NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Langkah

Pagi di Paris setelah malam "peperangan" di apartemen Bastian terasa jauh lebih tenang, namun ketenangan itu membawa berat yang berbeda. Cahaya matahari musim gugur menyelinap masuk melalui jendela besar kantorku, menyentuh permukaan meja marmer putih dan membiaskan bayangan vas bunga lili yang mulai mekar. Aku berdiri di sana, menatap Menara Eiffel yang tampak seperti tiang kokoh di tengah kabut tipis, menyadari bahwa satu langkah besar telah kulalui, namun jalan di depan masih dipenuhi duri yang sengaja disebar oleh Elena.

​Aku menarik napas panjang. Aroma kopi latte yang kubawa dari kedai di bawah bercampur dengan wangi kertas-kertas baru dan aroma pembersih ruangan yang khas. Di dalam dadaku, ada debaran yang stabil. Bukan lagi debaran kecemasan seorang asisten yang takut melakukan kesalahan, melainkan debaran seorang pemimpin yang tahu bahwa setiap keputusannya akan menentukan nasib ratusan orang di bawahnya.

​Prasetyo Adhitama, sang harimau tua, telah pergi kembali ke Jakarta pagi ini. Sebelum berangkat, ia mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselku. Hanya lima kata: "Buktikan kata-katamu di Marseille, Arelia."

​Itu bukan sekadar pesan. Itu adalah tantangan terakhir untuk memastikan posisiku tidak hanya di perusahaan, tapi juga di sisi putranya.

​Ponselku bergetar. Bastian.

​"Aku sudah di bawah. Helikopter sudah siap di helipad gedung. Kita tidak bisa naik kereta, Arelia. Situasi di Marseille memburuk. Serikat pekerja baru saja memblokade akses masuk ke area konstruksi," suaranya terdengar sangat fokus, sangat terkendali.

​"Aku turun sekarang," jawabku.

​Perjalanan menuju Marseille dengan helikopter pribadi Adhitama Group adalah pengalaman yang seharusnya terasa mewah, namun atmosfer di dalam kabin sangat fungsional. Aku duduk berseberangan dengan Bastian. Ia mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, matanya terus menatap dokumen di tabletnya. Di sampingnya, dua asisten senior dari tim legal Prancis terus memberikan laporan terbaru melalui headset.

​Aku menatap ke luar jendela. Daratan Prancis yang hijau perlahan berubah menjadi pemandangan pesisir Mediterania yang biru pekat. Namun, keindahan itu terganggu oleh kepulan asap hitam yang mulai terlihat saat kami mendekati pelabuhan Marseille.

​"Elena benar-benar bekerja cepat," gumam Bastian, ia melepas headset-nya dan menatapku. "Ketua serikat pekerja di sana, seorang pria bernama Marcelle, adalah mantan rekan bisnis ayah Elena. Dia tidak bicara soal uang lagi, Arelia. Dia bicara soal 'harga diri lokal' yang menurutnya diinjak-injak oleh investor Asia."

​"Itu adalah narasi yang Elena bisikkan," sahutku. Aku membuka laptopku, menampilkan peta logistik yang sudah kubedah semalam. "Bastian, aku sudah memeriksa latar belakang Marcelle. Dia bukan orang yang sulit, dia hanya orang yang sangat bangga pada sejarah pelabuhan ini. Jika kita masuk dengan jas mewah dan janji-janji angka, kita akan gagal. Kita harus masuk dengan data yang menunjukkan bahwa kita melindungi warisan mereka."

​Bastian mengangguk, ia meraih tanganku dan meremasnya pelan di tengah guncangan kecil helikopter. "Itulah alasan aku membawamu. Kamu melihat manusia di balik angka, sesuatu yang tidak pernah dipelajari Elena di Aristhoteles Group."

​Kami mendarat di sebuah area privat yang dijaga ketat oleh keamanan perusahaan. Begitu pintu helikopter terbuka, aroma garam laut yang tajam dan bau ban terbakar langsung menyergap indra penciumanku. Suara teriakan pengunjuk rasa terdengar samar dari kejauhan, diiringi oleh bunyi sirine polisi.

​Marseille adalah kota yang keras, penuh karakter, dan sangat berbeda dengan keanggunan Paris yang artifisial.

​Kami dibawa menggunakan SUV lapis baja menuju kantor lapangan yang terletak hanya beberapa ratus meter dari barikade. Sepanjang jalan, aku melihat spanduk-spanduk bertuliskan bahasa Prancis yang sangat agresif. Beberapa di antaranya bahkan memajang foto Bastian yang dicoret silang merah.

​"Tensi di sini jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan tim lapangan," ucap Jean-Pierre yang sudah menunggu kami di lobi kantor lapangan. Wajahnya tampak pucat dan penuh keringat. "Nona Arelia, saya sarankan Anda tetap di dalam. Mereka tidak ramah pada orang asing saat ini."

​"Saya di sini untuk bekerja, Monsieur Jean-Pierre," kataku dengan nada yang sangat jernih. "Dan bagian dari pekerjaan saya adalah mendengarkan mereka. Jika saya bersembunyi di balik kaca antipeluru, saya hanya akan membenarkan tuduhan mereka bahwa kita adalah penjajah ekonomi."

​Aku melihat Bastian menatapku dengan binar kekhawatiran, namun ia juga tahu bahwa aku tidak akan mundur.

​Rapat dengan perwakilan serikat pekerja dijadwalkan pukul dua siang. Ruang rapat itu kecil, beraroma tembakau dan keringat tua, sangat jauh dari kemewahan apartemen Bastian. Di sana duduk Marcelle, seorang pria raksasa dengan tangan yang kasar dan tato memudar di lengannya. Ia menatap kami dengan kebencian yang tidak ditutup-tutupi.

​"Jadi, Anda membawa wanita cantik untuk melunakkan hati kami?" Marcelle tertawa hambar, suaranya seperti serutan kayu. "Adhitama Group berpikir kami bisa dibeli dengan senyuman dan janji-janji Paris?"

​Bastian hendak bicara, namun aku mengangkat tangan kecilku, sebuah isyarat yang entah bagaimana membuat ruangan itu mendadak sunyi.

​"Monsieur Marcelle," kataku dalam bahasa Prancis yang kupelajari secara intensif selama penerbangan tadi. "Nama saya Arelia. Dan saya bukan di sini untuk tersenyum pada Anda. Saya di sini untuk menunjukkan kepada Anda bahwa data yang Anda terima dari Aristhoteles Group adalah data yang akan menghancurkan masa depan anak-anak Anda di pelabuhan ini."

​Aku membuka laptopku, memproyeksikan sebuah simulasi operasional ke dinding beton ruang rapat.

​"Anda diberitahu bahwa proyek kami akan memangkas empat puluh persen tenaga kerja lokal dalam lima tahun," aku menunjuk ke sebuah grafik merah yang berkedip. "Itu adalah data yang disebarkan Elena. Data itu berdasarkan model otomatisasi total yang memang diinginkan Aristhoteles Group jika mereka yang memegang tender ini."

​Aku menekan tombol enter, dan grafik hijau muncul.

​"Ini adalah model yang saya kembangkan untuk Adhitama Group. Kami tidak memangkas tenaga kerja. Kami justru mengintegrasikan mereka ke dalam sistem logistik digital baru. Kami membutuhkan pengalaman lapangan Anda untuk melatih algoritma kami. Dengan model ini, pendapatan per kapita pekerja akan naik lima belas persen, dan jaminan pensiun Anda akan didanai oleh kredit karbon Uni Eropa."

​Marcelle mengerutkan kening. Ia mendekat ke arah dinding, menatap angka-angka itu dengan mata yang menyipit. "Kredit karbon? Itu hanya istilah cantik untuk mencuri tanah kami."

​"Tidak," jawabku mantap. "Itu adalah dana yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan besar di Eropa karena mereka mencemari udara. Kami mengambil uang mereka untuk membangun fasilitas kesehatan dan sekolah kejuruan di sini, di Marseille. Jika Anda menghentikan proyek ini, uang itu akan kembali ke Paris, dan Marseille akan tetap menjadi pelabuhan yang tertinggal sementara teknologi dunia terus berlari."

​Aku melihat Marcelle terdiam. Ia menoleh ke arah rekan-rekannya. Keheningan yang sangat lama menyelimuti ruangan itu. Bastian menatapku dengan napas tertahan. Ia tidak pernah menyangka aku akan menggunakan argumen sosio-ekonomi yang begitu spesifik untuk menyentuh kebanggaan mereka.

​"Siapa wanita ini?" tanya Marcelle pada Bastian, suaranya tidak lagi sekasar tadi.

​"Dia adalah masa depan perusahaan saya, Marcelle," jawab Bastian dengan nada yang sangat bangga. "Dan dia adalah orang yang paling peduli pada integritas data di tim ini. Jika dia bilang anak-anak Anda aman, maka saya menjamin itu dengan seluruh saham saya."

​Marcelle kembali menatapku. "Nona Arelia, jika saya menemukan satu angka saja yang Anda bohongkan hari ini, saya akan memastikan tidak ada satu pun kapal Adhitama yang bisa bersandar di Mediterania."

​"Jika saya berbohong, Monsieur, saya sendiri yang akan mengundurkan diri dan membakar kontrak ini," jawabku tanpa ragu.

​Setelah rapat yang melelahkan itu, Marcelle setuju untuk menunda aksi mogok selama empat puluh delapan jam untuk meninjau detail kontrak yang kutawarkan. Ini adalah kemenangan kecil, namun sangat krusial.

​Kami keluar dari kantor lapangan saat matahari mulai terbenam di ufuk Mediterania. Langit Marseille berubah menjadi warna jingga keunguan, memantul di permukaan air pelabuhan yang penuh dengan kapal-kapal raksasa.

​"Kamu gila, Rel," bisik Bastian saat kami berjalan menuju mobil. "Kamu menantang singa pelabuhan dengan bahasa Prancis yang baru kamu pelajari di pesawat?"

​"Aku hanya memberikan apa yang mereka butuhkan, Bastian: Kebenaran yang bisa mereka pegang. Bukan janji yang mereka dengar," kataku sambil mengusap peluh di dahiku.

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dan berhenti tepat di depan mobil kami. Pintu terbuka, dan Elena keluar. Ia mengenakan setelan jas putih yang sangat kontras dengan latar belakang pelabuhan yang kotor. Wajahnya tampak merah padam.

​"Hebat sekali, Arelia," desis Elena, ia berjalan mendekat tanpa peduli pada keamanan yang mencoba menghalanginya. "Kamu menggunakan dana karbon untuk menyuap serikat pekerja? Kamu pikir kamu pintar?"

​"Itu bukan suap, Elena. Itu adalah redistribusi keuntungan yang adil," balasku tenang. "Sesuatu yang tidak pernah diajarkan di Aristhoteles Group karena kalian terlalu sibuk menghitung margin keuntungan sendiri."

​"Kamu baru saja memulai perang yang lebih besar, Arelia," Elena menunjuk ke arahku dengan jarinya yang gemetar. "Ayahku tidak akan membiarkan tender ini lepas hanya karena seorang asisten yang beruntung bisa membaca regulasi Uni Eropa. Marseille adalah wilayah kami."

​"Marseille bukan wilayah siapa pun, Elena. Marseille adalah milik orang-orang yang bekerja di sini," aku maju satu langkah, menatap matanya yang dipenuhi rasa iri. "Dan mulai hari ini, sejarahmu di sini sudah berakhir. Pulanglah ke Singapura sebelum aku merilis data tentang keterlibatan ayahmu dalam pendanaan aksi mogok ini ke media Prancis."

​Elena terbelalak. "Kamu tidak berani..."

​"Jangan mengujiku, Elena. Aku sudah pernah menghancurkan karier pria yang kucintai selama tujuh tahun demi sebuah kebenaran. Menurutmu, apa yang bisa kulakukan pada wanita yang bahkan bukan siapa-siapa bagiku?"

​Elena terdiam seribu bahasa. Ia menoleh ke arah Bastian, berharap mendapatkan sedikit pembelaan, namun Bastian hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang menunjukkan penghinaan murni. Elena akhirnya berbalik, masuk ke mobilnya, dan pergi dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga.

​Malam itu, kami menginap di sebuah hotel kecil yang menghadap ke pelabuhan lama Marseille. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara klakson kapal di kejauhan. Aku duduk di balkon, menatap lampu-lampu pelabuhan yang berkelap-kelip.

​Bastian datang dari belakang, menyampirkan jaketnya di bahuku. "Kamu luar biasa hari ini, Arelia. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu."

​"Jangan berterima kasih dulu, Bastian. Masih ada empat puluh delapan jam sebelum Marcelle benar-benar menandatangani kontraknya."

​Bastian memutar tubuhku menghadapnya. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang hangat. "Di mataku, kamu sudah menang. Kamu bukan lagi Arelia yang nyaris hancur. Kamu adalah wanita yang mampu menghentikan pemberontakan di pelabuhan tersulit di Eropa hanya dengan keberanianmu."

​Ia mencium bibirku—sebuah ciuman yang lambat, penuh rasa syukur, dan janji masa depan. Di bawah langit Marseille yang penuh bintang, aku menyadari bahwa langkah-langkah yang kuambil selama ini memang berat, namun setiap langkah itu membawaku ke tempat yang seharusnya: di samping pria ini, sebagai mitra yang setara.

​Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang sudah sangat lama tidak muncul. Nomor yang seharusnya tidak bisa lagi menghubungiku.

​Unknown: "Rel, selamat atas Marseille. Tapi hati-hati, Nadine tidak pernah benar-benar pergi. Dia sudah berada di Paris saat ini, dan dia membawa sesuatu yang bisa meruntuhkan reputasi Bastian selamanya. Jangan pikir kamu sudah aman."

​Pesan itu berasal dari Kaivan. Melalui koneksi rahasia di dalam tahanan, ia mengirimkan peringatan terakhirnya.

​Jantungku berdegup kencang. Kebahagiaan sesaat ini kembali dibayangi oleh hantu masa lalu yang sepertinya menolak untuk mati. Aku menatap Bastian yang masih tersenyum menatapku. Aku tidak ingin merusak momen ini, namun aku tahu, peperangan ini belum berakhir.

​Nyaris jadi kita?

​Kalimat itu kini bukan lagi soal penyesalan, melainkan soal kewaspadaan. Kami nyaris sampai pada kedamaian, namun dunia sepertinya masih ingin menguji seberapa kuat "kita" yang sebenarnya.

​"Ada apa, Rel?" tanya Bastian, menyadari perubahan di wajahku.

​Aku mematikan ponselku dan tersenyum tipis, menyembunyikan badai yang mulai berkecamuk kembali di kepalaku. "Hanya pikiran soal audit besok pagi, Bastian. Ayo kita istirahat. Kita butuh tenaga untuk mengalahkan Elena sekali lagi."

​Aku berbohong. Tapi kebohongan ini adalah untuk melindunginya. Marseille hanyalah langkah awal. Peperangan yang sesungguhnya sedang menunggu kami kembali di Paris. Dan kali ini, aku harus memastikan bahwa Nadine dan Kaivan tidak akan pernah bisa menyentuh dunia baru yang sudah kubangun dengan darah dan air mata ini.

​Malam itu, aku tidur di pelukan Bastian, namun mimpiku dipenuhi dengan bayang-bayang seorang wanita bergaun merah yang berdiri di depan Menara Eiffel yang runtuh. Nadine sudah kembali. Dan aku... aku siap menghadapinya dengan segala yang kumiliki.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!