NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dosen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: pena pedang

Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.

kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana.

Waktu menunjukkan pukul 12:45

Keduanya memasuki mobil dan bergegas kembali kekampus.

Kejadian itu membuat Anita merasa takut, namun ia masih bisa menjaga ketenangan walau tubuhnya sempat gemetar, dan jantungnya sempat berdebar.

"Kamu gak apa-apa?" Tanya Bayu menoleh, ia tahu dari wajah Anita yang masih terlihat tegang.

"Gak apa-apa... Hanya saja aku masih gak menyangka kamu bisa tenang menyerahkan surat-surat kendaraan mu begitu saja," katanya sejenak terdiam lalu menoleh pada Bayu.

"Sudahlah... Aku punya alasan soal itu," jawab Bayu menatap pada Anita, matanya menyimpan ketenangan yang mencoba untuk meyakinkan dan agar mempercayainya.

"Tapi..."

"Atau jangan-jangan kamu sedang hawatir padaku?" Potong Bayu dengan pertanyaan.

Anita tiba-tiba terdiam, tertegun, lalu dengan cepat berkata sambil mengalihkan pandangannya kedepan. "Eh... Jangan GR ya... Toh... Kita baru kenal, ngapain aku hawatir ke kamu", ucapnya cepat.

Bayu hanya tersenyum sedikit, meski senyuman itu tanpa dilihat oleh Anita.

Ia... Tancap gas dan berbalik arah menuju arah kampus.

Sesekali Anita melirik ke wajah Bayu. Namun disaat Bayu merasakan perhatian itu, Anita dengan cepat kembali fokus menatap kedepan.

Keadaan itu hanya diam tanpa dialok sampai mereka sampai di parkiran kampus.

Keduanya masih sama-sama terdiam di dalam mobil.

"Kamu gak turun?" Tanya Bayu.

" Apa kamu serius malam nanti akan datang sendirian?" Tanya Anita lagi, kali ini dia memberanikan diri menatap kedua mata Bayu.

"Aku punya rencana yang gak kamu tahu, percayalah padaku, semua pasti beres" jawab Bayu membalas tatapan itu dengan penuh keyakinan.

"Ya udah... Hati-hati ya." Kata Anita pelan.

Bayu mengangguk dengan penuh senyuman.

.............

Di dalam kantin indah berdiri dari tempat duduknya, terlihat ia sudah selesai makan.

"Gak nyangka aku bisa satu jurusan denganmu", kata Angga dari belakang.

Indah menoleh, "Angga.."

Angga memberi isyarat pada kedua anak buahnya agar anak buahnya pergi meninggalkan mereka berdua.

Dengan isyarat itu kedua anak buahnya segera pergi tanpa basa-basi.

Indah hanya bisa melihat kepergian kedua anak buah Angga itu, dan kembali menatap Angga, "apa yang kamu inginkan?", tanya indah menatap tajam.

Angga melangkah dua langkah kedepan, "aku hanya ingin ngobrol denganmu" katanya pelan.

"Gak perlu", jawab indah berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Angga.

Angga mengejar dengan cepat, sambil tetap berjalan ia mencoba memberi pertanyaan, "aku hanya ingin ngobrol, apa aku salah?" Tanyanya.

"Nggak salah, tapi aku gak punya waktu", jawab indah ketus.

Angga tetap mencoba berjalan disampingnya dan mencoba memberi penjelasan dan pertanyaan, "aku tahu dari SMA kamu gak pernah memberi sedikitpun waktu buatku untuk mendekatimu" katanya.

"Jika kamu sadar ngapain kamu tetep ngejar" jawab indah.

Angga memegang lengan indah untuk menghentikan langkah indah.

"Kenapa?", kata Angga menatap tajam.

"Tingkahmu seperti preman, aku gak suka berteman sama preman" jawab indah melepas pegangan Angga.

"Ok... Ok... Seenggaknya, jika kamu berteman denganku kamu dapat perlindungan dariku", jawab Angga tatapannya sangat meyakinkan.

Indah terdiam untuk sesaat... Angin semilir menerpa rambut lembut indah sesekali menutupi wajahnya.

"Aku gak butuh perlindunganmu", jawab indah melangkah meninggalkan Angga yang masih berdiri menatap punggung indah dari belakang.

..........

Di rumah Bayu.

Malam kini telah datang, lampu ruangan besar bersinar terang, Bayu duduk di sofa paha kanan bertumpu pada paha kiri, matanya menatap kedepan, ia melihat pada layar Televisi, namun fikirannya melayang jauh tanpa ia sadari.

"Geng sembilan naga, malam ini semua akan terungkap", gumamnya pelan.

Ponsel tiba-tiba berdering.

Bayu melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja, mengambil dan mengangkat panggilan itu.

"Kamu udah berangkat?" Suara wanita dari sebrang telepon.

"Masih dirumah" jawab Bayu.

"Apa gak keberatan jika aku menemanimu?" Lanjut wanita itu yang ternyata adalah Anita.

"Gak perlu, aku bisa sendiri"

"Tapi masalah ini terjadi disebabkan karena aku", jelas Anita.

"Jika kamu ikut, malah menggagalkan rencanaku", balas Bayu.

"Kamu yakin?", tanya Anita.

"Jangan hawatir", jawab Bayu mematikan panggilan itu.

..........

Di dalam kamar Anita.

Anita duduk terdiam diatas kasur, tangannya memegang ponsel, matanya menatap kedepan cermin, tatapan itu terasa berat, "semoga gak terjadi sesuatu", gumamnya pelan.

"Tok...tok...tok.. boleh aku masuk", pintu diketok, suara wanita dari luar kamarnya yang tiba-tiba itu, membuat ia sedikit terkejut.

"Masuk aja... Gak dikunci kok", jawab Anita yang biasanya semangat kini terasa tak bertenaga.

Pintu terbuka... Kakak sepupu perempuannya masuk, "aku mau nginep, aku cari dari tadi ternyata kata Tante kamu ada dikamar", sapa kakak sepupunya yang bernama Vivi berjalan masuk dan duduk disamping Anita dengan semangat.

"Kapan kakak datang?", tanya Anita pelan.

"Dari tadi", jawab Vivi tersenyum hangat.

Anita terdiam, lalu kembali menatap ke cermin.

"Kenapa?" Tanya Vivi.

Gak apa-apa" jawab Anita.

"Eh... Jangan-jangan Adikku ini akhirnya bisa jatuh cinta juga ya...", lanjut Vivi membalikkan dengan paksa tubuh Anita kearahnya.

"Jatuh cinta.... Eh... Enggak kok", jawab Anita dengan cepat.

Vivi menatap kedua mata Anita sebentar, satu menit, lalu tersenyum, "cerita sama kakak... Siapa cowok yang beruntung itu", kata Vivi tersenyum hangat.

"ini gak seperti yang kakak pikirkan" balas Anita pelan sambil menunduk tak bersemangat.

.......

Jalan raya.

Bayu memacu mobilnya dengan cepat, jalanan sedikit lenggang membuat perjalanan itu terasa tanpa hambatan.

........

Di dalam gedung tua, para preman sedang berkumpul. Kurang lebih sekitar lima puluh orang, masing-masing membawa golok dan tongkat pemukul.

Sedang di kursi duduk seorang pria memakai jas panjang, orang berbadan kekar siang tadi.

"Apa dia membohongi kita kak?" Tanya bos preman ragu-ragu berdiri disamping orang bertubuh kekar itu, yang diketahui salahsatu pengawal dari ketua nomor sembilan geng sembilan naga.

"Surat-surat kendaraan ada ditangan kita, ini lebih berharga dari nyawanya, gak mungkin dia berbohong, kita tunggu sebentar lagi", jawab pengawal itu.

.........

Ruangan itu dipenuhi para preman jalanan, udara terasa berat walau angin terkadang melintas dari segala arah.

"Klak...klak...klak." suara langka samar terdengar dari jauh... Semakin keras dan keras.

Para preman menoleh, semua pandang menatap kearah datangnya suara itu, ada yang berdiri ada yang sedang duduk dilantai.

Namun tatapan itu tajam seolah sedang menyergap mangsa yang memasuki perangkap.

Bayu memasuki ruangan, langkahnya tetap santai, pandangannya lurus kedepan, tubuhnya tegap tak ada tanda tanda rasa takut yang tersirat dari wajahnya dan tangannya menenteng sebuah koper.

Ia berjalan melewati kumpulan preman yang sedari tadi tatapan mereka mengunci setiap gerakannya.

Selangkah... Dua langkah... Santai dan teratur kemudian langkah itu berhenti di depan meja.

"Apakah uangnya sudah siap?", tanya pengawal itu.

Bayu meletakkan koper diatas meja, membuka koper. Terlihat tumpukan uang ratusan ribu tertata rapi didalam koper, 1 miliar." Kata Bayu masih terlihat santai.

Pengawal itu memberi isyarat pada anak buahnya.

Satu Anak buah mendekati Bayu, memeriksa tubuh Bayu, sesaat kemudian menoleh kearah pengawal itu dengan menggelengkan kepala.

Ruangan itu terasa semakin menekan, ruangan besar tak menentukan bahwa udara terasa menyesakkan setiap nafas yang membuat tubuh terasa menegang.

"Hahaha..... Aku tahu kamu sudah mematuhi permintaan kami" kata pengawal itu.

"Mana surat-suratnya", balas Bayu tanpa basa-basi.

"Bodoh.... Hajar", jawab pengawal itu mengangkat satu tangan memberi isyarat pada para Anak buahnya.

Serempak orang-orang itu menerjang kearah Bayu.

Bayu masih tak bergerak dari posisi tempat ia berdiri.

Ayunan tongkat pemukul lima centi hampir mengenai kepala Bayu, namun sebelum ayunan itu sampai Bayu mendahului dengan tendangan membuat musuh terlempar kebelakang.

Serangan datang dari arah berbeda, tusukan golok hampir mengenai perut Bayu, hindaran cepat pukulan ke lengan membuat golok terlepas jatuh dari genggaman lawan. Seperdetik kemudian pukulan mengarah tepat ke wajah lawan membuat roboh seketika tanpa bergerak lagi.

"Buk....Bak..." Serangan demi serangan datang bertubi-tubi, namun bagi Bayu semua serangan itu dapat ia baca dengan mudah, menghindar membalas, bahkan membalas sebelum serangan benar-benar menyentuh tubuhnya.

Tujuh menit, Bayu masih terlihat tetap berada di posisi tempat ia berdiri, tak maju dan juga tak mundur, namun hampir kurang lebih lima puluh preman telah terkapar dilantai beserta senjatanya.

Bos preman yang telah menerima tamparan Bayu wajahnya pucat, tubuhnya gemetar. Kali ini dia sadar bahwa pemuda didepannya ini tak seharusnya ia singgung.

Penyesalan ini sudah terlambat.

Ia masih berdiri disamping pengawal bertubuh kekar itu yang sejak tadi sedang duduk santai, namun kali ini wajahnya tak sesantai sebelumnya... Wajah itu berubah mengeras dan tatapannya berubah tajam.

Kedua tatapan itu bertemu... Seoalah tak memberi ruang bagi keduanya untuk menghindar.

Bersambung.

1
Fatmawati Qomaria
novel baru ya kk
Muhammad Salim: iya kak
total 1 replies
Muhammad Salim
kalau ada yang kurang pas, komen saja ya... maklum masih baru dan masih belajar.
Muhammad Salim: iya kakak... terimakasih 🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!