Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kenapa orang ini benar-benar datang lagi? Padahal Luna sudah berharap Arya tidak akan kembali mengganggu hidupnya yang tenang.
Dan kenapa Arya masih memanggilnya istri? Mereka benar-benar sudah berpisah tiga tahun lalu. Apa dia harus menegaskan hal itu pada Arya? Tapi, bukankah surat cerai yang dia terima berasal dari mantan suaminya itu? Lalu kenapa sekarang begini? Apa memang semua ini karena cek itu? Haruskah Luna bertanya tentang cek itu? Apa yang harus dia lakukan?
"Apa maumu?" tanya Luna akhirnya mengakhiri kebungkamannya.
"Luna, akhirnya kau bicara padaku. Senangnya!!!" seru Arya membuat Luna bingung.
"Apa sebenarnya maumu? Kita sudah bercerai tiga tahun lalu. Kita tidak punya hubungan lagi. Kita adalah orang asing. Jangan datang dan memanggilku istri lagi! Sekarang bisakah kau pergi?"
Sudah. Luna sudah mengatakan apa yang dia rasakan. Harusnya Arya pergi sekarang. Harusnya ... tapi kenapa mantan suaminya itu tetap berdiri di depan Luna? Bahkan berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Mantan suami bisa menjadi suami lagi. Kita bisa bersama lagi sayang!" kata Arya benar-benar mengejutkan Luna.
"Apa?"
"Aku ingin rujuk. Aku ingin bersamamu lagi. Aku merindukanmu sayang"
Sesuatu berbunyi dari dalam kepala Luna. Dia segera berdiri, mulai membersihkan toko dan menutupnya. Lalu bergegas pulang.
Tapi Arya terus saja mengikuti langkahnya. Sampai ke gedung apartemen.
"Kenapa mengikutiku terus?" tanyanya kesal.
"Kalau ingin rujuk, kita harus terus bersama. Sayang"
"Sayang!! Apa kau mendengar apa yang sudah kau katakan?! Kau berselingkuh! Kau yang katanya ingin mencintaiku sampai maut memisahkan, mencium wanita lain di kamar kita. Kau!! Terus menghina tubuhku yang gendut dan tak pernah merasa bersalah. Bahkan sampai resmi bercerai, kau tak pernah muncul di depanku. Kau menghilang begitu saja. Sekarang, tiga tahun kemudian, kau muncul dan mengatakan ingin rujuk denganku? Apa kau gila??!!"
Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Luna pergi meninggalkan Arya yang terdiam di depan gedung apartemen. Luna berbalik dan masuk ke dalam apartemennya. Tidak peduli dengan apa yang terjadi pada mantan suaminya lagi. Mereka sudah bercerai, sudah berpisah, tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Karena itu masalah cek juga sebaiknya tidak pernah dia risaukan lagi. Anggap saja itu kompensasi yang diberikan Arya untuknya. Karena mantan suaminya yang menyebabkan perceraian terjadi.
Luna berharap semua masalah usai malam itu. Tak menyangka ketika membuka pintu di keesokan pagi, dia kembali melihat mantan suaminya.
"Sayang, aku membawa roti kesukaanmu" kata Arya membuat Luna kesal setengah mati.
"Aku sudah makan" jawabnya ketus dan berlalu begitu saja.
"Kopi. Manis normal dengan krim banyak"
Luna tidak mempedulikan Arya yang mengikutinya. Bahkan sampai ke bus dan toko.
"Pergilah!!" katanya ketika dia akan membuka rolling door.
"Kemarin kau kesulitan membukanya. Aku akan membantumu" kata Arya lalu memaksanya membawa tas roti dan kopi.
Setelah membuka rolling door, tanpa diperintah mantan suaminya itu bersih-bersih. Mengelap jendela, membereskan display bahkan mengepel lantai. Menyebabkan Luna menganggur. Dia hanya bisa duduk di belakang meja kasir dan terus mendesah kesal.
"Pergilah!" kata Luna sesudah Arya mengepel.
"Aku masih harus membersihkan kamar mandi" jawab mantan suaminya.
"Pergilah!" kata Luna sesudah Arya membersihkan kamar mandi.
"Aku akan membeli makan siang untuk kita berdua"
"Pergilah!" kata Luna sepulangnya Arya dari mencari makan siang.
"Aku akan membersihkan halaman depan toko"
"Pergi!!!" teriak Luna tak tahan lagi. Dia terus menahan diri karena ada pelanggan yang datang. Tapi karena sekarang toko sedang kosong, dia tak lagi menahan diri.
"Sayang, kenapa kau begitu kejam padaku. Padahal aku sudah membersihkan toko dan banyak membantu yang lain. Kau terus saja menyuruhku pergi"
"Aku tidak butuh bantuanmu. Kau harus pergi sekarang atau aku akan menghubungi polisi"
"Kau tidak akan bisa melaporkan aku ke polisi"
"Apa maksudnya?"
"Karena aku adalah suami yang paling kau sayang dan menyayangimu!"
Luna sungguh-sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Dia berdiri dan bersiap untuk berteriak kencang ketika sebuah tangan tiba-tiba terulur ke arahnya. Jari-jari yang hangat menyentuh leher dan menariknya kuat. Bibirnya yang bersiap untuk mengeluarkan kata-kata segera tertutup oleh bibir Arya yang segera menghisap kuat.
"Leph ... pash!!" ucap Luna disela ciuman yang bertubi-tubi dia terima.
Tapi mantan suaminya itu tak mau melepasnya. Ketika mendapatkan kesempatan, Luna segera mendorong Arya dan melayangkan tamparan keras.
"Sayang, ini sakit sekali" keluh Arya merajuk.
"Kau harus pergi atau aku akan menghajarmu!!" ancam Luna lalu mengambil kayu yang selama ini dia siapkan untuk menghadapi orang asing yang mengganggunya di toko.
"Baiklah. Baiklah. Aku pergi. Aku akan menunggumu pulang"
Setelah pengancaman akhirnya mantan suami Luna pergi juga. Dia menjadi tenang sekarang, tak lagi merasa kesal terus menerus. Hanya saja, bibirnya ... Bengkak. Pria itu, masih bisa membuai dirinya hanya lewat ciuman. Dan rasa ciuman itu masih sama seperti tiga tahun lalu. Begitu menuntut namun hangat. Mampu menghilangkan semua keresahan dalam diri Luna.
Tidak, mereka sudah bercerai. Sesuatu seperti ini harusnya tak terjadi. Mulai sekarang, dia harus menghindari bertemu dengan Arya. Mereka tak lagi memiliki jalan yang sama. Akan lebih baik dia tidak bertemu mantan suaminya sama sekali.
"Apa-apaan ini?" tanya Luna ketika menjumpai mantan suaminya ada di dalam apartemennya.
"Sayang!!! Selamat datang!! Aku sudah membuat makan malam. Kau pasti lapar, ayo kita makan"
"Bagaimana bisa kau masuk ke dalam apartemenku?"
"Tentu saja dengan kunci sayang. Tidak mungkin aku membobol rumah istriku sendiri"
"Aku tidak pernah memberikan kunci padamu. Aku juga tidak memiliki kunci cadangan. Bagaimana bisa kau melakukan ini?"
"Sayang, jangan memikirkan hal yang tak perlu!! Yang penting kita makan malam saja dulu. Untuk masalah lain, pikirkan saja nanti setelah makan. Lihat ini! Daging kuah pedas kesukaanmu juga ada" ucap Arya lalu memaksa Luna duduk di meja makan. Berhadapan dengan makanan yang baru saja matang dan siap disantap.
"Bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku?" tanya Luna lagi menuntut kejelasan pada mantan suaminya.
"Sayang, ayo kita makan dan membicarakan tentang kehidupan kita setelah ini. Apa yang telah terjadi tiga tahun lalu tidak perlu kita bicarakan lagi. Mulai sekarang kita akan menjalani kehidupan pernikahan yang penuh dengan cinta. Lalu, kita harus cepat-cepat memiliki anak. Karena itu kita harus terus bercinta. Kapanpun kita harus terus bercinta agar kau cepat hamil"
"Apa kau sudah selesai bermimpi?" tanya Luna segera menghapus ekspresi bodoh di wajah mantan suaminya.
"Sayang"
"Kita sudah bercerai, sudah berpisah. Tidak akan ada lagi kita. Yang ada hanyalah aku. Aku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku. Tapi aku minta ini menjadi yang pertama dan terakhir. Sekarang, kau harus pergi!"
tahi