NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Waktu bergulir lambat. Deri yang paling tertekan mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem. Biji matanya seperti sedang menarik-narik kelopak agar turun, kepalanya terasa berat seperti ditimpa batu bata. Rasa kantuk itu datang bukan karena mengantuk, tapi seperti ada kekuatan gaib yang mencoba mematikan kesadaran mereka.

"Bos... aku... aku nggak kuat..." gumam Deri pelan, kepalanya terkulai ke samping. "Biarin aku tidur sebentar aja... cuma lima menit..."

"JANGAN BERANI-BERANI!" tegur Sulaiman keras, menampar pipi Deri hingga pria itu tersentak. "Jangan tidur. Dengarkan aku. Kalau mata terpejam, nyawa melayang! Ingat Randi! Ingat apa yang terjadi padanya!"

Deri tersadar kaget, kedua matanya berkedip-kedip seolah baru saja dilempar debu. "Iya Bos... iya..."

Tiba-tiba...

Krrriiiing... Krrriiiing...

Suara bel sepeda terdengar jelas di luar gubuk.

Krrriiiing...

Suara roda besi bergesekan dengan tanah. Greeek... greeek... Seperti ada orang yang sedang mengayuh sepeda dengan berat.

"Siapa yang naik sepeda di hutan begini?" Herman bergumam, wajahnya pucat. "Ini tengah malam buta..."

Suara itu semakin dekat. Berhenti tepat di depan pintu gubuk.

Hening.

Lalu terdengar suara ketukan pintu.

Tok... tok... tok...

Pelan. Sopan. Menyeramkan.

"Permisi... ada orang di rumah..." suara seorang pria terdengar dari luar. Suaranya datar, tanpa intonasi, seperti suara pita kaset yang rusak. "Boleh numpang lewat... jalan buntu..."

Sulaiman memberi isyarat tangan agar mereka diam. Ia menggeser tubuh perlahan mendekati pintu, mengintip dari celah kecil di antara bilik bambu.

Di luar, cahaya senter tidak bisa menembus kegelapan, tapi ia bisa melihat siluetnya.

Seorang pria tinggi besar mengenakan seragam hijau kusam, topi helm yang penyok, duduk di atas sepeda onthel tua yang rantainya sudah karatan. Tapi yang membuat darah Sulaiman membeku adalah... roda sepeda itu tidak menyentuh tanah. Ia melayang sepuluh sentimeter di atas permukaan tanah.

Dan wajah pria itu... tidak ada wajah. Hanya kain ab-abu yang menutupi kepala, basah kuyup dan meneteskan air hitam.

"Buka pintunya... saya mau lewat..." suara itu lagi, kali ini terdengar lebih dekat, seolah mulutnya menempel tepat di daun pintu.

Tangan-tangan dari bawah pintu tiba-tiba muncul. Tangan-tangan kurus pucat dengan kuku panjang, meraba-raba mencari celah, mencoba membuka pintu dari bawah.

"Masuk... saya mau masuk... mau masuk..."

"PERGI KAU!!!!" Sulaiman kehilangan kesabaran. Ia mengambil botol bekas bensin yang ada di sudut ruangan, lalu melemparnya keras ke arah pintu.

Pchahhh!!!

Botol itu pecah, sisa bensin tumpah membaur bau menyengat.

Seketika, suara di luar hilang. Sepeda itu hilang. Ketukan-ketukan itu hilang. Semua kembali pada keheningan. Tapi mereka tahu, itu hanya jeda.

"Kita... kita harus buat api," kata Sulaiman tiba-tiba. "Api bisa mengusir mereka. Kita bakar apa saja yang bisa dibakar."

Mereka lalu mulai mengumpulkan serpihan kayu, dedaunan mering, dan anyaman bambu yang sudah lepas. Dengan susah payah karena tangan gemetar, akhirnya api kecil berhasil dinyalakan di tengah ruangan.

Cahaya api yang kemerahan menerangi wajah mereka yang pucat dan kotor. Hangatnya api memberikan sedikit rasa aman palsu, membuat bayangan di dinding tampak menari-nari seperti tarian hantu.

Namun, kehadiran api itu seolah memancing kemarahan dari halaman berbeda.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang dari segala arah. Bukan dari luar, tapi seolah angin itu muncul dari dalam gubuk itu sendiri. Api yang baru saja menyala menderu besar, lalu bentuknya berubah.

Api itu tidak berwarna biru atau kuning. Warnanya berubah menjadi hijau.

Api hijau yang dingin. Tidak memancarkan panas, justru mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Dan dari dalam nyala api hijau itu... wajah-wajah mulai muncul.

Wajah Randi!

Wajah teman mereka yang sudah mati itu muncul di tengah kobaran api, matanya melotot merah, mulutnya menganga lebar seolah menjerit tanpa suara. Wajahnya berputar-putar, terdistorsi, berubah menjadi wajah makhluk mengerikan, lalu berubah lagi menjadi wajah orang-orang tak dikenal yang penuh kebencian.

"Hahaha... Hahaha..."

"Hahahahehehe..."

Riuh tawa terdengar dari segala arah. Tawa yang mengejek, merendahkan, membuat telinga gatal.

"Lihat mereka... penakut... penakut..."

"Mana nyalimu wahai penebang hutan... mana gergajimu..."

"Mari bermain... main petak nyawa..."

Dinding gubuk mulai berubah. Anyaman bambu itu perlahan bergerak, membentuk wajah-wajah seperti perisai yang meringis, menjulurkan lidah ketidak warasan, menatap mereka dengan mata yang bermunculan seperti gelembung-gelembung kecil.

"AKU TIDAK TAKUT! BANGSAT!!" Teriak Sulaiman meledak, ia berdiri tegak, mengangkat parangnya tinggi-tinggi. "Kalian cuma bayangan! Cuma ilusi! Aku Sulaiman! Dan kalian adalah bangsa jin! Aku sudah menghadapi harimau taring tunggal! Aku sudah menghadapi badai tengah malam! Aku tidak akan takut pada kalian!"

Namun teriakannya tidak mempan. Ruangan itu mulai berputar. Lantai bergerak seperti ombak laut, dinding membesar dan mengecil, dunia di sekitar mereka terdistorsi seperti mimpi buruk.

Deri sudah tidak kuat lagi menahan mentalnya. Ia menangis histeris, merayap ke sudut ruangan, memukul-mukul kepalanya sendiri. "Berhenti! Berhenti! Aku mau pulang! Ibuuuu...!"

Herman hanya bisa duduk terpaku, matanya kosong, mulutnya komat-kamit membaca doa tapi tidak ada suara yang keluar, bacaannya tidak benar, tidak khusyu. Ia sudah berada di ambang kehilangan kesadaran.

Jam terus berjalan. Atau setidaknya mereka berharap jam berjalan. Rasanya seperti mereka terjebak dalam malam yang tak mengenal fajar.

Tiba-tiba...

Suara ayam berkokok terdengar dari kejauhan.

Kukuruyuk...

Suaranya samar, tapi jelas.

Lalu disusul suara ayam lainnya.

Kukuruyuk! Kukuruyuk!

Seketika, seluruh teror itu berhenti.

Api hijau itu padam seketika. Wajah-wajah di dinding menghilang. Suara tawa lenyap. Angin berhenti bertiup.

Dunia kembali sunyi. Tapi kali ini, sunyi yang berbeda. Sunyi yang lega.

Sulaiman menatap celah-celah dinding. Cahaya hitam pekat di luar perlahan berubah menjadi kelabu. Kabut tebal mulai turun, menyelimuti hutan, tapi warnanya bukan lagi hitam pekat yang menakutkan, melainkan abu-abu pagi yang biasa.

"Pagi..." bisik Sulaiman, suaranya parau. "Sudah pagi..."

Dalam hatinya ia berbisik, "ayam siapa yang berkokok di tengah belantara seperti ini...?"

Ia berjalan gemetar menuju pintu, mendorong perlahan.

Pintu terbuka.

Angin pagi yang sejuk menerpa wajah mereka. Embun terlihat menetes di daun-daun. Kabut putih tebal bergulung-gulung di antara pepohonan, menyembunyikan apa yang ada di kejauhan.

Tidak ada sosok aneh. Tidak ada sepeda hantu. Tidak ada api hijau.

Hanya hutan yang tenang, penuh partikel bening di ujung ranting kecil, dan dingin seperti biasa.

"Hidup... kita masih hidup..." Deri terisak bahagia, ia jatuh berlutut menyentuh tanah, mencium aroma semak yang asli, bukan bau busuk tadi malam.

Herman menangis tersedu-sedu, bersyukur karena masih diberi napas. Mereka berhasil melewati malam paling panjang dan mengerikan dalam hidup mereka.

"Tapi... kita masih di sini," ucap Sulaiman mengingatkan, seraya mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. "Matahari belum sepenuhnya naik. Kabut masih tebal. Tapi kita harus pergi sekarang."

"Kita jalan ke mana, Bos? Kompas rusak. Jalan hilang," tanya Herman.

Sulaiman menatap langit yang mulai terlihat sedikit terang di antara dedaunan. "Kita ikuti arah matahari terbit. Dan kita ikuti aliran air. Air selalu mengalir ke bawah, ke sungai, ke pemukiman."

Mereka bersiap. Tubuh mereka lelah. Luka-luka goresan di tangan dan kaki terasa perih. Pakaian mereka kotor dan robek. Tapi naluri untuk hidup membara lebih kuat dari sebelumnya.

Sebelum berangkat, Sulaiman menoleh kembali ke gubuk itu.

Di ambang pintu, ia melihat sesuatu yang tidak ada tadi malam.

Sebuah foto baru. Terpasang rapi di tiang pintu.

Foto itu memperlihatkan tiga orang pria yang terlihat hancur mentalnya, sedang duduk mengelilingi api. Di bawah foto itu tertulis:

"Mereka Bertahan Hingga Pagi... Untuk Menghadapi Kematian yang Sesungguhnya."

Sulaiman merobek foto itu dengan kasar, lalu meludahinya. "Omong kosong!" geramnya. "Kita akan keluar dari sini!"

Mereka mulai melangkah memasuki kabut tebal.

Asap sejuk keputihan itu sangat pekat, visibilitas hanya beberapa meter saja. Mereka harus berpegangan tangan agar tidak terpisah. Suasana di dalam kabut itu aneh. Dunia terasa sunyi senyap. Tidak ada suara burung, tidak ada suara angin. Hanya suara langkah kaki mereka sendiri yang terdengar asing.

"Bos... lihat itu," tunjuk Deri pelan.

Di depan mereka, di tengah kabut, terlihat sebuah bangunan. Bukan gubuk. Tapi sebuah bangunan permanen yang terbuat dari batu bata dan beton, sudah tua dan ditumbuhi lumut tebal. Papan nama di depannya sudah lapuk, tapi masih bisa terbaca: POS PENJAGA HUTAN - DITUTUP SEJAK 1967.

"Pos penjaga?" Sulaiman mengerutkan kening. "Selama puluhan tahun bekerja di beberapa rimba di area yang berbeda-beda, aku belum pernah mendengar ada pos penjaga hutan yang dibangun dari beton."

Mereka mendekat dengan hati-hati. Pintu besi pos itu berkarat dan sedikit terbuka. Dari dalam, terlihat cahaya lampu petromak yang menyala redup.

"Ada orang di dalam?"

"Siapa di sana?!" teriak Sulaiman bersiap dengan parang.

Tidak ada jawaban. Hanya suara jam lemari tua yang berdetak.

Tik... tak... tik... tak...

Mereka mengintip dari jendela yang kacanya buram.

Di dalam, terlihat seorang pria tua sedang duduk membelakangi mereka, duduk di belakang meja kayu besar. Ia mengenakan seragam warna cokelat tua yang sudah usang. Di mejanya ada tumpukan berkas-berkas tebal.

"Pak! Tuan!" panggil Herman. "Mohon maaf mengganggu! Kami tersesat! Bisa bantu tunjukkan jalan keluar?"

Pria tua itu tidak bergerak. Tidak menoleh.

Sulaiman mendorong pintu perlahan. Kriiigg..

"Misi, Pak. Kami..."

Sulaiman terdiam. Kata-katanya tercekat di tenggorokan.

Pria tua itu memang duduk. Tapi badannya miring ke samping. Lehernya tertekuk aneh. Dan di lehernya... terlihat rantai besi yang melilit, membelenggunya ke sandi kursi.

Wajahnya menghadap ke arah mereka. Matanya melotot, lidahnya menjulur panjang, wajahnya membiru. Ia sudah menjadi mayat yang sepertinya baru saja memasuki fase dekomposisi, namun anehnya tidak ada bau busuk yang tercium. Hanya bau kertas tua dan debu.

Dan di mejanya... ada buku besar yang terbuka.

Di halaman itu, tertulis daftar nama.

DAFTAR PENGUNJUNG HUTAN LARANGAN

- Randi ... STATUS: DIAMBIL

- Herman ... STATUS: DIPANTAU

- Deri ... STATUS: DIPANTAU

- Sulaiman ... STATUS: DIPANTAU

Dan di bawah nama mereka, ada coretan tinta merah yang masih basah:

...Mereka pikir sudah selamat. Mereka salah. Kabut ini adalah perbatasan. Mereka sudah masuk ke Zona Mati...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!