NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 - Kehancuran Desa Daun Maple

Di pinggir sungai, angin pagi berhembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma air yang lembap dan suasana yang terasa tidak wajar. Kabut tipis menyelimuti permukaan tanah, membuat segalanya tampak samar dan sunyi.

Di antara rerumputan yang basah, Ye Fan perlahan membuka matanya.

Ia tersentak dan langsung duduk, napasnya sedikit terengah, seolah baru saja ditarik keluar dari mimpi buruk. Kepalanya terasa berat, berdenyut pelan, sementara pandangannya berputar sesaat sebelum akhirnya mulai fokus kembali.

“Apa… yang terjadi…?” gumamnya pelan, suaranya serak.

Tangannya bergerak refleks menyentuh kepalanya, mencoba mengingat, namun yang muncul hanyalah potongan-potongan ingatan yang kacau.

Ia segera menoleh ke sekeliling, dan apa yang ia lihat membuat napasnya tertahan sejenak. Tanah di sekitar mereka retak dan hangus di beberapa bagian, seolah baru saja menerima hantaman kekuatan yang tidak biasa. Sisa-sisa energi masih terasa samar di udara, berputar perlahan seperti jejak yang belum sepenuhnya menghilang.

Tak jauh darinya, dua sosok tergeletak tak bergerak.

Mata Ye Fan langsung melebar.

“Xiao Yan! Han Li!” serunya panik.

Tanpa menunda, ia berlari menghampiri mereka dan segera berlutut di samping tubuh keduanya. Tangannya langsung mengguncang bahu mereka dengan cemas. “Bangun! Kalian dengar aku?!”

Beberapa saat terasa begitu lama.

Lalu perlahan, Xiao Yan mengerang pelan, alisnya berkerut saat kesadarannya mulai kembali. Di sisi lain, Han Li juga mulai bergerak, matanya berkedip-kedip sebelum akhirnya terbuka, meski masih tampak kebingungan.

“Aduh… kepalaku…” keluh Han Li sambil memegangi dahinya, wajahnya masih pucat akibat serangan tadi. Ye Fan yang sudah lebih dulu sadar langsung berbicara cepat, suaranya penuh urgensi, “Kita habis diserang oleh orang aneh itu. Kita harus segera mencarinya sebelum terlambat!”

Namun sebelum mereka sempat bergerak, Xiao Yan yang baru saja bangkit tiba-tiba membeku di tempat.

Tatapannya lurus ke depan, tidak berkedip.

“Lihat…” ucapnya pelan, namun nadanya cukup untuk membuat dua lainnya ikut menoleh.

Di depan bangunan tua itu, di atas tanah yang retak dan dipenuhi sisa energi yang belum sepenuhnya hilang, terlihat sebuah sosok kecil terbaring tak bergerak.

Napas Ye Fan tertahan.

Han Li langsung membuka mata lebar-lebar.

“Itu… Long Chen.”

Tanpa menunggu lebih lama, Han Li langsung berlari menuju sosok itu, langkahnya tergesa penuh kepanikan. Xiao Yan dan Ye Fan segera menyusul di belakangnya, ketiganya bergerak secepat mungkin melintasi tanah yang masih dipenuhi sisa energi yang belum sepenuhnya hilang.

“Chen! Bangun!” seru Han Li sambil berlutut di samping tubuh Long Chen.

Xiao Yan segera merendahkan tubuhnya dan memeriksa napasnya dengan tenang meski ekspresinya tegang. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berkata, “…dia masih hidup.”

Mendengar itu, Ye Fan menghela napas lega, namun kekhawatiran di wajahnya belum hilang. Mereka bertiga mulai mengguncang tubuh Long Chen dengan hati-hati, berusaha membangunkannya tanpa memperparah kondisinya.

Beberapa saat kemudian, kelopak mata Long Chen perlahan bergerak.

Napasnya terdengar berat saat ia mulai sadar.

“Ugh…” suara lemah keluar dari bibirnya, menandakan bahwa ia akhirnya kembali dari batas antara sadar dan tidak.

Long Chen tampak kebingungan saat akhirnya duduk perlahan, matanya masih belum sepenuhnya fokus seolah pikirannya belum kembali utuh. Ia menatap ketiga temannya secara bergantian, lalu berkata dengan suara pelan, “Kalian… kenapa ada di sini? Dan… kenapa aku ada di luar seperti ini?”

Ye Fan langsung mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan pertanyaan itu. “Kami melihatmu masuk ke bangunan itu bersama seseorang,” jawabnya cepat, nadanya serius dan penuh kecurigaan.

Xiao Yan yang berdiri di sampingnya menatap Long Chen dengan lebih tajam, mencoba membaca ekspresi yang ada di wajahnya. “Apa tujuanmu menemui orang itu?” tanyanya, suaranya tenang namun menekan.

Long Chen terdiam.

Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di benaknya, bayangan samar yang gelap dan sulit dipahami, seolah ingatan yang baru saja ia alami berusaha muncul ke permukaan. Tubuhnya sedikit menegang, dan napasnya sempat tertahan.

Namun ia segera menggeleng pelan.

“Aku… tidak ingat apa-apa,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar lemah namun cukup meyakinkan.

Ia berbohong.

Han Li langsung mengepalkan tangannya, amarah dan kekhawatiran bercampur di wajahnya. “Kita harus mencari orang itu sekarang juga,” katanya dengan nada tegas, jelas tidak bisa menahan diri lebih lama.

Ye Fan segera berdiri, ekspresinya serius saat ia menatap ke arah desa. “Tidak, kita kembali dulu ke desa dan memeriksanya. Kalau orang itu punya tujuan lain, bisa jadi desa dalam bahaya,” ujarnya cepat, pikirannya sudah melangkah lebih jauh.

Xiao Yan mengangguk pelan, tatapannya tetap tajam meski tidak menunjukkan kepanikan. “Semoga tidak terjadi apa-apa,” ucapnya rendah, namun ada ketegangan yang jelas dalam suaranya.

Tanpa menunggu lagi, Han Li dan Ye Fan langsung berlari menuju desa, langkah mereka cepat dan penuh urgensi.

Xiao Yan tetap di belakang sejenak. Ia meraih tangan Long Chen dan membantu sahabatnya itu berdiri dengan hati-hati. Setelah memastikan Long Chen bisa berdiri, ia menatapnya dengan serius, sorot matanya dalam seolah ingin memastikan sesuatu.

“Kalau kau ingat sesuatu… jangan sembunyikan,” katanya pelan namun tegas.

Long Chen terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “…iya,” dengan suara rendah.

Namun di balik jawaban itu, pikirannya tidak tenang.

Sebuah pertanyaan terus berputar di dalam hatinya, semakin kuat seiring waktu.

Apa yang sebenarnya dilakukan orang itu… padaku…?

Mereka berlari menuju desa dengan kecepatan penuh, langkah kaki mereka menghantam tanah tanpa henti seiring rasa cemas yang semakin membesar di dalam hati masing-masing. Semakin dekat jarak yang mereka tempuh, suasana di sekitar perlahan berubah, tidak lagi terasa seperti desa yang mereka kenal.

Mereka berlari menuju desa dengan kecepatan penuh, napas mulai memburu namun tidak ada satu pun dari mereka yang melambat. Semakin dekat mereka ke gerbang, perasaan tidak enak itu semakin jelas, seolah sesuatu yang tak terlihat menekan dari segala arah.

Udara berubah.

Tidak lagi terasa segar seperti biasanya, melainkan berat dan dingin, membawa aroma yang menusuk dan tidak asing bagi naluri mereka.

Bau darah.

Saat tiba di pintu masuk desa, Ye Fan dan Han Li yang berada di depan tiba-tiba berhenti.

Tubuh mereka membeku di tempat.

Langkah mereka terhenti begitu saja, seolah kaki mereka tidak lagi bisa bergerak.

Xiao Yan dan Long Chen yang menyusul dari belakang hampir menabrak mereka.

“Apa yang—” Xiao Yan mulai bertanya, namun kata-katanya terhenti di tengah kalimat.

Tatapannya langsung terpaku ke depan.

Di hadapan mereka, Maple Leaf Village telah berubah menjadi pemandangan yang tidak lagi bisa disebut sebagai rumah, melainkan neraka yang sunyi dan menyakitkan. Rumah-rumah yang dulu berdiri kokoh kini hancur tak berbentuk, sebagian masih terbakar dengan api yang belum sepenuhnya padam, mengeluarkan asap hitam yang perlahan naik ke langit. Tanah dipenuhi bekas kehancuran, dan di antara puing-puing itu, tubuh-tubuh warga tergeletak tak bergerak, tersebar tanpa kehidupan.

Mata Long Chen membesar, napasnya seakan terhenti saat pemandangan itu terpatri di hadapannya. “Tidak… mungkin…” bisiknya pelan, suaranya bergetar, tidak mampu menerima kenyataan yang ada.

Xiao Yan mengatupkan rahangnya kuat, amarah langsung membara di dalam dirinya. Tatapannya mengeras saat ia menatap kehancuran di depan. “Ini… pasti ulah orang itu…” ucapnya dengan suara rendah namun penuh tekanan, setiap kata dipenuhi kemarahan yang sulit dikendalikan.

Tanpa menunggu lebih lama, Ye Fan langsung berlari ke dalam desa, matanya panik menyapu setiap sudut. “Ibu! Ayah!” teriaknya keras, suaranya menggema di antara kehancuran, berharap ada jawaban yang tidak pernah datang.

Han Li juga berlari menyusul, wajahnya pucat, langkahnya goyah namun tetap memaksa dirinya maju. Ia memanggil orang-orang yang dikenalnya, suaranya mulai bergetar, antara harapan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

End Chapter 7

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!