NovelToon NovelToon
Dendam Flora

Dendam Flora

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayong

Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.

Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejutkan

Suasana yang semula riuh tiba-tiba berubah menjadi lebih heboh.

Bisik-bisik para tamu mulai terdengar semakin jelas.

“Itu… Garvin!”

“Garvin dari keluarga Mores?!”

“Dia juga pewaris besar!”

Sorak kagum mulai bermunculan.

Namun belum sempat suasana mereda—

seorang pria paruh baya, berpakaian rapi dan berwibawa, segera melangkah mendekat ke arah Flora.

Ia tersenyum hormat.

“Nona… akhirnya Anda kembali.”

Ucapan itu terdengar jelas.

Dan cukup untuk membuat beberapa tamu saling bertukar pandang.

“Nona?”

“Dia siapa sebenarnya?”

“Kenapa dia disambut seperti itu?”

Belum selesai rasa penasaran itu—

beberapa pejabat tinggi lain mulai berdatangan.

Satu per satu.

Semuanya menyapa Flora dengan sikap hormat.

“Selamat datang kembali, Nona Flora.”

“Kami sudah lama menunggu Anda kembali memimpin.”

“Kehadiran Anda benar-benar membawa angin segar.”

Kini suasana benar-benar berubah.

Tamu-tamu biasa mulai gelisah.

Tatapan mereka penuh tanda tanya.

“Siapa dia sebenarnya?”

“Kenapa semua tokoh besar menyambutnya?”

Akhirnya, salah satu dari mereka berbisik pelan—

namun cukup untuk didengar banyak orang.

“Kalian tidak tahu?”

Ia tersenyum tipis.

“Dia adalah putri sulung keluarga Amor.”

“Sekaligus… pewaris utama.”

Seolah petir menyambar—

ruangan itu langsung gempar.

“Apa?!”

“Putri sulung?!”

“Pewaris… keluarga Amor?!”

Wajah-wajah yang tadi biasa saja, kini berubah drastis.

Penuh keterkejutan.

Dan… rasa tidak percaya.

Di tengah kerumunan—

Evan membeku di tempatnya.

Tatapannya tertuju lurus pada Flora.

Seolah dunia yang ia kenal… baru saja berubah.

Wanita yang selama ini ia anggap hanya sebagai pelarian…

“burung kenari” yang ia pelihara…

ternyata—adalah pewaris keluarga besar.

Seseorang yang bahkan… berada di level yang sama dengannya.

Rahang Evan menegang.

Matanya tak lepas dari sosok Flora yang berdiri anggun di samping Garvin.

Sementara itu Flora juga terdiam.

Tatapannya bertemu dengan Evan.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menyadari sesuatu.

Pria itu adalah tunangan Agnes.

Ada jeda singkat.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup untuk membuat suasana di antara mereka… berubah total.

Garvin yang menyadari keberadaan Evan dan orang tuanya, tersenyum santai.

Ia melangkah mendekat dengan percaya diri.

“Halo, Om Sander. Tante Nadine,” sapanya ramah.

Kemudian ia menepuk bahu Evan ringan.

“Van, selamat ya atas pertunanganmu.”

Namun Evan tidak merespon.

Ia bahkan tidak melirik Garvin.

Tatapannya tetap terkunci pada Flora.

Melihat suasana mulai menegang, Lemos segera maju ke depan.

Ia tersenyum, mencoba menenangkan keadaan.

“Maaf,” ucapnya pada keluarga Evan, “biar Ayah perkenalkan.”

Ia menoleh ke arah Flora.

“Ini Flora,” lanjutnya, “putri sulung saya.”

“Dia baru saja kembali dari luar negeri.”

Sander mengangguk pelan, menatap Flora dengan penuh penilaian.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—

Nadine sudah lebih dulu melangkah maju.

Wajahnya langsung bersinar.

“Halo, Flora,” ucapnya hangat.

Tatapannya penuh kekaguman.

“Kamu sangat cantik.”

Flora membalas dengan sopan. “Terima kasih.”

Nadine tersenyum semakin lebar.

“Selama ini kami hanya sering mendengar namamu,” lanjutnya, “tapi hari ini…”

Ia menatap Flora dari atas ke bawah dengan tatapan puas.

“Ternyata namamu benar-benar mencerminkan dirimu.”

Senyumnya lembut.

Namun di balik itu ada sesuatu yang terlintas di benaknya.

Tanpa disadari oleh siapa pun di dalam hati Nadine…

ia berharap wanita di depannya ini…adalah tunangan putranya.

Sementara itu, di sisi lain ruangan senyum Agnes perlahan memudar.

Sorotan yang tadi sepenuhnya miliknya…kini telah berpindah.

Dan pusatnya adalah Flora.

Suasana masih dipenuhi bisik-bisik kagum.

Namun perhatian perlahan beralih saat Nadine menatap Garvin dengan penuh rasa ingin tahu.

“Garvin,” panggilnya lembut, “kalian… sudah saling mengenal?”

Garvin tersenyum santai.

Tatapannya sekilas beralih ke Flora, lalu kembali ke Nadine.

“Iya, Tante,” jawabnya ringan. “Kami sudah lama saling kenal.”

Ia terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata.

Lalu senyumnya berubah sedikit lebih dalam.

“Flora adalah wanita yang pernah aku ceritakan kepada Tante dulu.”

Nadine sedikit terkejut. “Yang itu?”

Garvin mengangguk tanpa ragu.

“Iya. Dia adalah Flora… teman masa kecilku.”

Suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih sunyi.

Beberapa orang yang mendengar mulai saling berpandangan.

Namun yang paling terkejut adalah Evan.

Evan berdiri kaku di tempatnya.

Tatapannya langsung tertuju pada Garvin.

Lalu… perlahan beralih ke Flora.

Pikirannya berputar cepat.

Ia ingat.

Sangat jelas.

Garvin sepupunya pernah berkata dengan santai.

“Gue cuma akan nikah sama satu wanita.”

Saat itu, Evan hanya menganggapnya lelucon.

Sekarang Garvin serius.

Ia bahkan menolak banyak wanita.

Menjalani hidup sendirian selama bertahun-tahun.

Hanya untuk menunggu…

“wanita kecilnya.”

Dan sekarang wanita itu berdiri di depannya.

Flora.

Wanita yang selama ini berada di sisinya.

Wanita yang ia sentuh…

ia miliki…

Rahang Evan menegang.

Tangannya mengepal perlahan.

Tatapannya berubah.

Tak lagi sekadar dingin melainkan… tajam dan penuh gejolak yang ia tekan mati-matian.

Sementara itu, Garvin terlihat santai.

Seolah tidak menyadari badai yang sedang terjadi.

Ia menatap Flora dengan senyum ringan.

“Tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini,” ucapnya pelan.

Flora hanya membalas dengan senyum tipis."Bukankah karena kamu tahu aku pulang?"

Kedua nya berbisik bisik membuat Evan sangat marah.

Di sisi lain, Nadine menatap keduanya dengan mata berbinar.

“Jadi… kamu yang selama ini Garvin tunggu?” tanyanya dengan nada sedikit bercanda, namun penuh arti.

Flora tidak menyangkal.bahkan senyum licik terukir di bibir nya.“Sepertinya begitu, Tan.”

Jawaban nya cukup untuk membuat suasana kembali bergetar.

Evan menatap nya tajam.Matanya masih tertuju pada tangan Flora yang kini digenggam oleh Garvin.

Flora perlahan melepaskan tangannya dari Garvin.

“Aku ke toilet sebentar,” ucapnya pelan.

Garvin mengangguk. “Aku tunggu.”

Flora berjalan menjauh.

Langkahnya tenang, seolah tak ada yang mengganggu pikirannya.

Namun begitu ia keluar dari aula utama

Menuju lorong toilet tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan kasar.

“Ah—!”

Tubuhnya terseret ke samping, lalu—

Brak!

Punggungnya membentur dinding.

Sebelum sempat bereaksi, tangan lain sudah mencengkeram lehernya.

Napasnya tertahan.

Flora menatap ke depan dan membeku.

Evan.

Tatapannya gelap.

Penuh amarah yang tak disembunyikan lagi.

“Burung kenari yang selama ini kupelihara…” suaranya rendah dan berbahaya, “ternyata adalah pewaris keluarga Amor.”

Cengkeramannya sedikit menguat.

“Aku benar-benar tidak menyangka.”

Matanya tajam menelusuri wajah Flora.

“Selama ini… aku ditipu.”

Flora menahan napas, namun tatapannya tetap tenang.

Tak ada ketakutan.bahkan dia bersikap manja seakan cekikan tadi hanyalah ilusi.

“Aku juga tidak menyangka,” balasnya pelan, “bahwa pria yang selama ini bersamaku… adalah tunangan adikku tiriku.”

Kalimat itu membuat rahang Evan menegang.

“Jangan pura-pura bodoh,” desisnya. “Kamu pasti tahu siapa aku.”

Tatapannya semakin tajam.

Flora tersenyum tipis.

Namun senyum itu… tidak hangat.

“Jangan mengada-ada.”

Suaranya pelan, tapi jelas.

Ia menatap Evan lurus tanpa gentar.

“Bukankah kamu juga tahu sejak awal…” lanjutnya, “…hubungan kita tidak punya arti apa-apa?”

Evan terdiam sesaat.

Flora melanjutkan—

“Tidak ada status. Tidak ada perasaan.”

Tatapannya tajam.

“Hanya dua orang yang… saling memanfaatkan.”

Ia sedikit mendorong tangan Evan di lehernya, meski cengkeraman itu belum sepenuhnya lepas.

“Jadi tidak ada alasan bagiku untuk menipumu.”

Suasana hening.

Hanya suara napas yang tertahan di antara mereka.

Evan menatapnya dalam.

Seolah mencari kebohongan.

Namun yang ia temukan—

hanya ketenangan.

Dan itu… justru membuatnya semakin kesal.

Perlahan, cengkeramannya mengendur.

Namun ia tidak menjauh.

Jarak mereka masih terlalu dekat.

“Kalau begitu…” ucap Evan pelan, “…kenapa kamu tidak pernah bilang siapa kamu sebenarnya?”

Flora menatapnya datar.

“Karena kamu tidak pernah bertanya.”

Jawaban sederhana.

Namun menusuk.

Evan terdiam.

Untuk pertama kalinya ia tidak punya bantahan.

Flora merapikan pakaiannya dengan tenang, lalu menatapnya sekali lagi.

“Kita sudah selesai sejak dua hari lalu,” ucapnya dingin.

1
Himna Mohamad
lanjut kk,,ceritanya bagus👍👍👍👍👍
Laar Ani
cerita hebat
Fulayah Haddad
Good , keren & menarik alur ceritanya bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!