NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Tuan Besar

Bab 19 – Rahasia Tuan Besar

“Itu… foto itu dari mana kau dapatkan?!”

Untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya, suara pria yang dipanggil Tuan Besar itu terdengar goyah dan tak berdaya.

Alya langsung menangkap perubahan drastis itu. Pria yang selama ini terlihat gagah, berkuasa, dan menakutkan seperti tembok batu… kini wajahnya pucat pasi seakan baru saja melihat hantu.

Kael berdiri kokoh di depan meja, tubuhnya menegang kaku. Aura pertarungan antara ayah dan anak itu terasa sangat kuat.

“Jadi… kau memang mengenalnya,” ucap Kael perlahan, tegas.

Ayahnya menatap foto tua itu tanpa berkedip, matanya seakan kembali ke masa lalu puluhan tahun lalu.

Hening beberapa detik yang terasa sangat lama.

Akhirnya pria tua itu menjawab dengan suara datar namun bergetar,

“Bakar foto itu. Sekarang.”

“APA?!” Alya membelalakkan mata tak percaya. “Itu barang bukti! Itu kenangan! Kenapa harus dibakar?!”

Kael sama sekali tak bergerak. Ia tidak menyentuh foto itu.

“Aku bertanya… dari mana kau mengenal wanita di foto itu dan apa hubungan kalian sebenarnya,” desis Kael, suaranya rendah dan penuh ancaman.

Pria tua itu mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya kembali berubah menjadi dingin dan keras seperti semula.

“Dan aku memberi perintah. Bakar dan lupakan.”

Kael melangkah maju satu langkah, mendominasi ruangan.

“Sayangnya… aku bukan anak kecil yang bisa kau perintah sembarangan lagi, Ayah.”

WUSH!

Udara di ruangan itu seakan membeku seketika.

Ayah dan anak itu saling beradu pandang layaknya dua harimau yang siap menerkam satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah.

Alya menelan ludah dengan susah payah. Ia mulai mengerti kenapa seluruh dunia takut dan segan pada keluarga ini. Mereka memang terlahir sebagai penguasa.

Tuan Besar menunjuk Alya dengan jarinya yang gemetar.

“Kau. Keluar dari ruangan ini sekarang. Ini urusan keluarga.”

“TIDAK,” jawab Alya spontan dan cepat tanpa ragu sedikit pun.

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padanya.

Bahkan Alya sendiri kaget dengan keberaniannya sendiri. Berani melawan bos besar mafia begini.

Pria tua itu menyipitkan matanya, tampak tak percaya ada orang yang berani menolak perintahnya.

“Kau bicara padaku dengan nada seperti itu, gadis?”

Alya menarik napas panjang, menegakkan bahunya setinggi mungkin.

“Kalau pembicaraan ini menyangkut ibuku, menyangkut siapa ayahku, dan menyangkut nyawaku sendiri… saya punya hak penuh untuk mendengar dan tahu segalanya!”

Kael yang berdiri di sampingnya sempat melirik sekilas. Di wajah dingin itu, terselip senyum tipis dan rasa bangga yang sangat samar. Gadis-nya memang hebat.

Namun ayah Kael justru tertawa pendek, sinis.

“Berani. Menjengkelkan. Sekarang aku mengerti kenapa Kael bisa tergila-gila padamu. Sifatmu sama persis.”

Alya mendelik kesal. “Itu bukan pujian, Tua.”

“CUKUP!” Kael memotong pembicaraan dengan suara keras. “Jangan berbelit lagi. Jawab pertanyaanku, Ayah. Siapa Mira sebenarnya bagimu?!”

Pria tua itu berjalan perlahan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke taman luas. Ia memunggungi mereka, menatap kegelapan malam di luar.

“Wanita itu bernama Mira. Dulu… dia bekerja di rumah ini dua puluh dua tahun lalu.”

Tubuh Alya menegang kaku.

“Ibuku…” bisiknya pelan.

“Ya. Ibumu,” jawab pria itu pelan.

Kael mengeras. “Hubungan apa yang kau punya dengannya?!”

Tuan Besar diam cukup lama. Hening yang mencekam.

Akhirnya ia berkata lirih,

“Dia adalah… kesalahan terbesar dalam hidupku.”

BRUK!

Alya langsung meledak emosi.

“IBUKU BUKAN KESALAHAN!!!” teriaknya marah.

Ia maju selangkah berani. “Jangan pernah bicara tentang Ibu seperti itu! Dia wanita baik-baik! Dia yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang!”

Kael secara otomatis meraih lengan Alya untuk menahannya agar tidak terlalu maju dan berbahaya, tapi ia tidak menyuruh gadis itu diam. Ia membiarkan Alya meluapkan emosinya.

Pria tua itu menoleh perlahan kembali menghadap mereka.

“Temperamen api itu… sangat mirip sekali dengan ibumu saat muda. Tidak takut pada apa pun.”

“Aku bangga memilikinya,” jawab Alya tegas.

Pria tua itu menghela napas panjang, seakan beban berat turun dari bahunya.

“Dulu… Mira bekerja sebagai sekretaris pribadiku. Dia cerdas, cantik, keras kepala, dan tidak pernah tahu tempat. Dia berbeda dari wanita lain yang takut padaku.”

“Seperti Alya,” gumam Kael pelan di samping.

Alya langsung menginjak kaki Kael keras-keras. Bisa diam nggak sih?!

Kael hanya diam tak bereaksi, tapi tangannya makin erat memegang tangan gadis itu.

“Aku jatuh hati padanya,” lanjut Tuan Besar dengan suara berat. “Sangat jatuh hati. Dan itu adalah kelemahan terbesarku. Kelemahan yang menghancurkan segalanya.”

Ruangan kembali hening total.

Telinga Alya berdenging.

“Jadi… kau dan ibuku…” suaranya tercekat.

“Ya. Kami pernah menjalin hubungan rahasia,” jawabnya terus terang.

Kael menatap ayahnya dengan tatapan sangat gelap dan kecewa.

“Lalu… bayi yang ada di pelukan Mira di foto itu? Siapa bayi itu?!” tanya Kael menuntut.

Pria tua itu terdiam. Ia menatap putranya lama.

“Kael…” Nada suaranya berubah aneh, lebih lembut namun lebih berat dari sebelumnya.

“Pada tahun itu… tepat di malam Mira menghilang… aku juga kehilangan seorang anak.”

Kael membeku. Wajahnya berubah kaget.

“Apa maksudmu?”

“Aku punya bayi laki-laki. Anak dari istri sahku saat itu. Adik kandungmu. Namanya Leo.”

Alya menoleh cepat menatap Kael. Adik? Kael tidak pernah cerita punya adik.

Pria tua itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Bayi itu diculik orang tak dikenal tepat di malam yang sama Mira kabur dari rumah ini.”

Lutut Alya terasa lemas sekali.

“Jadi… bayi yang ada di foto itu… yang digendong ibuku…”

Pria tua itu menatap Alya lurus tajam.

“Selama dua puluh dua tahun ini… aku selalu mengira bahwa Mira yang mencuri anakku. Aku kira dia melakukannya untuk balas dendam karena aku tak bisa menceraikan istriku dan menikahinya.”

BRAAKK!!!

Kael membanting tangannya ke meja dengan keras hingga semua barang di atasnya bergetar.

“DAN KAU TAK PERNAH BERUSAHA MENCARI KEBENARANNYA?! KAU HANYA MENUDUH DAN MEMBURU MEREKA BERTAHUN-TAHUN?!” teriak Kael murka setengah mati.

“AKU MENCARINYA!” balas ayahnya tak kalah keras.

“DENGAN CARA MEMBUNUH? DENGAN CARA MEMBUAT HIDUP MEREKA SENGSARA?!”

“AKU TAK PERNAH MEMERINTAHKAN UNTUK MEMBUNUH ALYA!” seru pria tua itu membela diri.

Kael tertawa dingin penuh ejekan. “Kebohongan yang sangat buruk.”

“Aku hanya ingin membawa gadis itu kembali ke sini hidup-hidup! Aku ingin tahu kebenarannya!”

Alya mundur perlahan, kepalanya pusing menampung semua informasi ini.

“Jadi… selama ini aku diburu, diculik, dan diteror… cuma karena kau salah sangka dan mengira aku adalah anak laki-laki yang hilang itu?”

Tuan Besar menatapnya lama sekali.

“Awalnya… ya. Begitu yang kukira.”

“Awalnya?” ulang Kael tajam, menangkap kata kuncinya. “Maksudmu sekarang tidak?”

Pria tua itu melirik kembali ke foto di meja, lalu menatap Alya lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Lalu perlahan aku sadari… ada kemungkinan lain yang jauh lebih masuk akal.”

Jantung Alya berdegup kencang tak karuan.

“Kemungkinan apa?! Katakan sekarang juga!” desaknya tak sabar.

Pria tua itu menjawab pelan, jelas, dan mematikan:

“Bahwa kau… bukan anak yang diculik itu…”

Tatapannya menembus tepat ke jiwa Alya.

“Melainkan… putri kandungku sendiri.”

SUUUUUUT…

Seluruh isi ruangan seakan menghilang. Waktu berhenti berputar.

Wajah Alya pucat pasi seperti mayat hidup.

Di sampingnya, Kael berdiri mematung total. Tubuhnya kaku bagaikan patung es.

“Tidak… tidak mungkin…” bisik Kael nyaris tak terdengar.

Pria tua itu berkata dengan tenang namun pasti,

“Karena faktanya… Mira memang sedang mengandung anakku saat dia memutuskan kabur dari rumah ini dua puluh dua tahun yang lalu"

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!