NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: RUMAH YANG KEMBALI BERNAPAS

Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu neon yang remang saat Larasati melangkahkan kaki masuk ke dalam aula utama rumah lamanya. Rumah kolonial yang berdiri anggun di kawasan Menteng itu telah lama terlelap dalam kesunyian sejak disita sepuluh tahun silam. Dinding-dindingnya yang putih kini kusam, dan tanaman merambat telah menutupi jendela-jendela besar yang dulunya menjadi tempat favorit Larasati untuk mengintip kepulangan Ayahnya.

Namun, bagi Larasati, aroma rumah ini tetap sama—campuran kayu jati tua dan sisa-sisa wangi melati yang samar.

"Hati-hati, Laras. Lantainya mungkin ada yang rapuh," suara Baskara menggema di ruangan yang kosong itu.

Baskara muncul dari arah dapur dengan mengenakan masker debu dan memegang sebuah cetak biru besar. Ia tampak sangat sibuk sejak pagi tadi, memeriksa instalasi listrik dan kekuatan struktur bangunan. Pria itu menolak menggunakan kontraktor besar; ia ingin setiap sudut rumah ini diperbaiki di bawah pengawasannya langsung.

Larasati tersenyum sambil mengusap perutnya yang mulai terasa "berbeda," meski secara fisik belum tampak perubahan signifikan. "Rumah ini tidak rapuh, Baskara. Ia hanya sedang menunggu kita untuk menghidupkannya kembali."

Baskara mendekat, melepaskan maskernya, dan menuntun Larasati duduk di sebuah kursi lipat yang sengaja ia bawa. "Aku sudah menjadwalkan tukang kayu terbaik untuk memperbaiki plafon minggu depan. Dan untuk kamar bayi... aku ingin itu menjadi ruangan pertama yang selesai. Aku ingin anak kita mencium bau kayu baru dan cat yang aman, bukan debu masa lalu."

Proses renovasi rumah Hardianto menjadi proyek paling personal bagi mereka berdua. Bagi Baskara, ini adalah bentuk permintaan maaf yang nyata kepada mendiang Tuan Hardianto. Setiap paku yang ia tancapkan, setiap lapisan cat yang ia pilihkan, adalah janji untuk menjaga putri pria itu selamanya.

Namun, di tengah kesibukan renovasi, dunia luar tidak membiarkan Larasati beristirahat sepenuhnya. Aditama datang sore itu dengan membawa beberapa berkas penting yang harus ditandatangani.

"Nyonya CEO, maaf mengganggu waktu 'tukang bangunan' Anda," canda Aditama sambil menyerahkan dokumen di atas meja kayu yang sudah dibersihkan. "Ada beberapa tawaran kerja sama baru untuk Yayasan. Sepertinya kesuksesan sekolah pertama kita membuat banyak investor berebut ingin terlihat 'baik' di mata publik."

Larasati membaca berkas itu dengan teliti. "Tolak semua yang memiliki keterkaitan dengan industri tambang dan perbankan yang tidak transparan, Adit. Kita sudah belajar dari kasus Harlan. Aku tidak ingin nama Yayasan digunakan untuk greenwashing."

Aditama mengangguk paham. Namun, wajahnya berubah sedikit ragu. "Ada satu lagi, Laras. Ini tentang kesehatanmu. Dokter pribadimu menghubungi kantor karena kamu melewatkan jadwal pemeriksaan vitamin kemarin. Baskara akan marah jika dia tahu."

Larasati terkekeh pelan. "Baskara sudah cukup cerewet soal asupan makananku, Adit. Jangan ditambah lagi dengan laporan dokter. Aku merasa sehat, sungguh."

"Kamu mungkin merasa sehat, tapi janin itu butuh lebih dari sekadar perasaan," suara Baskara tiba-tiba terdengar dari balik pintu jati. Ia masuk sambil menyeka tangannya yang kotor oleh pelitur. "Adit, pastikan besok pagi mobil sudah siap jam delapan. Aku sendiri yang akan mengantar Larasati ke rumah sakit."

Larasati mendesah manja. "Baskara, aku bukan barang pecah belah."

"Di mataku, kamu dan anak kita adalah porselen paling berharga di dunia ini, Laras. Aku tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun," jawab Baskara tegas namun penuh kasih sayang.

Malam harinya, mereka menginap di salah satu kamar yang sudah selesai direnovasi. Suasananya sangat tenang, jauh dari kebisingan pusat kota. Mereka tidur di atas kasur sementara, namun bagi Larasati, ini adalah tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan.

Saat fajar menyingsing, Baskara sudah bangun. Ia berdiri di balkon, menatap halaman belakang yang sedang dibersihkan dari alang-alang. Larasati menyusulnya, memeluk suaminya dari belakang.

"Apa yang kamu pikirkan, Baskara?"

"Aku sedang membayangkan di mana kita akan meletakkan ayunan nanti," jawab Baskara sambil menunjuk ke arah pohon mangga tua yang masih berdiri kokoh. "Aku ingin anak kita punya masa kecil yang normal. Tanpa siasat, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Aku ingin dia bangga dengan nama Hardianto dan juga nama Pratama, karena ayahnya sudah berusaha memperbaiki nama itu."

Larasati terenyuh. Ia tahu betapa besarnya beban yang dipikul Baskara untuk memulihkan kehormatan keluarganya sendiri di mata publik.

Namun, ketenangan mereka terusik saat sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang rumah. Seorang pria berpakaian rapi keluar dan menyerahkan sebuah surat kepada penjaga keamanan yang baru saja mereka pekerjakan.

Larasati dan Baskara turun untuk melihat apa yang terjadi. Surat itu bukan dari bank atau pengadilan, melainkan dari sebuah firma hukum yang mewakili Keluarga Wijaya—keluarga besar Adrian.

Baskara membuka surat itu dengan cepat. Isinya adalah tentang penyerahan sisa aset properti di luar negeri yang selama ini menjadi sengketa. Keluarga Wijaya memutuskan untuk menyerahkan aset tersebut kepada Yayasan Hardianto-Baskara sebagai bentuk "uang perdamaian" dan kompensasi atas kerugian yang diakibatkan oleh Adrian.

"Mereka menyerah?" tanya Larasati heran.

"Bukan menyerah, Laras. Mereka sedang membersihkan tangan," analisis Baskara. "Setelah Adrian dipenjara dan bukti-bukti keterlibatan mereka dengan dana hitam Kusuma mulai terendus pihak berwenang, mereka ketakutan. Mereka ingin kita berhenti menggali lebih dalam dengan memberikan aset ini."

Larasati menatap dokumen itu. Nilainya sangat fantastis, cukup untuk membangun sepuluh sekolah lagi. Namun, ada rasa pahit di lidahnya. "Uang ini... ini adalah uang yang sama yang membuat ibunya Adrian menderita. Uang yang membuat Adrian menjadi monster."

"Apa yang ingin kamu lakukan, Laras? Kita bisa menolaknya," ucap Baskara.

Larasati terdiam sejenak, menatap rumah lamanya yang sedang berproses menjadi baru. "Jangan ditolak. Tapi jangan masukkan ke kas Yayasan untuk operasional. Kita akan gunakan seluruh aset ini untuk membangun pusat rehabilitasi dan pendidikan bagi anak-anak yang memiliki latar belakang keluarga kriminal atau hancur karena korupsi. Kita beri nama Gedung Sari Wijaya—mengambil nama ibu Adrian. Biarkan uang itu kembali untuk menyembuhkan luka yang ia ciptakan sendiri."

Baskara menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. "Kamu selalu menemukan cara untuk mengubah racun menjadi obat, ya?"

Beberapa minggu berlalu, renovasi rumah hampir mencapai 80%. Kamar bayi yang dijanjikan Baskara sudah selesai. Warnanya hijau mint pucat yang menenangkan, dengan furnitur kayu yang halus tanpa sudut tajam. Di salah satu dinding, Baskara sendiri yang melukis sebuah pohon besar dengan banyak burung yang hinggap—simbol keluarga dan perlindungan.

Hari itu, Larasati sedang duduk di taman belakang, mengawasi para tukang kebun menanam bunga-bunga melati baru. Tiba-tiba, ia merasakan tendangan kecil di perutnya. Bukan sekadar gerakan usus, tapi sebuah denyut kehidupan yang nyata.

"Baskara! Sini!" teriak Larasati penuh kegembiraan.

Baskara berlari dari dalam rumah, panik. "Ada apa? Kamu sakit? Perutmu sakit?"

Larasati menarik tangan Baskara dan menempelkannya di perutnya yang kini mulai sedikit menonjol. "Diam sejenak. Rasakan ini."

Baskara mematung. Matanya melebar saat ia merasakan sebuah gerakan kecil di balik telapak tangannya. Itu adalah interaksi pertama yang nyata antara dia dan anaknya. Pria yang biasanya tegar dan dingin itu seketika luruh. Air matanya jatuh mengenai tangan Larasati.

"Dia bergerak, Laras... dia bergerak," bisik Baskara parau.

"Dia tahu ayahnya sedang membangun rumah yang aman untuknya," ucap Larasati lembut.

Momen itu menjadi puncak dari segala perjuangan mereka. Di rumah yang dulunya menjadi saksi bisu kehancuran keluarga Hardianto, kini lahir sebuah harapan baru. Tidak ada lagi siasat manis yang beracun, tidak ada lagi dendam yang membara. Yang ada hanyalah sepasang suami istri yang sedang belajar menjadi orang tua, di sebuah rumah yang kembali memiliki napas dan jiwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!