NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: MOMEN IMPULSIF ARDI

Tiga hari setelah pertemuan di kafe, Ardi masih menghindari telepon dari Sari.

Bukan karena marah. Karena tidak tahu harus berkata apa. Setiap kali ponselnya bergetar dan namanya muncul, dia membiarkannya berdering sampai putus. Sari tidak menekan terus. Hanya sekali, lalu diam.

Malam itu, Ardi duduk di ruang kerja, menatap layar laptop kosong. Di luar, hujan gerimis sejak sore, membuat jendela berembun.

Ponsel di meja bergetar. Bukan Sari. Maya.

Kamu belum tidur?

Belum.

Aku juga.

Ardi menunggu. Titik tiga muncul sebentar, lalu hilang. Dia meletakkan ponsel.

Pukul sebelas, pesan dari Sari.

Ardi, aku nggak bisa tidur. Pikiran terus. Besok kita ketemu ya? Aku mau ngomong.

Ardi membaca. Lalu membaca lagi.

Jam berapa?

Kamu bebas. Aku di kafe dekat kantor. Jam 2 siang?

Baik.

Dia mengirim, lalu mematikan layar.

---

Keesokan paginya, Ardi bangun dengan rasa tidak enak di dadanya. Bukan sakit. Sesuatu yang mengganjal.

Di meja makan, Maya sudah duduk dengan secangkir teh. Dia menatap Ardi sekilas, lalu kembali ke ponselnya.

“Sarapan?”

“Nggak lapar.”

Maya tidak memaksa. Di dapur, Yuni mengaduk sesuatu di panci. Suara sendok besi mengenai logam, ritmis, mengganggu.

Ardi duduk di seberang, mengambil cangkir kopi hitam. Pagi ini terasa pahit.

“Ada apa?” Maya menatapnya.

“Tidak ada.”

“Kamu gelisah.”

Ardi tidak membantah. Dia menyesap kopinya, membiarkan panas membakar lidah.

“Sari minta ketemu,” katanya akhirnya.

Maya berhenti memegang cangkir. “Kapan?”

“Siang.”

Maya mengangguk. Di bawah meja, jarinya memilin ujung rok. Suaranya datar. “Kamu akan pergi?”

“Aku janji.”

Maya tidak menjawab. Hanya menatap Ardi dengan mata yang tidak bisa dibaca—bukan cemburu, bukan marah. Sunyi.

“Kau tidak mau aku pergi?” tanya Ardi.

“Bukan urusan aku.” Maya berdiri, membawa cangkirnya ke dapur. “Dia pacar kamu. Bukan aku.”

Ardi mendengar air mengalir, cangkir diletakkan di rak. Langkah kaki Maya menaiki tangga, pelan, tanpa tergesa.

Dia duduk sendirian, menatap kursi kosong di seberang.

---

Ardi sampai di kafe pukul dua tepat.

Sari sudah duduk di meja dekat jendela. Rambut diikat, wajah tanpa riasan, mata sedikit sembab. Tapi dia tersenyum ketika melihat Ardi masuk.

“Kamu datang.”

Ardi duduk di seberang. “Kamu minta ketemu.”

Sari menatapnya sebentar, lalu mengambil menu. “Kopi?”

“Hitam.”

Dia memanggil pelayan, memesan dua kopi hitam. Ketika pelayan pergi, jari-jarinya mengusap ujung meja dengan ritme gelisah.

“Aku udah mikir,” katanya pelan. “Tentang apa yang kamu bilang minggu lalu. Tentang kamu yang bingung. Tentang kita.”

Ardi tidak menjawab.

“Aku nggak mau maksa. Aku cuma ingin kamu tahu, aku masih di sini. Kalau kamu butuh waktu, aku nggak akan ganggu. Tapi jangan putus kalau kamu masih bingung.”

Ardi menatap Sari. Di matanya ada harapan yang dipaksakan tenang, kepercayaan yang masih berusaha dipertahankan.

Dia membuka mulut. Aku sudah punya orang lain. Aku tidak akan kembali.

Tapi kata-kata itu tidak keluar.

Kopinya datang. Ardi mengambil cangkir, menyesap. Pahit.

“Ardi?” Sari menatapnya, menunggu.

Ardi meletakkan cangkir. “Aku—”

Ponselnya bergetar di saku. Pesan dari Maya. Pendek.

Jangan lupa pulang.

Dia membaca sekali, dua kali. Lalu menekan tombol mati, memasukkan ponsel kembali.

Sari masih menatapnya. “Ada apa?”

Ardi menggeleng. “Tidak ada.”

Dia menyesap kopi lagi. Tapi pahitnya tidak lagi terasa. Hanya dingin di dada, sesuatu yang mendorong dari dalam, mendesaknya untuk berdiri, untuk pergi.

“Sari,” katanya.

“Ya?”

“Aku tidak bisa.”

Sari tersenyum, mencoba memahami. “Tidak bisa apa?”

Ardi berdiri. “Aku tidak bisa di sini.”

Senyum Sari perlahan memudar. “Maksud kamu? Kita baru mulai ngomong—kau janji—”

“Aku tahu.” Ardi meraih jaket dari sandaran kursi. “Tapi aku tidak bisa.”

Dia berjalan ke pintu, meninggalkan Sari di meja, dengan kopi yang belum tersentuh, dengan tatapan bingung tapi tidak berani mengejar.

---

Di luar, hujan mulai turun lagi. Gerimis tipis membasahi jaket, membuat rambutnya basah.

Ardi berdiri di trotoar, tidak tahu harus ke mana. Mobilnya parkir di basement, tapi dia tidak ingin masuk ke dalam.

Ponselnya bergetar. Sari.

Kamu kenapa? Aku salah apa?

Dia membaca, lalu memasukkan ponsel ke saku. Tidak membalas.

Sari menelepon. Ardi membiarkannya berdering sampai putus. Pesan suara. Dia tidak memutarnya. Tidak perlu. Sudah bisa membayangkan suara Sari yang serak, yang mencoba tidak menangis.

Dia berdiri di tepi jalan, menatap mobil-mobil yang melintas. Mereka semua punya tujuan. Dia tidak tahu.

Ponsel bergetar lagi. Bukan Sari. Maya.

Di mana kau?

Ardi menatap layar. Jari di atas kolom balasan, mengetik aku di jalan, lalu menghapus. Mengetik nanti sampai, lalu menghapus lagi.

Dia memasukkan ponsel, berjalan ke basement, masuk ke mobil.

---

Di dalam mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin.

Tangannya di setir, menggenggam erat. Dia memikirkan Sari yang duduk sendirian di kafe, dengan dua kopi yang akan dingin. Memikirkan pesan yang tidak dibalas, panggilan yang tidak dijawab.

Dan dia memikirkan dirinya sendiri, yang tahu ini salah, yang tahu dia seharusnya menjelaskan. Tapi dia tetap pergi. Tidak karena berani. Karena tidak tahan.

Ponsel bergetar. Maya lagi.

Ardi, aku khawatir. Balas.

Dia menyalakan mesin, keluar dari basement, melaju pulang.

---

Di rumah, Maya sedang duduk di ruang keluarga ketika Ardi masuk.

Jam menunjukkan pukul empat. Hujan reda, tapi langit masih kelabu. Ruangan redup meskipun lampu sudah menyala.

Maya menatap Ardi dari sofa. “Kamu dari mana?”

“Kafe.”

“Dengan Sari?”

Ardi melepas jaket, menggantungnya. “Aku pergi duluan.”

Maya tidak bertanya lebih lanjut. Hanya menatap dengan mata yang mencoba mengerti.

Ardi duduk di kursi seberang. “Aku tidak tahu kenapa aku pergi. Dia baru mulai bicara, dan aku—aku tidak bisa duduk di sana. Mendengar dia berharap.”

Maya diam.

“Aku janji akan ketemu. Aku pikir aku bisa menjelaskan. Tapi begitu dia bicara tentang menunggu, tentang masih percaya—aku tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa?”

Ardi menatap Maya. “Karena aku tahu aku tidak akan kembali. Tapi aku tidak punya alasan yang cukup. Aku hanya—tidak.”

Maya mengangguk pelan. Jarinya menggenggam ujung rok.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Aku pergi. Aku berdiri, bilang aku tidak bisa di sana, lalu pergi. Meninggalkan dia sendirian.”

Diam.

“Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya,” katanya pelan. “Aku tahu aku harus bicara, harus menjelaskan. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya ingin pergi.”

Maya tidak menjawab. Hanya menatap Ardi dengan mata sunyi. Mungkin dia bertanya pada dirinya sendiri: apakah suatu hari Ardi akan melakukan hal yang sama padaku?

Tapi Maya tidak bertanya. Dia berdiri, berjalan ke dapur, kembali dengan segelas air. Meletakkannya di depan Ardi, lalu duduk kembali.

“Minum.”

Ardi mengambil gelas, menyesap. Air dingin mengalir di tenggorokan, tapi tidak menghapus rasa bersalah.

“Aku akan telepon Sari,” katanya. “Nanti. Setelah aku tahu harus bilang apa.”

Maya mengangguk.

“Aku hanya panik. Aku pikir aku siap bicara, tapi begitu dia bilang dia masih percaya, aku tidak bisa.”

Maya meraih tangannya, menggenggam pelan. “Kau tidak perlu menjelaskan.”

“Tapi aku—”

“Aku tahu. Kau tidak tahu kenapa. Itu tidak masalah.”

Ardi menatap tangan mereka yang bertaut. Untuk sesaat, duduk di ruang keluarga yang sunyi, dengan tangan Maya menggenggam tangannya, dia merasa tidak perlu menjelaskan.

Ponselnya bergetar di saku. Dia tidak membacanya.

---

Di dalam mobil, Ardi duduk lama tanpa menyalakan mesin.

Ponselnya sudah penuh dengan notifikasi. Satu pesan dari Sari yang dikirim setelah dia keluar.

Ardi, aku nggak ngerti kamu. Tapi aku nggak akan berhenti berusaha. Aku hanya butuh waktu. Kamu juga, ya.

Ardi membaca pesan itu sekali, lalu menghapusnya.

Dia menyalakan mesin, melaju pulang. Di jalan, hujan sudah reda, tapi jalanan basah.

Ketika lampu merah, dia membuka pesan Maya yang belum dibalas. Yang terakhir: Ardi, aku khawatir. Aku telepon kamu berkali-kali. Di mana kamu?

Jarinya mengetik: Aku di jalan. Nanti sampai.

Dia mengirim, lalu mematikan ponsel.

---

Di rumah, Maya sedang duduk di ruang keluarga ketika Ardi masuk.

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Yuni sudah pulang. Rumah sunyi, hanya suara jam dinding.

Maya menatap Ardi, mata lelah. “Kamu dari mana?”

Ardi melepas jaket. “Jalan-jalan. Butuh udara.”

“Sari menghubungimu?”

Ardi berhenti. Dia menatap Maya, mencari kebohongan. Tapi matanya bertemu dengan mata Maya yang sudah tahu.

“Aku pergi dari kafe. Tidak ke mana-mana. Aku hanya butuh sendiri.”

Maya mengangguk. “Dia bagaimana?”

“Bingung. Sedih. Dia masih—dia masih berharap.”

Ardi duduk di sofa seberang. “Dia minta aku janji tidak pergi jauh.”

Maya tersenyum pahit. “Kamu bilang apa?”

“Janji. Tapi jangan berharap banyak.”

Maya menunduk, jari memilin ujung baju. “Dia hancur. Kita hancur. Dan suatu hari, Bram akan tahu.”

Ardi diam. Kata-kata itu tidak keluar.

Maya berdiri, berjalan ke tangga. Di anak tangga pertama, berhenti tanpa menoleh.

“Ardi, aku tidak tahu apakah kita melakukan hal yang benar. Tapi aku terlalu lelah untuk berhenti. Suatu hari, mungkin kita akan menyesal.”

Dia naik, meninggalkan Ardi sendirian.

Ardi menatap tangga kosong, mendengar langkah kaki Maya menjauh. Ponselnya bergetar. Bukan Maya. Bukan Sari.

Bram: Ardi, besok pagi rapat jam 8. Jangan telat. Kita bahas laporan yang kau kirim.

Ardi membaca, lalu mematikan layar. Dia menunduk, menatap tangannya yang kosong. Dan untuk pertama kalinya malam ini, dia menangis. Diam-diam, tanpa suara, di ruang keluarga yang gelap.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!