NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 24

SERANGAN MENDADAK

Mobil hitam itu meluncur mulus meninggalkan gerbang mansion, menyusuri jalanan yang masih lengang di pagi hari. Cahaya matahari mulai menghangat, tapi suasana di dalam mobil justru terasa semakin padat.

Aria duduk di kursi penumpang, tangan masih tenang di kedua pahanya, bibirnya tidak berhenti bergerak sejak lima menit terakhir.

“Aku masih tidak yakin,” gumamnya, menatap lurus ke depan. “Toko itu bukan sekadar tempat jualan. Resepnya, tata letaknya, bahkan cara menyusun roti di etalase—semuanya ada caranya. Kalau salah sedikit saja—”

“Aria.”

Nada suara Lorenzo rendah, tapi cukup untuk memotong kalimatnya.

Namun Aria hanya menghela napas dan melanjutkan, sedikit lebih pelan, tapi tetap terdengar.

“Apa....? Aku hanya bicara fakta. Orang yang aku percayakan belum tentu paham. Mereka bisa saja mengubah sesuatu tanpa sadar. Dan kalau pelanggan lama datang lalu—”

“Aria.”

Kali ini lebih tegas dan membuat keadaan hening sejenak.

Aria menoleh, alisnya mengerut. “Apa?”

Lorenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke jalan, kedua tangannya mantap di setir.

“Sejak kita keluar dari mansion,” katanya datar, “kau sudah mengeluh selama dua puluh menit tanpa jeda. Aku terima jika kau mengeluh tentang Monica.” tegas Lorenzo dan pelan pada di akhir kalimatnya.

Aria membuka mulut, hendak membalas, tapi Lorenzo lebih dulu melanjutkan.

“Dan aku masih cukup sabar untuk tidak menurunkanmu di tengah jalan.”

Ucapan itu datar. Tidak keras. Tapi cukup membuat Aria terdiam. Oh tentu saja, dia tak akan lupa bagaimana suaminya itu benar-benar memukul seseorang yang hendak mencelakai nya saat di restoran. Dan sekarang dia mengatakan akan menurunkan nya di tengah jalan.

Aria memilih diam dan mencibirkan bibirnya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara dan itu sedikit membuat tenang Lorenzo.

Lalu Aria mendengus pelan, memalingkan wajah ke jendela. “Aku hanya khawatir.”

“Ya, aku bisa melihatnya.” Singkat. Nyaris seperti sindiran.

Mobil terus melaju hingga akhirnya berbelok ke jalan yang lebih kecil. Deretan bangunan mulai terlihat lebih akrab. Dan di ujung sana—toko kecil dengan papan nama yang sudah sangat dikenal Aria.

Mobil berhenti perlahan di seberang jalan.

Aria tidak langsung turun. Matanya terpaku karena Toko roti itu… sudah buka.

Lampu menyala hangat dari dalam. Etalase depan terisi penuh. Beberapa pelanggan terlihat keluar masuk. Bahkan dari luar, aroma roti yang baru dipanggang hampir terasa.

Aria membuka pintu mobil perlahan, seolah takut apa yang dilihatnya akan hilang jika bergerak terlalu cepat.

Langkahnya mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dan semakin dekat… semakin jelas semuanya.

Rak tersusun rapi. Kue-kue tertata dengan cara yang sama seperti yang selalu dia lakukan. Bahkan kain kecil di sudut meja—dilipat dengan cara yang sangat familiar.

Matanya sedikit melembut.

“Tidak berubah…” gumamnya pelan.

Seorang pegawai di dalam toko melihatnya, lalu sedikit terkejut sebelum buru-buru menunduk hormat. Aktivitas tetap berjalan, tidak ada yang kacau, tidak ada yang berantakan.

Semuanya… hidup.

Seperti saat Aria masih mengelolanya sendiri.

Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. Bukan senyum besar. Tapi cukup untuk menunjukkan betapa lega hatinya. Apalagi melihat para pelanggan di sana.

Di belakangnya, langkah Lorenzo mendekat. Tangannya masuk ke saku celana, ekspresinya datar seperti biasa.

“Jadi,” ucapnya santai, “dunia tidak runtuh hanya karena kau tidak ada di sana.”

Aria sontak langsung menoleh saat kalimat itu jelas sindiran dan tepat di belakangnya.

Namun kali ini… dia tidak membalas. Sebaliknya, ia menunduk sedikit dan tersenyum tipis. Napasnya ditarik pelan.

“Terima kasih.”

Sederhana tapi jujur. Itulah yang Lorenzo lihat dan dengar, sehingga dia terdiam menatap senyuman Aria.

Untuk sepersekian detik—hanya sangat singkat—tatapannya berubah. Bukan dingin, bukan datar. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang jarang terlihat.

Ia menatap Aria. Lebih lama dari biasanya.

Seolah baru menyadari… bahwa wanita di depannya tidak sekadar keras kepala atau menyebalkan.

Ucapan itu tulus.

Dan entah kenapa… itu terasa asing.

“…Tidak perlu.”

Lorenzo akhirnya memalingkan wajah, berdeham pelan. Rahangnya sedikit menegang, seolah tidak nyaman dengan situasi itu.

“Kita tidak punya waktu untuk berdiri di sini,” lanjutnya cepat, nadanya kembali datar. “Masuk ke mobil.”

Aria berkerut alis sedikit, menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis—senyum kecil yang nyaris tidak terlihat. “Baiklah.”

Ia berbalik, langkahnya ringan menuju mobil.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tangannya hampir menyentuh gagang pintu namun—

DARR!!!

Suara tembakan memecah udara.

Peluru meleset tipis dari samping kepala Aria, menghantam kaca etalase toko hingga pecah berhamburan.

Jeritan langsung pecah di sekitar.

Orang-orang berhamburan. Beberapa menjatuhkan barang, yang lain berlari tanpa arah.

“ARIA!”

Dalam sepersekian detik, Lorenzo sudah di sampingnya.

Tangannya mencengkeram lengan Aria keras yang tadinya terkejut menutupi kedua telinganya, kini Lorenzo menariknya paksa hingga tubuh wanita itu terbentur ke dadanya.

“Masuk!”

Tanpa memberi waktu, Lorenzo mendorong Aria ke dalam mobil. Pintu dibanting keras.

Ia segera memutar ke sisi pengemudi, masuk, dan menyalakan mesin dalam satu gerakan cepat.

DARRR!! Tembakan kedua terdengar. Kaca belakang retak tipis.

Lorenzo menginjak gas tanpa ragu. Tanpa peduli akan orang sekitar.

Mobil melesat keluar dari tempat itu, meninggalkan kekacauan yang semakin membesar di belakang mereka.

Napas Aria memburu. Tangannya gemetar, masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

“Loren—”

“Diam dan tetap fokus ke musik.” Nada suaranya rendah, tajam hingga ia menekan tombol radio dan memutar musik untuk Aria agar lebih tenang.

Matanya fokus ke depan, rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat dari sebelumnya.

“Jangan bicara.” pintanya sejenak.

Mobil melaju semakin cepat, membelah jalanan kota.

Beberapa detik berlalu dalam ketegangan murni.

Lalu akhirnya, tanpa menoleh, Lorenzo berbicara lagi. Lebih pelan. Tapi jauh lebih berbahaya. “…Mereka sudah mulai bergerak.”

“Si-siapa?” tanya Aria penasaran.

Lorenzo menatapnya dengan napas memburu dan tegang. “Bukan siapa-siapa.” kata pria itu yang sengaja menutupinya dari Aria.

Mereka berada tak jauh dari jalanan luar, namun kini sudah lebih aman untuk menghindari kekacauan tadi.

Lorenzo keluar mobil, diikuti oleh Aria yang masih penasaran hingga benar-benar hampir mati tertembak. “Siapa mereka? Apa setiap hari harus seperti ini?” kata Aria sedikit meninggikan suaranya mungkin efek karena tegang.

“Dan itu sebabnya aku tidak ingin kau keluar!” gertak Lorenzo yang saat itu juga membuat Aria terdiam saat pria itu menatapnya tegas dan marah.

“Aku memiliki alasan lain untuk tidak menikah! Karena mereka tidak akan aman jika berada di dekatku, sama halnya denganmu. E ora capisci. (Dan sekarang kau mengerti).” jelas Lorenzo yang merendahkan suaranya di akhir kalimatnya.

Hal itu membuat Aria terdiam, benar-benar diam saat dia melihat bagaimana kekhawatiran Lorenzo yang nampak marah namun dia gelisah dan cemas.

Aria menunduk, memikirkan apa yang sebenarnya pria itu rasakan dan pikirkan.

Melihat istrinya terdiam, Lorenzo memejamkan matanya dan mencoba untuk tenang. “Apa kau lapar?”

Pertanyaan yang tenang dengan suara pelan dan rendah meski serak, berat, namun itu sudah cukup untuk didengarkan oleh Aria.

“... Kita belum sempat sarapan. Apa kau lapar?” pria itu mengusap sejenak hidung mancungnya dan menatap tenang ke istrinya agar wanita itu juga ikut tenang setelah ketegangan tadi.

“Ya.” jawab singkat Aria yang masih tertidur terdiam.

Tentu Lorenzo memperhatikan nya, hingga menyuruhnya masuk ke mobil dan mencari kedai-kedai kecil di sana.

1
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
vnablu
yang ada kamu tambah nyaman tidurnya karena ada Lorenzo di sebelah kamu 🤭🤭
Four.: iye juga 😁
total 1 replies
Tiara Bella
apakah Meraka berdua Aria sm Lorenzo akan bucin pd waktunya....
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!