Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Saya berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan saya juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengadu
Hans berangkat ke kantor agak siang hari ini. Pria itu merasa tubuhnya kurang fit atau bisa dibilang agak kelelahan. Entah efek kurang tidur atau bisa jadi kegiatan yang semalam ia lakukan bersama Ajeng. Ini adalah pengalaman pertamanya, Wajar kalau Hans merasa lelah.
Bahkan Hans sampai ketiduran saking lelahnya tubuh pria itu. Kedatangan Damian tidak pria itu sadari, Papa Damian sendiri pun juga heran tidak biasanya Hans seperti ini. Pria paruh baya itu mengenal Hans sebagai pria yang cukup profesional.
"Bangun..
"Hmmm..." Hans hanya berdehem, Sepertinya calon suami Raisha itu tidak sadar kalau yang datang adalah calon ayah mertuanya.
"Hans.. Bangun!!
Sontak saja Hans langsung terbangun. Sungguh ia merasa terkejut ketika membuka mata yang dia lihat adalah Papa Damian.
"Papa.."
"Sejak kapan kau tidur? Kau tidak ingat sekarang kita ada meeting penting?" Ucap Papa Damian dengan nada yang kaku. Sepertinya rasa kecewa Papa Damian terhadap pria itu masih ada dan tidak akan terlupakan.
Bahkan sekarang, Papa Damian merasa sangat ragu pada Hans. Terlebih Kaivan banyak cerita tentang Hans dan Raisha membuat keraguan dalam diri Papa Damian semakin menjadi. Tak hanya Damian saja, Mama Adiba pun juga ragu. Dia yang seorang ibu jelas tidak ingin putrinya yang dia cinta dan sayangi itu bersanding dengan pria yang tidak setia.
Sekarang saja sudah berani menyakiti Raisha apalagi nanti setelah menikah.
Papa Damian dulunya memang bukan orang baik, Dia adalah seorang casanova yang suka berhubungan dengan para wanita dengan sesuka hatinya, Padahal pada saat itu dia punya seorang istri..
Bahkan mantan suami Arumi itu dulunya juga dengan tega mengabaikan Arumi demi wanita lain. Keduanya bercerai juga karena masalah ini, Arumi yang sudah tidak kuat dan tahan dengan perlakuan kasar Papa Damian dimasa lalu.
Meski ia punya masalalu yang sangat buruk, Cukup istrinya saja yang mampu menerima masa lalu buruknya itu. Untuk putrinya jangan sampai menerima pria yang buruk juga
"Maaf Pa.. Hans ketiduran, Semalam Hans kurang tidur.." Papa Damian terdiam setelah mendengar jawaban pria itu. Entah kenapa Papa Damian merasa ada yang aneh dengan pria yang akan menjadi calon menantunya tersebut.
"Kurang tidur? Pergi kemana sampai kurang tidur? Perasaan semalam kau tidak menjaga Raisha dirumah sakit.. Kenapa bisa kurang tidur?" Hans menelan salivanya susah payah mendengar pertanyaan beruntun itu.
"E.. Itu.." Hans mulai gugup. Jangan sampai pria paruh baya itu tahu sesuatu.
"E...Ya, Hans gak bisa tidur pa.. Tidurnya pas dini hari makanya jadi kurang tidur.. " Alasan itu tidak membuat Papa Damian langsung percaya begitu saja.
Dia bukan pria yang bo-doh yang mudah dibohongi. Dia adalah mantan pria berpengalaman yang jelas tahu gerak gerik yang sedang dialami oleh Hans.
"Ingat Hans.. Aku bukan pria bo-doh yang gampang kau bodohi.. Kalau sampai kamu mengkhianati putriku lebih dari yang aku bayangkan.. Lihat saja, Hidupmu tidak akan tenang, Camkan itu.." Hans terdiam, Ancaman calon ayah mertuanya itu membuatnya takut. Selain itu dia bingung sekarang..
...****************...
Makan siang Hans jalani seorang diri disalah satu cafe yang tak jauh dari kantor. Sesekali ia melihat benda pipihnya berharap seseorang mengirimnya pesan.
Sayangnya sejak tadi sampai sekarang orang itu belum juga mengirimkan pesan sama sekali. Tida seperti biasanya yang selalu mengirimkan ia pesan walau hanya Ucap selamat makan.
"Kok tumben mbak Ajeng gak kirim pesan ke aku.. Gak biasanya.." Gumam Hans. Ternyata pesan yang pria itu tunggu-tunggu sejak tadi adalah pesan dari Ajeng bukan pesan dari Raisha.
Sepertinya Hans sudah terperangkap dalam tipu muslihat Ajeng lebih dari itu. Hans seolah merasa gelisah hingga Hans dengan berani menghubungi wanita itu lebih dulu.
Tuuuutt....
Tuuuuttt...
Berulang kali Hans menelfon namun tetap tidak ada jawaban. Merasa ada yang tidak beres, Hans pun pergi. Pria itu tidak kembali ke kantor melainkan pergi kerumah Ajeng.
Begitu sampai disana, Rumah itu tertutup. Hans dengan langkah lebarnya mengetuk pintu rumah mendiang Kakaknya itu.
"Mbak.. Mbak Ajeng.. Ini Hans Mbak.. Mbak A..
Ceklek..
Pintu terbuka. Hans tersenyum senang akhirnya wanita itu membukakan pintu untuknya.
"Hans? Kamu kesini?
"Boleh aku masuk mbak.." Ajeng mengangguk, Hans pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu duduk aja dulu Hans.. Biar mbak buatin minum dulu.." Ajeng hendak pergi akan tetapi Hans menahan pergelangan tangan janda anak satu itu.
"Gak usah mbak.. Mbak duduk aja dulu. Aku kesini cuma bentar aja kok.." Ucap Hans, Ajeng mengangguk. Hans terdiam menatap raut wajah Ajeng yang terlihat murung dan sedih.
"Mbak..
"Hans..
"Mbak duluan aja...
"Kamu aja yang duluan Hans..
"Enggak, Mbak duluan aja.." Ajeng mengangguk. Wanita itu meraih tangan adik iparnya tersebut kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Hans.. Kamu jangan sering-sering datang kesini lagi ya? " Hans mengernyit heran..
"Maksud Mbak?
"Mbak minta tolong sama kamu, Tolong jangan sering-sering kamu datang kesini..
"Tapi kenapa mbak?
"Pokoknya kamu jangan kesini lagi ya..
"Iya, Tapi alasannya apa mbak? Aku datang kesini itu buat memastikan kalau mbak itu baik-baik saja.. Semua itu juga atas perintah Abang mbak.." Kata Hans. Dia sangat sayang pada Abangnya maka dari itu Hans berjanji akan menjaga istri dan anaknya.
"Iya, Tapi aku gak mau merusak hubungan kamu dan calon istri kamu Hans.." Hans memejamkan matanya, Sepertinya ia tahu siapa dalang dari semua ini.
"Siapa yang ngomong?" Hans langsung bangkit dengan emosi. Ia sudah dapat menebak..
"Hans.. Gak ada yang ngomong.. Mbak cuma.. "
"Gak mbak.. Pasti ada yang datang kesini kan tadi dan ngelarang mbak buat jauhi aku? Jawab Mbak!!?" Ajeng menganggukkan kepalanya samar.
"Siapa?
"A.. Ayah sama Bunda.." Tanpa mengatakan apapun lagi, Hans pergi begitu saja.
"Hans.." Ajeng tersenyum melihat adik iparnya itu yang pergi itu.
"Sepertinya akan ada pertunjukan seru setelah ini...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dag!
"Dek..." Raisha yang melihat kedatangan Hans hanya bisa menghela nafas panjang.
"Waalaikum salam..
Hans terdiam, Ia mengatur nafas sebelum akhirnya bertanya.
"Tumben kesini? Gak kerja?" Tanya Raisha, Wanita itu bertanya tanpa melihat kearah wajah Hans dan hanya sibuk dengan ponselnya.
"Kerja kok.. Cuma tadi pas jam istirahat ada sesuatu yang penting jadi Mas gak balik.. " Raisha meletakkan benda pipihnya itu diatas nakas.
"Kepentingan apa yang buat kamu gak balik? Karena mbak Ajeng lagi?" Hans diam, Raisha terkekeh sudah dia duga.
"Mas kesini juga ingin tanya masalah itu.." Kata Hans tanpa basa basi.
"Tanya apa?
"Ayah dan Bunda? Mereka tadi kesini?" Raisha mengangguk.
"Iya.. Tuh bawa oleh-oleh.. Kenapa?
"Kamu ngadu apa aja sama Ayah dan Bunda?" Dahi Raisha mengernyit dengan tanda tanya.
"Ngadu?
"Iya.. Tadi mbak Ajeng bilang, Katanya tadi Ayah dan Bunda datang menemui Mbak Ajeng dan bilang kalau mbak Ajeng gak boleh hubungi Mas lagi..." Ucap Hans yang langsung menuduh Raisha
"Oh.. Jadi Mas nuduh aku yang ngadu ke Ayah sama Bunda gitu?
"Ya, Kan Bunda dan Ayah gak tahu tentang, Ah tentang kita yang sering berselisih paham seperti ini. Kalau bukan kamu yang ngadu lalu sia...
"Tunggu.." Raisha memotong ucapan Hans. Raisha meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Raisha juga menyalakan loud speaker nya agar Hans mendengar.
"Halo Assalamualaikum nak..." Mata Hans melotot, Tidak disangka kalau Raisha ternyata menghubungi Bundanya.
"Waalaikum salam Bunda...
"Ya, Sayang ada apa?
"Bunda.. Disini ada Hans..
"Ada Hans?
"Ya.. Hans datang kesini bukan buat jenguk Raisha, Bunda.." Hans mengusap wajahnya kasar.
"Ngapain dia kesitu kalau bukan jenguk kamu?
"Mas Hans datang kesini bukan buat jenguk Raisha tapi datang untuk melabrak Raisha, Bunda.. Katanya Raisha ngadu ke Ayah dan Bunda soal Mbak Ajeng.." Adu Raisha pada Bunda Fatimah. Enak saja dia dituduh sembarangan.
"Ngadu? Bilang sama dia.. Kalau Ayah dan Bunda datang atas kemauannya sendiri bukan karena aduan dari kamu... Awas aja nanti kalau anak itu pulang.. hanya karena Ajeng dia rela datang buat labrak kamu??
"Ya Bunda..
"Kamu tenang aja Bunda akan kasih pelajaran sana anak itu nanti..
" Ya udah kalau begitu Bunda.. Assalamualaikum...
"Waalaikum salam...
Raisha pun mematikan sambungan teleponnya. Raisha menatap Hans yang tampaknya gelisah..
"Ini yang namanya mengadu Mas.. Lain kali kalau ada apa-apa itu cari tahu lebih dulu.. Jangan asal nuduh. Aku paling gak suka dan paling benci sama orang yang datang-datang langsung nuduh.. Kalau kiranya mbak Ajeng kamu yang ngadu enggak-enggak jangan tanya aku dong!! Tanya sama dirinya dia sendiri, Bagaimana bisa sampai di tegur gitu. Bukan malah langsung nuduh aku!! " Ucap Raisha dengan nada tinggi di akhir kalimat. Sungguh dia kesal, Sikap pria ini berubah sejak Kakaknya meninggal.
" Bu.. Bukannya gitu.. Dek, Mas..
"Mending kita batalin akan pernikahan kita Mas.. Maaf, Aku capek kamu sangkut pautin sama ipar kamu itu..."
"Dek..
"Mending sekarang kamu pergi..
"Dek..
"Kau tidak dengar tidak Nona bicara apa?" Kaivan tiba-tiba datang.
"Kau.." Hans pun terpaksa pergi meninggalkan Raisha yang matanya mulai berkaca-kaca.
•
•
•
TBC