala adalah miliknya, sebuah benda kecil yang menjadi satu-satunya penghubung fisik di antara mereka saat ini.
Rara yang sedari tadi mengamati interaksi itu, menopang dagu dengan tangan kirinya. Ia melirik Arga, lalu beralih ke Nala, dan kembali lagi ke Arga. Ada kilat penuh selidik di matanya yang tajam. Sebagai orang yang cukup peka, Rara merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari cara Arga memberikan pena tadi. Ada sebuah keraguan yang emosional, sebuah tindakan yang terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar meminjamkan alat tulis.
Tadi itu pena favoritmu, ya? Tanya Rara tiba-tiba, memecah keheningan.
Arga tersentak sedikit. Bukan, hanya pena biasa, jawabnya singkat.
Nala mendongak sejenak, menatap pena di tangannya seolah mencari sesuatu yang spesial di sana, namun ia tidak menemukan apa-apa. Baginya, itu benar-benar hanya sebuah pena hitam yang kebetulan dipinjam dari teman sekelasnya.
Arga kembali menunduk, menatap barisan kata di bukunya yang mulai mengabur. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Bagi Nala, meminjam pena adalah interaksi sepele yang akan dilupakan begitu mereka keluar dari perpustakaan ini. Namun bagi Arga, setiap detik di meja ini adalah usaha keras untuk tidak berteriak dan menanyakan mengapa gadis itu bisa melupakan segalanya dengan begitu mudah.
Di pojok perpustakaan yang tenang itu, Arga menyadari bahwa jarak terjauh antara dua manusia bukanlah ribuan kilometer, melainkan ketika dua orang duduk berhadapan, namun hanya salah satu dari mereka yang membawa beban ingatan. Arga tetap diam, membiarkan hanya suara detak jarum jam dinding dan gesekan pena yang mengisi ruang di antara mereka. Ia masih di sana, menjaga rahasia yang bahkan pemiliknya sendiri sudah tidak mau tahu.