Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tak Kenal Nama Tuan Muda
“Ibu gak usah khawatir soal itu, embun pasti taulah yang terbaik, lagian saya hanya ditugaskan oleh nyonya besar untuk merawat dan mengurusi keperluan sang tuan muda” jawab embun setelah dia meminum segelas air putih.
Bu wina hanya mengernyit ketika dia mendengar perkataan embun barusan, karena dia seakan tidak percaya dia ditugaskan untuk merawat tuan muda prasetio.
“Huss, kamu jangan sembarangan bicara, nanti didengar kepala pelayan kamu bisa dimarahi bahkan bisa diusir dari rumah ini, karena belum ada satu orangpun yang ditugaskan untuk merawat keperluan tuan muda, itu langsung nyonya besar yang melakukannya, ART dilarang untuk masuk kedalam kamar tuan muda sembarangan” ucap bu wina menceritakan kondisi sebenarnya.
“hadeeh, bu wina ini gimana sih? Sudah jelas jelas, nyonya besar yang nyuruh saya untuk mengurus dan merawat Tuan Muda selagi masih kondisi sakit, kalau gak percaya silahkan tanyakan sendiri sama Nyonya besar” ucap Embun mulai jenuh dengan perkataan bu wina yang tidak percaya dengan kata katanya.
Bu wina hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan “semoga saja anak ini tidak terlalu banyak bualannya, saya takut tidak bisa membelanya kalau sempat terjadi hal itu” gumam bu wina merutuk dalam hatinya.
Waktu terus berlalu, di pagi hari yang cerah, embun buru buru datang kekamar Rido. ‘Tok tok tok” suara ketukan pintu dari embun.
“iya silahkan masuk” silahkan Rido dengan suara tegasnya.
“Ayuu tuan! Saya bantu anda kekamar mandi” kata Embun dengan sopan.
Rido hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah sampai didalam kamar mandi, Embun langsung mempersilahkan Rido untuk membuka bajunya sendiri.
Rido hanya bisa pasrah untuk melakukan apa yang dikatakan oleh sang pembantu, dia tidak keberatan sama sekali.
“Ehh.. siapa namamu? Tolong bantu lepaskan celanaku” ucap Rido sambil menanyakkan nama embun.
“Hadeeh,, sudah banyak dibantu, baru nanyak nama sekarang, selama ini kemana saja bro!” ucap Embun bergumam kecil namun masih bisa didengarkan oleh orang lain, apalagi dia bergumam tepat dihadapan sang penguasa istana.
“Gak usah belagu deh! Masih untung kutanyakan siapa namamu, jangan kau langsung besar kepala, Dasar Bocil” Sahut Rido dengan menajamkan pandangnya kepada Embun.
“Maaf ya Tuan! Perkenalak nama Saya adalah Embun Solai, kita itu sama loh, Saya juga masih belum tau siapa nama anda! Jadi jangan juga sok kepedeAN, lagian ya, saya ini sudah umur 18 lebih, jadi saya bukan lagi Bocil, gini gini sudah bisa jadi calon istri CEO seperti di pilem pilem dracin itu” jawab Embun dengan nada sewotnya, membuat yang mendengarnya semakin panas.
“iss, dasar bocil nakal! Cepatlah kau lepaskan celanaku” titah Rido dengan mata memerahnya, namun dia sama sekali tidak bisa terpancing dengan gadis dihadapannya itu.
Embun langsung melakukan pekerjaanya, tanpa ada kata kata arogan lagi dia membawa Rido kembali ke meja kamar.
“Nak Embun ternyata sudah ada toh?” ucap Tiaras tiba tiba muncul dari balik pintu kamar.
“Ehh nyonya besar, ternyata anda, saya pikir tadi bu Farel, karena tiba tiba saja nongol dari balik pintu” cerocos embun sambil melemparkan senyuman tanpa memperhatikan kata katanya.
Mendengar ucapannya, sontak saja rahang Rido mengeras dengan kuat, dia menggenggam tangan embun dengan sangat keras “Apakah kau menyamakan ibu saya dengan pembantu Hah!” ucapnya dengan nada keras.
“Auus, sakit tuan, jangan kuat kuat genggam tangan sayalah, nanti bisa bisa patah” teriak embun dengan berusaha melepas genggaman Rido dari tangannya.
“Eeeh,, sudah sudah, nak embun cuman bercanda kok, gak usah dimasukan kedalam hati” tegur Tiaras ketika dia melihat Rido yang menggenggam tangan embun dengan sangat keras, dia tau Rido sudah mulai terpancing amarahnya.
“iya loh, saya cuman bercanda sama nyonya besar, mana berani saya mengutuknya menjadi seorang pembantu rumah tangga, Tuan muda ini ada ada saja kayaknya deh, sebel aku ngeliatnya!” ucap embun menjadi kesal dengan kelakuan Rido padanya, yang membuat Tiaras menjadi tersenyum sendiri melihat tingkah laku embu barusan.
“Sudah sudah! Ayu kita sarapan dulu” ucap Tiaras kepada Rido.
“emm” sahut rido dengan tenang.
Embun langsung meminta ijin untuk ke belakang setelah dia mendengar Nyonya besar dan Tuan Muda pergi sarapan.
“Tunggu!!” ucap Rido kepada Embun ketika dia melihat embun buru buru untuk melangkah pergi.
“Iya ada apa Tuan Muda” jawab Embun singkat.
“Kau antarkan saya keruang makan” Ujar Rido dengan tatapan lurus kedepan tanpa melirik embun sama sekali.
“huuft, dasar anak manja!” gerutu embun dalam hati.
“kau mengutukku lagi ya?” peringatkan Rido yang melihat bibir embun sudah mulai komat kamit lagi.
“maaf ya Tuan! Saya kayaknya gak waktu deh, buat ngutuk kamu dalam hati, emangnya kamu siapanya aku sih? Sampe sampe kamu harus ada didalam hatiku” cerocos embun yang merasa tidak bersalah sama sekali dengan kata katanya barusan.
Tiaras hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum ketika dia mendengar jawaban embun “Biasanya anak ini akan langsung mengusir setiap pembantu yang berani main main dengannya, tapi hari ini berbeda, apa jangan jangan karena dia dalam keadaan sakit ya, makanya sifatnya sedikit berubah? Heeh” gumam Tiaras.
Namun beda halnya dengan Rido, dia menatap tajam Embun yang sedang berjalan kearahnya sambil berkata “Kau pikir aku sudi! Kalau aku ada dalam hatimu itu? Hah!” jawab Rido dengan tidak kalah saingnya.
“sewot amat!” ucap embun yang langsung mendorong Rido menuju ruang makan, sementara Tiaras hanya bisa mengekori mereka dari belakang tanpa ada satu katapun.
Jangan Lupa Tinggalkan Komen Ya dan Vote.💌