Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 TIGA PASANG MATA
Bu Tuti melihat. Yuni merekam. Sari memotret. Tiga pasang mata. Tapi yang paling berbahaya adalah yang tak pernah terlihat.
Mobil Sari sudah hilang di tikungan. Tapi di rumah Hartono, pagi itu belum selesai.
10:15, Rumah Hartono — Dapur
Ardi menyandarkan pinggang ke meja. Cangkir kopi kedua di tangan. Masih hangat.
Maya berdiri di seberang, handuk krem di bahu—handuk yang sama Sari lihat di kamar Ardi.
Maya tersenyum kecil. Tidak bicara.
Itu yang mengganggu Ardi. Bukan ketahuan. Bukan tangisan. Tapi ketenangan Maya setelah Sari pergi.
"Kamu tenang banget," kata Ardi.
Maya mengangkat bahu. "Kita selamat, kan?"
Ardi tidak menjawab. Dia ingat tatapan Sari di pintu dapur. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya melihat.
"Itu belum selesai."
"Aku tahu." Maya meletakkan cangkir. "Tapi hari ini kita aman. Nikmati dulu."
Dia mendekat. Bukan genit. Hanya dekat. Tangan Maya menyentuh pergelangan Ardi. Hangat.
"Kamu takut?"
"Harusnya aku takut."
"Tapi?"
Ardi menatap matanya. "Aku lebih capek daripada takut."
Maya tertawa kecil. Tawa lega yang salah tempat.
Dari lorong, suara sandal di marmer.
Maya melepas tangannya cepat. Ardi mengambil cangkir.
Bu Tuti muncul dengan nampan. Wajah datar. Tapi dia lewat dari arah kamar Maya.
Bu Tuti meletakkan nampan. Membalikkan badan. Menatap Ardi. Diam.
"Bu," Maya menyapa. "Ada yang bisa dibantu?"
Bu Tuti menggeleng. "Tidak, Bu. Saya hanya... membersihkan."
Dia keluar. Langkahnya cepat.
Ardi dan Maya bertukar pandang.
10:30, Lorong belakang
Bu Tuti masuk ke kamar pembantu. Pintu tertutup. Duduk di tepi kasur. Tangannya gemetar.
Dia tidak salah lihat.
Pagi ini, sekitar jam enam. Dia bangun lebih awal. Lewat lorong—pintu kamar Maya setengah terbuka.
Dia melihat Ardi keluar dari dalam kamar Maya. Bukan dari lorong. Ardi mengancingkan kancing baju sambil berjalan. Wajah setengah tidur.
Bu Tuti mundur cepat. Bersembunyi di balik pilar.
Delapan tahun bekerja di rumah ini. Sejak istri pertama Bram masih hidup. Dia melihat Ardi kecil tumbuh.
Tapi ini bukan urusannya. Atau justru karena itu, ini urusannya?
Bu Tuti mengambil HP. Jari gemetar menekan nomor Pak Bram.
10:45, Ruang kerja Bram (telepon)
Bram baru selesai rapat. Suara berat.
"Ada apa, Bu Tuti?"
"Pak... maaf mengganggu. Pagi ini, saya melihat Mas Ardi keluar dari kamar Ibu Maya."
Diam.
"Kamu lihat sendiri?"
"Ya, Pak. Saya tidak salah lihat."
Diam lebih panjang.
"Baik. Saya urus. Terima kasih sudah lapor."
Telepon ditutup.
Bu Tuti lega. Tapi takut.
15:40, Ruang tamu
Bram pulang lebih cepat.
Ardi di ruang tamu, membaca laporan. Maya di dapur, celemek masih terikat.
Bram tidak duduk. Berdiri di tengah.
"Panggil Maya."
Ardi mengangkat wajah. "Ada apa, Pa?"
"Panggil."
Ardi memanggil Maya. Maya keluar.
"Ada apa, Pak?" tanya Maya, ramah.
Bram menatap mereka bergantian. Lalu matanya berhenti di Bu Tuti yang berdiri di pojok.
"Bu Tuti, kamu dipecat."
Ruangan hening.
"Pa—"
"Diam." Bram tidak menatap Ardi. "Bu Tuti, ambil gaji dua bulan. Kamu bisa pergi sekarang."
Bu Tuti pucat. "Pak Bram, saya hanya—"
"Saya tahu apa yang kamu lihat. Tapi kamu tidak punya bukti. Dan saya tidak suka gosip di rumah saya."
Tidak punya bukti.
Ardi menelan ludah. Maya tidak bergerak.
Bu Tuti tidak menangis. Tidak membantah. Hanya mengangguk. "Baik, Pak."
Dia berbalik. Langkah sandalnya pelan. Lelah.
Ardi ingin mengejar. Tapi kakinya beku.
Bram menatap Ardi. Sekejap. Kosong.
"Jangan buat masalah lagi." Bram naik ke lantai atas.
Ardi dan Maya sendirian.
Maya mendekat. Berbisik, "Kita selamat."
Ardi tidak menjawab. Di kepalanya: Tidak punya bukti.
Dia lega. Tapi muak dengan dirinya sendiri.
16:00, depan rumah
Bu Tuti keluar dengan koper kecil. Tidak ada yang mengantar.
Dari jendela lantai dua, Maya melihat. Wajah datar.
Ardi di sampingnya.
"Apa kita keterlaluan?" tanya Ardi.
Maya memegang tangannya. "Dia yang lapor dulu."
"Itu tugasnya."
"Tugasnya menjaga rumah, bukan mencurigai keluarga."
Ardi menarik tangan. Tiba-tiba dingin.
Kenapa dia tidak merasa bersalah?
Tapi Ardi sadar—dia juga tidak cukup merasa bersalah. Karena dia masih di sini. Masih bersama Maya. Masih ingin.
Dua hari kemudian. ART baru datang.
Namanya Yuni. Usia 24. Muda. Cepat belajar. Tidak banyak bicara.
Yuni hanya tahu: rumah besar, majikan dua orang (Bram jarang ada), satu anak muda yang sering pulang.
Dia tidak bertanya. Itu yang Maya suka.
Siang, 13:15, ruang keluarga
Ardi di sofa, laptop terbuka. Maya di ujung sofa lain, membaca buku. Bram di luar kota. Yuni di dapur.
Jarak mereka cukup jauh. Tapi tidak cukup.
Ardi bangun. Berjalan ke dapur.
"Yun, ambilkan kopi."
Yuni mengangguk. Cepat.
Ardi berdiri di ambang pintu. Dari sudut mata, dia lihat Maya mengangkat wajah. Menatapnya.
Ardi tersenyum kecil. Maya balas senyum.
Itu saja.
Tapi Yuni melihat. Tidak bilang apa-apa. Hanya menuang kopi.
"Ada yang lain, Mas?"
"Enggak."
Yuni kembali ke wastafel. Punggung menghadap. Tapi di benaknya, dia mencatat: Terlalu sering saling pandang. Terlalu nyaman. Padahal majikan laki-laki jarang di rumah.
Yuni tidak punya bukti. Tapi dia punya firasat.
15:00, lorong lantai dua
Ardi baru selesai mandi. Rambut basah. Handuk melingkar di pinggang. Berjalan ke kamarnya. Pintu kamar Maya setengah terbuka.
Dia berhenti.
Maya di dalam, membuka lemari. Punggung menghadap pintu.
Ardi melangkah masuk.
Maya tidak kaget. "Bram pulang besok."
"Aku tahu."
"Kita harus lebih hati-hati."
Ardi mendekat. "Kita selalu hati-hati."
Maya menoleh. Tersenyum. "Bu Tuti dipecat karena kita."
"Karena dia gosip."
"Karena dia benar."
Ardi diam.
"Kamu takut?" tanya Maya.
"Tidak."
"Bohong."
Ardi menarik napas. "Aku takut bukan karena ketahuan. Aku takut karena aku tidak mau berhenti."
Maya mendekat. Jarak beberapa senti. "Lalu kenapa berhenti?"
Dia mencium Ardi. Pelan. Dalam. Ardi membalas.
Dari ujung lorong, Yuni muncul dengan keranjang cucian. Dia melihat. Pintu terbuka. Ardi setengah telanjang. Maya memeluknya.
Yuni mundur pelan. Kembali ke lantai bawah. Wajah datar.
Di kamar pembantu, Yuni membuka HP. Dia tidak sempat merekam video. Tapi dia tahu sekarang: bukan firasat. Fakta.
Yuni tersenyum kecil. Senyum oportunis. Ini bisa berharga.
16:00, ruang keluarga
Ardi sudah berpakaian rapi. Wajah tenang. Maya di sofa, buku di pangkuan.
Yuni masuk dengan nampan camilan. "Bu, Mas, makan sore dulu."
"Terima kasih, Yun," kata Maya.
Yuni mengangguk. Kembali ke dapur.
Dari balik pintu, dia mengamati mereka. Terlalu percaya diri. Padahal saya di sini. Melihat.
Yuni tidak akan lapor ke Bram. Tidak seperti Bu Tuti. Bu Tuti bodoh—lapor tanpa bukti, dipecat.
Yuni akan menunggu. Mengumpulkan. Sampai waktunya tepat. Bukan untuk keadilan. Untuk keuntungan.
20:00, kamar Ardi
Ardi menulis jurnal.
"Bu Tuti dipecat. Aku lega. Tapi kenapa lega? Karena aku selamat? Atau karena aku bisa terus begini?"
"Maya tidak takut. Aku juga seharusnya tidak takut. Tapi kenapa tangan aku gemetar?"
"Aku seperti ayahku. Tidak, aku lebih buruk. Ayahku setidaknya jujur kalau dia selingkuh. Aku bersembunyi. Berbohong. Dan menikmatinya."
Dia menutup buku. Menyimpannya di laci.
Di luar, suara Yuni menyapu halaman. Pelan.
Ardi tidak tahu, beberapa jam lalu, Yuni merekam bayangan mereka dari sela pintu. Hanya tiga detik. Cukup untuk melihat Ardi memeluk Maya di kamar yang sama.
Yuni menyimpan video itu di folder aman. Belum waktunya.
Seminggu setelah Bu Tuti dipecat.
Sari tidak tidur nyenyak. Dia sudah menghubungi detektif swasta. Membayar mahal. Tiap dua hari, laporan foto dan lokasi. Tapi Sari tidak puas. Dia ingin melihat sendiri.
Jumat, 19:30, parkiran hotel Aston
Sari memarkir mobil agak jauh. Cukup dekat melihat pintu masuk. Cukup jauh tidak terlihat.
Detektif bilang Ardi check-in jam 3 sore. Sendirian. Tapi Sari tahu: tidak benar-benar sendirian.
Dia menunggu. Diam. Tangan di setir.
19:45.
Ardi keluar dari lift. Di sampingnya, Maya. Tidak bergandengan. Tapi jarak tubuh terlalu dekat. Maya tersenyum. Ardi membalas.
Sari mengambil HP. Jari gemetar.
Klik. Klik. Klik.
Ardi membukakan pintu mobil untuk Maya. Mobil meluncur pergi.
Sari tidak mengikuti. Dia duduk di mobil. Sepi. Tangan di setir masih gemetar.
Dia pikir akan menangis. Tapi tidak jatuh. Bukan sekarang.
Sari membuka folder "DATA" di HP-nya. Puluhan foto. Catatan. Rekaman suara dari detektif. Dan foto baru: Ardi dan Maya di depan hotel.
Dia menatap foto itu lama. Lalu menggulir ke foto lama—yang dari Mira. Foto pertama.
Sari mengamati sudut foto. Dari mana Mira mendapat ini? Sudutnya terlalu rapi. Bukan foto sembunyi. Ini dari dalam parkiran. Dari mobil yang parkir tidak jauh dari mereka.
Seseorang memotret mereka. Bukan Mira. Mira hanya perantara.
Sari zoom foto lama itu. Latar belakang. Mobil-mobil parkir.
Mobil hitam. Plat nomor.
Huruf "B".
Sama seperti yang dia lihat minggu lalu—mobil hitam yang mengikuti Ardi.
Sari meletakkan HP di pangkuan. Napas berat.
Bukan hanya dia yang mengawasi Ardi. Ada orang lain. Orang itu sudah lebih dulu. Dan foto-foto itu dikirim ke Mira, lalu ke Sari. Kenapa?
Sari menyalakan mesin. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya keputusan dingin.
"Aku tidak akan jadi korban. Aku akan menemukan siapa di balik ini. Dan aku akan hancurkan kalian."
21:00, apartemen Sari
Sari membuka laptop. Folder "DATA". Sub-folder baru: "PIHAK KETIGA"
Di dalamnya: foto mobil hitam, zoom plat—huruf "B" masih samar, tapi cukup. Juga foto hotel Aston.
Lalu catatan: "Pengamat ini dekat dengan mereka. Mungkin kenal. Mungkin musuh. Mungkin juga... keluarga."
Sari menutup laptop. Duduk di tepi kasur. Memandang dinding kosong. Jam 21:30.
Dia mengambil HP. Chat dengan detektif.
Sari: "Aku mau tahu pemilik mobil hitam. Plat huruf B. Cari."
Detektif: "Biaya tambahan."
Sari: "Bayar."
23:00, kamar Ardi — rumah Hartono
Ardi baru pulang. Maya sudah di kamarnya. Yuni tidur.
Ardi membuka jurnal. Tidak menulis. Hanya duduk. Memegang pulpen. Kertas kosong.
Ada yang ganjil hari ini. Saat di hotel, dia merasa diawasi. Bukan oleh petugas. Bukan tamu lain. Seperti ada mata.
Dia lihat sekeliling parkiran. Tidak ada yang aneh. Tapi firasatnya tidak pernah salah.
Ardi menulis satu kalimat: "Seseorang melihat kita."
Lalu menutup jurnal. Mematikan lampu.
Tidak tidur nyenyak.
23:15, kamar Yuni
Yuni membuka folder aman di HP-nya. Video tiga detik itu dia putar sekali. Lalu menyimpannya lagi.
Dia tersenyum dalam gelap.
Belum waktunya. Tapi akan tiba.