Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Pelabuhan Sunyi di Johor
Suara mesin perahu motor itu terdengar seperti geraman rendah di tengah kesunyian Selat Johor yang kelam. Air laut yang dingin sesekali memercik ke wajahku, meninggalkan rasa asin yang tajam dan sensasi perih di kulit yang sudah lelah. Di belakang kami, cakrawala Singapura yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit yang bercahaya perlahan-lahan mulai memudar, tertelan oleh kabut malam dan jarak. Kota itu baru saja meledak dalam badai informasi, namun di sini, di atas air yang bergoyang, duniaku terasa sangat sunyi.
Aku bersandar pada bahu Devan. Jaket kulitnya masih basah dan berbau asap, namun panas tubuhnya adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa benar-benar hidup. Tanganku menggenggam erat lencana perak pemberian Ibu, menekannya ke dadaku seolah-olah benda itu bisa memberikan detak jantung tambahan bagi jiwaku yang mulai rapuh.
"Kita hampir sampai," bisik Vincent dari balik kemudi. Wajahnya yang pucat diterangi oleh pendaran layar laptopnya yang masih menyala di atas dasbor perahu. "Ada sebuah dermaga kecil di pinggiran Stulang Laut. Temanku sudah menunggu di sana dengan sebuah van."
Devan tidak menjawab. Ia hanya mempererat rangkulannya pada bahuku, jemarinya mengusap lenganku dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Aku tahu dia sedang memindai permukaan air di sekitar kami, mencari tanda-tanda kapal patroli atau pengejar yang mungkin luput dari pengawasan Vincent.
"Van," panggilku lirih.
"Iya, Nya?"
"Apa menurutmu mereka akan membenci kita?" tanyaku, menatap kegelapan laut. "Dunia... orang-orang yang baru saja kita beritahu tentang Project Elegia. Apa mereka akan merasa takut karena selama ini pikiran mereka bisa saja dimanipulasi tanpa mereka sadari?"
Devan terdiam cukup lama. Suara ombak yang memukul lambung perahu menjadi satu-satunya jawaban sementara. "Mungkin awalnya mereka akan takut, Anya. Tapi kebenaran, seburuk apa pun itu, selalu lebih baik daripada kebahagiaan yang dipaksakan lewat jarum suntik. Kau tidak merampas ketenangan mereka; kau memberikan mereka kembali hak untuk memiliki memori mereka sendiri."
Aku memejamkan mata. Bayangan Wijaya Dirgantara yang menjatuhkan diri dari tebing Bukit Timah kembali muncul. Pria itu lebih memilih mati daripada hidup di dunia di mana ia tidak lagi memegang kendali. Sebuah ironi yang luar biasa—arsitek penghapusan memori akhirnya dihapus oleh keputusasaannya sendiri.
"Target terlihat. Stulang Laut," Vincent mematikan lampu navigasi perahu, membuat kami menyelinap masuk ke sebuah teluk kecil yang dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan tua yang tertambat lesu.
Dermaga itu terlihat sangat sunyi, hanya diterangi oleh sebuah lampu jalanan yang berkedip-kedip di kejauhan. Sebuah van putih tua terparkir di bawah bayangan pohon ketapang besar. Begitu perahu kami bersandar, seorang pria bertubuh gempal dengan kaus oblong lusuh turun dari van dan membantu kami menaikkan tas-tas berisi server data Vincent.
"Semuanya aman?" tanya pria itu dalam dialek Melayu yang kental.
"Untuk saat ini, Razak. Terima kasih," jawab Vincent singkat.
Kami masuk ke dalam van yang berbau rokok dan kopi instan. Devan membantuku duduk di kursi tengah, sementara ia duduk di sampingku, tetap waspada dengan pistol yang masih ia selipkan di balik pinggangnya. Van meluncur membelah jalanan Johor Bahru yang lengang. Pemandangan kota ini jauh berbeda dengan Singapura; lebih berantakan, lebih manusiawi, dan entah mengapa, terasa lebih aman bagi orang-orang seperti kami.
Kami tiba di sebuah rumah flat di kawasan pinggiran Johor yang padat. Apartemen ini tua, dengan dinding yang penuh dengan noda air dan jemuran yang menggantung di koridor luar. Vincent menyewa sebuah unit di lantai empat melalui perantara yang tidak bisa dilacak.
Begitu pintu unit ditutup dan dikunci ganda oleh Devan, aku merasa seluruh tenagaku menguap. Aku merosot duduk di lantai ubin yang dingin, menyandarkan kepalaku pada dinding beton yang kusam.
"Anya, jangan di lantai. Sini, duduk di sofa," Devan mencoba membantuku berdiri.
"Biarkan aku begini sebentar, Devan," bisikku. "Lantai ini... terasa nyata. Dinginnya nyata. Aku hanya ingin memastikan aku tidak sedang bermimpi atau berada di bawah pengaruh gas penenang Frans lagi."
Devan menghela napas, ia kemudian ikut duduk di lantai di hadapanku. Ia mengambil kedua tanganku, menatap parut tipis di pergelangan tanganku dengan tatapan yang penuh rasa sakit sekaligus cinta.
"Kau tidak sedang bermimpi, Anya," bisiknya. "Kau bebas. Kita bebas. Tidak ada lagi Dokter Frans, tidak ada lagi Bima, tidak ada lagi dosis penstabil."
"Tapi Ayah masih ada di sel itu, Devan," ujarku, air mata mulai mengalir di pipiku. "Aku mengingat semuanya sekarang. Aku ingat bagaimana dia berdiri di sana saat Ibu meninggal. Aku ingat bagaimana dia menyetujui kontrak itu dengan Wijaya. Dia tidak mencintaiku sebagai anak... dia mencintaiku sebagai perpanjangan dari ambisinya."
Devan menarikku ke dalam pelukannya. Aku membenamkan wajahku di dadanya, terisak pelan sementara tubuhku berguncang hebat. Ini bukan lagi serangan panik karena memori yang rusak; ini adalah duka yang murni. Duka untuk sembilan belas tahun kehidupanku yang ternyata adalah sebuah panggung sandiwara.
"Ibuku pernah bilang," Devan berbisik di dekat telingaku, "bahwa keluarga bukan tentang darah yang mengalir di nadimu, tapi tentang siapa yang bersedia berdarah bersamamu. Hendra Kusuma mungkin ayah biologismu, tapi dia sudah kehilangan hak untuk menyebutmu sebagai putrinya saat dia menyerahkan kuncimu pada Frans."
Di sudut ruangan, Vincent mulai menyalakan komputernya lagi. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang serius. "Berita itu sudah menyebar ke seluruh jaringan internasional. BBC, CNN, Al Jazeera... semuanya mengangkat Project Elegia sebagai berita utama. Saham Dirgantara Group di bursa London dan New York resmi dihentikan."
Vincent menoleh ke arah kami. "Tapi kita punya masalah. Otoritas Singapura mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mencari 'kelompok peretas internasional' yang membajak menara telekomunikasi pemerintah. Mereka belum menyebut nama kita, tapi itu hanya masalah waktu."
"Berapa lama kita bisa bertahan di sini?" tanya Devan.
"Razak bilang van ini sudah bersih, dan apartemen ini terdaftar atas nama orang yang sudah meninggal lima tahun lalu," Vincent menjelaskan. "Kita punya waktu sekitar seminggu untuk memulihkan tenaga sebelum kita harus pindah lagi. Interpol pasti akan mulai bergerak setelah Dirgantara memberikan tekanan pada pemerintah Indonesia."
Devan menatapku. "Kita butuh rencana, Anya. Kita tidak bisa selamanya menjadi hantu di Malaysia."
"Aku tidak ingin menjadi hantu," aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. Aku berdiri, berjalan menuju jendela apartemen yang menghadap ke arah jalanan Johor. "Aku ingin pulang."
"Pulang?" Devan mengernyit. "Ke Jakarta? Itu sama saja dengan masuk kembali ke kandang singa."
"Bukan ke rumah Ayah," balasku tegas. "Aku ingin pulang ke pengadilan. Aku ingin berdiri di sana, bukan sebagai korban yang bingung, tapi sebagai saksi yang utuh. Aku ingin melihat wajah Ayah saat dia menyadari bahwa porselennya tidak hancur, melainkan menjadi pedang yang menebas seluruh kebohongannya."
Devan terdiam, menatapku dengan tatapan kagum. Ia berjalan mendekat dan berdiri di sampingku. "Kau yakin?"
"Iya. Jika kita lari sekarang, kita akan selamanya dianggap kriminal. Kita harus menyelesaikan ini di depan hukum yang asli, bukan hukum yang dibuat oleh Dirgantara."
Malam itu, di sebuah apartemen kumuh di Johor Bahru, kaset rusak di kepalaku akhirnya berhenti berputar sepenuhnya. Pita-pitanya telah tersambung dengan benar, dan melodi yang dihasilkan adalah melodi perlawanan. Aku tidak lagi takut pada kekosongan, karena kekosongan itu telah diisi oleh keberanian yang diwariskan oleh Ibuku.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. TAMAN BELAKANG RUMAH KUSUMA - SORE HARI (10 TAHUN LALU)
ANYA kecil (9 tahun) sedang mengejar kupu-kupu di antara tanaman lavender. IBU ANYA (Melati) duduk di kursi taman, sedang merapikan beberapa dokumen di dalam map merah.
MELATI
"Anya, kemari sebentar, sayang."
Anya kecil berlari mendekat, wajahnya kemerahan karena sinar matahari sore.
MELATI (CONT'D)
"Jika suatu hari nanti Ibu harus pergi, dan orang-orang mencoba memberitahumu bahwa Ibu tidak pernah ada, atau bahwa Ibu adalah orang jahat... apa yang akan kau lakukan?"
ANYA KECIL
"Anya akan bilang mereka bohong! Ibu adalah pahlawan Anya."
Melati tersenyum sedih. Ia mengambil sebuah kalung perak dengan liontin kunci kecil (kunci yang sama yang digunakan Anya di Singapura) dan memakaikannya di leher Anya.
MELATI
"Simpan kunci ini. Ini bukan cuma kunci untuk kotak musikmu. Ini adalah kunci untuk kebebasanmu. Suatu hari nanti, kau akan menemukan sebuah pelabuhan yang sangat sunyi, tempat di mana tidak ada yang bisa menyakitimu. Di sanalah kau harus memutuskan untuk menjadi dirimu sendiri."
Anya kecil memegang liontin itu, matanya berbinar.
MELATI (CONT'D)
"Ingat, Anya. Pelabuhan yang paling aman bukanlah pelabuhan yang tidak memiliki badai, tapi pelabuhan di mana kau tahu persis ke mana arah kompasmu menunjuk."
Kamera fokus pada wajah Melati yang menatap langit senja dengan penuh determinasi, sebelum layar perlahan-lahan memudar menjadi warna putih yang tenang di pagi hari Johor Bahru.
FADE OUT.
Aku tersadar dari lamunanku saat merasakan sinar matahari pagi mulai menerobos celah gorden apartemen. Devan sudah bangun, ia sedang membersihkan pistolnya di meja makan kecil, sementara Vincent masih terlelap di sofa dengan tumpukan kabel sebagai bantalnya.
Aku berjalan menuju Devan, mencium keningnya dengan lembut.
"Van, siapkan kompasnya," bisikku. "Kita akan pulang dan menyelesaikan simfoni ini."
Devan tersenyum, sebuah senyuman yang sangat langka namun penuh dengan harapan. "Siap, Nona Penulis. Mari kita buat bab penutup yang pantas bagi mereka."
[BERSAMBUNG KE BAB 31]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??