NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Pak Budi sudah hampir selesai, Zir. Tenanglah," bisik Zita sambil menggenggam tangan Zira yang gemetar hebat.

Tepat saat dosen menutup buku dan melangkah keluar, ponsel Zira kembali bergetar. Bukan telepon, melainkan sebuah pesan singkat dari Nathan: “Mas sudah di depan gerbang kampus. Cepat keluar.”

Ketiganya berlari menyusuri koridor kampus menuju gerbang utama. Di sana, mobil SUV hitam milik Nathan sudah terparkir dengan mesin menderu. Nathan berdiri di samping pintu dengan wajah pucat dan rahang yang mengeras. Begitu melihat Zira, ia langsung membukakan pintu.

"Mas, gimana kondisi Aryan?" tanya Zira dengan suara tercekat saat mereka semua sudah masuk ke dalam mobil.

Nathan tidak langsung menjawab. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mobil melesat membelah kemacetan kota. "Kritis, Zira. Dia di ruang resusitasi. Rem blong saat dia mengendarai motor di turunan tajam."

Suasana di dalam mobil menjadi mencekam. Aliya dan Zita hanya bisa terdiam di kursi belakang, saling berpegangan tangan, sementara Zira mulai terisak pelan.

Konflik Memuncak di Rumah Sakit

Sesampainya di Rumah Sakit Medika, Nathan memarkir mobilnya asal di depan lobi darurat. Mereka berlari masuk dan mendapati Ibu Zira, Mama Sarah, sedang menangis histeris di depan pintu IGD.

"Ini semua salah mama, Zira!" ratap Mama Sarah begitu melihat putrinya. "Harusnya mama larang dia pergi tadi siang!"

Namun, suasana haru itu mendadak pecah oleh kehadiran sosok yang tidak diinginkan. Dari arah lorong, Clara muncul dengan langkah tergesa, wajahnya tampak cemas yang dibuat-buat.

"Nathan! Aku dengar kabar tentang Aryan, jadi aku langsung ke sini," ujar Clara tanpa tahu malu, langsung mendekati Nathan dan mencoba menyentuh lengannya.

Zira yang hatinya sudah hancur karena kondisi adiknya, merasa amarahnya yang tadi pagi sempat padam kini meledak berkali-kali lipat. Ia melangkah maju, menepis tangan Clara dari suaminya.

"Mau apa kamu di sini, Clara?! Ini urusan keluarga kami!" bentak Zira. Suaranya menggema di lorong rumah sakit yang sepi.

"Zira, tolonglah, aku cuma khawatir. Aryan itu sudah seperti adikku juga," balas Clara dengan nada bicara yang menjengkelkan.

"Adikmu? Kamu bahkan baru mengenal Nathan beberapa bulan dan terus-menerus mengganggunya! Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali!" Zira menunjuk ke arah pintu keluar dengan jari bergetar.

Nathan mencoba menengahi, "Zira, sudah... fokus kita sekarang adalah Aryan."

Tapi Zira tidak bisa ditekan lagi. "Kamu membelanya, Mas? Di saat adikku sedang bertaruh nyawa di dalam sana, kamu membiarkan perempuan ini masuk ke ruang privasi kita?!"

Ketegangan mencapai puncaknya ketika dokter keluar dari ruang IGD dengan baju hijau yang bercak darah. ""Keluarga pasien? Kondisi pasien saat ini sangat kritis. Ada pendarahan hebat di kepala dan trauma dada akibat benturan keras. Sepertinya ini bukan sekadar jatuh karena rem blong."

Semua orang terdiam. Deru napas Zira memburu,  Lorong rumah sakit itu mendadak terasa sangat sempit, menjepit mereka dalam konflik yang semakin memanas di tengah situasi hidup dan mati.

Zira mematung. "Maksud Dokter apa? Bukan sekadar jatuh?"

"Dari pola lukanya, ada bekas hantaman benda tumpul yang sangat kuat dari arah belakang sebelum motornya meluncur jatuh. Aryan bukan kecelakaan tunggal. Aryan ditabrak," tegas Dokter.

Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Suasana yang tadinya penuh kesedihan mendadak berubah menjadi horor. Mama Sarah hampir pingsan kalau tidak segera ditangkap oleh Zita.

*Konflik yang Memanas*

Di tengah kekacauan itu, ponsel Clara yang berada di tasnya berbunyi nyaring. Ia tampak gugup dan mencoba menjauh dari kerumunan untuk mengangkat telepon tersebut. Namun, Aliya yang sejak tadi menaruh curiga pada kehadiran Clara yang tiba-tiba, langsung menyambar ponsel itu dari tangan Clara.

"Balikin, Aliya! Itu privasi aku!" teriak Clara panik, wajahnya yang tadi cemas palsu kini berubah menjadi pucat pasi.

Aliya tidak peduli. Ia melihat layar ponsel yang menyala. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tanpa nama: “Sudah beres. Motornya hancur. Dia nggak akan bangun lagi. Mana janjimu?”

"Zira! Nathan! Lihat ini!" Aliya berteriak sambil menyodorkan ponsel itu ke tengah-tengah mereka.

Zira membaca pesan itu. Darahnya serasa berhenti mengalir, lalu mendidih seketika. Ia menatap Clara dengan pandangan yang mengerikan—tatapan seorang kakak yang baru saja tahu adiknya dikhianati.

"Apa maksudnya ini, Clara?!" suara Zira rendah namun sarat dengan ancaman. "Kamu... kamu yang melakukan ini pada adikkku?"

"Nggak! Itu fitnah! Aku nggak tahu siapa yang kirim pesan itu!" Clara mencoba membela diri, namun suaranya bergetar hebat.

Ledakan Amarah di Lorong Rumah Sakit

Nathan, yang selama ini selalu bersikap dingin dan tenang, kini maju selangkah. Matanya menatap Clara dengan kilatan amarah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. "Clara, jika terjadi sesuatu pada Aryan karena ulah gilamu untuk menarik perhatianku... aku sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di penjara seumur hidup."

Zira tidak bisa lagi menahan diri. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah baju Clara. "Kenapa, Clara?! Kenapa harus adikku?! Kalau kamu benci aku, serang aku! Jangan Aryan!"

"Zira, lepasin! Kamu gila ya?!" jerit Clara meronta-ronta.

Zita dan Aliya mencoba menahan Zira agar tidak berbuat nekat di rumah sakit, sementara satpam mulai berdatangan karena keributan yang semakin tidak terkendali.

Di saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruang IGD kembali terbuka dengan kasar. Seorang perawat berlari keluar dengan wajah panik.

"Dokter! Detak jantung pasien menurun drastis! Pasien mengalami cardiac arrest!"

Dunia seakan berhenti berputar bagi Zira. Ia melepaskan cengkeramannya pada Clara. Fokusnya beralih sepenuhnya ke pintu IGD yang kembali tertutup rapat. Di satu sisi, ada pengkhianatan Clara yang harus dituntaskan, di sisi lain, nyawa adiknya sedang berada di ujung tanduk.

"Dokter! Selamatkan adik saya! Tolong!" jerit Zira tertahan, air matanya tumpah tak terbendung.

Nathan segera berlutut di samping istrinya, memeluk bahu Zira dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel Clara yang masih disita oleh Aliya. Rahangnya mengeras. Ia menatap dua satpam yang mendekat.

"Tahan perempuan ini," instruksi Nathan dengan suara berat yang penuh otoritas, menunjuk ke arah Clara. "Dia terlibat dalam upaya pembunuhan berencana terhadap adik ipar saya. Jangan biarkan dia melangkah satu senti pun keluar dari rumah sakit ini sampai polisi datang."

"Apa-apaan ini?! Nathan, kamu nggak bisa lakuin ini! Itu cuma pesan nyasar!" teriak Clara histeris saat kedua satpam mencekal lengannya.

"Pesan nyasar tidak akan datang tepat saat korbannya sekarat, Clara," desis Nathan tajam.

Detik-Detik Menegangkan di Ruang Resusitasi

Pintu IGD terbuka kembali. Dokter kepala keluar dengan dahi berkeringat. "Kami butuh salah satu anggota keluarga masuk. Pasien terus menggumamkan nama 'Zira'. Dia dalam kondisi setengah sadar, tapi detak jantungnya sangat tidak stabil. Kehadiran orang terdekat mungkin bisa membantunya melewati masa kritis ini."

Zira bangkit dengan sisa tenaganya. Didampingi Nathan, ia masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bunyi tit-tit-tit dari mesin EKG yang berirama cepat dan tidak teratur.

Di atas brankar, Aryan terbaring lemah. Kepalanya dibalut perban yang sudah mulai merembas darah segar. Wajah tampannya penuh luka lecet dan lebam biru keunguan.

"Aryan... ini Kak Zira, Dek," bisik Zira sambil menggenggam tangan Aryan yang terasa sangat dingin.

Mata Aryan terbuka sedikit, sangat sayu. Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tanpa suara. Zira mendekatkan telinganya ke mulut adiknya.

"Mobil... putih... pelatnya..." Aryan terbatuk, darah keluar dari sudut mulutnya, membuat Zira menjerit tertahan. "Clara... dia... sengaja..."

Setelah membisikkan kata-kata itu, bunyi mesin EKG berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga.

"DOKTER! ARYAN!" teriak Zira histeris.

Pembalasan yang Dingin

Di luar, Nathan keluar sebentar dengan wajah yang sudah berubah menjadi 'iblis'. Ia menemui Aliya dan Zita yang masih menjaga Clara. Tanpa kata, Nathan mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi seseorang.

"Halo, Unit Jatanras? Saya Nathan. Saya punya bukti digital dan saksi kunci untuk kasus tabrak lari di Jalan Wijaya satu jam yang lalu. Pelakunya ada di depan saya sekarang. Jemput dia."

Clara jatuh terduduk di lantai. "Nathan, tolong... aku lakuin itu karena aku sayang kamu! Aku cuma mau dia celaka sedikit supaya kamu sedih dan butuh sandaran aku!"

"Kamu gila," sahut Zita sambil meludah ke samping, merasa muak luar biasa.

Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah lobi. Seorang pria dengan jaket kulit hitam yang tampak seperti preman berlari ke arah mereka, bermaksud menarik Clara pergi.

"Itu dia orangnya! Itu yang di pesan tadi!" teriak Aliya menunjuk pria itu.

Konflik fisik tak terhindarkan. Pria itu mencoba memukul satpam untuk meloloskan Clara, sementara Nathan langsung pasang badan untuk melindungi istri dan sahabat-sahabatnya.

1
Kim Taehyung
lanjut lagi thor, aku menunggu mu... gak sabar dengan kelanjutan cerita ini
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!