Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Harga untuk dirimu sendiri
Ruangan itu masih diselimuti ketegangan yang belum mereda. Udara terasa berat, seolah menekan dari segala arah. Yun Zhu berdiri kaku di tempatnya, pikirannya belum sepenuhnya mampu mengejar apa yang baru saja terjadi.
Semuanya datang terlalu cepat.
Tanpa tanda, tanpa jeda, Tianqiong muncul begitu saja di hadapannya. Sosok yang selama ini tidak pernah ia sadari keberadaannya, kini berdiri nyata, berbicara, bahkan menyentuhnya.
Selama ini… tidak pernah sekalipun.
Lalu kenapa sekarang?
"Akan kukatakan..." suara Tianqiong terdengar lebih pelan kali ini, hampir seperti bisikan yang menenangkan.
Ia bergerak perlahan, lalu duduk di ranjang milik Yun Zhu dengan tenang, seolah itu memang tempatnya sejak awal.
"Aku adalah kultivator yang telah jatuh, hanya satu usaha lagi untuk menerobos alam. Tapi ternyata gagal, dan berakhir di sini."
Yun Zhu tetap diam. Tatapannya tertuju pada wanita itu, mendengarkan setiap kata tanpa berani menyela.
"Aku hidup di dalam dirimu bertahun-tahun. Dan hari inilah, aku berhasil menyempurnakan tubuhku semula."
Tangan Yun Zhu perlahan mengepal.
Ada sesuatu yang mulai ia pahami.
"Jadi... semua yang terjadi padaku, adalah ulah Senior?"
Nada suaranya datar, namun tersembunyi tekanan di dalamnya. Sebuah tudingan halus yang tak bisa disembunyikan.
"Tidak. Itu tidak ada hubungannya denganku. Pada dasarnya kau memanglah tidak berbakat, bocah."
Jawaban itu datang tanpa ragu.
Dan menghancurkan.
Seolah semua harapan yang selama ini ia pegang dipatahkan dalam satu kalimat sederhana.
Untuk apa semua usahanya?
Enam tahun berkultivasi tanpa henti. Bertahan dalam hinaan, menahan rasa putus asa, terus mencoba meski tidak ada hasil.
Namun pada akhirnya… semuanya kembali pada satu hal.
Bakat.
Ekspresi Yun Zhu berubah. Tidak lagi bingung, melainkan kosong.
Tianqiong memperhatikannya dengan tenang. Ia tahu perubahan itu. Ia tahu betul seperti apa rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini dipegang erat.
Bocah itu masih memiliki hati.
Dan hati yang kehilangan harapan… mudah runtuh.
"Huhh..." Tianqiong menghela napas pelan.
"Bocah, jadilah milikku."
Yun Zhu mengangkat kepalanya. Tatapannya kembali hidup, meski masih samar. Ada kebingungan, namun juga sesuatu yang lain.
Harapan kecil yang belum sepenuhnya padam.
"Memangnya kenapa jika berbakat rendah, meski memiliki akar spiritual yang buruk, lalu kenapa?"
Kata-kata itu terdengar asing, namun juga familiar.
Yun Zhu menatap lebih tajam.
"Bukankah itu yang selalu kau katakan?"
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Tianqiong berdiri, lalu berjalan mendekat. Setiap langkahnya tenang, tanpa tergesa.
Tangannya terangkat, lalu menyentuh dada Yun Zhu. Tepat di atas jantungnya.
Ia berhenti di sana.
Seolah merasakan sesuatu.
"Terkadang, guru yang mengajari juga bisa membuat kesalahan. Mereka hanya memandang bakat, bukan kerja keras."
Suasana menjadi lebih tenang. Suaranya tidak lagi terasa menekan, melainkan perlahan menenangkan.
"Tapi..." Yun Zhu akhirnya bersuara, meski ragu. "Sampai kapan pun, kerja keras tidak akan bisa mengalahkan bakat dari lahir."
"Itu tidak sepenuhnya benar."
Balasan Tianqiong datang lembut, namun pasti.
"Dibandingkan dengan mereka yang mengandalkan pil untuk menjadi lebih kuat, aku lebih memilihmu. Fondasimu kokoh, mentalmu kuat."
Jarinya sedikit menekan dada Yun Zhu, seolah menegaskan keberadaan yang ia rasakan.
"Sisanya hanyalah... bagaimana agar kau bisa memanfaatkan dirimu sendiri."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sesuatu di dalam diri Yun Zhu kembali bergerak.
Bukan Qi.
Bukan kekuatan.
Melainkan harapan yang perlahan menyala kembali.
"Apa maksudnya itu..." Yun Zhu tersenyum kaku, senyum yang jelas dipaksakan. "Senior bisa membuatku jadi lebih kuat? Tapi bukankah Senior juga sedang kesulitan saat ini."
Tianqiong sedikit memiringkan kepalanya, alisnya terangkat tipis.
"Kata-katamu cukup menusuk."
Ia mundur selangkah, ujung jari kakinya berputar ringan di lantai, seolah tidak benar-benar tersinggung, hanya sekadar mengakui.
"Meski telah jatuh, aku tetaplah kultivator. Jauh lebih kuat darimu."
Satu jarinya terangkat perlahan, menunjuk ke arah Yun Zhu dengan gerakan santai, hampir malas.
"Yah, coba rasakan ini."
Seketika setelah kata-kata itu jatuh, udara di sekitar berubah.
Tidak ada ledakan, tidak ada kilatan cahaya.
Namun tekanan itu datang.
BRAK!
Tubuh Yun Zhu langsung terhempas ke lantai, lutut dan tangannya menghantam keras.
"Ughh!"
Punggungnya melengkung, napasnya tersendat. Ia mencoba mengangkat tubuhnya, namun sia-sia.
Berat.
Sangat berat.
Seolah seluruh ruang di sekitarnya menekan dirinya dari segala arah. Tulang-tulangnya berderit pelan, otot-ototnya menegang menahan beban yang tak terlihat.
Jari-jarinya mencengkeram lantai, bergetar, berusaha mendorong tubuhnya bangkit.
Namun tidak bergerak sedikit pun.
Di sisi lain, Tianqiong berdiri santai. Tangannya terlipat di depan dada, satu kakinya sedikit menopang berat tubuh, menatap Yun Zhu dengan ekspresi datar.
Beberapa detik kemudian, ia menghela napas kecil.
Tekanan itu menghilang begitu saja.
Yun Zhu langsung terjatuh rata ke lantai, napasnya terengah. Dadanya naik turun cepat, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang mematikan.
Ia masih terbaring, namun jari-jarinya mulai bergerak, lalu perlahan menekan lantai untuk bangkit.
"Bagaimana?" tanya Tianqiong ringan.
Yun Zhu menyeringai, satu tangannya memegang perut, yang lain menyangga tubuhnya saat ia duduk setengah bangkit.
"Apanya yang bagaimana..." suaranya serak. "Apa Senior mencoba membunuhku?"
Ia akhirnya berdiri, meski sedikit goyah. Bahunya naik turun, napasnya belum sepenuhnya stabil.
Tianqiong hanya mengangkat bahunya, ekspresinya seolah tidak tahu apa-apa.
"Begitulah, kau merasakannya, kan. Perbedaan di antara kita, antara bakat dan kerja keras. Jauh sekali. Cukup untuk membuat semua orang memilih bakat… dan meninggalkan kerja keras."
Yun Zhu terdiam.
Tangannya yang tadi mengepal kini perlahan mengendur. Ia menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
"Aku mengerti tentang itu..." suaranya lebih pelan kali ini. "Sejak lama, dalam kepalaku aku sangat mengerti. Hanya saja..."
Kalimatnya menggantung.
Jarinya bergerak pelan, mengepal lagi, kali ini lebih kuat.
"...aku tidak mau menerimanya."
Tianqiong memperhatikannya sejenak, lalu melangkah mendekat. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.
Ia berhenti tepat di depan Yun Zhu.
"Kau ingin menjadi kultivator, kan."
Tangannya terangkat, bukan menyentuh, hanya berhenti beberapa inci dari bahu Yun Zhu.
"Itu bukanlah hal yang buruk."
Nada suaranya melunak.
"Meski tidak bisa mencapai puncak, juga bisa hidup abadi. Itulah yang kupikirkan saat menyentuh dunia kultivasi, sungguh pemikiran yang bodoh."
Jari-jarinya akhirnya turun, menyentuh ringan bahu Yun Zhu, lalu menepuknya pelan.
"Kalau kau mau… kau bisa hidup dengan pemikiran itu."
Tatapan merahnya menembus lurus ke mata Yun Zhu.
"Hanya saja..."
Ia sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya.
"Jika kau benar-benar ingin melangkah lebih jauh, maka berhentilah menerima harga yang orang lain tetapkan untukmu..."
Tianqiong mendekatkan mulutnya pada telinga Yun Zhu.
"...tentukan harga untuk dirimu sendiri."
Ruangan kembali sunyi.
Namun kali ini, bukan karena tekanan.
Melainkan karena sesuatu di dalam diri Yun Zhu mulai bergejolak.
Kejadian hari ini, pertemuan yang tak pernah ia bayangkan, mungkin akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Yun Zhu menarik napas dalam.
Keraguan masih ada, rasa sakit masih terasa di tubuhnya, namun di balik itu semua, ada tekad yang perlahan menguat.
Tangannya terangkat.
"Sudahlah… ini jalan terakhirku. Mati pun tidak masalah. Sudah tidak ada hal berharga dalam hidup ini," pikirnya.
Tidak ragu kali ini.
"Senior."
Tianqiong yang semula masih berdiri dekat, perlahan melepaskan tangannya dari bahu Yun Zhu. Tatapannya turun, mengikuti gerakan tangan yang diulurkan itu.
Sunyi sejenak.
"Maukah... kau menerimaku?" ucapnya akhirnya.
Suara itu tidak lagi goyah.
Sederhana, namun tegas.
Tianqiong tidak langsung menjawab. Matanya menatap tangan Yun Zhu beberapa saat, seolah menilai, atau mungkin… memastikan.
Lalu, ia mengangkat tangannya.
Perlahan.
Jari-jarinya yang ramping menyentuh telapak tangan Yun Zhu, dingin namun lembut. Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk membuat Yun Zhu sedikit menegang.
Kemudian, ia menggenggamnya.
Erat.
"Aku sudah menunggu ini sejak tadi."
Bibirnya melengkung tipis, senyum yang kali ini terasa lebih nyata.
Bukan sekadar permainan.
Di balik itu, ada sesuatu yang dalam. Sesuatu yang telah lama ia tunggu.
"Aku memilihmu… bukan karena kau istimewa, tapi karena kau bisa dibentuk."
Genggaman itu tidak dilepas.
Sebaliknya, Tianqiong sedikit menarik tangan Yun Zhu, membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Yun Zhu tidak melihat tekanan di mata merah itu.
Melainkan pengakuan.
Sebuah awal yang diam-diam telah ditentukan sejak lama.
Langkah kecil yang ia ambil hari ini… tanpa ia sadari, telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.