NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Titik Nol

​Cahaya matahari yang menembus permukaan laguna The Meridian Vault terasa berbeda—terlalu murni, terlalu tajam, seolah-olah spektrum warnanya belum pernah tercemar oleh polusi dunia modern. Di luar kaca polikarbonat yang kini retak seribu akibat tekanan perpindahan frekuensi, ikan-ikan kecil berwarna perak berenang melintasi terumbu karang yang bercahaya kebiruan.

​Sora membantu Hael berdiri. Lengan pria itu masih mengeluarkan darah, namun tatapannya tetap waspada, menyapu ke arah pintu dok yang kini hanya menyisakan keheningan. Kael dan pasukannya telah terlempar ke antah berantah saat mesin melakukan lompatan ruang-waktu tadi.

​"Kita berada di Isola del Tempo—Pulau Waktu," Martha berbisik, jemarinya yang keriput gemetar saat menyentuh konsol yang kini mendingin. "Koordinat ini tidak ada dalam peta navigasi mana pun. Secara teknis, kita berada di celah antara detik yang sudah lewat dan detik yang belum datang."

​Hael meringis menahan sakit saat Sora membalut lengannya dengan sobekan kain dari seragam taktis yang ia temukan di ruang medis. "Tempat ini... aku pernah melihatnya dalam mimpi buruk ayahku. Dia selalu menyebut tentang 'Tempat di Mana Matahari Tidak Pernah Terbenam'."

​Mereka keluar dari fasilitas The Meridian Vault melalui pintu darurat yang langsung terhubung ke sebuah gua karang yang luas. Udara di luar terasa hangat dan beraroma bunga melati yang sangat kuat—aroma yang seketika membuat jantung Sora berhenti berdetak sesaat.

​"Ibu..." gumam Sora. "Aroma ini... ini parfum yang selalu dipakai Ibu dalam ingatanku."

​Sora berlari menelusuri lorong gua yang dindingnya dihiasi oleh kristal-kristal perak alami yang tumbuh seperti stalaktit. Hael dan Martha mengikuti di belakang. Di ujung lorong, cahaya menyilaukan menyambut mereka.

​Mereka keluar ke sebuah lembah tersembunyi di tengah pulau. Di sana, di bawah naungan pohon beringin raksasa yang akar-akarnya melilit sebuah menara jam kuno dari batu putih, berdirilah sebuah pondok kayu yang sederhana namun sangat terawat. Di depannya, hamparan bunga melati putih tumbuh subur, bergoyang pelan ditiup angin laut.

​"Ini mustahil," bisik Hael, tangannya tetap memegang gagang belati. "Tempat ini terlihat seperti... surga yang membeku."

​Sora melangkah perlahan menuju pintu pondok. Tangannya yang gemetar mendorong pintu kayu yang tidak terkunci itu. Di dalam, ruangan itu dipenuhi oleh meja-meja kerja horologi yang sangat familiar. Ada sketsa-sketsa yang sangat mirip dengan gaya gambar ayahnya, Aris Kalani. Namun, di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kecil dengan vas bunga melati segar dan sebuah bingkai foto.

​Sora mengambil foto itu. Di dalamnya, seorang wanita cantik—Elena—sedang menggendong seorang bayi perempuan. Di sampingnya, bukan Aris Kalani yang berdiri, melainkan seorang pria dengan jubah abu-abu panjang yang wajahnya diselimuti bayangan.

​"Ibu tidak pernah benar-benar di Paris, bukan?" Sora menoleh ke arah Martha yang baru saja masuk. "Paris hanyalah pengalihan. Dia dikirim ke sini."

​Martha menundukkan kepala. "Alistair Vance pikir dia membuang Elena ke panti asuhan sebagai ancaman bagi Aris. Tapi Aris jauh lebih cerdik. Dia menggunakan koneksi pembelotnya untuk menyembunyikan Elena di Titik Nol. Dia tahu bahwa Arsitek Waktu tidak akan berani menyentuh pulau ini kecuali mereka memiliki ketiga mesinnya."

​Tiba-tiba, suara denting jam dinding yang merdu terdengar dari arah kamar belakang. Sebuah pintu terbuka, dan seorang wanita dengan rambut yang sudah memutih di bagian pelipisnya namun tetap terlihat anggun melangkah keluar. Ia memegang sebuah cangkir teh, yang seketika jatuh dan pecah saat matanya bertemu dengan mata Sora.

​"Sora?" suara itu lembut, bergetar, dan penuh dengan kerinduan yang telah tertahan selama sepuluh tahun.

​"Ibu..." Sora tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia berlari dan memeluk wanita itu, menumpahkan seluruh air mata yang ia simpan sejak malam kebakaran di Jakarta. Elena memeluk putrinya erat, mencium kuncup kepalanya berkali-kali.

​Hael dan Martha berdiri di ambang pintu, memberikan ruang bagi reuni yang telah melintasi dimensi waktu tersebut. Namun, momen haru itu tidak berlangsung lama. Elena melepaskan pelukannya, menatap Sora dengan wajah yang mendadak serius.

​"Sora, kamu tidak seharusnya membawa The Chronos Weaver ke sini," bisik Elena, matanya melirik ke arah kotak perunggu di tangan Sora. "Titik Nol adalah satu-satunya tempat di mana mesin itu bisa diaktifkan secara penuh untuk memicu The Great Reset."

​"Reset? Apa maksud Ibu?"

​Elena menuntun Sora ke arah jendela besar yang menghadap ke menara jam batu di tengah lembah. "Arsitek Waktu tidak hanya ingin mengubah sejarah. Mereka ingin menghapus sepuluh tahun terakhir ini—sepuluh tahun di mana mereka kehilangan kendali. Jika mereka berhasil, kebakaran itu tidak akan pernah terjadi, tapi semua yang kamu lakukan, semua kebenaran yang kamu ungkap, dan semua orang yang kamu temui... termasuk Hael... akan terhapus dari garis waktu."

​Sora tersentak, menoleh ke arah Hael yang juga tampak terkejut.

​"Mereka ingin kembali ke malam itu, Sora," lanjut Elena. "Malam di mana mereka bisa membunuh ayahmu tanpa meninggalkan jejak, dan mengambil mesin-mesin itu sebelum kamu sempat menyentuhnya. Bagi mereka, sepuluh tahun penderitaanmu hanyalah sebuah kesalahan teknis yang harus diperbaiki."

​Sora mengepalkan tinjunya. "Jadi, jika aku menggunakan mesin ini untuk melawan mereka di sini, aku berisiko menghapus keberadaanku sendiri?"

​"Lebih dari itu," suara berat seorang pria terdengar dari arah menara jam di luar.

​Sesosok pria dengan jubah abu-abu—pria yang sama dalam foto—muncul dari balik bayangan pohon beringin. Ia memegang sebuah jam pasir besar yang cahayanya mulai meredup. "Kamu akan menghapus jiwa dari waktu itu sendiri, Sora Kalani. Namaku adalah Chronos, Sang Arsitek Utama. Dan aku di sini untuk mengambil kembali milikku."

​Langit di atas pulau yang tadi cerah tiba-tiba berubah menjadi ungu gelap. Petir perak mulai menyambar-nyambar di sekitar menara jam. Pertempuran terakhir bukan lagi tentang harta atau dendam, melainkan tentang hak manusia untuk memiliki kenangan, meski kenangan itu berdarah dan menyakitkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!