Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Pagi
Sinar matahari pukul delapan pagi menyelinap masuk melalui jendela dapur, memantul di atas permukaan wajan yang masih berasap. Aroma gurih terasi yang berpadu dengan bawang merah, bawang putih, dan segarnya udang kupas memenuhi seluruh ruangan. Shakira, dengan rambut yang dikucir kuda dan celemek krem melilit pinggangnya, tampak sangat cekatan mengayunkan sudip.
Sebagai mahasiswi tata boga, memasak nasi goreng adalah hal paling mendasar, tapi bagi Shakira, setiap masakan adalah ujian. Ia memastikan butiran nasinya tidak menggumpal, udangnya berwarna jingga sempurna, dan tingkat kepedasannya pas untuk lidah keluarga Ardiansyah. Karena jadwal kuliahnya baru mulai jam satu siang, ia merasa punya waktu lebih untuk memanjakan mertuanya—dan, yah, memberi makan suaminya yang tengil itu.
Setelah matang, Shakira menyajikan nasi goreng itu ke dalam piring-piring besar. Di meja makan, Mama dan Papa Zidan sudah duduk rapi sambil menyesap teh hangat.
"Harum sekali, Ra. Menantu Papa memang paling pintar kalau urusan perut," puji Papa Ardi sambil tersenyum lebar.
"Cuma nasi goreng udang kok, Pa. Semoga cocok di lidah," jawab Shakira rendah hati sambil meletakkan piring terakhir di tengah meja.
Tak lama kemudian, terdengar suara siulan nyaring dari arah tangga. Zidan muncul dengan rambut yang masih agak basah, mengenakan kaos polo hitam yang pas di tubuhnya dan celana kain santai. Wajahnya terlihat segar, meski matanya masih menunjukkan sisa-sisa "konser" mandi yang cukup lama tadi.
"Wah, wah! Bau apa ini? Kayak bau-bau cinta yang baru matang dari wajan ya?" goda Zidan sambil melangkah lebar menuju meja makan.
"Berisik, Zidan. Duduk sana," sahut Shakira tanpa menoleh, sibuk menuangkan air putih.
Zidan tidak langsung duduk di kursinya yang biasanya. Ia justru menyeret kursi tepat di samping Shakira. Sebelum pantatnya menyentuh jok kursi, dengan gerakan secepat kilat, ia membungkuk dan mendaratkan satu kecupan hangat di puncak kepala Shakira.
Cup.
"Zidan apaan sih! Ada Papa sama Mama!" teriak Shakira refleks, tangannya otomatis memegang puncak kepalanya yang baru saja "diserang". Wajahnya seketika memanas hingga ke telinga.
Zidan duduk dengan santai, seolah baru saja melakukan hal paling normal di dunia. "Apa, Sayang? Itu sunah nabi, menghargai istri di pagi hari biar harinya barokah."
Shakira mendelik tajam, matanya hampir keluar. "Mana ada sunah nabi cium-cium pas orang lagi pegang piring panas! Bilang aja modus, nggak usah bawa-bawa agama buat nutupin ketengilan kamu!"
Papa Ardi dan Mama Zidan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan tawa melihat tingkah laku pasutri amatir ini.
"Sudah, sudah. Zidan, jangan diganggu terus istrinya, nanti dia mogok masak baru tahu rasa kamu," tegur Mama sambil menyendok nasi goreng ke piring Papa.
"Bawel kamu, Ra. Mana sarapan aku? Laper nih habis konser di kamar mandi tadi, butuh asupan karbohidrat tinggi," ujar Zidan sambil menyodorkan piring kosongnya ke arah Shakira dengan wajah manja yang minta ditabok.
Shakira mendengus keras, tapi tangannya tetap bergerak menyendokkan nasi goreng udang yang masih mengepul ke piring Zidan. Ia menambahkan dua ekor udang paling besar di atasnya.
"Nih! Makan yang banyak biar mulut kamu sibuk dikit," ketus Shakira.
Zidan mulai menyuap nasi goreng itu ke mulutnya. Matanya langsung terpejam sesaat, mengecap rasa bumbu yang meresap sempurna. "Gila... Ra, kamu beneran mau bikin aku kecanduan ya? Ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan. Udangnya juga garing banget."
"Lebay," gumam Shakira, meski dalam hati ia merasa bangga masakannya dipuji habis-habisan.
"Beneran, Pa. Nggak bohong. Kayaknya bengkel aku tutup aja deh, aku buka restoran buat Shakira. Aku jadi satpamnya di depan," kelakar Zidan yang langsung dihadiahi cubitan kecil di lengannya oleh Shakira.
Di sela-sela kunyahan nasinya, Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Kamu hari ini kelas siang kan, Ra? Jam satu?"
Shakira mengangguk sambil mengunyah timun. "Iya, kenapa?"
"Aku anter ya nanti jam setengah satu."
Shakira langsung berhenti mengunyah. "Gak usah. Kamu kan kerja, Dan. Antrean di bengkel pasti numpuk lagi kayak kemarin. Aku bisa naik ojek atau bawa mobil sendiri."
Zidan menggeleng tegas, ia meneguk teh hangatnya sebelum bicara lagi. "Enggak ada ojek-ojekan. Hari ini panas banget, nanti skincare kamu luntur. Masalah bengkel tenang aja, kan ada Bobby sama Indra. Mereka udah jago, bisa handle yang ringan-ringan dulu. Tugas utama aku hari ini adalah nganterin istri aku sampai depan gedung fakultas."
"Tapi kasihan mereka, Dan. Masa kamu tinggalin cuma buat nganter aku?"
"Loh, mereka itu karyawan atau asisten? Lagian, aku bosnya, bebas dong ambil cuti setengah jam buat tugas negara," Zidan menatap Shakira dengan sorot mata yang kali ini tidak main-main. "Nggak ada penolakan, Sayang. Aku anter."
Papa Ardi berdehem. "Bener kata Zidan, Ra. Biar dia anter. Suami itu emang harus siaga. Lagian Papa liat motor Zidan udah diservis total, nggak bakal mogok."
Shakira menghela napas panjang, ia tahu kalau Papa mertuanya sudah ikut bicara, ia tidak punya ruang untuk membantah. "Ya udah. Tapi turuninnya jangan di gerbang depan fakultas kayak kemarin ya! Malu diliatin orang."
"Loh, kenapa malu? Harusnya bangga dong punya suami yang rajin nganter. Apa mau aku turuninnya di depan ruang dekan? Biar sekalian aku salim sama beliau?" goda Zidan lagi.
"ZIDAN! Aku serius!"
Zidan tertawa puas, ia menjangkau tangan Shakira di bawah meja dan meremasnya pelan. "Iya, iya, Istriku. Aku turunin di tempat yang kamu mau. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa lagi?" tanya Shakira curiga.
"Pas nanti aku turunin, kamu harus panggil 'aku-kamu' yang kencang, jangan 'gue-lo' lagi. Deal?"
Shakira memutar bola matanya malas, namun sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum. "Deal. Tapi kalau kamu tengil di depan kampus, aku bakal bilang ke semua orang kalau kamu itu tukang ledeng, bukan suami aku."
"Sakit banget, Ra! Tukang ledeng banget?" Zidan memegangi dadanya pura-pura terluka. "Ya udah, nggak apa-apa. Tukang ledeng paling ganteng tapi ya?"
Pagi itu, meja makan keluarga Ardiansyah dipenuhi dengan tawa dan perdebatan kecil yang manis. Shakira menyadari, meski Zidan sangat menyebalkan dengan segala modusnya, ada rasa nyaman yang mulai tumbuh setiap kali ia melihat Zidan berusaha keras untuk menjaganya. Nasi goreng udang pagi itu ludes tak bersisa, seiring dengan tembok pertahanan Shakira yang kembali runtuh satu bata lagi.
"Sudah, cepat habiskan. Jangan telat, nanti istri kamu ngamuk lagi," ujar Papa Ardi sambil bangkit dari meja.
Zidan mempercepat makannya, sesekali melirik Shakira yang sedang merapikan piring kotor. "Siap, Pa! Keamanan dan kenyamanan Nyonya Zidan adalah prioritas utama!"
Shakira hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang mulai berulah lagi setiap kali Zidan menatapnya dengan binar nakal itu.
Tebak, apa yang bakal Zidan lakuin pas nganter Shakira nanti? Makin tengil atau malah bikin baper? Tunggu di Chapter selanjutnya!
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo