Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - Ibu Daren Yang Mulai Kesal
Suasana aula perlahan kembali ramai, tetapi kesan yang tertinggal tidak lagi sama seperti di awal malam. Musik kembali terdengar jelas, gelas-gelas kembali saling bersentuhan, dan percakapan mengalir seperti biasa, namun arah perhatian para tamu tidak sepenuhnya lepas dari satu titik yang sama.
Bisikan yang tadinya bernada meremehkan kini berubah menjadi percakapan yang lebih hati-hati, seolah setiap orang sedang menimbang ulang apa yang baru saja mereka lihat. Beberapa anggota keluarga Wijaya yang sebelumnya hanya mengamati dari jauh mulai memperhatikan Alyssa dengan cara berbeda, tidak lagi sekadar menilai dari latar belakangnya, tetapi dari bagaimana ia membawa dirinya di tengah situasi yang tidak mudah.
Mereka tidak lagi melihat seorang gadis yang menggantikan posisi orang lain, melainkan seseorang yang mampu berdiri di tempat itu tanpa terlihat canggung. Penilaian yang berubah itu tidak diucapkan secara langsung, tetapi cukup jelas dari cara mereka memperhatikannya lebih lama dari sebelumnya.
Alyssa sendiri tetap pada sikapnya, tidak berubah meski suasana di sekitarnya telah bergeser. Ia berdiri dengan tenang, bahunya tegak, tangannya memegang gelas dengan posisi yang rapi, dan tatapannya tetap terjaga tanpa terlihat mencari perhatian.
Ia tidak berusaha mendekat ke siapa pun, tetapi juga tidak menghindar dari siapa pun yang ingin berbicara. Posisi berdirinya tetap elegan, seolah ia memang sudah terbiasa berada di lingkungan seperti ini, meski kenyataannya tidak demikian.
Di sisi lain ruangan, beberapa anggota keluarga berkumpul dalam lingkaran kecil, berbicara dengan suara yang cukup pelan namun tetap bisa ditangkap oleh orang di sekitar mereka. Nada percakapan mereka tidak lagi ringan seperti sebelumnya, ada kehati-hatian yang terselip di dalamnya.
“Dia bukan seperti yang kita dengar,” ujar Reza Wijaya, suaranya rendah namun jelas.
Wanita di sampingnya mengangguk pelan, matanya masih mengarah ke Alyssa seolah tidak ingin melewatkan satu gerakan pun. “Aku kira dia akan membuat malu keluarga, tapi caranya berbicara tadi cukup terarah, bahkan lebih rapi dibanding beberapa tamu tetap.”
Seorang pria lain menghela napas pelan sebelum ikut berbicara. “Bisa jadi kita yang terlalu cepat menilai, atau mungkin kita hanya melihat dari sisi yang salah sejak awal.”
Percakapan itu tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pandangan mereka mulai berubah. Tidak ada kesimpulan besar yang diucapkan, namun arah pemikiran mereka sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Perubahan mulai terjadi secara perlahan, tidak mencolok, tetapi cukup kuat untuk menggeser posisi Alyssa di mata mereka. Ia tidak lagi berada di luar lingkaran, setidaknya tidak sepenuhnya.
Di ujung tangga utama, ibu Daren berdiri dengan postur tegak yang tidak berubah sejak awal acara. Gaunnya jatuh dengan rapi mengikuti garis tubuhnya, dan ekspresinya tetap terjaga, namun sorot matanya menunjukkan sesuatu yang lebih tajam dari sebelumnya.
Ia memperhatikan setiap pergerakan di aula, dari kelompok kecil hingga percakapan yang berpindah-pindah. Namun pada akhirnya, perhatiannya selalu kembali ke arah yang sama, pada sosok yang kini mulai menarik banyak pandangan.
Alyssa.
“Menarik,” ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara musik dan percakapan di sekitarnya.
Seorang wanita yang berdiri di sampingnya menoleh dengan senyum tipis, seolah sudah memahami arah perhatian itu. “Sepertinya menantumu cukup pandai menempatkan diri di situasi seperti ini.”
Ibu Daren tidak langsung menjawab, ia membiarkan beberapa detik berlalu sambil terus mengamati. “Pandai menempatkan diri belum tentu berarti tahu batas,” katanya akhirnya, nadanya tetap datar namun cukup jelas.
Wanita itu tidak melanjutkan, ia hanya mengangguk kecil sebagai tanda memahami maksud di balik kalimat tersebut. Tidak semua hal perlu dijelaskan dengan panjang, terutama jika nada bicara sudah cukup menyampaikan sikap.
Di tengah aula, Alyssa kembali terlibat dalam percakapan yang lebih ringan dibanding sebelumnya. Topik yang dibahas sudah bergeser ke hal-hal sehari-hari, namun cara ia menjawab tetap konsisten, tidak terburu-buru dan tidak mencoba menonjolkan diri.
Seseorang tersenyum sambil bertanya, “Nona Alyssa sering menghadiri acara seperti ini?”
Alyssa membalas dengan senyum tipis yang tidak berlebihan. “Tidak terlalu sering.”
“Lalu bagaimana bisa tetap setenang ini?” tanya orang lain, nada suaranya terdengar penasaran.
Alyssa sempat berpikir sejenak sebelum menjawab, tidak terburu-buru mengisi jeda. “Mungkin karena saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus dimenangkan,” katanya dengan nada yang tetap ringan.
Beberapa orang saling pandang, lalu kembali menatapnya dengan minat yang sedikit berbeda. “Apa maksudnya?” salah satu dari mereka bertanya.
“Saya hanya datang sebagai tamu,” lanjut Alyssa dengan tenang. “Selama tahu bagaimana bersikap, sisanya biasanya mengikuti dengan sendirinya tanpa perlu dipaksakan.”
Seorang pria mengangguk pelan, tampak memahami sudut pandang itu. “Pendekatan yang sederhana, tapi jarang dipakai karena banyak orang ingin terlihat lebih dari yang sebenarnya.”
Percakapan itu berlanjut tanpa tekanan, mengalir dengan ritme yang lebih santai. Alyssa tidak mendominasi pembicaraan, tetapi juga tidak tertinggal, ia menyesuaikan diri dengan alur tanpa kehilangan posisinya.
Tidak jauh dari sana, Cassandra berdiri dengan sikap yang tetap terjaga, senyumnya masih terlihat seperti biasa di mata orang lain. Namun jika diperhatikan lebih lama, ada ketegangan halus di matanya yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Ia memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di aula, terutama bagaimana arah perhatian mulai bergeser. Orang-orang yang sebelumnya menjaga jarak kini mulai mendekat, dan percakapan yang tadinya terasa seperti ujian kini berubah menjadi penerimaan.
“Dia berkembang lebih cepat dari yang aku kira,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Cassandra tidak menunjukkan ketidaksenangannya secara terbuka, ia tetap bergerak seperti biasa dan sesekali tersenyum pada tamu lain. Namun pandangannya beberapa kali kembali ke arah Alyssa, seolah memastikan bahwa apa yang ia lihat benar-benar terjadi.
Ada sesuatu yang mulai keluar dari rencana yang ia susun, dan ia menyadari itu dengan cukup jelas.
Di sisi lain, Daren masih berada di posisinya, tidak banyak bergerak sejak awal acara. Ia tetap menjadi pengamat, tetapi kali ini perhatiannya tidak terbagi ke banyak arah.
Fokusnya hanya satu.
Alyssa.
Ia memperhatikan bagaimana Alyssa menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, bagaimana ia tidak tergesa-gesa dalam merespons, dan bagaimana orang-orang di sekitarnya mulai mendengarkan dengan lebih serius.
Seseorang mendekat dan berdiri di sampingnya, ikut memperhatikan situasi yang sama. “Sepertinya istrimu cukup menarik perhatian malam ini,” katanya dengan nada ringan.
Daren melirik sekilas sebelum kembali melihat ke depan. “Memang,” jawabnya singkat.
Pria itu tersenyum kecil, seolah mencoba membaca reaksi lebih jauh. “Aku kira dia hanya akan jadi pelengkap dalam acara seperti ini.”
Daren tidak langsung menjawab, ia membiarkan kalimat itu berlalu beberapa saat. Penilaian seperti itu bukan hal baru, bahkan cukup umum di lingkungan seperti ini.
Namun setelah melihat sendiri apa yang terjadi malam ini, ia tidak lagi sepenuhnya sependapat.
“Ia bukan pelengkap,” katanya akhirnya, suaranya tetap rendah namun jelas.
Pria itu sedikit mengangkat alis, terlihat tertarik dengan perubahan nada itu. “Oh?”
Daren tidak mengalihkan pandangannya. “Kamu hanya belum cukup mengenalnya,” lanjutnya dengan tenang.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk mengubah arah percakapan. Pria itu tidak membantah, ia hanya mengangguk pelan sambil kembali melihat ke arah Alyssa.
“Sepertinya aku mulai melihat itu,” katanya.
Di atas tangga, ibu Daren menangkap sebagian percakapan tersebut, meski tidak seluruhnya. Namun dari potongan yang ia dengar, ia sudah cukup memahami arah yang sedang terbentuk.
Tatapannya berubah sedikit, tidak lagi sekadar mengamati, tetapi mulai menilai dengan lebih dalam. Ia tidak menyukai arah ini, bukan hanya karena Alyssa mulai mendapatkan tempat, tetapi juga karena Daren mulai menunjukkan sikap yang berbeda.
Ia turun beberapa langkah dengan gerakan yang tetap terkontrol, menarik perhatian beberapa tamu yang langsung menyapanya dengan hormat. Ia membalas dengan senyum tipis, namun fokusnya tetap pada satu tujuan.
Alyssa.
Ketika ia mendekat, percakapan di sekitar Alyssa mulai mereda dengan sendirinya. Tidak ada yang secara langsung menghentikan pembicaraan, tetapi kehadirannya cukup kuat untuk mengubah suasana.
“Alyssa,” panggilnya dengan nada halus.
Alyssa menoleh tanpa terlihat terkejut. “Iya.”
“Sepertinya kamu cukup menikmati malam ini,” katanya, kalimatnya terdengar ringan namun mengandung tekanan yang jelas.
Alyssa tidak terburu-buru menjawab, ia menjaga ekspresinya tetap tenang. “Acara ini berjalan dengan baik,” jawabnya singkat.
Ibu Daren tersenyum tipis, matanya tidak lepas dari wajah Alyssa. “Aku harap kamu tidak lupa di mana posisimu.”
Beberapa orang di sekitar saling pandang, menangkap makna di balik kalimat itu tanpa perlu dijelaskan. Suasana menjadi sedikit lebih kaku, meski tidak ada yang secara terbuka menunjukkan reaksi.
“Saya mengingatnya dengan baik,” jawab Alyssa, nadanya tetap stabil tanpa terdengar menantang.
Jawaban itu tidak merendah, tetapi juga tidak melawan. Cukup untuk menahan arah percakapan agar tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih tajam.
Ibu Daren memperhatikannya sejenak, lalu mengangguk kecil. “Bagus kalau begitu,” katanya sebelum mengalihkan pandangan.
Ketegangan tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak berkembang lebih jauh. Percakapan perlahan kembali berjalan, meski dengan kehati-hatian yang sedikit lebih terasa.
Cassandra yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan dengan saksama, menunggu kemungkinan adanya celah yang bisa dimanfaatkan. Namun yang ia lihat justru sebaliknya, Alyssa tetap berada di posisinya tanpa menunjukkan tanda goyah.
Hal itu membuat rencana yang ia susun tidak berjalan seperti yang diharapkan, dan ia menyadari bahwa situasi ini tidak bisa lagi dikendalikan dengan cara yang sama.
Daren akhirnya melangkah mendekat, gerakannya tidak tergesa tetapi cukup jelas untuk menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya. Ia berhenti di sisi Alyssa, tidak terlalu dekat, namun cukup untuk menunjukkan posisi.
Ibu Daren menoleh sedikit. “Ada apa?” tanyanya.
“Tidak ada,” jawab Daren dengan tenang. “Hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar.”
Kalimat itu terdengar netral, namun posisinya memberikan makna lain yang tidak perlu dijelaskan. Ia berdiri di sisi Alyssa, bukan berseberangan, dan itu cukup terlihat oleh orang-orang di sekitar mereka.
Salah satu tamu mencoba mencairkan suasana. “Sepertinya kalian pasangan yang cukup serasi,” katanya dengan nada ringan.
Daren melirik sekilas ke arah Alyssa sebelum kembali ke pembicara. “Kami hanya menjalankan peran kami,” jawabnya singkat.
Jawaban itu tidak terdengar dingin, tetapi juga tidak membuka banyak hal. Namun cukup untuk memberi kesan bahwa ia tidak menyangkal apa yang terlihat.
Percakapan kembali berjalan dengan alur yang lebih ringan, meski sisa ketegangan masih terasa di beberapa sisi. Namun satu hal menjadi semakin jelas bagi mereka yang memperhatikan dengan saksama.
Alyssa tidak bisa dijatuhkan dengan cara yang sederhana, dan posisi yang ia pegang saat ini tidak mudah digoyahkan.
Ibu Daren menyadari hal itu, begitu pula Cassandra yang masih mengamati dari kejauhan. Keduanya melihat arah yang sama, meski dengan reaksi yang berbeda.
Sementara itu, Daren tetap pada sikapnya yang tenang, tidak banyak bicara namun cukup jelas dalam setiap tindakan kecil yang ia lakukan. Ia tidak membuat pernyataan besar, tidak juga menunjukkan perubahan secara mencolok, tetapi keputusannya untuk berdiri di sisi Alyssa sudah cukup untuk mengubah banyak hal.
Malam itu berjalan seperti acara pada umumnya di permukaan, dengan musik, percakapan, dan tawa yang terdengar di berbagai sudut ruangan. Namun di balik itu, ada pergeseran yang tidak semua orang sadari, sebuah perubahan halus yang mulai membentuk arah baru di antara mereka.
Dan di tengah semua itu, Alyssa tetap berdiri dengan tenang, menjaga sikapnya tanpa berusaha menguasai keadaan, tetapi juga tanpa membiarkan dirinya tersingkir.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔