NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 SATU MEJA DENGAN LEONARD

Suasana pesta amal semakin meriah, namun bagi Elara, setiap detik terasa seperti hitungan mundur di medan perang. Matanya tetap tajam, mengawasi pergerakan pelayan yang sudah disuap oleh Rachel. Pelayan itu berjalan dengan nampan perak, membawa dua gelas sampanye yang terlihat identik, namun Elara tahu salah satunya mengandung zat yang bisa menghancurkan reputasi suaminya malam ini.

Leonard, yang masih terpukau dengan penampilan piano Elara, baru saja hendak meraih gelas dari nampan yang lewat di depan mereka.

"Tunggu," potong Elara cepat. Ia menahan tangan Leonard dengan jemarinya yang halus namun kuat.

Leonard menaikkan alisnya. "Ada apa? Aku haus, Elara."

"Ambilkan aku jus jeruk saja di meja sana, Leonard. Aku sedang tidak ingin sampanye," ujar Elara dengan nada manja yang dibuat-buat, namun matanya memberikan kode keras.

"Biar aku saja yang ambilkan, Tuan Muda," sela pelayan itu dengan wajah kaku, mencoba menyodorkan gelas yang sudah ditandai Rachel.

"Sistem, lakukan 'Space Swap' sekarang!" gumam Elara.

[Perintah diterima. Mengonsumsi 10 poin energi... Swap Berhasil!]

Dalam sekejap mata yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh indra manusia isi di dalam gelas tersebut telah berpindah. Gelas yang mengandung obat kini berada di tangan pelayan itu sendiri (yang rencananya akan diletakkan kembali di bar untuk Rachel), sementara gelas murni berada di nampan.

"Oh, sepertinya aku berubah pikiran. Berikan sampanye itu pada Nona Rachel saja yang sepertinya sangat haus akan perhatian," ujar Elara sambil mengambil gelas yang aman dan memberikannya pada Leonard, lalu mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.

Rachel, yang memperhatikan dari kejauhan, tersenyum puas. Ia melihat Leonard meminum sampanye itu. Dalam pikirannya, sepuluh menit lagi obat itu akan bekerja, dan ia hanya perlu memapah Leonard ke kamar hotel di lantai atas yang sudah ia pesan.

Sepuluh menit berlalu. Namun, bukannya Leonard yang merasa pusing, justru Rachel yang mulai merasa tubuhnya memanas. Napasnya menjadi pendek, dan pandangannya mulai kabur.

"Kenapa... kenapa malah aku yang merasa aneh?" gumam Rachel sambil memegang pinggiran meja.

Elara mendekati Rachel dengan langkah anggun, sementara Leonard sedang sibuk bersalaman dengan beberapa investor di dekat sana.

"Nona Rachel, wajahmu merah sekali. Apakah AC di sini kurang dingin?" tanya Elara dengan nada prihatin yang sangat palsu.

"Kamu... apa yang kamu lakukan?" desis Rachel, mencoba menjaga kesadarannya.

"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memastikan bahwa semua orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan," bisik Elara tepat di telinga Rachel. "Sepertinya 'obat' yang kamu siapkan sangat manjur, ya? Sebaiknya kamu segera pergi ke kamar yang sudah kamu pesan sebelum kamu melakukan hal memalukan di depan kamera wartawan."

Rachel terbelalak. Ia baru sadar bahwa ia telah masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Tanpa membuang waktu, dengan sisa kesadarannya, Rachel berlari keluar dari ballroom menuju lift, menghindari rasa malu yang lebih besar.

Setelah drama kecil itu selesai, Leonard menghampiri Elara. Ia memperhatikan istrinya dengan tatapan intens. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Elara menatapnya malam ini tidak ada lagi pemujaan buta, yang ada hanyalah ketenangan seorang pemenang.

"Rachel pergi dengan terburu-buru. Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Leonard curiga.

"Hanya memberinya saran kesehatan," jawab Elara santai. "Leonard, aku lelah. Bisakah kita pulang sekarang? Misi... maksudku, tujuanku di sini sudah selesai."

Di dalam mobil perjalanan pulang, suasana terasa jauh lebih intim. Leonard tidak lagi duduk di pojok. Ia duduk lebih dekat, aroma parfum Elara seolah menariknya secara magnetis.

"Permainan pianomu tadi..." Leonard membuka suara, memecah keheningan. "Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini? Jika aku tahu kamu punya bakat seperti itu, aku tidak akan—"

"Tidak akan apa? Tidak akan meremehkanku?" potong Elara sambil menatap keluar jendela. "Leonard, kamu hanya melihat apa yang ingin kamu lihat. Selama ini kamu hanya melihat wanita gemuk yang menyebalkan, jadi kamu menutup mata pada hal lainnya."

Leonard terdiam. Kata-kata itu menohok ulu hatinya. Ia meraih tangan Elara kali ini tanpa alasan formalitas pesta. Telapak tangan Elara terasa lembut di genggamannya.

"Maaf," gumam Leonard sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Ting!

[Progres Hubungan dengan Leonard naik drastis! Total Progres: 55%.]

[Pemberitahuan: Target mulai merasakan penyesalan mendalam dan ketertarikan emosional yang kuat.]

[Bonus 150 Juta Rupiah telah masuk ke rekening!]

Elara tersenyum dalam hati. Uang di rekeningnya kini sudah mencapai angka yang cukup untuk membangun gudang logistik rahasia.

Begitu sampai di mansion, Leonard tidak langsung menuju kamarnya. Ia mengikuti Elara hingga ke depan pintu kamar istrinya.

"Elara," panggilnya saat Elara hendak memutar kenop pintu.

Elara menoleh. "Ya?"

Tanpa aba-aba, Leonard maju selangkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Elara bisa merasakan deru napas pria itu. Leonard meletakkan tangannya di dinding belakang kepala Elara, mengurung wanita itu.

"Mulai besok, jangan sarapan di taman lagi. Kembalilah ke meja makan," perintah Leonard dengan suara rendah yang dominan. "Aku... aku tidak suka makan sendirian."

Elara menatap mata gelap Leonard. Ia bisa melihat percikan gairah dan rasa ingin tahu yang besar di sana. "Tergantung menunya, Tuan Muda. Kalau menunya membosankan, aku lebih suka di taman."

Leonard terkekeh tipis suara yang jarang sekali terdengar. "Aku akan pastikan koki memasak apa pun yang kamu mau. Termasuk jus sayuran pahitmu itu."

Sebelum Elara sempat menjawab, Leonard mengecup keningnya sekilas sebuah kecupan yang lembut namun penuh kepemilikan lalu berbalik pergi menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi.

Elara terpaku di tempatnya, memegang keningnya yang masih terasa hangat. "Sistem... sepertinya rencana 'teka-teki' ini bekerja terlalu baik. Kenapa jantungku malah ikut berdebar?"

[Peringatan: Tuan Rumah mohon tetap fokus. Jangan jatuh cinta pada target sebelum persiapan kiamat selesai. Perasaan bisa menjadi variabel yang berbahaya!]

"Aku tahu, Sistem! Aku tahu!" seru Elara malu, segera masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Namun, di dalam kegelapan kamarnya, Elara tersenyum. Ia baru saja menyadari satu hal: memiliki uang ratusan juta dan suami yang mulai tergila-gila padanya ternyata jauh lebih menyenangkan daripada sekadar bertahan hidup di dunia kiamat.

"Mari kita lihat, apa kejutan besok pagi," gumamnya sambil membuka panel sistem untuk mulai membelanjakan uangnya bagi keperluan 'survival'.

🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

Setelah Leonard pergi, Elara tidak langsung tidur. Ia duduk di meja riasnya, melepaskan anting berliannya, dan segera memanggil panel sistem. Layar hologram biru muncul di depannya, menampilkan saldo rekening yang sudah mencapai angka miliaran rupiah berkat bonus-bonus misi tadi malam.

"Sistem, tampilkan daftar kebutuhan logistik prioritas untuk 'Hari Pertama' kiamat," perintah Elara dengan nada serius.

[Ting! Daftar Logistik Prioritas:]

 1. Air Mineral:10.000 liter (Penyimpanan Level 10 mencukupi).

 2. Makanan Kaleng & Instan: 5.000 porsi.

 3. Obat-obatan & Antibiotik: Skala besar.

 4. Bahan Bakar & Generator: (Perlu gudang fisik untuk kamuflase).

 5. Benih Tanaman: Untuk ekosistem Infinite Space nanti.

"Bagus. Gunakan 500 juta untuk membeli stok air dan makanan secara anonim melalui berbagai vendor online. Masukkan langsung ke dalam ruang penyimpanan saat pengiriman tiba di gudang sewaan," gumam Elara.

Jari-jarinya menari di atas layar virtual. Di saat wanita lain seusianya sibuk memikirkan koleksi tas branded terbaru, Elara justru sibuk menimbun beras dan obat merah. Baginya, cinta Leonard itu bonus, tapi bertahan hidup adalah harga mati.

Keesokan paginya, suasana di ruang makan mansion Quizel berubah drastis. Mira dan para pelayan lainnya tampak tegang namun antusias. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama, Tuan Muda dan Nyonya Muda akan sarapan bersama atas permintaan Tuan Muda sendiri.

Elara turun dengan pakaian olahraga yang pas di badan menunjukkan bahwa berat badannya yang sekarang 90kg mulai membentuk lekuk atletis. Begitu ia sampai di ruang makan, ia melihat Leonard sudah duduk di sana, membaca koran bisnis digitalnya. Namun, begitu Elara duduk, Leonard langsung menurunkan tabletnya.

"Kamu terlambat tiga menit," ujar Leonard datar, tapi matanya tidak bisa berhenti memindai wajah Elara yang tampak segar tanpa riasan.

"Disiplin sekali, Tuan Muda. Aku baru saja menyelesaikan 500 skipping," sahut Elara sambil menarik piring berisi alpukat dan telur rebus yang sudah disiapkan khusus untuknya.

Leonard terdiam sejenak, lalu ia mendorong sebuah kotak beludru kecil ke arah Elara. "Ini untukmu."

Elara menghentikan makannya. "Apa ini? Bom?"

"Jangan konyol," Leonard mendengus. "Itu tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan wajah perusahaan dan wajahku dari drama Rachel semalam. Aku tahu apa yang dia coba lakukan dengan sampanye itu. Arkan sudah melaporkan semuanya pagi ini."

Elara membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kartu berwarna hitam dengan logo emas. "Kunci? Ini bukan perhiasan?"

"Itu kunci akses ke penthouse pribadi milikku di pusat kota. Aku jarang ke sana. Kamu bilang kamu butuh ruang untuk 'hobi' barumu, kan? Gunakan tempat itu sesukamu. Fasilitasnya lengkap, termasuk keamanan tingkat tinggi," jelas Leonard, berusaha terdengar tidak peduli meski sebenarnya ia memberikan itu agar bisa memantau ke mana Elara pergi.

Mata Elara berbinar. Penthouse dengan keamanan tingkat tinggi? Itu adalah tempat persembunyian sempurna untuk menimbun barang-barang berat yang tidak bisa dimasukkan ke mansion!

"Terima kasih, Leonard. Ini lebih berharga daripada berlian apa pun," ujar Elara tulus.

Leonard terpana melihat senyum tulus Elara. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Hm... Jangan hilang atau disalahgunakan."

Ting!

[Progres Hubungan: 60%.]

[Pemberitahuan: Target mulai memberikan 'aset pribadi' sebagai bentuk kepercayaan. Ini adalah tanda bahaya sekaligus peluang besar!]

Tiba-tiba, Arkan masuk dengan terburu-buru, wajahnya tampak pucat. "Tuan Muda, maaf mengganggu sarapan Anda, tapi ada masalah di kantor pusat."

Leonard mengerutkan kening. "Masalah apa?"

"Keluarga Rachel... mereka tidak terima atas kejadian semalam. Ayah Rachel, Tuan Wijaya, mengancam akan menarik seluruh investasi di proyek pelabuhan kita jika Anda tidak meminta maaf secara publik kepada Rachel," lapor Arkan.

Leonard tertawa dingin. "Meminta maaf? Karena dia mencoba membiusku? Berani sekali dia."

Elara yang sedang mengunyah telurnya tiba-tiba angkat bicara. "Jika ditarik investasinya, Leonard. Biarkan saja."

Leonard menoleh ke arah istrinya. "Apa maksudmu? Kalau dia menarik investasi, proyek itu akan mangkrak."

Elara meletakkan garpunya, matanya menatap Leonard dengan tajam. "Percayalah padaku. Dalam waktu dekat, uang kertas dan investasi saham tidak akan lebih berharga daripada sekaleng kornet. Jika Tuan Wijaya ingin menarik uangnya, biarkan saja. Gunakan sisa dana perusahaan untuk membeli aset fisik: tanah, bangunan dengan bunker, dan pasokan energi. Jangan buang energimu untuk mempertahankan investor yang tidak punya otak."

Leonard terpaku. Ia menatap Elara seolah-olah wanita itu baru saja berbicara dalam bahasa asing. "Elara, apa kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Itu keputusan bisnis yang gila."

"Gila sekarang, tapi akan dianggap jenius dalam empat bulan ke depan," sahut Elara tenang. Ia berdiri, mengambil kunci kartu hitamnya. "Aku mau ke penthouse. Ada banyak hal yang harus aku pindahkan ke sana."

Saat Elara berjalan keluar, Leonard tetap duduk diam. Logikanya mengatakan Elara sedang melantur, tapi instingnya insting yang membawanya menjadi orang terkaya mengatakan bahwa istrinya tahu sesuatu yang tidak diketahui dunia.

"Arkan," panggil Leonard setelah Elara menghilang dari pandangan.

"Iya, Tuan?"

"Cari tahu semua aktivitas belanja Elara dalam seminggu terakhir. Dan... perintahkan tim keuangan untuk mulai mencairkan beberapa aset likuid kita ke dalam bentuk emas dan barang fisik, diam-diam."

Arkan terbelalak. "Tuan? Anda mengikuti saran Nyonya?"

Leonard menopang dagunya, matanya menatap kursi kosong yang baru saja diduduki Elara. "Aku tidak mengikutinya. Aku hanya sedang berjaga-jaga. Wanita itu... dia tidak pernah bicara sembarangan akhir-akhir ini."

Di luar mansion, Elara tersenyum puas sambil masuk ke mobilnya.

"Satu langkah lagi, Leonard sudah mulai 'terinfeksi' pemikiran survivalist-ku. Sekarang, mari kita buat Rachel dan ayahnya menyesal karena sudah bermain-main dengan keluarga Quizel."

[Misi Baru Muncul: 'Bangkrutkan Keluarga Wijaya Sebelum Kiamat Tiba'.]

[Hadiah: Upgrade Senjata Sistem & 500 Juta Rupiah!]

"Oh, ini akan sangat menyenangkan," gumam Elara sambil menginjak pedal gas.

Bersambung 🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

1
Mingyu gf😘
sekarang leonard bner bner bucin ya🤭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
Ela semangat yok bisa berubah yok. ntar kalo udh proporsional bakal byk cowok ngantri pgn jd bucinmu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Mega Siregar
penasaran, jika jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, tubuh yara mana ya??
Xlyzy: musnah kah entitas Yara di musnahkan hanya jiwa nya yang di selamatkan sama sistem
total 1 replies
PrettyDuck
setelah ini kalian akan jadi power couple yang melawan akhir zaman /Angry/
PrettyDuck
emang dasar gak pernah puas
PrettyDuck
apa gak makin klepek2 leo ☺️
Three Flowers
baguslah kalo kamu menyadari bahwa apa yang diomongin Elara selalu benar
Three Flowers
padahal Rachel sendiri yang berulah
Three Flowers
serius sudah dikecup? padahal belum maksimal nurunin BB nya🤣
Three Flowers
bonusnya sungguh menggiurkan
Three Flowers
senjata makan tuan ini namanya, Rachel😅
Miu.Nuha
wkwkwk demi kembali menjadi prajurit 🤭 semangat Yara !!!
Miu.Nuha
ini ternyata game toh 😪 ,, syukurlah yara bisa dpt tubuh baru jadi gk mati beneran, hehe...
Filan
elara tinggi berapa sih beratnya cuma 40 doang.
Filan
kalau dulu zombie sekarang mutan.
Rangiku Gin
semangat thorr, sehat selalu yaa 💪🏻😎
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
Rangiku Gin
terlalu cheat langsung ke 15 wkwkw 😂🤭
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
kayak gini benar-benar dokter 🥹🥹
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
jangan percaya, itu omongan buaya saja 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!