"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 6
"Mas Ervin?"
Nama itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepala Dinda. Tubuhnya langsung menegang, sementara pandangannya memburam dalam hitungan detik. Bahkan suara bising di sekitar rumah sakit mendadak terasa jauh.
Bu Indri yang berdiri di sampingnya, sama sekali tak menyadari perubahan wajah sang asisten. Wanita itu justru sibuk mendesak resepsionis untuk mempercepat langkah mereka menuju ruang persalinan.
"Mari lewat sini, Bu," ujar perawat tersebut sembari berjalan lebih dulu.
Sedangkan Dinda, ia masih terpaku di tempatnya. Jantungnya berdetak kacau. Tangannya mulai terasa dingin.
Tadi pagi, ia menerima pesan misterius. Lalu sikap Ervin berubah drastis. Dan sekarang... nama suaminya muncul sebagai pendamping seorang wanita yang akan melahirkan.
"Din?" panggil Bu Indri yang sudah berjalan beberapa langkah di depan. "Kamu kenapa?"
Dengan susah payah, Dinda menarik napas panjang. Ia berusaha terlihat biasa saja meski rasanya tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
"Nggak apa-apa, Bu," sahutnya pelan. Bohong. Jelas-jelas dirinya tidak baik-baik saja.
Namun, Dinda memilih berjalan mengikuti langkah sang atasan. Sepanjang lorong rumah sakit, pikirannya terus dipenuhi banyak kemungkinan buruk yang saling bertabrakan.
Tidak, ia belum boleh menyimpulkan apapun. Bisa saja ada pria lain yang bernama Ervin. Bisa saja ini semua cuma kebetulan.
Namun semakin dirinya mencoba menenangkan diri, hatinya justru semakin terasa sesak.
Begitu lift terbuka di lantai tiga, aroma khas rumah sakit langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya. Suasana di sana cukup ramai oleh beberapa keluarga pasien.
"Ruang persalinannya di ujung sana, Bu," ucap sang perawat.
Langkah Bu Indri semakin cepat, sedangkan Dinda justru mulai melambat. Entah kenapa, kakinya terasa sangat berat untuk bergerak lebih jauh.
Sampai akhirnya—netra Dinda menangkap sosok yang sangat familiar.
Pria tinggi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung kasar itu, berdiri membelakangi mereka. Rambutnya sedikit berantakan, sementara kedua tangannya sibuk mencengkram kepalanya sendiri.
Dinda langsung mengenali sosok itu hanya dalam sekali lihat. Ervin—suaminya.
Saat itu juga, seluruh tubuh Dinda terasa melemas. "Astaga..." lirihnya nyaris tanpa suara.
Sementara Bu Indri, wanita itu langsung berjalan cepat menghampiri Ervin dengan wajah penuh emosi.
"Kurang ajar kamu!" bentaknya tanpa aba-aba.
Plak! Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Ervin. Sontak beberapa orang di sekitar menoleh.
Sedangkan Ervin, pria itu sama sekali tidak melawan. Kepalanya bahkan masih tertunduk, seolah menerima semua kemarahan tersebut.
"Kalau bukan karena anak saya hamil, saya nggak sudi lihat muka kamu lagi!" amuk Bu Indri dengan napas memburu.
Namun Dinda... Ia justru berdiri membeku beberapa meter dari mereka.
Dunia seakan berhenti berputar. Semua dugaan buruk yang sejak tadi berusaha ia tepis, kini runtuh begitu saja di depan matanya sendiri.
"Din..." lirih Ervin begitu menyadari keberadaan sang istri. Netra kelam pria itu langsung melebar panik.
Sedangkan Dinda hanya menatapnya kosong.
Tatapan wanita itu tidak marah. Tidak berteriak. Tidak menangis histeris. Justru itu yang membuat Ervin semakin takut.
Karena tatapan Dinda terasa sangat asing. Seolah seluruh rasa cintanya mendadak hilang dalam satu waktu.
"Kamu..." suara Dinda terdengar pelan dan bergetar. "Jadi ini alasan semua sikap aneh kamu belakangan ini?"
Ervin langsung mendekat panik. "Sayang, aku bisa jelasin—"
"Jangan sentuh saya!"
Kalimat itu sukses membuat langkah Ervin terhenti.
Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, Dinda memanggil dirinya dengan sebutan 'saya'.
Bukan aku, bukan Dinda, bukan sayang. Melainkan jarak dingin yang menusuk.
"Aku mohon dengerin aku dulu..." pinta Ervin dengan wajah penuh penyesalan.
Namun Dinda justru tertawa kecil—tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Dengerin apalagi, Mas?" tanyanya lirih. "Kurang jelas apa yang aku lihat sekarang?"
Hening. Ervin benar-benar kehilangan kata-kata. Sedangkan Bu Indri nampak kebingungan menatap keduanya secara bergantian.
"Tunggu..." wanita itu mengernyit bingung. "Kalian saling kenal?" Dinda perlahan menoleh ke arah atasannya.
Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tetap berusaha tersenyum.
"Dia suami saya, Bu."
Deg.
Kalimat itu langsung membuat wajah Bu Indri memucat.
"A-apa?" gumamnya tak percaya. Tatapannya langsung berpindah ke arah Ervin yang kini menundukkan kepala penuh rasa bersalah.
"Jadi... selama ini..." napas Bu Indri mulai memburu. "Suami orang yang dimaksud Jenita itu... kamu?!"
Ervin memejamkan mata frustasi.
Sedangkan Dinda, wanita itu merasa seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat.
Empat tahun. Empat tahun dirinya mempertahankan rumah tangga ini. Empat tahun ia berusaha menjadi istri terbaik. Empat tahun menahan sedih karena belum diberi anak.
Dan ternyata... Suaminya justru memberikan anak pada perempuan lain. Sungguh Dinda merasa terlalu sakit.
"Aku nggak pernah niat nyakitin kamu, Din..." lirih Ervin dengan suara parau. Mendengar ucapan itu, Dinda langsung mengangkat wajahnya.
Air matanya mulai jatuh satu per satu.
"Nggak niat?" ulangnya dengan tawa kecil penuh ironi. "Mas sadar nggak sih, ucapan kamu itu lucu banget?"
Ervin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Aku khilaf—"
Plak!
Kini giliran Dinda yang menampar wajah suaminya. Tamparannya tidak terlalu keras. Namun, cukup membuat Ervin terdiam sepenuhnya.
"Khilaf?" suara Dinda mulai meninggi. "Orang khilaf itu satu kali, Mas! Bukan sampai punya anak!"
Napas wanita itu memburu hebat. Seluruh emosinya yang sejak tadi ditahan, perlahan mulai pecah.
"Aku selalu percaya sama kamu..." tangisnya mulai pecah. "Bahkan waktu kamu berubah, aku masih bela kamu mati-matian di pikiranku sendiri."
"Dinda..." lirih Ervin.
"Tapi kamu apa?" lanjutnya dengan air mata yang terus mengalir. "Kamu malah tidur sama perempuan lain di belakang aku!"
"CUKUP!"
Bentakan Bu Indri membuat keduanya terdiam. Wanita paruh baya itu memegangi dadanya yang terasa sesak. Wajahnya nampak sangat hancur.
"Saya benar-benar malu..." lirihnya penuh penyesalan. "Saya nggak nyangka anak saya menghancurkan rumah tangga orang lain."
Tangisan Dinda semakin pecah mendengar hal tersebut. Sedangkan Ervin, mulai terlihat frustasi. Pria itu berulang kali mengusap wajahnya kasar.
"Aku salah..." gumamnya pelan. "Aku tahu aku salah."
"Terus sekarang apa?" tanya Dinda dengan tatapan penuh luka. "Kamu mau aku tepuk tangan karena kamu sadar diri?"
Hening kembali menyelimuti lorong rumah sakit. Sampai akhirnya—suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruang persalinan.
Semua orang langsung menoleh.
Pintu ruangan terbuka perlahan, lalu seorang perawat keluar dengan wajah lega.
"Keluarga Nyonya Jenita?" panggilnya.
Bu Indri langsung menghampiri.
"Bagaimana keadaan anak saya?"
"Persalinannya lancar, Bu. Bayinya perempuan." Kalimat itu membuat Ervin refleks mengangkat wajahnya.
Ada sorot haru yang muncul di matanya. Dan tanpa sadar... Dinda melihat semuanya.
Bagaimana mata suaminya berbinar saat mendengar kabar tentang bayi itu. Bagaimana ekspresi pria itu berubah begitu lembut. Seolah dunia Ervin hanya tertuju pada anak tersebut.
Saat itulah hati Dinda benar-benar runtuh. Karena ia sadar satu hal. Bayi itu... adalah darah daging suaminya. Anak yang selama ini tidak pernah bisa ia berikan.
"Aku pulang." Ucapan Dinda langsung membuat Ervin tersadar. Pria itu buru-buru mencekal pergelangan tangan istrinya.
"Jangan pergi sendiri, aku antar—"
"Untuk apa?" potong Dinda cepat. Tatapan wanita itu berubah dingin—sangat dingin.
"Mas sekarang punya keluarga lain yang harus diurus." Kalimat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di dada Ervin.
"Aku tetap suami kamu!" tegas pria itu.
Dinda tersenyum miris.
"Suami?" ulangnya lirih. "Suami macam apa yang ninggalin istrinya buat ngurus perempuan simpanan?"
"Dinda, please..."
Untuk pertama kalinya, suara Ervin terdengar benar-benar hancur. Namun, Dinda sudah terlalu lelah untuk peduli.
Wanita itu perlahan melepaskan cekalan tangan suaminya. Lalu, ia menatap tepat ke arah mata Ervin yang mulai memerah.
"Aku pernah bilang, kan?" lirihnya pelan. "Aku bisa maafin semua kesalahan kamu... kecuali perselingkuhan."
Deg.
Ervin langsung membeku.
Sedangkan Dinda, wanita itu berbalik pergi meninggalkan lorong rumah sakit dengan langkah yang terasa sangat rapuh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Ervin benar-benar takut kehilangan sang istri.