NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Diary Biru milik Gaby~

Sudah seminggu lebih waktu berlalu sejak Gaby dibawa lari dari pulau terpencil itu. Tujuh hari yang terasa seperti tujuh tahun baginya. Ia berada di dalam penthouse mewah milik Emrys, kakaknya yang selalu protektif, namun kini terasa seperti sangkar emas yang indah namun mencekik.

Gaby tidak pernah berani melangkah keluar dari pintu otomatis itu. Bukan karena ia takut pada dunia luar, melainkan karena bayangan dia—Melvin—selalu menghantui setiap sudut pikirannya. Jika ia keluar, jika saja satu langkah kakinya menyentuh aspal kota ini, ia yakin Melvin akan menemukannya. Pria itu memiliki cara-cara gelap untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Gaby adalah obsesi terbesarnya selama setahun terakhir.

Namun, ironi terbesar dalam hidup Gaby saat ini bukanlah rasa takutnya, melainkan kerinduannya.

Setiap malam, ketika kota di bawah sana tertidur dan hanya cahaya bulan yang menerobos masuk melalui jendela panoramik, Gaby duduk di depan meja rias mahoninya. Di atas meja itu, sebuah buku diary berbalut kulit biru tua terbuka. Ujung pena bergerak pelan, menggoreskan tinta hitam di atas kertas putih, mencoba menenangkan jiwa yang gelisah.

"Hari ketujuh," tulisnya dengan tulisan tangan yang agak bergetar. "Aku aman di sini. Kak Emrys menjagaku dengan ketat. Tidak ada yang tahu aku di sini, bahkan Mama dan Papa pun belum diberi kabar. Kak Emrys bilang itu demi kebaikanku, agar Melvin tidak mencium jejak keberadaan ku. Aku mengerti logikanya, sungguh. Tapi kenapa dada ini sesak? Kenapa setiap kali memejamkan mata, wajah Melvin justru yang muncul? Bukan wajah monster yang menyiksaku, tapi wajah pria yang pernah sekali-dua kali menatapku dengan lembut sebelum semuanya berubah menjadi mimpi buruk."

Gaby menghentikan tulisannya, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia merindukan orang tuanya. Ia ingin mendengar suara mamanya, ingin dipeluk papanya. Namun, Emrys bersikeras menunggu sampai situasi benar-benar kondusif. "Satu telepon bisa membocorkan lokasimu, Gaby," kata Emrys tadi sore dengan nada tegas namun penuh kekhawatiran. "Melvin punya mata-mata di mana-mana."

Gaby menghela napas panjang, menutup diarynya rapat-rapat. Ia tidak mungkin menceritakan isi hatinya yang rumit ini pada Emrys. Kakaknya itu sudah cukup pusing mengurus keamanan dan strategi hukum untuk menjauhkan Melvin dari mereka. Jika Emrys tahu bahwa adiknya diam-diam menyimpan perasaan pada pria yang hampir menghancurkan hidupnya, entah apa yang akan terjadi. Mungkin Emrys akan marah, atau lebih buruk lagi, kecewa.

Di sisi lain kota, di mansion Blackwood yang megah dan suram, suasana sama tegangnya namun dengan dinamika yang berbeda.

Sabrina duduk di ruang kerja ayahnya, Lord Alistair Blackwood. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, matanya nanar menatap api yang membakar di perapian. Rasa rindunya pada Gaby sudah mencapai titik puncak. Sahabatnya itu hilang begitu saja setahun lalu, dan kini, setelah Melvin kembali ke mansion, kegelisahan Sabrina semakin menjadi-jadi.

"Dad," suara Sabrina memecah keheningan ruangan yang dingin itu. "Daddy tahu di mana Gaby sekarang? Tolong, aku harus menemuinya. Aku tidak bisa diam saja, dia mungkin masih dalam bahaya."

Lord Alistair menghela napas berat, meletakkan gelas wiskinya di atas meja. Wajah pria tua itu tampak lelah, menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk dipikul sendirian. Ia menatap putrinya dengan pandangan rumit.

"Sabrina..." mulai Alistair, suaranya rendah. "Ada hal-hal yang lebih baik jika tidak kau ketahui demi keselamatanmu juga."

"Tapi dia sahabatku! Satu-satunya keluarga yang aku punya selain kalian!" desak Sabrina, air mata mulai menggenang. "Aku sudah bicara dengan Emilia. Aku bilang Kak Melvin sudah kembali ke sini..." Sabrina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Alistair bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela yang menghadap ke taman gelap mansion Blackwood. "Gabriella Queensa Vanessa..." gumamnya pelan, seolah memanggil arwah. "Sudah setahun ini dikurung oleh Melvin di pulaunya. Terisolasi dari dunia. Dan aku... akulah yang membantu Melvin menyembunyikan keberadaan gadis itu dari dunia luar."

"Dad?" bisik Sabrina, matanya membelalak kaget. Tubuhnya menegang.

Hening.

Kata-kata Lord Alistair menggantung di udara ruang kerjanya, lebih berat dari timah, lebih tajam dari sembilu. Kalimat itu bukan sekadar pengakuan; itu adalah vonis yang menghancurkan fondasi kepercayaan Sabrina terhadap satu-satunya orang yang ia hormati seumur hidupnya.

"Daddy telah meminta Melvin untuk melakukan sebuah misi," ucap Alistair lagi, suaranya datar, seolah ia sedang membahas laporan keuangan, bukan nasib seorang manusia. "Dan Melvin meminta imbalan. Sebuah pulau pribadi, terisolasi, tanpa jejak radar. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan Nona Gabriella dari dunia luar, termasuk dari pencarianmu, Sabrina."

Sabrina merasakan lututnya lemas. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah, hingga punggungnya menabrak rak buku tinggi di belakangnya. Matanya membelalak, dipenuhi horror yang murni.

"Jadi..." suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Jadi kau yang telah membantu Kak Melvin melakukan semua ini? Mengurung seorang gadis? Menyiksanya jauh dari keluarganya?" Air mata mulai mengalir deras di pipinya, bercampur dengan rasa muak yang menjijikkan. "Daddy, aku dan Gaby seumuran! Kami berteman baik, dia gadis yang sangat baik, kau tau itu! Bagaimana kau bisa melihat mataku setiap hari sambil menyimpan rahasia bahwa sahabatku dikurung seperti hewan ternak karna sebuah... misi?"

Wajah Alistair berkedut sedikit, topeng dinginnya retak sejenak menampilkan bayangan penyesalan, namun cepat-cepat ia menutupinya kembali. "Ini urusan bisnis keluarga, Sabrina. Kau tidak mengerti kompleksitasnya. Gabriella... dia hanya korban yang diperlukan untuk menjaga stabilitas-"

"Kalian berdua adalah monster!" teriak Sabrina, memotong pembelaan ayahnya yang dingin itu. Suaranya memecah keheningan mansion, membuat beberapa pelayan di luar ruangan tersentak kaget. "Aku tidak pernah berpikir Daddy bisa sejahat ini!"

Tanpa menunggu respons lagi, Sabrina berbalik. Gaun malamnya berkibar saat ia berlari keluar dari ruang kerja, meninggalkan ayahnya yang terpaku dalam kesunyian yang menyiksa. Ia tidak peduli pada protokol, tidak peduli pada keamanan. Hatinya hancur berkeping-keping, namun di tengah reruntuhan itu, sebuah tekad baja mulai terbentuk.

Sabrina membanting pintu kamarnya, menguncinya rapat-rapat, dan langsung meraih ponselnya. Jari-jarinya gemetar saat menekan nomor kontak yang paling ia hafal di luar kepala.

Tuut... Tuut...

"Halo, Sab? Ada apa?" suara Emilia terdengar di seberang sana, terdengar khawatir.

"Lia," isak Sabrina, suaranya parau. "Dengarkan aku baik-baik. Jangan tanya, jangan potong. Kita harus bertindak sekarang."

"Sab, kau menangis? Apa yang terjadi?"

"Daddyku..." Sabrina menarik napas panjang, mencoba menahan sedu-sedannya agar suaranya jelas. "Daddyku... Dia mengaku. Selama setahun ini, Gaby... sahabat kita... tidak hilang begitu saja. Dia dikurung. Di sebuah pulau pribadi bersama Kak Melvin. Dan yang membantu Kak Melvin menyembunyikan Gaby, yang membiarkan semua ini terjadi... adalah Daddyku sendiri."

Hening di seberang sana. Hanya terdengar napas tercekat Emilia.

"Apa?" bisik Emilia, suaranya naik oktaf karena syok. "Maksudmu... Lord Alistair tahu? Dia membiarkan Melvin menyandera Gaby?"

"Ya! Mereka punya kesepakatan. Misi busuk dengan pulau! Lia, Gaby menderita sendirian di sana selama setahun karena orang-orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi algojo bagi hidupnya!" Sabrina menghapus air matanya dengan kasar. "Aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak bisa menunggu polisi atau siapa pun. Jika Daddyku terlibat, berarti jaringan mereka ada di mana-mana. Tidak ada yang bisa kita percaya selain kita berdua."

"Aku paham," suara Emilia kini terdengar tegas, meski masih gemetar. "Di mana Gaby sekarang? Apakah dia masih di pulau itu?"

"Tidak," jawab Sabrina cepat, mengingat percakapan Emrys sebelumnya yang sempat ia dengar secara tidak sengaja dari telepon ayahnya yang lupa ditutup. "Kak Melvin sudah kembali ke mansion Blackwood tadi sore. Itu artinya Gaby sudah dipindahkan. Entah ke mana. Mungkin ke tempat persembunyian baru, atau mungkin... sudah dibawa pulang oleh keluarganya tapi masih disembunyikan."

"Jika Melvin sudah di sini, berarti Gaby dalam bahaya ganda," analisis Emilia cepat. "Kita harus menemukannya sebelum Melvin menyadari bahwa kita tahu kebenarannya, atau sebelum Daddymu memutuskan untuk 'membersihkan' jejak dengan cara yang lebih permanen."

"Kita akan mencari Gaby bersama-sama," tegas Sabrina, matanya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang basah oleh air mata itu kini tampak keras. "Aku akan menggunakan akses ke data keamanan mansion dan jaringan kontak Daddy untuk melacak pergerakan Kak Melvin seminggu terakhir. Kau, Lia, coba hubungi kontak-kontak lamamu di pelabuhan dan bandara swasta. Cek manifest penerbangan atau kapal yacht yang mencurigakan dalam tiga hari terakhir."

"Siap," jawab Emilia tanpa ragu. "Kita akan menemukan Gaby, Sab. Sebelum Melvin sempat menyentuhnya lagi. Sebelum Daddymu melakukan kesalahan berikutnya."

"Kita sepakat," kata Sabrina. "Besok pagi, kita mulai operasi ini. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kepatuhan buta pada daddyku. Kali ini, kita yang akan menyelamatkan Gaby."

Sabrina mengakhiri panggilan itu. Ia melempar ponselnya ke kasur dan berjalan menuju jendela kamarnya yang menghadap ke taman gelap mansion Blackwood.

.

.

Di luar, angin malam berhembus kencang, membawa serta bisikan-bisikan rahasia yang belum terungkap, menghubungkan tiga titik berbeda: Gaby yang kesepian di penthouse, Emrys yang waspada di balik pintu besi, dan Sabrina yang terjebak dalam kemungkinan pahit di mansion Blackwood. Sementara itu, di suatu tempat dalam kegelapan, Melvin tersenyum tipis, ia tahu segalanya.. tapi ia diam. Menunggu waktu yang tepat untuk mulai bekerja~

1
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!