Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Jangan Mengataiku
Dimeja makan, Giancarlo sedang menunggu mereka, dia masih membaca Koran Media Berita T-7 yang membahas Makanan Berizi Grading, yang sedang viral di Negara Konoho timur.
“Kenapa lama sekali, cepetan nanti ayah terlambat dikantor, apalagi hari ini klien besar dari Lombok Timur” Ucap Gian dengan terburu buru.
“Sabarlah pak! Emangnya pulsa paket, dibeli langsung jadi, ini kan perawatan intensif, jadi harus hati hati” Tiaras langsung menjawab perkataan dari sang suaminya.
Embun yang sudah mengantarkan Rido di meja makan, dengan langkah kecil dia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu, namun tiba tiba tangannya dicekat oleh Rido.
“Kau itu kan yang merawatku! Jadi kau harus menuankan makanan dan minuman untukku” tegas Rido kepada embun, dengan tangannya masih memegangi tangan gadis belia itu.
Ayah Rido mengernyit ketika dia mendengar permintaan dari sang anak, dia seakan sedang dihantam Bom Atom yang berapa kilo gram.
“apa maksudmu berkata seperti itu, kan ada ibumu yang menuangkan minuman dan makanan untukmu, tidal perlu dia” ucap Gian tiba tiba sedikit kesal dengan permintaan Rido kepada sang pembantu itu.
“Sudah! Kau kembali saja kebelakang!” tegur Gian sambil memandangi Embun yang sedang berdiri canggung dibelakang Rido.
“Baik Tuan Besar” sambut embun dengan sedikit menunduk hormat, sambil dia menarik dirinya kebelakang dan langsung menghilang dari tempat itu.
Setelah embun menghilang dari tempat itu, Tiaras dan Giancarlo menatap Rido dengan tatapan penuh keheranan “Nak! Kamu sepertinya bersifat beda gadis itu? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang lain?” ucap Tiaras bertanya kepada Rido Prasetio.
“Apa maksud bunda? Bukankah bunda sendiri yang menugaskannya untuk merawatku selama aku masih dalam keadaan sakit? Lalu kenapa sekarang kalian malah bertanya macam ada sesuatu yang terjadi?’ sergah Rido kepada sang ibunda.
“Emm.. bunda tidak punya maksud lain! Bunda hanya sedikit penasaran saja, siapa tau ada hal yang lain” ucap Tiaras memelas.
“Ayah ingatkan padamu! Dia itu hanyalah seorang Pembantu dirumah ini, jadi kau jangan banyak neko neko” ucap Gian dengan kata kata tegas keluar dari mulutnya.
Rido mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari sang ayah, dia semakin bingung dengan kata kata yang dilontarkan oleh sang ayah.
“Kalian kenapa semakin menjadi jadi ya, semakin ngawur kalian ku tengok, jangan ginilah jangan gitulah, dia hanyalah seorang pembantulah, emang kalian pikir aku akan menjadikan dia sebagai istriku, Hufft,, jadi malas makan” kesal Rido yang langsung menekan tombol on dikursi rodanya, dan dia langsung pergi kemarnya.
“Ayah ini kenapa sih? Gak pelan pelan kalau bicara, jadi liatlah dia gak mau sarapan” tegur Tiaras kepada sang suami. “lagian kenapa kalau nak embun itu sebagai pembantu? Emang dia gak berhak untuk hidup bahagia? Hah!’’ lanjutnya lagi.
“jangan jangan bunda sudah mulai suka dengan pembantu itu? Ingat yah bund, bunda jangan pernah menjodohkan mereka, kalau tidak! Ayah sendiri yang akan turun tangan” Ingatkan Gian kepada sang istri tercinta.
Setelah mengatakan peringatannya Gian langsung pergi meniggalkan meja makan, dia langsung pergi ke kantornya.
“Heemm… ada ada saja, selalu membanding bandingkan kasta seseorang” gumam Tiaras yang sedikit kesal dengan prinsip suaminya itu.
Didapur embun bersama dengan ibu wina dan bu Farel, mereka sedang membersihkan sayur dan beberapa buah untuk makan siang nanti, namun tiba tiba Embun teringat dengan ibunya yang mengobati anak ayam yang mengalami patah kaki sewaktu dia masih berada di Desa.
“Apakah hal itu mungkin ya?” Gumam Embun dengan sedikit mengernyit.
“kenapa kau sepertinya sedang memikirkan hal berat nak? Macam pengusaha saja” tegur bu wina yang melihat embun yang seperti sedang memikirkan hal berat.
“gak ada bu, hanya teringat suasana kampung saja, saya rindu kampung halaman bu” Jawab Embun seadanya saja.
Bu wina hanya mengangguk pelan selanjutnya mereka meneruskan pekerjaan masing masing.
“Nak! Ibu sudah mengundang dokter hebat dari luar negeri, apakah kamu tidak keberatan?” Tanya Tiaras kepada Rido yang sedang duduk diteras rumahnya dalam keadaan sedang merenung.
“Eh.. Bunda, iya bunda, gak apa apa yang penting bisa mengobati Rido, karena Rido harus bisa sembuh” Jawabnya dengan sedikit menunduk.
“Tidak apa apa nak, kamu adalah anak bunda satu satunya, jadi bunda harus melakukan yang terbaik untukmu” sahut Tiaras dengan sedikit sedih.
Sementara ditempat lain, Satrio sedang menelpon dengan seseorang.
“Tenang saja sayang, Rido itu kan anak B”doh, jadi kau bisa datang menemuinya, jalankan rencana yang sudah pernah kita rencanakan dahulu” ucap Satrio yang sedang berdiri tegap sambil memasukin tangannya di saku celana sambil menelpon.
“Iya sayang! Kau benar, dia kan sangat mencintaiku, jadi tidak alasan dia untuk menolakku” sahut seorang wanita dari ujung telepon.
“hahaha.. aku mau lihat, sampai dimana kehebatannya itu? Kalau dia sudah hancur berkeping keping” sambut Satrio dengan bangga.
Lama mereka saling berkomunikasi, akhirnya panggilanpun berakhir dengan tenang, yang membuat wajah Satrio sangat senang bagaikan sedang mendapatkan sebuah berlian permata.
Satrio berjalan menuju ruang kerjanya, dia langsung memegangi sebuah foto “Ibu, aku janji akan membalas keluarga Prasetio itu, karena keluarga mereka ibu meninggal dunia”. Tak terasa ari bening jatuh di pipinya.
“Keluarga Prasetio harusnya mati! Akan kupastikan kalian akan membayar semuanya dengan harga yang paling mahal” geramnya dengan mengeraskan rahangnya.
Sementara di kediaman Prasetio, Rido meraih Handphonnya yang mendapatkan notifikasi, sebuah pesan melalui chat. Rido langsung mengerutkan keningnya ketika dia membuka pesan itu, wajahnya tiba tiba berubah muram bagaikan awan mendung yang sedang tertiup angin dari ufuk barat.
Ketika Rido sedang bermuram durja dengan perasaanya sendiri, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar “tok tok tok”.
“iya masuk” sahut Rido dengan nada datarnya.
“maaf tuan muda, apakah tuan muda sedang sibuk, ada dokter diluar ingin memeriksa kondisi anda” Ucap Bu Farel dengan sedikit menunduk.
“iya suruh dia masuk” jawabnya singkat.
“baik tuan muda” sambut bu Farel dengan membungkuk dan langsung berbalik meninggalkan Rido sendirian.
Tidak lama seorang dokter masuk kedalam kamar Rido, dia sedang duduk diatas kursi rodanya.
“Maaf Tuang muda, bagaimana kabar anda?” Tanya dokter itu.
“emm.. seperti yang anda lihat, sekarang saya hanyalah seorang penghuni rumah” Jawabnya dengan mode biasa.
“boleh saya periksa kaki anda?” Tanya sang dokter lagi.
“iya silahkan!” sahut Rido singkat.
Sang dokter membuka perban kaki Rido, matanya mengerut ketika dia memeriksa kaki Rido, kemudian melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan sangat teliti.
“sangat parah sekali keretakan kaki anda tuan muda, sepertinya sulit untuk mendapatka kesembuhan total” ujar sang dokter dengan menghela napas berat.
“Tolonglah dokter, berikan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhan kaki anak saya” sahut Tiaras yang sedang berdiri disamping ranjang sang anak.
Sang Dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan nafas berat “Saya mengalah nyonya, karena tulang tulang kakinya sudah sangat hancur, bukan patah, tapi Hancur”.
Air mata Tiaras langsung mengucur deras, ketika dia mendengarkan pernyataan sang dokter barusan, dunia seakan hancur lebur bagaikan gempa bumi palu.
Rido hanya menatap lurus kedepan, dia tidak bisa berkata kata lagi mendengar pernyataan dari sang dokter.
“maaf tuan, biar saya perban kembali kaki anda, saya mencoba memberikan obat untuk mengatasi rasa nyeri” Ucap Dokter dengan memperban kembali kaki Rido.
“Dokter, apakah ada dokter di dunia ini yang bisa mengobati kaki putra saya?” Tanya Tiaras memohon kepada sang dokter.
“maaf nyonya sepertinya tidak ada lagi yang bisa, berdoa sajalah siapa tau ada Mukjizat dari sang maha kuasa” jawab sang dokter.
Setelah mengatakan semuanya, sang dokter langsung pamit dari tempat itu, dia langsung pulang kerumahnya mungkin karena malu.
Siang berlalu menyambut sore, embun melakukan rutinitasnya untuk membersihkan sang tuan mudanya, dengan hati hati dia membersihkan kaki Rido, sementara sang tuan hanya bisa melihat lurus kedepan tanpa ada satu katapun.
Embun mengeringkan rambut Rido yang sudah basah, kemudian dia tiba tiba berkata “bagaimana kondisi anda setelah diperiksa dokter tadi siang tuan?”.
“Sebaiknya kau urus saja urusanmu, kau tidak perlu tau soal itu, karena walaupun kau tau, kau tidak ada jawaban yang bisa merubah keadaan” dengus Rido dengan dingin.
“heemm, tampannya kurang lagi deh” ujar embun dengan lirih.
Rido menatapnya dengan datar, namun yang ditatap seolah tidak tau apa apa, dia terus saja melakukan kegiatannya untuk mengeringkan rambut Rido.
“bisakah kau tidak mengataiku sekali saja? Hah!” ucap Rido geram.
“Habisnya Tuan Muda bicaranya gak asik sih? Ditanya, malah jawabannya hanya gitu, jadi hati siapa yang gak tercubit kalau kelakuan sang tuannya begitu” oceh embun dengan entengnya.