Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah mandi air hangat, Kimi duduk selonjoran di atas kasur. Kepalanya pusing, hidung berair, badan hangat, dan sendi kakinya nyut-nyutan.
"Plis jangan sakit. Yang satu belum sembuh, masa mau nambah lagi," gerutunya kesal pada diri sendiri.
Ia memutar otak, mencoba mengingat di mana salep yang dikasih dokter. Belum sempat berdiri, suara ketukan di pintu terdengar.
"Masuk aja!" serunya malas.
Begitu pintu terbuka, Ruby muncul sambil membawa dua botol kecil.
"Flu gak? Hidung lo udah merah tuh," katanya sambil berdiri di sisi kasur.
"kayaknya sih. Duh, bakal tepar deh ini. Mana kaki juga nyut-nyutan, " keluh kimi sambil memijat lututnya.
Ruby menghela. napas, membuka tutup botol, lalu menyodorkan dua butir obat.
"Apa ini?" tanya kimi agak curiga.
"Obat flu sama vitamin,"
kimi menerimanya dengan bingung, apalagi Ruby juga mengambilkan air minum dari nakas.
"Oh. Makasih," ujarnya pelan sebelum menelan obatnya sekaligus.
"Obat kaki lo di mana?"
"Di mana ya.. kayaknya di laci meja."
"Gitu aja bisa lupa."
Ruby melangkah ke meja kerja, sempat melirik toples cookies yang kosong. Padahal doyan, tapi sok nolak, batinnya tak habis pikir.
Ia membuka laci, lalu mengangkat botol minyak. "Ini?"
Kimi mengangguk cepat, takut disemprot lagi.
"Kamu galak banget," protes kimi akhirnya.
"Mananya? Makanya jadi orang jangan bego."
Ruby duduk di sisi kasur, lalu mulai mengoleskan minyak hangat ke lutut dan pergelangan kaki Kimi. Kimi terus menatap jemari itu bergerak, sesekali meringis kecil saat Ruby menyentuh bagian yang sakit.
"Uby."
"Hm?"
Kimi ragu ingin bertanya soal hubungannya dan Anela. Bagaimana kalau Ruby menjawab dengan dingin seperti waktu itu?
Ruby akhirnya menoleh dengan alis terangkat. "Manggil doang?"
"Enggak. Itu.. aku suka cookies-nya. Makasih ya."
"Hem, bilang aja kalau mau lagi."
"Yaudah deh, kalau udah abis aku mau lagi."
Ruby terkekeh, "Makanya jangan sok-sokan ngambek."
"Aku gak ngambek kok," sahut Kimi cepat, lalu melanjutkan dengan suara pelan. "Jadi.. kita temenan kan?"
Gerakan Ruby terhenti, matanya menatap mata kimi yang terlihat penuh harap. "Harus banget diperjelas?"
Kimi melongo, tapi lima detik kemudian matanya berbinar. Ia senyum-senyum sendiri, memandangi wajah Ruby yang fokus dengan kakinya. Pijatannya pelan tapi mantap. Kimi yang tadinya meringis lama kelamaan malah ketiduran karena rasa hangat itu.
Ruby melirik, lalu terkekeh kecil saat kepala Kimi jatuh ke depan dan ke samping.
"Ni bocah mabuk minyak kali ya."
Setelah selesai, Ruby meletakkan botol minyak di meja, lalu membetulkan posisi tidur kimi dan menyelimutinya dengan hati-hati.
Tak lupa ia mengambil boneka Teddy bear dari pojok bantal dan meletakkannya di pelukan Kimi.
"Keliatan banget anak mama," gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
Ia berdiri sejenak di samping kasur, menatap wajah Kimi yang akhirnya tampak tenang.
Setelah itu Ruby kembali ke kamarnya. Ia menyambar buku yang belum sempat diselesaikan, lalu rebahan di kasur sambil membuka halaman terakhir yang diingatnya. Tapi pikirannya malah melayang ke arah kamar sebelah.
Mungkin tak ada salahnya mencoba berteman dengan kimi.
Ia memang belum tahu kenapa cewek itu begitu ngotot ingin dekat dengannya. Tapi kalau ternyata Kimi tidak tulus, ya sudah. Setelah pelatihan selesai, mereka tak perlu bertemu lagi.
Untuk sekarang Ruby cuma tidak ingin kimi dijauhi. Mungkin solusinya mereka bisa. berteman diam- diam.
Ia mendengus pelan, lalu menutup bukunya.
"Ada ya temenan diam-diam," bisiknya sambil terkekeh geli. "Gak ngerti lagi, sebenernya orang-orang di sini umurnya berapa sih,"
Ia masih tertawa pelan, Tapi di dalam hati Ruby tahu, ia juga tidak sepenuhnya dewasa dalam urusan ini.
...***...
Seminggu kemudian~
Pagi ini Kimi yang kakinya sudah sembuh total berjalan ringan keluar kamar. Rambutnya masih agak berantakan, tapi semangatnya meledak-ledak seperti biasanya. Ia berhenti di depan kamar Ruby, mengetuk pelan, lalu tersenyum lebar begitu pintu terbuka.
"Pagi, Uby" sapanya ceria.
Ruby langsung memutar mata., "Harus banget tiap pagi kayak gini?"
"Harus. kan kamu teman aku."
Ruby mendesah pelan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Liat deh sekitar lo, Kim."
Kimi mengerjap polos, mengikuti arah pandangan Ruby. "Gak ada apa-apa, By."
"Masa? kok gw liat banyak kodok terbang ya? Gara-gara lo mood pagi gw langsung rusak."
Kimi terkekeh tanpa dosa. Sejak malam Ruby memijat kakinya itu, Kimi selalu keluar kamar lebih cepat hanya untuk menyapa Ruby. kadang cuma dua menit, kadang lima. Pokoknya harus.
Dan meski Ruby masih suka jutek, dia mulai memanggil nama Kimi. Kemajuan kecil, tapi cukup buat Kimi senyum seharian seperti remaja yang baru dapat warisan, Bukan, maksudnya surat cinta.
Belum sempat ia lanjut mengganggu Ruby, Anela muncul dari ujung lorong, berjalan santai seperti biasa. Yaelah, dia lagi, batin Kimi yang langsung manyun.
"Pagi, Ru," sapa Anela dengan senyum lembut.
Ruby membalas dengan anggukan kecil. " Pagi, Nel. Mau sarapan sekarang atau nanti?"
"Nanti aja deh. Aku mau main di kamar kamu dulu," jawab Anela sambil menoleh ke Kimi.
"Bentar lagi yang lain turun, Kim."
Kimi pura-pura kaget seolah baru sadar sesuatu, lalu melenggang masuk ke kamarnya sendiri tanpa sepatah kata. Begitu pintu tertutup, ia langsung mendengus sambil melipat tangan.
Selain sembunyi-sembunyi dari dua belas orang itu, sekarang Anela juga sering muncul pagi- pagi di kamar Ruby. Pasti cemburu, Jelas. Kan pacarnya, Kimi menggerutu dalam hati.
"Senyumnya kayak orang baik, tapi kelihatan banget gak sukanya kalau aku deket Uby," gumamnya pelan, "Ibarat... di luar kayak mentari pagi, di dalem kayak waktu magrib."
Tok, Tok. Tok.
"Kim! Makan!" teriak Desi dari luar dengan suara cempreng khasnya.
Kimi mendengus pelan. "Oke, oke. Isi perut dulu. Baru mikirin rencana selanjutnya."
~
Hari ini tepat sebulan masa pelatihan mereka. Minus satu peserta: Kimi, yang sempat terlambat seminggu dan bolos tiga hari gara gara kakinya.
Atas izin para pembimbing, Sabtu sore semua peserta boleh jalan-jalan ke sungai. Dan ini... inilah acara yang Kimi tunggu-tunggu sejak dua belas bulan pamer soal 'air terjun paling indah sedunia' yang katanya tak jauh dari sini.
"Oke, oke. Aku harus siapin apa nih? Bikini?" gumam Kimi sambil membuka lemari. Lalu tiba-tiba ia membeku, "Aku gak bawa. bikini! Eh-emang siapa juga yang pake bikini di kali?"
Ia menghela napas, lalu mengacak rambut sendiri. Perasaannya seperti campuran antara panik dan antusias. Entah kenapa, hanya membayangkan perjalanan ke hutan saja sudah bikin jantungnya berdetak cepat.
Setelah semua persiapan selesai-yang sebenarnya cuma perlengkapan mandi, handuk, dan baju ganti-Kimi turun ke bawah, menyusul teman-teman yang sudah berkumpul di depan asrama.
"Sikat gigi bawa kan?" tanya Juli sambil melirik tas kecil Kimi.
"Bawa dong! Aku juga bawa sampo, sabun, lotion, hair mist, minyak telon-"
"Oke, stop. Gw paham," potong Juli cepat-cepat. "Bawaan lo udah kayak mau nginep tiga hari."
Beberapa ATV berhenti di depan asrama, dan mata Kimi langsung berbinar. Setiap kendaraan diisi dua orang, dan tentu saja, refleks pertamanya adalah mencari Ruby. Tapi nihil. Ruby tidak ada. Begitu pun Anela.
Senyum kimi langsung meredup. Baru juga mau berbalik masuk ke asrama, Okta keburu menarik tangannya.
"Bengong mulu, Lo sama gw ya," kata Okta santai sambil merebut tas Kimi.
"Ah, itu.. kayaknya aku ada yang ketinggalan di kamar," elak Kimi dengan senyum canggung.
"Yaelah, orang udah pada jalan. Kalau ada yang kurang, nanti pinjem aja. Buruan naik!"
Kimi menatap pintu asrama dengan tatapan terakhir penuh harapan, lalu menyerah, Ia naik ke ATV dengan wajah lesu dan langkah berat.
Awalnya begitu, tapi setelah beberapa menit di jalur hutan, seluruh keluhannya lenyap. Ya, ini hutan, dengan pohon-pohon tinggi yang berbaris rapat, udara lembap bercampur aroma tanah, dan monyet-monyet kecil bergelantungan di dahan. Jalanan licin penuh lumpur, belum lagi akar-akar pohon menjulang seperti jebakan raksasa. Semuanya petualangan baru buat seorang kimi si anak rumahan.
"KYAAA! Oktaaa! Ini miring banget!" teriak Kimi sampai suara seraknya kalah dengan deru mesin.
"Kim, plis. Gw masih butuh kuping buat hidup," gerutu Okta sambil meringis, karena pinggangnya dicengkeram sampai nyaris terlipat.
"Kamu sengaja nyari jalan kayak gini ya?! Aku ngerasa kayak naik wahana maut!"
"Liat depan! Semua juga lewat sini! Jalannya emang begini, bukan gw yang nyari sensasi!"
Kimi mencoba tenang, walau mulutnya tak berhenti mengoceh. Sampai tiba-tiba pemandangan di depan membuatnya membeku.
.