"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."
Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.
"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."
Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.
"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."
"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."
Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG PENUH CINTA
Upacara pernikahan sederhana itu sudah selesai.
Para saksi dan pendeta sudah pamit undur diri, meninggalkan dua insan yang baru saja disatukan itu sendirian di dalam rumah yang besar namun sunyi.
Hening.
Tapi bukan keheningan yang dingin. Melainkan keheningan yang hangat, penuh dengan rasa sayang yang meluap-luap.
Di kamar pengantin yang sudah dihias sederhana dengan bunga-bunga putih dan lilin aromaterapi, Keyla berdiri mematung di dekat jendela.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa haru yang bercampur sedih. Ia melirik ke arah cermin, melihat pantulan dirinya yang mengenakan gaun putih, dan melihat cincin yang kini melingkar indah di jari manisnya.
Nyata.
Semua ini benar-benar nyata.
Ia sekarang adalah Nyonya Keyla Davide.
Istri dari pria yang paling ia cintai di dunia ini.
Pintu kamar terbuka pelan.
Arsenio masuk.
Pria itu sudah melepaskan jasnya, kini hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dibiarkan terbuka di bagian leher, dan celana bahan yang longgar. Wajahnya terlihat lelah, napasnya terdengar sedikit berat setelah berdiri lama selama acara tadi.
Tapi matanya... matanya tidak pernah lepas dari sosok gadis di hadapannya.
"Istriku..." panggil Arsenio pelan, suaranya terdengar serak dan dalam.
Satu kata itu berhasil membuat pertahanan Keyla runtuh. Gadis itu berbalik, dan air matanya langsung jatuh lagi.
"Suamiku..." bisiknya balik, suaranya bergetar.
Arsenio berjalan mendekat pelan-pelan, langkahnya hati-hati. Ia mengulurkan tangannya yang dingin, menggenggam tangan Keyla erat-erat, lalu mencium punggung tangan itu dengan penuh hormat dan cinta.
"Akhirnya... kau benar-benar milikku. Resmi. Sah. Selamanya."
Keyla menggeleng pelan, air matanya makin deras. "Bukan cuma aku yang milik kamu. Kamu juga milik aku, Arsen. Selamanya."
Arsenio tersenyum tipis, lalu ia menarik tangan Keyla, mengajak gadis itu duduk bersama di tepi ranjang.
"Key..."
"Ya?"
"Malam ini... kita tidak perlu melakukan apa-apa yang berat. Tubuhku tidak sekuat dulu, dan aku juga tidak mau memaksamu. Cukup... biarkan kita tidur berpelukan. Biarkan aku merasakan hangatnya tubuhmu sebelum aku tidur panjang."
Keyla tahu maksud Arsenio. Pria itu takut menyakiti dirinya sendiri, dan juga takut menyakiti Keyla.
Tapi Keyla menginginkan lebih.
Ia ingin memberikan seluruh dirinya.
Ia ingin meninggalkan kenangan terindah yang tak akan terlupakan sampai detik terakhir.
Keyla mengangkat tangannya, perlahan membuka kancing kemeja Arsenio satu per satu.
Gerakannya lembut, penuh kasih sayang.
"Key... apa yang kau lakukan?" Arsenio terkejut, tangannya mencoba menahan tangan gadis itu, tapi ia terlalu lemah untuk melawan.
"Aku mau merawat suamiku," jawab Keyla pelan, tatapannya teduh namun tegas. "Aku mau bersihkan tubuh kamu. Aku mau peluk kamu tanpa ada penghalang. Aku mau rasakan detak jantung kamu tepat di samping jantungku."
Keyla menyingkirkan kemeja itu, memperlihatkan tubuh Arsenio yang kini sangat kurus, tulang-tulang rusuknya terlihat jelas, kulitnya putih pucat seperti porselen.
Bagi orang lain mungkin terlihat menyedihkan, tapi bagi Keyla... ini adalah tubuh pria yang ia cintai. Tubuh yang sedang berjuang keras untuk tetap hidup.
Keyla tidak jijik. Tidak takut. Ia justru semakin sayang.
Ia mengambil handuk hangat yang sudah disiapkan, lalu dengan lembut ia mengusap seluruh tubuh Arsenio. Membersihkan keringat dingin, membersihkan rasa lelah.
Arsenio hanya diam mematung, matanya tak berkedip menatap wajah istrinya yang begitu cantik dan tulus di bawah cahaya lampu remang.
Rasanya seperti mimpi.
Mimpi terindah yang pernah ia punya sebelum ajal menjemput.
"Keyla..." panggil Arsenio parau. "Kau sungguh malaikat. Tuhan kirim kau bukan untuk menghukumku... tapi untuk menyelamatkanku."
Setelah selesai membersihkan, Keyla membantu Arsenio berbaring. Lalu ia masuk ke dalam selimut, menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang yang kini terasa begitu rapuh itu.
Dug... dug... dug...
Detak jantung Arsenio terdengar jelas di telinganya.
Lambat. Lemah. Tapi masih ada.
"Arsen..." bisik Keyla, tangannya melingkar memeluk pinggang pria itu erat-erat.
"Hmm?"
"Aku sayang kamu. Sangat sayang. Terima kasih sudah mau jadi suami aku. Terima kasih sudah memilih aku."
Arsenio mengelus rambut panjang gadis itu pelan sekali, jari-jarinya menyusuri helai demi helai rambut hitam itu, ingin menghafal teksturnya selamanya.
"Terima kasih juga, istriku cantik. Terima kasih sudah mau sabar sama aku. Terima kasih sudah mau mencintai pria selemah dan seburuk ini."
Arsenio menunduk, mencium kening Keyla lama sekali.
"Malam ini... tidur ya. Jangan takut. Aku ada di sini. Aku pegang tangan kamu terus. Nanti kalau kamu bangun, aku pasti masih ada di sini."
Keyla tersenyum di dada pria itu.
"Iya... tidur. Kita tidur bareng. Sampai pagi."
Mereka berpelukan seperti itu berjam-jam.
Tidak ada kata-kata kasar.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya ada dua jiwa yang saling melengkapi di sisa waktu yang terhitung.
Keyla memejamkan mata, menikmati setiap detik, setiap napas, setiap detak jantung yang ada di dekatnya.
Ia tahu, esok hari mungkin akan lebih sakit.
Ia tahu, di BAB 15 nanti, ia harus kehilangan orang yang paling ia sayangi.
Tapi untuk malam ini...
Biarkan mereka bahagia.
Biarkan mereka merasa menjadi pasangan suami istri yang paling bahagia di dunia.
'Selamat malam, Cintaku.
Selamat malam, Suamiku.
Sampai jumpa di mimpi indah...
sebelum waktu kita berakhir.'