NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 07

LAWAN YANG SEIMBANG

Beberapa menit setelah makan malam berakhir, mansion de Santos kembali tenggelam dalam ketenangan yang semu. Lampu-lampu kristal masih menyala terang, namun suasananya tidak lagi hangat—melainkan penuh bisik-bisik yang tertahan.

Di salah satu ruangan pribadi yang terletak jauh dari ruang makan, Lorenzo berdiri di dekat jendela besar, membelakangi pintu. Tangannya bertumpu santai di saku celana, sementara pandangannya lurus ke halaman gelap di luar, sesekali menikmati segelas beer.

Pria tua itu terkekeh kecil. “Kau memilih seseorang yang sesuai. Aku tidak tahu bagaimana bisa Matteo menghamili wanita seperti nya.”

Lorenzo tidak menoleh. “Apa yang lucu?” tanyanya datar.

Emilio berjalan mendekat, berdiri tak jauh di samping putranya. “Tidak ada. Hanya saja istrimu...” Sunyi sejenak. “Dia tidak seperti yang lain,” lanjut Emilio, nada suaranya ringan namun penuh arti. “Dia tidak takut. Bahkan… dia seperti sengaja mencari masalah.”

Lorenzo menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. “Aku tahu.” ada amarah yang tertahan di sana karena sejak tadi dia harus menahan emosinya.

Emilio kembali tersenyum kecil. “Dia menantang.”

Lorenzo akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk menangkap ekspresi ayahnya.

“Lebih menantang dari Monica, dan itu benar,” tambah Emilio tanpa ragu.

Kalimat itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya, Lorenzo tidak menyangkal, namun masih tidak ada senyuman karena senyuman sangat langkah di bibir pria Lorenzo itu.

“Dan kau setuju?” tanyanya singkat.

Emilio mengangguk pelan. “Aku menyukainya.”

Lorenzo menyeringai tipis. “Kau menyukai masalah.”

“Tidak,” balas Emilio santai. “Aku menyukai sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”

Tatapan Lorenzo kembali lurus ke depan.

“Dia bukan sesuatu yang bisa dikendalikan,” gumam Loren pelan lalu meneguk beernya.

“Justru itu,” sahut Emilio cepat. “Yang membuatnya berbahaya… sekaligus menarik.”

Hening kembali mengisi ruangan. Lorenzo tidak menjawab. Namun rahangnya mengeras—tanda bahwa pikirannya tidak setenang yang ia tunjukkan.

Di sisi lain mansion, dalam ruangan yang lebih tertutup dan penuh aroma parfum mahal, Monica berdiri di dekat meja kecil, sementara Vitorio, adik dari Emilio itu duduk santai di kursi empuk dengan segelas minuman di tangannya.

“Wanita itu tidak tahu tempatnya,” ujar Monica dingin, nadanya penuh penilaian. “Tidak sopan. Tidak tahu batas.”

Vitorio mengangkat alis, menatapnya penuh minat. “Namun cukup berani untuk masuk ke keluarga ini.”

Monica mendecih pelan. “Keberanian tanpa kelas hanya akan mempermalukan kita.”

“Hmm…” Vitorio meneguk minumannya. “Aku baru kembali dari Colombia… dan yang kudengar justru lebih menarik dari itu.”

Monica menoleh. “Apa maksudmu?” wanita itu menoleh menatap tajam.

Vitorio tersenyum tipis. “Kabar tentang Matteo.”

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.

Monica menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah. “Anak itu… kembali membuat masalah.”

“Seberapa besar?” tanya Vitorio, nada suaranya berubah lebih serius.

Monica menatapnya, sorot matanya sedikit mengeras. “Dia meniduri seorang wanita dan wanita itu hamil.”

Vitorio terdiam beberapa detik, seolah ada yang dia cermati. Lalu ia tertawa pelan, rendah. “Jadi itu alasannya Lorenzo menikah?”

Tentu saja Monica langsung diam dan memikirkannya juga. Karena Lorenzo masih terikat dengan janjinya, dan dia harus bertanggungjawab atas apa yang Matteo lakukan. Dan semuanya masuk akal.

“Jika itu benar, maka Matteo bodoh sudah menghamili wanita tidak berkelas seperti nya. Aku senang Loren yang menikahinya.”

“Konflik yang menarik…” gumam Vitorio. “Namun berbahaya.”

Monica menatap lurus ke depan. “Aku tahu.”

“Kau pikir Lorenzo akan diam?” lanjut Vitorio.

Monica tersenyum tipis. “Selama dia masih terikat pada janji itu… dia tidak punya pilihan.”

Namun meski kata-katanya terdengar yakin, ada sesuatu di matanya yang menunjukkan sebaliknya, masih ada Keraguan.

Vitorio bangkit dari duduknya dan mendekat tepat berdiri di belakang Monica yang bercermin.

“Kita hanya punya 5 tahun lagi untuk menyingkirkan apa yang harus disingkirkan. Jika tidak, maka kehancuran akan terjadi pada mu, aku dan... Untuk Matteo juga.” kata Vitorio yang membuat Monica semakin mengangkat dagunya.

“Itu tidak akan terjadi. Aku masih mengendalikannya.”

“Semoga saja.” balas Vitorio yang akhirnya keluar dan pergi meninggalkan Monica sendirian.

Di ruang tengah, suasana jauh lebih santai—atau setidaknya terlihat seperti itu. Bianca duduk menyilangkan kaki, memainkan ujung rambut pirangnya dengan ekspresi kesal.

“Aku tidak menyukainya,” gerutunya tanpa menahan diri. “Wanita itu… benar-benar tidak tahu diri.”

Adriana si wanita berkulit putih rambut panjang, hitam nan lurus itu duduk di sofa seberangnya hanya menghela napas pelan. “Kau terlalu banyak mengeluh.”

“Aku hanya jujur,” balas Bianca cepat. “Kenapa Lorenzo tidak menikahiku saja? Jauh lebih masuk akal.”

Adriana menatapnya sekilas dan sinis. “Masuk akal untuk siapa?”

Bianca mendengus, sebelum akhirnya dia bersandar malas lalu melangkah pergi sedikit menjauh dari tempat tersebut.

Di sisi lain, Matteo duduk diam di kursi tunggal. Sebatang rokok terselip di jarinya, sementara botol beer setengah kosong berada di tangannya.

Ia tidak ikut dalam percakapan.

Namun pikirannya jelas tidak kosong. Sebisa mungkin dia mengingat wajah Aria, hingga akhirnya ia menyeringai kecil.

Asap rokok perlahan keluar dari bibirnya, lalu ia berdiri. “Katakan pada ibuku, aku keluar dan akan menemuinya setelah kembali.”

Langkahnya pelan, namun pasti hampir menuju keluar ruangan.

Adriana langsung menoleh, matanya menyipit tajam. “Ya, aku harap kau tidak membuat masalah lagi, Matteo” ujar Adriana dingin. “Kau tahu siapa yang selalu membereskan kekacauanmu. Dan seluruh de Santos.”

Sunyi.

Matteo (28th) tersenyum tipis dan langkahnya terhenti, meski tidak terlihat jelas karena berdiri membelakangi Adriana (28th).

“Bukankah itu tugasnya sebagai tangan kanan ayahku?” balasnya santai tanpa menoleh.

Rahang Adriana mengeras. “Jangan keterlaluan.” tegas wanita itu yang masih melipat kedua tangannya dan duduk tenang.

Namun Matteo sudah melangkah pergi, meninggalkan mereka tanpa peduli.

Bianca hanya mendecih pelan dari jauh. “Keluarga yang luar biasa.”

Adriana tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah Matteo pergi, penuh peringatan.

.

.

.

Cklek!

Ketegangan tubuh Aria langsung meningkat saat pintu kamar tiba-tiba dibuka dan Lorenzo, si pria tanpa senyuman itu masuk menatapnya angkuh.

“Aku pikir kau akan pergi ke kamar lain.” ucap Aria tersenyum remeh meski sejak tadi, jantungnya berdebar, dan dia benar-benar panik serta cemas usai sadar akan ucapannya sejak tadi.

Namun dia ingat bahwa dia sedang mengisi di perutnya.

“Bagaimana perasaan mu? Aku harap kau sudah puas karena banyak bicara di sana.” ujar Lorenzo dengan suara beratnya, ia melangkah maju mendekati Aria yang reflek berjalan mundur.

“Itu masih permulaan, aku masih punya banyak perkataan dan tingkah laku yang akan membuatmu marah.” kata Aria dengan tak sabar.

“Jadi itu rencana mu?”

Wanita itu langsung terpentok ke meja rias, mata cokelatnya menatap lekat milik Lorenzo yang berkilat indah. Wajahnya begitu dekat dan hidung mancungnya hampir menyentuh hidung Aria.

“Kau mencari masalah yang seharusnya tidak kau lakukan di sini.”

“Kau adalah masalahku.” ketus Aria dengan berani.

Mata Lorenzo bergerak ke bawah, tepatnya ke perut Aria. “Bertahanlah sampai anak ini lahir, setelah itu kau akan tahu permainan yang sesungguhnya.” kata Lorenzo dengan entengnya.

Aria menatap marah, dan langsung mendorong kasar dada pria itu yang seketika mengikis jarak antara keduanya.

“Kalau begitu, nikmati saja permainan ku selama 9 bulan ini, Mr. Lorenzo!” tegas Aria sebelum akhirnya dia melangkah pergi menuju kamar mandi.

Namun saat dia menutup pintu, pintu tertahan oleh tangan Loren yang seketika pria itu membuka paksa dan masuk begitu saja.

Tentu saja Aria terkejut dan gelagapan melihat pria itu masuk ke kamar mandi dan menatap seperti predator yang lapar.

“Aku akan menikmati permainan mu. Kita lihat, seberapa kuat kau menahannya.” tantang balik Lorenzo yang terdengar santai namun menusuk.

pria itu berjalan melewatinya sembari membuka satu persatu kancing kemejanya, sementara Aria mencoba membuka pintu kamar mandi, namun terkunci dan kunci itu ada di tangan Loren yang kini berdiri membelakanginya dan membuka kemeja hitamnya hingga punggung polosnya terlihat lebih jelas.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!