Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku di pihak mu
Di kantor Dirgantara suasana masih terang meski malam sudah larut.
Joy berdiri di depan meja Evan.Wajahnya serius.
“Tuan… sesuatu terjadi kepada Nona Flora."
Evan mengangkat pandangannya.“Bicara.”
Joy menyerahkan tablet.“Terjadi kebocoran data di perusahaan Amor.Nona Flora yang disalahkan. Bahkan posisinya terancam.”
Tatapan Evan langsung berubah Dingin.
“Siapa pelakunya?”
“Belum diketahui.”
Evan berdiri.Tanpa ragu.“Selidiki.”Suaranya rendah namun Menekan.
“Aku ingin hasilnya secepat mungkin.”
Joy mengangguk.“Baik, Tuan.”
Di sisi lain sebuah bar mewah dipenuhi cahaya temaram.Musik pelan mengalun.
Flora duduk di sudut.Di depannya beberapa gelas bir sudah kosong.
—
Tangannya masih memegang gelas berikutnya.Matanya sedikit kosong.Ia kembali meneguk minumannya.Seolah ingin melupakan sesuatu.
“Sepertinya… kamu sedang tidak baik-baik saja.”
Suara itu membuat Flora berhenti.Ia menoleh.
Garvin.
Flora tersenyum tipis.Namun lelah.“Kamu di sini juga…”
Garvin duduk di depannya.Tatapannya lembut.“Apakah kamu ingin bercerita?”
Flora tertawa kecil.Namun pahit.“Bahkan Papah ku sendiri… ingin menyingkirkan ku.”
Ia mulai bercerita.Tentang rapat.Tentang tuduhan.Tentang Agnes.Sambil terus minum.
Garvin mendengarkan tanpa menyela.Hanya menatapnya dalam.
“Kalau kamu butuh bantuan…” ucapnya pelan,
“jangan ragu. Aku selalu di pihakmu.”
Flora menggeleng pelan.“Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”
Garvin terdiam.Lalu dengan suara lebih dalam
“Flora kamu jangan sungkan padaku.kamu tahu kan aku seperti apa,Kamu tahu Aku menyukaimu.”
Flora berhenti.Namun tidak terkejut.Ia sudah tahu.
“Aku sudah menunggumu… lima tahun,” lanjut Garvin.Tatapannya serius.Dan perasaanku tidak berubah.”
Flora menatapnya Lembut.Namun tegas.
“Maaf…Aku hanya menganggapmu seperti kakak."
Kalimat itu pelan.Namun cukup untuk melukai.Garvin tersenyum tipis.Namun ada luka di baliknya.
“Karena Evan?” tanyanya.
Flora terdiam.
Garvin melanjutkan“Dia sudah punya tunangan.”
Flora tiba-tiba tertawa.Namun tawanya dingin.
“Aku tidak sebucin itu sampai harus berebut pria.”
Jawaban itu membuat Garvin sedikit lega.
Namun Flora melanjutkan dengan jujur “Lagipula… kedekatanku denganmu kemarin…”Ia menatap gelasnya.“…aku memang memanfaatkannya.”
Garvin mengangguk pelan.“Aku tahu.”
Flora menatapnya kaget.
“Aku tidak keberatan,” lanjut Garvin tenang.
“Aku akan tetap di sini… kapan pun kamu butuh.”
Flora terdiam.Ada rasa bersalah di matanya.
Garvin terlalu baik.Terlalu tulus.
Namun ia tidak punya ruang untuk cinta sekarang.“Aku punya hal lain yang harus aku selesaikan…” gumamnya pelan.
Nada suaranya berubah.Lebih dingin.
Lebih dalam.
Garvin menatapnya.Namun tidak bertanya lebih jauh." Aku jangan sungkan padaku."
" Flora menatap nya" Aku tahu."
Flora kembali minum.Satu gelas.Dua gelas.
Hingga pandangan matanya mulai kabur.
Tubuhnya limbung.Garvin segera menahan bahunya.
“Flora…”
"Tidak apa apa ,aku masih sanggup Berikan satu gelas lagi."
" Kamu sudah mabuk,hentikan."
Namun wanita itu sudah kehilangan kesadaran.
Garvin menghela napas.Lalu perlahan mengangkat tubuh Flora.Bersiap membawanya pergi.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik Flora dari pelukannya.Gerakannya cepat dan Kuat.
Garvin langsung menoleh.Tatapannya berubah.
Evan.
Aura dingin pria itu terasa jelas.Tatapannya tajam.Penuh amarah.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Garvin dingin.
Evan tidak menjawab.Ia justru menarik Flora lebih dekat ke tubuhnya.Seolah tidak ingin melepaskannya.
Garvin menahan.“Lepaskan dia.”
Evan menatapnya.Dingin.“Dia bukan urusanmu.”
Garvin mengepalkan tangan.“Evan jangan lupa kamu sudah punya tunangan.”
Evan mendekat sedikit.Tatapannya menusuk.
“Itu bukan urusan mu.”
" Evan apa kamu pikir flora itu hanya mainan mu saja.Kamu bahkan tidak bisa memberinya status."
Evan berkata dengan suara rendah namun penuh penekanan.
“Flora… milikku.”
Garvin tertawa mengejek." Milik mu? Lalu Agnes siapa?"
"Hubungan ku dan Agnes akan aku selesaikan.sedangkan flora jangan pernah memikirkannya."
Evan sudah pergi Dengan Flora dalam pelukannya.
Di dalam mobil tidak ada percakapan.
Hanya napas Flora yang tidak teratur.Dan tatapan Evan yang dingin namun penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Garvin hanya bisa berdiri di belakang.
Tangannya mengepal.Namun tidak mengejar.
Tak lama mereka sampai di apartemen Evan.
Evan langsung membawa Flora masuk.
Tanpa banyak bicara.Ia membaringkan wanita itu di atas tempat tidur.
Flora tidak sadarkan diri.Namun wajahnya masih terlihat tenang.
Evan berdiri di samping ranjang.
Menatapnya dalam.Tatapannya turun melihat pakaian Flora yang sedikit berantakan.Alisnya mengernyit.
Tanpa banyak pikir ia mengambil pakaian bersih.Lalu mengganti pakaian Flora dengan hati-hati.Gerakannya tetap tenang.Namun ada ketegangan di dalamnya.
Setelah selesai ia berdiri diam.Masih menatap wanita itu.
“Wanita ini…” gumamnya pelan.“…benar-benar tidak tahu diri.”
Tatapannya sedikit menggelap.Ia teringat suasana bar tadi.Flora yang mabuk. “Bagaimana kalau bukan Garvin yang menemukannya?” lanjutnya dingin. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memanfaatkannya?”
Rahangnya mengeras.Jelas ia marah.
Perlahan ia mendekat.Menatap wajah Flora lebih dekat.
Tanpa sadar ia menyentuh bibir wanita itu.
Lalu menggigitnya pelan.Seolah melampiaskan emosi yang tidak bisa ia ucapkan.
Namun tiba-tiba Flora mendesis pelan.Dengan suara samar“Dasar… anjing…”
Evan terdiam.Tatapannya berubah.Namun beberapa detik kemudian dia menghela napas panjang.“Kucing Liar…” gumamnya malas.
Ia tidak melanjutkan.Tidak ingin berdebat dengan seseorang yang bahkan tidak sadar.
Evan akhirnya berdiri.Masuk ke kamar mandi.
Suara air mengalir terdengar.Mengisi keheningan apartemen itu.
Beberapa menit kemudian ia keluar. Rambutnya masih sedikit basah.Ia melirik ke arah ranjang.Flora masih tertidur.
Tidak bergerak.Evan berjalan mendekat.
Lalu tanpa banyak pikir ia berbaring di sampingnya dan memeluknya.
Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis.
Menyinari ruangan yang masih dipenuhi keheningan.
Flora perlahan membuka matanya.
Kepalanya sedikit pusing.Ia mengerjap beberapa kali.Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Namun saat ia menoleh tubuhnya langsung menegang.Evan terbaring di sampingnya.
Mata Flora langsung melebar.Ia langsung bangkit duduk.lalu melihat penampilan nya.Dan saat itu ia menyadari sesuatu.
Pakaiannya sudah berbeda.
Wajahnya langsung berubah.Marah.Tanpa pikir panjang BRUK!
Flora menendang Evan hingga jatuh dari tempat tidur.
“ARGH—!”Evan mengerang kesakitan.
“Flora, kamu gila?!”
Flora turun dari ranjang.Tatapannya penuh amarah.“Kamu tidak mau menikah iku aku mengerti."ucapnya dingin,“tapi kamu masih berani memanfaatkan ku saat aku tidak sadar?!”
Evan yang masih setengah sadar langsung mengernyit.“Apa yang kamu bicarakan—”
Tatapannya menusuk.“Jangan pernah menyentuhku seperti itu lagi!”
Evan langsung bangkit.“Dengar dulu—”
Namun Flora sudah mengambil tasnya. Gerakannya cepat.Penuh emosi.
“Aku tidak mau dengar apa pun darimu!”
Evan mencoba mendekat.“Flora, tidak seperti yang kamu pikirkan—”
Namun Flora sudah berjalan menuju pintu.
Ia berhenti sejenak.Tanpa menoleh.“Mulai sekarang… jaga jarak dariku.”Suaranya dingin.
Dan tanpa menunggu jawaban ia langsung pergi.
BAM!
Pintu tertutup keras.Meninggalkan Evan sendirian di dalam ruangan.
Ia berdiri diam beberapa detik.Rahangnya mengeras.“Wanita keras kepala…”