NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Cahaya matahari masuk dari sela tirai.

Lembut namun tidak cukup untuk menghangatkan suasana kamar yang terasa asing. Fania bangun kesiangan, mengingat hari ini memang hari libur dan Ronald pun sama.

Duduk di tepi ranjang. Diam, tangannya menggenggam ujung selimut. Kosong, namun kepalanya terasa penuh. Ia tidak tidur nyenyak semalam, hampir tidak tidur sama sekali. Setiap kali memejamkan mata yang muncul tetap sama.

Restoran itu.

Tawa itu.

Dan kalimat Ronald yang terus berputar tanpa henti. “Kalau kau yakin tak cemburu, harusnya kau tak menolaknya sekeras ini.”

Fania menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Namun tetap tidak lega. Di sampingnya, tempat tidur sudah kosong. Ronald sudah tidak ada. Fania menoleh sekilas, lalu kembali lurus ke depan. Tidak kaget dan juga tidak benar-benar peduli. Atau setidaknya itu yang ia coba yakini.

Ia berdiri melangkah ke kamar mandi, rutinitas pagi berjalan seperti biasa. Teratur, terlihat normal namun setiap gerakan terasa seperti dilakukan tanpa benar-benar hadir di sana.

Beberapa menit kemudian, ia turun ke bawah. Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi. Langkahnya berhenti di ruang makan dan Ronald ada di sana. Duduk manis dengan laptop terbuka di depannya. Juga ada kopi ditangannya, seperti biasa.

Namun ada yang berbeda. Ia tidak menoleh saat Fania datang, tidak menyapa dan tidak juga memberi tanda bahwa ia sadar Fania ada di sana.

Fania berdiri beberapa detik, menunggu tanpa sadar. Namun tidak ada respon, ia akhirnya berjalan mendekat. Menarik kursi, duduk pelan dan tetap tidak ada suara. Ronald terlihat fokus pada layarnya. Seolah Fania tidak ada, dan itu mengganggu. Lebih dari yang ingin ia akui.

“Kamu tak ke kantor?” tanya Fania akhirnya dengan nada suaranya yang datar. Namun sedikit kaku.

Ronald menjawab tanpa menoleh. “Nanti.” Menjawab dengan singkat.

Fania mengangguk kecil meski tidak dilihat. Dan hanya keheningan lagi. Namun kali ini lebih dingin dan lebih nyata.

“Meeting?” tanya Fania kembali mencoba.

Ronald mengangguk sedikit. “Iya.” Masih tanpa menoleh, tanpa tambahan dan tanpa usaha membuka percakapan.

Fania menatapnya beberapa detik. Menunggu sesuatu, apa saja. Namun tidak ada, membuatnya ia mengalihkan pandangan. Mengambil gelas dan menuang air, tangannya berusaha tetap stabil. Namun di dalamnya sudah hancur berantakan.

“Aku keluar nanti,” ujar Ronald tiba-tiba.

Fania melirik, akhirnya.

“Ada perlu.” Penjelasan itu teramat dangkal dan terasa disengaja.

“Ke mana?” tanya Fania dengan refleks.

Ronald akhirnya menoleh sebentar, namun cukup jelas. “Ada urusan.”

Jawaban itu lebih tertutup dari sebelumnya. Dan Fania langsung menangkapnya.

“Urusan apa?”

Ronald menghela napas pelan, sangat pelan. Namun terlihat.

“Kerjaan.” Satu kata, seolah menutup.

Fania tersenyum tipis, namun tidak hangat.

“Kerjaan… atau yang lain?” Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan.

Ronald menatapnya lebih lama, tatapan yang sulit diartikan.

“Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?” Tanya Ronald tepat sasaran.

Fania terdiam sesaat, namun hanya sesaat. Karena detik berikutnya ia kembali menarik diri.

“Tak ada.” Jawabnya dengan cepat

Ronald mengangguk kecil lalu kembali ke laptopnya. Percakapan selesai begitu saja. Tanpa benar-benar dimulai. Fania menatap meja, jari-jarinya mengetuk pelan. Tidak sabar dan tidak nyaman. Namun ia tetap diam.

Beberapa menit kemudian, Ronald berdiri menutup laptopnya dan mengambil kunci mobil.

“Aku berangkat.” Ujarnya dengan singkat.

Fania tidak menjawab dan tidak menoleh. Ia hanya mendengar langkah kaki itu menjauh. Pintu terbuka lalu tertutup. Dan rumah kembali sunyi, namun kali ini lebih terasa kosong.

***

Siang hari berjalan lambat, terlalu lambat. Fania mencoba mengalihkan diri dengan membaca, menonton, membuka ponsel. Namun tidak ada yang benar-benar masuk. Pikirannya tetap kembali ke satu hal. Ronald. Pagi tadi, cara pria itu berbicara, caranya menghindar, dan caranya tak lagi berusaha.

“Biasa aja,” gumam Fania pelan. Berusaha menenangkan diri. “Memang harusnya begitu.” Ia mengangguk kecil seolah menguatkan logika itu.

“Bahkan aku tak mencintainya.” Kalimat itu kembali namun kali ini terasa berbeda. Tidak lagi meyakinkan. Lebih seperti pengingat yang dipaksakan.

Ponselnya bergetar, notifikasi masuk. Fania melirik, awalnya biasa saja. Namun kemudian ia membukanya. Dan di sana sebuah unggahan foto Ronald dan wanita itu, Valencia.

Mereka terlihat duduk berdampingan di sebuah kafe. Terlihat santai, saling tertawa dan begitu dekat. Lebih dekat dari kemarin. Ada caption sederhana, namun cukup membuat dadanya terasa terbakar.

“Catch up after a long time.”

Jantung Fania langsung berdegup lebih cepat, tangannya menegang. Matanya terpaku tak bergerak.

Seolah tubuhnya berhenti untuk beberapa detik, ia tidak bernapas. Kemudian ia menarik napas dalam dengan cepat.

“Hanya sepupu.” Ia langsung bicara, refleks. Seolah harus segera menjelaskan untuk dirinya sendiri.

“Normal.” Ia mengangguk. “Mereka keluarga.” Masuk akal, ya semuanya masuk akal.

Namun kenapa dadanya terasa seperti ditekan? Kenapa ada sesuatu yang naik dan sulit ditahan?

Ia menutup layar ponsel dengan cepat. Meletakkannya di meja namun beberapa detik kemudian ia mengambilnya lagi.

Membuka ulang, melihat foto itu lagi lebih detail. Cara mereka duduk, cara mereka tertawa, cara Ronald terlihat lebih ringan dan lebih hidup. Sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat. Dan itu lebih menyakitkan daripada apapun. Fania menelan pelan, tangannya mulai gemetar.

“Tidak penting,” bisiknya. Namun suaranya lemah.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir dan tidak bisa diam. Pikirannya kacau.

“Dia bebas,” katanya lagi, lebih cepat dan lebih keras.

“Dia dekat dengan siapapun, itu bebas.” Benar, sangat benar. Namun rasanya salah.

Ia berhenti, menatap ke depan yang terasa kosong. Hingga tanpa sadar mengambil tasnya. Langkahnya cepat menuju pintu, seolah ingin keluar dan menjauh dari perasaan itu. Atau justru mendekat ke sumbernya, bahkan ia sendiri tidak tahu.

Sore hari, langit mulai berubah warna. Fania berdiri di depan sebuah kafe. Tempat yang sama, tempat yang ada di foto itu. Namun ia tidak masuk, hanya berdiri menatap dari luar. Dan di sana, mereka masih ada. Ronald dan Valencia masih duduk dan saling berbicara, masih terlihat dekat.

Fania menelan ludah dengan sulit, dadanya kembali sesak. Lebih kuat dari sebelumnya. Namun ia tetap berdiri, tidak masuk dan tidak juga pergi. Hanya melihat diam-diam seperti orang asing. Padahal ia seharusnya bukan itu.

Ia mengalihkan pandangan tidak sanggup melihat lebih lama. Namun kakinya tidak bergerak, hanya diam terpaku.

“Aku tak cemburu…” bisiknya lagi, pelan dan lemah.

Namun kali ini bahkan dirinya sendiri tidak percaya. Karena apa yang ia rasakan sekarang bukan sekadar tidak nyaman. Bukan sekadar terganggu namun sesuatu yang lebih dalam, lebih tajam dan lebih jujur.

Dan semakin ia menyangkal semakin jelas perasaan itu muncul. Bukan karena baru ada, namun karena akhirnya ia melihatnya dengan jelas. Tanpa bisa lagi berpura-pura tidak tahu.

Di dalam sana Ronald tertawa kecil, dan itu terdengar sampai ke luar sampai ke telinga Fania.

Dan entah kenapa itu yang paling menyakitkan, bukan karena wanita itu, bukan karena masa lalu. Namun karena ia sadar, ia merindukan itu.

Merindukan tawa dan perhatian itu, yang dulu pernah ada untuknya. Dan sekarang tidak lagi. Fania menutup matanya sebentar, menarik napas dalam. Namun tidak membantu karena saat ia membuka mata realitasnya tetap sama.

Ronald ada di sana namun bukan untuknya. Dan untuk pertama kalinya Fania benar-benar merasakan kehilangan.

NEXT …….

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!