Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: SIDAK KYAI ZAID
Hari ke-35 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Dadakan Yang Baru Seneng Taaruf Ulang Langsung Disamperin Masalah.
Penyebab: Ning Aliya. Tiga hari nggak nongol sejak kalah di aula. Ternyata lagi nyusun strategi.
Jam 10.00, gerbang Ndalem diketok. Bukan ketok biasa. Ketok wibawa. Tiga kali. Berat.
Kang Jono lari ke dapur. Wajah pucat. ''Bu Nyai! Ustadz! Tamu! Kyai Zaid! Abahnya Ning Aliya! Bawa rombongan!''
Piring di tangan Mbak Yuni jatoh. Prang. Bunda Aisyah yang lagi ngaji langsung nutup Al-Quran. Istighfar.
Aku sama Rayan saling liat.
''Kyai Zaid,'' kataku pelan. Ketua Dewan Ndalem Pusat. Orangnya keras. Kolot. Paling anti sama pembaruan. Dulu pernah ngusir Ustadz muda cuma gara-gara pake gamis warna navy. Katanya nggak syar-i.
Rayan narik napas. Panjang. ''Sudah kuduga. Aliya nggak bakal diem.''
Di ruang tamu, Kyai Zaid duduk di kursi utama. Jubah coklat, sorban putih, jenggot lebat. Usia 60-an tapi matanya masih tajam. Kayak bisa nguliti orang. Di kanannya Ning Aliya. Nunduk. Tapi bibirnya senyum. Main jadi korban. Di kiri ada dua Ustadz sepuh. Saksi.
Nggak ada salam. Nggak ada basa-basi.
''Rayan,'' kata Kyai Zaid. Suaranya berat. Menggema sampe ke dapur. ''Saya denger Ndalem Cabang ini rame. Ada taaruf di aula. Ada Bu Nyai bawa mantan dari kota. Bener?''
Rayan berdiri. Aku ikut berdiri di sebelahnya. Genggam tangan Rayan. Dingin.
''Bener, Kyai,'' jawab Rayan. Tenang. ''Tapi saya taaruf sama istri saya sendiri. Untuk klarifikasi fitnah.''
''Fitnah?'' Kyai Zaid ketawa. Pendek. Nggak enak. ''Fitnah itu datang karena pintu dibuka. Kamu, Rayan. Kamu Ustadz. Kamu nikahin perempuan kota yang nggak ngerti adab Ndalem. Akhirnya Ndalem ikut rusak.''
Aku gigit bibir. Sabar, Zahra. Sabar.
''Salah saya di mana, Kyai?'' tanya Rayan. Nadanya datar. Tapi aku hafal. Itu nada Rayan kalau udah nahan marah.
''Salah kamu?'' Kyai Zaid gebrak meja. Kecil. Tapi semua kaget. ''Salah kamu nikah nggak pake musyawarah! Salah kamu belain istri yang bikin gaduh! Sekarang nama Ndalem jelek!"
Ning Aliya angkat suara. Pelan. Kayak bisik tapi sengaja biar kedengeran. ''Abah, sudah. Jangan salahkan Ustadz Rayan. Mungkin memang Mbak Zahra belum paham lingkungan pesantren.''
Sialan, batinku. Playing victim level wali.
Aku mau maju. Rayan tarik tanganku. Geleng. Matanya bilang: Biar aku dulu.
Kyai Zaid natap aku. Dari atas sampe bawah. Kayak nilai barang.
''Kamu Zahra ya,'' katanya. ''Mantan barista. Denger-denger kamu yang masih berhubungan dengan mantan kamu, dan bawa dia ke sini, Bikin arak-arakan taaruf. Pantes Ndalem panas.''
''Saya bawa mantan saya kemari, Kyai,'' jawabku. Nggak kuat diem. ''Bukan salah saya kalau dia mencari saya . Dan taaruf itu sama suami saya. Sah. Kalau Kyai bilang itu bikin panas, berarti Ndalem ini ademnya karena nggak ada yang gak suka sama hubungan kami, Alias iri."
Satu ruangan dingin. Mbak Yuni istighfar lagi. Bunda Aisyah merem.
''Kurang ajar,'' kata salah satu Ustadz sepuh di samping Kyai Zaid.
''Saya cuma jelasin, Pak, Kyai'' balasku. ''Kalau nggak boleh jelasin, terus saya harus diem aja difitnah?''
Kyai Zaid ngangkat tangan. ''Cukup. Saya ke sini bukan debat. Saya ke sini tabayyun. Dan saya udah lihat sendiri. Istri kamu, Rayan. Nggak ada adab. Berani sama orang tua.''
Rayan akhirnya buka suara. ''Istri saya bela diri, Kyai. Kalau diem, fitnah jalan terus. Saya yang ngajarin dia. Kalau salah, salah saya. Jangan salahkan Zahra.''
Kyai Zaid senyum. Senyum yang nggak enak. ''Bagus. Kamu ngaku salah. Berarti kamu siap tanggung jawab.''
Rayan diem. Aku juga diem. Firasatku nggak enak.
''Minggu depan saya adakan sidang Dewan pengurus Pesantren ," kata Kyai Zaid. Berdiri. ''Bahas kasus kamu, Rayan. Kamu siap-siap saja,"
'Maksud, Kyai apa?'' tanya Bunda Aisyah. Akhirnya buka suara. Suaranya geter.
Kyai Zaid noleh ke Ning Aliya. Ngelus punggung anaknya. Pelan. ''Nanti saya omongin di sidang. Yang jelas, nama Aliya harus bersih. Dia korban. Dia difitnah mau rebut suami orang. Padahal dia cuma khawatir sama Ndalem.''
Ning Aliya nangis. Sekarang. Air matanya deras. Akting Oscar.
''Saya pulang dulu,'' kata Kyai Zaid. ''Urus Ndalem kalian. Jangan bikin malu lagi.''
Rombongan pergi. Ning Aliya sempet nengok ke aku sebelum keluar. Senyum. Kecil. Tapi isinya menang.
Pas mobil keluar gerbang, Bunda Aisyah lemes. Duduk.
''Nak,'' katanya ke Rayan. ''Kamu mau diapain sama Kyai Zaid?''
Rayan jongkok depan Bunda. Genggam tangan Bunda. ''Nggak tau, Bun. Tapi firasat saya buruk.''
Aku tarik Rayan berdiri. ''Tadz,'' kataku. ''Apa maksudnya beresin fitnah?''
Rayan natap pintu. Kosong. Lama. Terus jawab.
''Kyai Zaid itu orangnya kolot, Zahra. Bagi dia, kalau ada laki-laki dan perempuan kena fitnah, solusinya cuma satu.''
''Apa?'' tanyaku. Jantung udah dag dig dug.
''Dinikahkan,'' jawab Rayan. Pelan. ''Biar fitnahnya jadi halal.''
Satu dapur hening. Mbak Yuni nutup mulut. Kang Jono refleks istighfar.
Aku? Aku ketawa. Tapi ketawanya kosong.
''Maksud Tadz, aku sama Tadz disuruh nikah? Kan udah nikah.'
Rayan geleng. Natap aku. Matanya sakit. ''Bukan aku sama kamu, Zahra.''
''Terus?''
''Aku sama Aliya.''
Gelas di tanganku jatoh. Prang. Pecah kedua kali hari ini.