NovelToon NovelToon
PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Tamu Keagungan Pelaminan

Hari yang paling dihindari oleh Juna akhirnya tiba. Kediaman keluarga besar mereka sudah sibuk sejak subuh. Aroma bunga melati yang menusuk hidung dan hiruk pikuk perias pengantin memenuhi setiap sudut rumah.

Satria, sang mempelai pria, tampak tegang di depan cermin, mencoba membenahi beskapnya yang terasa mencekik—atau mungkin nuraninya yang sedang mencekik lehernya sendiri.

Juna duduk di sofa ruang tamu dengan setelan jas hitam yang sebenarnya membuatnya tampak sepuluh kali lebih tampan dan dewasa, namun wajahnya ditekuk habis-habisan. Ponselnya tak henti-henti ia pandangi.

"Kak Cantik, ayolah... ikut gue. Kita tunjukin kalau kita pasangan paling hot sedunia di sana," gumam Juna sambil mengetik pesan WhatsApp untuk kesekian kalinya.

Balasannya singkat dan padat: “Enggak, Jun. Gue ada urusan lain. Selamat kondangan ya, Adik Ipar Nggak Jadi.”

Juna menggeram frustrasi. Dia sudah merayu Cantik sejak seminggu lalu, memohon agar gadis itu mau menjadi plus-one-nya.

Juna ingin dunia—terutama Satria dan Sintia—tahu bahwa Cantik tidak hancur. Tapi Cantik tetap keras kepala menolak.

"Juna! Ayo berangkat! Kamu ini adik kandung Satria, masa mukanya ditekuk kayak cucian kotor begitu!" seru Mama Juna sambil membetulkan sanggulnya yang megah.

"Ma, Juna titip salam aja boleh nggak? Juna mau ke bengkel, ban motor Juna kayaknya butuh curhat," keluh Juna mencari alasan.

"Nggak ada bengkel-bengkelan! Kamu harus ikut rombongan keluarga inti. Titik!" Mama menarik telinga Juna, memaksa pemuda itu masuk ke dalam mobil iring-iringan pengantin.

Gedung pertemuan mewah itu sudah dipenuhi tamu undangan. Dekorasi serba emas dan putih memberikan kesan megah, namun bagi Juna, atmosfer di dalam ruangan itu terasa menyesakkan.

Di atas pelaminan, Satria dan Sintia berdiri menyalami tamu. Sintia tampak luar biasa bangga dengan gaun pengantinnya yang lebar, meskipun perutnya yang mulai membuncit sedikit mengganggu siluet gaun tersebut.

Juna berdiri di pojok barisan keluarga dengan gelisah. Matanya terus menyapu pintu masuk.

"Mana sih si Kakak Cantik? Masa beneran nggak dateng? Padahal gue udah siapin mental buat back-up dia kalau ada yang macam-macam," batin Juna.

Setiap kali pintu aula terbuka, jantung Juna berdegup kencang, lalu kecewa saat yang muncul hanyalah tamu-tamu asing berbaju batik.

Juna benar-benar tidak tenang. Dia merasa seperti prajurit yang kehilangan komandannya di medan perang.

"Jun, berdiri yang tegak. Jangan kayak cacing kepanasan begitu," tegur Satria saat Juna harus berdiri di sampingnya untuk sesi foto keluarga.

Juna hanya mendengus. "Gue lagi nungguin tamu kehormatan, Bang. Takutnya lu pingsan kalau dia dateng."

Tepat saat pembawa acara mengumumkan sesi ramah tamah, suasana aula mendadak hening.

Perhatian ratusan tamu teralih ke pintu besar di ujung ruangan. Pintu itu terbuka lebar, dan seorang wanita melangkah masuk dengan aura yang sanggup membungkam musik gamelan yang sedang mengalun.

Itu Cantik. Tapi bukan Cantik yang biasanya memakai daster atau kerudung instan saat makan seblak.

Cantik tampil dengan dress satin berwarna merah maroon menyala yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.

Potongan lehernya elegan, dengan aksen selendang panjang yang menjuntai di bahu seperti jubah seorang ratu.

Riasan wajahnya bold, dengan lipstik merah yang senada dengan gaunnya, memberikan kesan berani sekaligus mematikan.

Dia berjalan di atas high heels sepuluh senti dengan langkah mantap, kepalanya tegak, dan senyum tipis yang penuh kemenangan tersungging di bibirnya.

Juna melongo. Mulutnya sedikit terbuka.

"Gila... bidadari stroberi gue berubah jadi Queen of Heart," bisiknya tanpa sadar.

Namun, yang membuat seluruh tamu berbisik-bisik bukan hanya kecantikan Cantik yang "heboh" menyaingi pengantin wanita, melainkan apa yang ia bawa.

Di belakang Cantik, dua orang petugas berseragam toko mengikuti langkahnya sambil mendorong sebuah benda besar yang dibungkus pita emas rapi: Sebuah Stroller Bayi edisi terbatas yang harganya setara motor matic baru.

Cantik berjalan lurus menuju pelaminan. Langkahnya seperti sedang melakukan catwalk di Milan Fashion Week. Dia mengabaikan tatapan sinis dari keluarga besar Satria dan tatapan iri dari tamu-tamu lain.

Begitu sampai di depan Satria dan Sintia, Cantik berhenti. Dia tidak langsung menyalami mereka.

Dia justru menoleh ke arah petugas toko dan memberi isyarat agar meletakkan stroller itu tepat di tengah-tengah depan pelaminan, sehingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas.

"Halo, Satria. Halo, Sintia," suara Cantik terdengar merdu namun tajam, menggema lewat mikrofon yang kebetulan berada di dekat sana.

Sintia wajahnya berubah pucat, lalu merah padam. Dia merasa tersaingi di hari pernikahannya sendiri.

"Mbak... Mbak Cantik ngapain bawa ginian ke sini?"

Cantik tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai terasa beracun.

"Oh, ini? Ini kado spesial dari aku buat 'calon debay'. Kan tadi kamu bilang di kedai bakso kalau kamu butuh dukungan sesama perempuan? Nah, ini aku bawain stroller terbaik. Bahannya kuat, rodanya lincah, cocok buat dibawa lari kalau suatu saat suamimu hobi 'jajan' di luar lagi."

DEZIG!

Ucapan Cantik seperti tamparan keras di tengah keramaian. Satria hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata Cantik yang menyala-nyala.

"Mbak sengaja ya mau ngerusak acara saya?!" desis Sintia tajam, matanya mulai berkaca-kaca karena malu.

"Ngerusak? Enggak dong. Aku justru tamu paling perhatian, kan? Orang lain bawa amplop, aku bawa masa depan anakmu," Cantik mengelus stroller itu perlahan.

"Nikmatin ya pestanya. Makan yang banyak, Sintia. Biar tenaganya cukup buat ngadepin kenyataan setelah pesta ini selesai."

Cantik kemudian berbalik, berniat meninggalkan pelaminan. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Juna yang masih berdiri mematung. Cantik mengedipkan sebelah matanya ke arah Juna, lalu mengulurkan tangannya.

"Ayo, Juna. Katanya mau ngajak gue jalan? Gue udah cantik begini, masa lu cuma mau jadi pajangan di samping 'Bang Sat'?" tantang Cantik.

Juna seolah tersadar dari sihirnya. Seringai kemenangannya kembali muncul. Tanpa ragu, Juna melangkah maju, melepaskan diri dari barisan keluarga inti, dan menyambut tangan Cantik. Dia menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan puas.

"Sori, Bang. Tugas gue sebagai adik sudah selesai. Gue mau pergi sama 'tamu kehormatan' gue. Selamat menempuh hidup baru di dalam 'limbah' yang lu pilih sendiri!" seru Juna.

Juna dan Cantik berjalan keluar dari aula bergandengan tangan, meninggalkan kehebohan besar di belakang mereka.

Tamu-tamu sibuk memotret stroller mewah yang tertinggal di depan pelaminan sebagai monumen pengingat dosa Satria.

Begitu sampai di parkiran, Cantik langsung melepas sepatunya dan tertawa lepas.

"Gimana, Jun? Drama gue cukup dapet piala Oscar nggak?"

Juna tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru menarik Cantik ke dalam pelukannya, memutar tubuh gadis itu di bawah lampu jalanan.

"Lu keren banget, Kak! Sumpah! Itu stroller... ide paling gila yang pernah gue denger!"

"Gue beli pake uang tabungan yang tadinya mau buat DP katering nikahan sama Satria. Anggap aja uang buang sial," sahut Cantik sambil bersandar di dada Juna.

"Gue makin cinta, beneran deh. Habis ini kita ke mana? Masih mau pake baju begini?" tanya Juna sambil melirik gaun merah Cantik yang sangat mencolok.

"Kita ke tempat seblak yang paling viral, Jun. Gue mau liat reaksi orang-orang liat cewek pake gaun pesta makan seblak level tiga puluh!"

Juna tertawa renyah, suaranya memenuhi malam.

"Siap, Nyai! Apapun buat bidadari stroberi gue yang paling juara!"

Malam itu, di atas motor sport Juna, gaun merah Cantik berkibar tertiup angin, seolah menjadi bendera kemenangan atas masa lalu yang sudah benar-benar ia tinggalkan di tumpukan kado pernikahan yang pahit.

1
Yasa
Ceritanya kocagggg, konfliknya pas, ga bertele-tele, sat set kaya Juna. wkwk
D_wiwied
langsung serangan balik ya Jun, gaskeun Jun tunjukkan ke mereka mumpung ada penonton gratis di depan mata, sirik2 dah mereka biar sekalian kejang2 🤭😆🤣🤣
D_wiwied
ga ada kapok2 nya ya mereka ini, udah dipermalukan koq ya ttp ga sadar
D_wiwied
kan emang bang Sat kakakmu satu itu Jun 🤭🤣🤣
Dian Fitriana
update
Ganis
idih najong. PD banget sampean
Senja_Puan: Juna dong🤣
total 1 replies
Ganis
Kalah itu sama seblak juga
Ganis
Juna bener-bener bikin senyum-senyum 😄
Senja_Puan: iya kan kak🤭
total 1 replies
Ganis
Good Thor, ngakak🤣
Anisa675
Ya tuhan, masih mikirin rendang🤣 Bangke banget
Senja_Puan: Alasan Juna itu kak🤭
total 1 replies
Anisa675
bengek Juna🤣
Anisa675
anjay lngsung live stream🤣
Senja_Puan: Mantap ga tuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!