NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Holy Kingdom. Ibukota. Gang sempit di belakang pasar malam.

Bau.

Slamet tidak tahu mana yang lebih dulu dia sadari—bau atau rasa sakit. Yang jelas, ketika kesadarannya kembali, hidungnya sudah terlebih dahulu memprotes. Bau got. Bau sampah. Bau tikus yang mati beberapa minggu lalu.

Dan kepalanya pusing. Bukan pusing biasa. Tapi pusing yang membuat dunia terasa miring. Seperti habis nonton layar HP sambil tiduran miring terlalu lama, tapi kali ini efeknya tidak mau hilang.

Dia duduk perlahan. Tangannya meraba lantai—lembab, berlumpur, dan ada sesuatu yang merayap di dekat jarinya.

Ah, gue mati lagi.

Ini yang kedua? Ketiga? Gak ingat.

Dia membuka mata. Gelap, tapi tidak sepenuhnya. Cahaya remang-remang dari ujung gang menerangi sekelilingnya. Tumpukan sampah. Kaleng-kaleng berkarat. Kain bekas yang sudah lapuk. Dan tikus. Seekor tikus besar sedang mengupil di sampingnya.

"Lo," kata Slamet ke tikus itu. "Gue di mana?"

Tikus itu tidak menjawab. Tapi tiba-tiba Slamet menyadari sesuatu yang aneh.

Dia ngerti.

Bukan ngerti bahasa tikus. Tapi lidahnya. Dia bisa mendengar suara dari kejauhan. Pedagang, pembeli, orang-orang yang lalu lalang. Dan dia mengerti apa yang mereka katakan.

Bahasa Elf? Bukan. Bahasa Theocracy? Bukan. Bahasa New World? Gak tahu. Yang jelas, gue bisa ngerti sekarang.

Dia menunduk. Di tangannya ada gulungan kertas kuno—remuk, basah, dan hampir hancur. Item translasi sekali pakai. Dia tidak tahu kapan mengambilnya, tidak tahu dari mana asalnya. Tapi efeknya sudah terasa.

Ya udahlah. Yang penting gue bisa ngomong sama orang. Gak perlu gestur kayak monyet lagi.

Dia berdiri. Kakinya lemas. Tubuhnya pegal. Pakaiannya bau. Benar-benar bau. Kaos oblong lusuh, celana pendek kumal, dan sandal jepit... sial, tinggal satu lagi. Kaki kirinya telanjang. Dingin. Kotor.

Anjir.

Dia meraba jidatnya. Gatal. Ada sesuatu di sana—kasar, seperti bekas luka kecil. Tapi dia tidak punya cermin. Tidak tahu bahwa tanda segitiga hitam kedua sekarang muncul di jidatnya, persis di antara alis.

Tanda pertama ada di pergelangan tangan kiri. Tanda kedua di jidat.

Dia tidak tahu artinya. Tidak tahu bahwa semakin banyak tanda, semakin sedikit dirinya menjadi manusia.

Yang dia tahu, perutnya keroncongan. Keras. Nada protes yang tidak bisa diabaikan.

"Udah, sabar," gumamnya.

Dia berjalan keluar gang. Menuju keramaian.

Pasar bawah Holy Kingdom tidak pernah sepi.

Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Ibu-ibu rumah tangga menawar harga. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa.

Di tengah semua itu, Slamet berdiri. Kusut. Sandal jepit satu. Wajah lelah. Mata kosong.

Beberapa orang menatapnya aneh. Beberapa menghindar. Seorang ibu menarik anaknya menjauh, seolah takut tertular penyakit.

Slamet tidak peduli. Dia sedang membaca papan pengumuman di depan sebuah toko kecil.

Tulisan tangan budaya setempat, tapi bisa dia baca dengan jelas:

"DIBUTUHKAN KURIR PAKET.

Pengiriman antar toko dan rumah warga.

Upah per paket: 1 koin tembaga.

Tanya ke pemilik toko."

Slamet menatap papan itu.

Kurir. Antar barang. Upah koin tembaga. Mungkin cukup buat beli roti.

Dia masuk ke toko.

Pemilik toko adalah seorang pria tua dengan kumis tebal dan ekspresi curiga.

"Ada yang bisa dibantu?" tanyanya, mengamati Slamet dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Slamet menunjuk ke papan di luar. "Gue mau daftar kurir."

Pria tua itu mengernyit. "Kau? Kelihatannya kau lebih butuh makan dan mandi daripada kerja."

"Gue tahu. Tapi gak punya uang buat makan. Jadi gue kerja dulu, dapet uang, baru makan."

Pria tua itu terdiam. Lalu menghela napas. "Kau bisa baca?"

"Iya."

"Tahu wilayah sekitar?"

"Gak tahu. Tapi bisa tanya-tanya."

"Bisa bawa barang tanpa merusaknya?"

"Gue pernah bawa yang lebih berat dari ini. Dulu pas joki rank, gue bawa tiga HP sekaligus."

Pria tua itu tidak mengerti apa itu HP atau joki rank. Tapi dari nada bicara Slamet—datar, malas, namun tidak seperti orang yang sedang berbohong—dia memutuskan memberi kesempatan.

"Percobaan tiga hari. Kalau kau terbukti berguna, kau bisa lanjut. Upah satu koin tembaga per paket. Diberikan setiap sore. Datanglah besok pagi."

Slamet mengangguk. "Oke."

Dia keluar dari toko. Bunyi sandal jepitnya yang khas terdengar di atas batu paving yang basah oleh embun pagi.

Plak. Plok. Plak. Plok.

Dia tidak tahu bahwa di tempat lain, di Kerajaan Elf yang hancur, seorang penguasa undead sedang mengalami breakdown mental terbesar dalam hidupnya.

Dia tidak tahu bahwa para Guardian Nazarick bersiap untuk perang habis-habisan melawan Theocracy.

Dia tidak tahu bahwa namanya—The Destroyer—telah menjadi legenda yang membuat seluruh benua gempar.

Yang dia tahu, besok dia harus mulai antar paket.

Dan semoga paketnya tidak berat.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!