Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
Suara sutil dan wajan beradu memecah kesunyian pagi, Nadila sedang di sibuk kan dengan tugas nya menyiapkan makanan untuk suami nya.
Hari ini Irfan akan pulang dari dinas nya di luar kota, sudah 3 hari Irfan berada di luar kota. Di rumah ini, Nadila hanya tinggal berdua dengan Irfan, suami nya.
Usia pernikahan mereka sudah memasuki 5 tahun, tapi mereka belum di percayakan untuk mengasuh seorang anak. Orang tua Nadila tinggal di kota yang sama dengan mereka, sedangkan orang tua Irfan tinggal di desa.
"Mas Irfan pasti seneng banget, aku udah masak makanan kesukaan nya!" Nadila berkata sambil memandang hasil olahan tangan nya.
Di rumah ini mereka hanya tinggal berdua, Nadila memang sengaja tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Dia masih bisa menghandel semua nya, mungkin jika mereka punya anak nanti baru lah dia akan memakai jasa Art.
Nadila segera bersiap untuk berangkat ke butik nya, dia adalah seorang perancang busana. Nadila memiliki sebuah butik di pusat kota, butik milik nya yang dia keola sendiri. Sebelum berangkat ke butik nya, Nadila menyempatkan diri untuk menelepon sang suami, untuk menanyakan jam berapa dia tiba di rumah.
"Hallo mas,,,!" Sapa Nadila.
"Hallo sayang, ada apa?" Tanya Irfan dari seberang sana.
"Gak Papa Mas, aku cuma mau tanya kira - kira jam berapa pas pulang nanti?. Masalah nya aku pulang sore, ada janji sama klien, jadi aku gak bisa nungguin mas di rumah!" Ujar Nadila.
"Gak papa sayang, kamu urus saja semua kerjaan kamu!" Irfan berkata dari seberang sana.
"Ya udah deh mas, maaf ya aku gak bisa menyambut mu di rumah!" Nadila berkata dengan lembut.
"Iya sayang, udah dulu sayang. Tuh ada yang manggil aku!" Ujar Irfan.
Tut, tut, tut,
Tiba - tiba panggilan terputus secara sepihak, padahal Nadila belum selesai bicara dengan suami nya.
"Kebiasaan deh mas Irfan ini, main matikan saja!" Omel Nadila.
Nadila lalu memasang helm di kepala nya, dia pergi ke butik dengan menggunakan motor matic nya. Sebenarnya Nadila memiliki mobil, tapi mobil nya di gunakan oleh Irfan. Lagian Nadila lebih suka keluar dengan menggunakan motor, karena lebih cepat dan bisa menghindar macet di jalan.
Rumah yang mereka tempati ini masih mencicil, mereka sengaja tinggal terpisah dari orang tua Nadila agar bisa lebih mandiri. Nadila tidak ingin suami nya merasa tidak nyaman jika harus tinggal di rumah orang tua nya.
Gaji Irfan cukup besar, tapi cicilan rumah ini lebih sering di bayar oleh Nadila. Uang gaji Irfan sebagian besar di kirim kan ke desa, Irfan adalah anak sulung. Dia memiliki sepasang adik kembar yang masih belajar di SMA, semua biaya adik dan orang tua nya dia tanggung oleh Irfan.
"Selamat pagi,,,!" Sapa Nadila karyawan nya.
"Selamat pagi, bu!" Balas karyawan nya dengan tak kalah ramah.
Butik ini memiliki beberapa karyawan, dan butik ini cukup besar. Semua baju yang di jual di sini adalah hasil rancangan Nadila sendiri, dan kualitas nya sangat bagus. Bahkan banyak orang - orang dari kelas atas memesan baju dengan Nadila.
Nadila segera naik ke lantai 2, di mana ruangan pribadi nya berada. Dia meneruskan rancangan gaun pengantin pesanan dari seorang putri pengusaha kaya, yang akan menikah bulan depan. Nadila tidak ingin mengecewakan pelanggan nya, dia begitu konsentrasi menyelesaikan semua nya dengan baik.
Tidak terasa, Nadila sudah cukup lama berkutat di depan meja nya. Bahkan dia sampai melewatkan makan siang nya, Nadila melihat jam di pergelangan tangan nya sudah menunjuk kan jam 14.30.
"Sudah hampir sore, untung saja sedang datang tamu bulanan sehingga tidak perlu sholat!" Guman Nadila.
Perut Nadila terasa perih, dia lalu segera memesan makanan untuk makan siang nya. Dia akan makan dulu, setelah itu dia akan pulang saja. Rencana nya besok saja dia akan menemui pelanggan nya, dia minta Nadila datang ke rumah nya. Rencana nya meraka akan membuat seragan keluarga.
"Lebih baik aku pulang saja, mungkin Mas Irfan sudah tiba di rumah!" Guman Nadila.
Setelah menghabiskan makanan nya, Nadila memilih untuk pulang saja. Dia sengaja tidak memberi tahu Irfan, dia ingin memberi kejutan pada suami nya. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, dan Nadila merasa rindu dengan sang suami.
Selama dinas di luar kota, Irfan sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk bicara dengan Nadila. Sekarang Nadila ingin memberikan kejutan untuk Irfan, dengan pulang lebih cepat.
Benar saja dugaan Nadila, dia melihat mobil suami nya sudah terparkir di halaman rumah. Nadila segera memarkir kan sepeda motor nya di sebelah mobil sang suami, dan dia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mas Irfan pasti di kamar nya!" Guman Nadila sambil tersenyum.
Tapi alangkah terkejut nya Nadila, saat dia melihat seorang wanita hamil sedang duduk dengan santai di sofa ruang tamu rumah nya. Seperti nya wanita itu tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nadila.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa berada di rumah ku?" Tanya Nadila dengan heran.
Wanita itu hanya melirik sekilas ke arah Nadila, terkesan cuek dan tidak perduli. Padahal ini bukan rumah nya, Nadila geram dengan sikap wanita ini.
"Sayang, ini jus nya!" Tiba - tiba Irfan muncul dari arah dapur sambil membawa segala jus jeruk.
Tapi langkah nya mendadak berhenti, saat dia melihat Nadila sudah berdiri di sana. Irfan tampak gugup, dia tidak menyangka bahwa Nadila akan pulang lebih cepat dari biasa nya.
"Sejak kapan kau berubah seperhatian ini, Mas?' Tanya Nadila heran.
Selama 5 tahun mereka menikah, belum pernah sekalipun Irfan bersikap romantis dengan membawa nya minuman. Hari ini tampak berbeda, tapi jus jeruk bukan lah minuman kesukaan Nadila. Dan Irfan tanu betul, bahwa Nadila tidak suka minum jus jeruk.
"Sayang,,,, kau sudah kapan kau datang? Kenapa tidak memberi tahu ku?" Irfan bertanya dengan gugup pada Nadila.
"Aku sengaja pulang cepat untuk bertemu dengan mu, Mas. Tapi saat tiba di rumah, aku malah menemukan wanita ini. Siapa dia mas?" Tanya Nadila heran.
Bergegas Irfan meletakkan jus jeruk yang dia bawa tadi di atas meja, lalu dia segera membawa Nadila duduk di sofa bersebarangan dengan Wanita itu.
"Maaf sayang, aku tidak memberi tahu mu. Aku juga tidak tahu kalau Rani akan datang kemari. Dia adalah Rani, sepupu ku dari kampung. Suami nya baru saja meninggal dunia dan dia sangat sedih. Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, agar dia bisa melupakan suami nya yang sudah tiada!" Irfan memberikan penjelasan pada Nadila.
Nadila memperhatikan wanita hamil yang bernama Rani tersebut, entah kenapa Nadila merasa tidak yakin kalau dia baru saja kehilangan suami nya. Dari raut wajah nya, seperti nya tidak ada sedikit pun kesedihan di sana.