NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ujian di Balik Kepalsuan

Ancaman yang dilontarkan Adipati Kael dan Lady Seraphina bukanlah sekadar kata-kata kosong. Di balik kemegahan istana yang terlihat tenang dan damai, intrik mulai bergerak diam-diam, bagai ular yang merayap mendekati mangsanya tanpa menimbulkan suara. Selama beberapa hari berikutnya, suasana di seluruh lingkungan istana terasa berubah. Udara yang biasanya segar dan beraroma bunga kini terasa berat, seolah menyimpan rahasia gelap yang siap meledak kapan saja.

Bagi Elara, hari-hari itu terasa penuh kewaspadaan. Ia menyadari tatapan mata yang mengikutinya ke mana pun ia melangkah—ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang penuh kecurigaan, dan tak sedikit pula yang menyembunyikan kebencian. Ia berusaha menjalani tugasnya seperti biasa dengan lebih hati-hati, berusaha tidak memberikan celah sedikit pun bagi musuh-musuhnya untuk mencari kesalahan. Namun ia tahu, jika seseorang ingin menjatuhkanmu, kesalahan akan tetap ditemukan meski kau telah berjalan dengan sangat lurus.

Suatu pagi, saat Elara sedang membersihkan ruang makan utama yang akan digunakan untuk menyambut tamu penting dari kerajaan tetangga, terjadi sebuah kejadian yang mengubah segalanya. Ia baru saja selesai menyeka meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap, lalu berbalik untuk mengambil kain bersih. Tanpa disadari, seorang pelayan wanita lain yang diam-diam bekerja untuk Lady Seraphina telah mendekat dan meletakkan sebuah kotak perhiasan kecil berukir indah tepat di bawah sudut meja, di tempat yang mudah terlihat namun seolah terjatuh dan tersembunyi.

Beberapa saat kemudian, ketika para pengawas melakukan pemeriksaan terakhir sebelum kedatangan tamu, kotak itu ditemukan. Isinya adalah kalung permata biru yang sangat berharga—salah satu barang pusaka keluarga kerajaan yang kabarnya hilang dua hari sebelumnya dari ruang penyimpanan harta.

“Siapa yang terakhir berada di ruangan ini?” tanya kepala pengawas dengan suara tegas, wajahnya memerah karena kaget sekaligus marah.

Semua pelayan yang ada menunduk, dan salah satu dari mereka yang telah diatur sebelumnya segera menunjuk ke arah Elara. “Yang Mulia Pengawas, saya melihat Elara yang terakhir keluar dari ruangan ini. Ia terlihat tergesa-gesa dan gelisah saat pergi.”

Elara tertegun, darahnya terasa berhenti mengalir seketika. Ia melangkah maju dengan wajah pucat pasi, matanya terbelalak tak percaya. “Ini tidak benar! Saya tidak pernah melihat kotak ini, apalagi mengambilnya. Saya hanya membersihkan ruangan dan tidak menyentuh barang apa pun selain peralatan yang menjadi tugas saya!”

Namun pembelaannya tidak didengar. Bukti ada di depan mata, dan kesaksian seolah mengarah langsung padanya. Sebelum ia sempat menjelaskan lebih lanjut, berita itu sudah menyebar cepat hingga sampai ke telinga Adipati Kael dan akhirnya dibawa ke hadapan Valerius.

Di ruang sidang sementara yang dihadiri beberapa penasihat, suasana terasa sangat dingin dan menegangkan. Elara berdiri di tengah ruangan dengan tangan terikat ringan di depan dada, dikelilingi oleh pandangan tajam yang penuh kecurigaan. Di atas kursi utama, Valerius duduk tegak, namun wajahnya terlihat kaku dan matanya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Di sisi kanannya berdiri Adipati Kael dengan senyum samar yang tak disembunyikan, sementara Lady Seraphina berdiri di belakangnya dengan pandangan menang yang tersirat jelas.

“Jadi begitulah sifat aslinya, Yang Mulia,” kata Adipati Kael membuka pembicaraan dengan nada yang terdengar menyesal namun sebenarnya penuh kemenangan. “Selama ini kami sudah mengingatkan bahwa kita tidak tahu asal-usul dan niat gadis ini. Ternyata benar saja, ia datang ke sini bukan hanya tersesat, melainkan dengan tujuan mencuri harta berharga kerajaan untuk dibawa kabur.”

“Bukan begitu!” seru Elara dengan suara bergetar namun tegas. “Saya tidak bersalah, Yang Mulia! Saya tidak pernah menyentuh kalung itu, saya tidak tahu bagaimana kotak itu bisa ada di tempat saya bekerja. Ini adalah jebakan yang dibuat untuk menjatuhkan saya!”

“Jebakan?” potong Seraphina dengan nada sinis. “Bukti ada di tangan, kesaksian ada, dan barang curian ditemukan tepat di tempat kau bekerja. Apa lagi yang bisa kau katakan untuk membela dirimu? Aturan kerajaan sangat jelas—pencuri akan dihukum berat, dan barang siapa yang mencuri pusaka istana berarti telah mengkhianati seluruh rakyat Aetheris.”

Semua mata tertuju pada Valerius, menunggu keputusannya. Di dalam hatinya, Valerius tahu betul bahwa Elara tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Ia mengenal ketulusan gadis itu, hatinya yang jujur dan sederhana. Namun di hadapan bukti yang tampak nyata dan desakan para penasihat, ia berada di posisi yang sangat sulit. Jika ia membebaskan Elara begitu saja, ia akan dianggap melindungi penjahat dan kehilangan kepercayaan rakyat serta kaum bangsawan. Namun jika ia menghukumnya, ia akan membiarkan orang yang dicintainya menderita karena kejahatan yang tidak ia lakukan.

“Yang Mulia,” ujar Valerius perlahan, suaranya terdengar berat namun tetap tenang. “Kita tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan kesaksian dan barang yang ditemukan saja. Harus ada penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya.”

Namun Adipati Kael segera menolak. “Penyelidikan apa lagi, Yang Mulia? Semua sudah jelas. Jika kita menunda atau membiarkannya lepas begitu saja, maka hukum dan keadilan di kerajaan ini tidak akan lagi dihormati oleh siapa pun. Sebagai raja, Anda harus memberikan contoh yang tegas.”

Tekanan itu semakin kuat. Para penasihat yang hadir pun ikut menyarankan agar Elara diasingkan atau dipenjarakan sementara waktu hingga kebenaran terbukti, sebagai bentuk kepatuhan pada hukum.

Elara menatap wajah Valerius dengan tatapan yang menyampaikan segala rasa sakit dan pengertian. Ia tahu posisi sang Raja sangat sulit, dan ia tidak ingin menjadi alasan bagi Valerius untuk terlihat lemah di hadapan rakyatnya. Dengan suara yang tenang namun terdengar sedih, ia berbicara.

“Yang Mulia, saya mengerti posisi Anda. Jika memang hukum harus ditegakkan, maka saya bersedia menerima apa pun keputusannya. Namun saya bersumpah demi nyawa saya sendiri—saya tidak pernah mencuri atau berniat menyakiti siapa pun. Biarkan waktu yang membuktikan kebenaran ini.”

Mendengar ucapan itu, hati Valerius terasa tercabik-cabik. Namun ia sadar, untuk melindungi Elara dan mengungkap kebenaran, ia harus bertindak cerdas, bukan dengan emosi semata. Ia mengangkat tangannya untuk menenangkan ruangan, lalu mengumumkan keputusannya dengan suara yang tegas dan terukur.

“Baiklah. Mengingat bukti yang ada saat ini, Elara akan dipindahkan ke menara pengawas bagian dalam untuk sementara waktu, hingga penyelidikan selesai dilakukan. Ia akan tetap mendapatkan makanan dan perawatan layak, namun tidak boleh keluar dari ruangan itu atau bertemu siapa pun tanpa izin resmi. Ini keputusanku.”

Kata-kata itu membuat Seraphina dan ayahnya merasa puas, sementara Elara hanya menunduk menerima nasib itu. Saat ia dibawa pergi oleh dua orang penjaga, matanya sempat bertemu dengan mata Valerius sejenak. Dalam tatapan itu, Valerius menyampaikan janji batinnya: Tunggu aku, aku tidak akan membiarkanmu terjebak selamanya.

Setelah sidang usai dan semua orang pergi, Valerius segera memanggil penjaga kepercayaannya yang paling setia—seorang prajurit bernama Kaelen yang telah melayani keluarga kerajaan selama bertahun-tahun dan tidak mudah disuap atau dipengaruhi.

“Kaelen,” ujar Valerius dengan suara rendah namun tegas, “Aku tahu gadis itu tidak bersalah. Ini adalah rencana licik yang dibuat untuk menjauhkannya dariku. Aku ingin kau menyelidiki semuanya secara diam-diam. Cari tahu siapa yang sebenarnya mengambil kalung itu, siapa yang mengaturnya, dan buktikan bahwa Elara dijebak. Lakukan tanpa menarik perhatian, dan jangan percaya pada siapa pun kecuali dirimu sendiri.”

“Siap, Yang Mulia. Saya akan melakukannya dengan hati-hati,” jawab Kael sambil membungkuk hormat, lalu segera pergi melaksanakan perintah itu.

Sementara itu, Elara dibawa ke sebuah ruangan sederhana di dalam menara yang tinggi. Ruangannya bersih namun sempit, hanya ada tempat tidur kayu dan jendela kecil yang menghadap ke arah taman istana yang jauh. Saat ia duduk menyendiri, rasa sedih dan kesepian sempat menyelimuti hatinya, namun ingatan akan janji Valerius serta keyakinan pada kebenaran membuatnya tetap tegar. Ia tahu, ini baru bagian dari ujian yang harus mereka lalui bersama.

Namun di sisi lain, Lady Seraphina merasa belum cukup puas. Ia mengira dengan memasukkan Elara ke dalam penjara sementara, ia sudah berhasil memisahkan mereka. Namun ia khawatir Valerius akan menemukan kebenaran jika diberi waktu. Malam itu, ia menyusun rencana kedua yang lebih berbahaya—berniat memastikan Elara tidak akan pernah bisa keluar dari tempat itu lagi, sehingga ia bisa menghapuskan keberadaan gadis asing itu selamanya dari kehidupan sang Raja.

Sementara kegelapan malam menyelimuti istana, pertarungan antara kebenaran dan kepalsuan baru saja dimulai. Elara harus bertahan, Valerius harus bekerja diam-diam, dan bahaya mengintip dari setiap sudut yang gelap, siap menyerang saat kesempatan terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!