"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
"Paksu, bibir Ismut ini nggak kalah empuk lho dari guling yang Paksu peluk subuh tadi."
Bisikan nakal itu meluncur begitu saja dari bibir ranum Calla yang malam ini berkilat alami karena sapuan pelembap. Posisi tubuhnya saat ini benar-benar menguji seluruh ketahanan iman seorang Alaric Vance. Calla duduk melintang di atas pangkuan kokoh Alaric, dengan kedua kaki mulusnya sengaja mengapit pinggang tegap sang Komandan.
Alaric yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang kayu jati langsung membeku. Kedua tangannya terangkat menggantung di udara, sama sekali tidak berani menyentuh pinggang Calla yang hanya terbalut kain satin tipis berwarna merah marun itu.
"Calla, turun. Ini sudah lewat jam sebelas malam, waktunya tidur," ujar Alaric, suaranya terdengar sangat parau, ada getaran berat yang mati-matian ia tekan di dalam rongga dadanya.
"Nggak mau. Ismut kan belum dapet imbalan karena udah beliin Paksu mesin cuci kering otomatis yang super mahal tadi," sahut Calla manja. Ia memajukan tubuhnya, membuat aroma manis buah apel dari lehernya langsung menyerbu indra penciuman Alaric. "Masa Komandan Pasukan Khusus dikasih kado mewah cuma bilang 'terima kasih' aja? Kurang afdal tahu, Paksu."
Alaric menarik napas dalam-dalam, mencoba mengalihkan fokus otaknya yang mulai berjalan ke arah liar. "Lalu... kamu mau imbalan apa, Ismut? Besok saya pesankan martabak manis di depan pangkalan?"
Calla langsung mendengus geli, jemari lentiknya bergerak naik, menelusuri rahang tegas Alaric yang terasa sedikit kasar karena bayangan janggut tipis yang mulai tumbuh. "Ih, emangnya Ismut anak kecil apa disogok pakai martabak?"
"Lalu?" Alaric menatap lekat-lekat sepasang mata kucing di depannya.
"Ismut mau hadiah... ciuman di sini," bisik Calla polos tanpa beban, mengetuk bibir bawahnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. "Tapi bukan ciuman kilat tiga detik kayak yang Paksu lakuin diam-diam jam empat subuh tadi ya. Ismut maunya ciuman beneran, sebagai tanda terima kasih resmi dari suami Ibu Alaric."
DEG.
Jantung Alaric serasa hancur berantakan mendengar ucapan frontal istrinya. Wajah sangarnya dalam sekejap menghangat. "Kamu... kamu tahu soal subuh tadi?"
"Tahu dong! Ismut kan cuma merem, tapi hati Ismut tetep melek nungguin paksu khilaf," cengenges Calla, makin berani memajukan wajahnya hingga ujung hidung mungilnya bersentuhan dengan ujung hidung mancung Alaric. "Ayo dong, Paksu. Satu ciuman aja, masa nggak berani? Katanya tentara paling berani di pangkalan?"
Pertahanan Alaric yang dibangun kokoh selama puluhan tahun di medan perang seketika runtuh total akibat provokasi manis dari istri kecilnya. Rasa lapar dan gairah terpendam yang ia tahan sejak malam pertama mendadak membuncah ke permukaan, mengabaikan seluruh akal sehatnya.
"Kamu yang memintanya sendiri, Callanta. Jangan menyesal," bisik Alaric rendah, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh kepemilikan.
Sebelum Calla sempat membalas, tangan besar Alaric yang kapalan sudah bergerak kilat mencengkeram tengkuk Calla, menahan kepalanya, sementara tangan satunya lagi mengunci pinggang mungil Calla agar menempel sempurna pada dada bidangnya.
Alaric menundukkan kepalanya dan langsung memagut bibir ranum Calla dengan penuh penekanan.
"Eungh..." Calla melenguh pelan, matanya langsung terpejam rapat saat merasakan kehangatan bibir Alaric yang menyergapnya tanpa ampun.
Ini bukan sekadar tempelan tiga detik seperti subuh tadi. Alaric menghisap bibir atas dan bawah Calla secara bergantian dengan ritme yang lambat namun sangat dalam dan intens. Pria 38 tahun itu memimpin ciuman mereka dengan dominasi penuh seorang pria dewasa, menyesap setiap sudut kemanisan di belahan bibir Calla seolah-olah ia adalah musafir yang baru menemukan mata air di tengah gurun pasir.
Mendapat serangan se-intens itu, tubuh Calla mendadak lemas seperti jeli. Kedua tangan mungilnya secara refleks bergerak naik, meraba dan meremas dada berotot Alaric yang terbalut kaus dalam militer hitam. Kulit dada Alaric yang keras dan panas di balik kain kaus membuat ujung jari Calla bergetar hebat.
Sentuhan tangan Calla di dadanya seketika mengirimkan sinyal sengatan listrik yang membuat seluruh bulu kuduk Alaric merinding. Alaric mengerang rendah di tengah pagutan mereka, memperdalam hisapannya hingga Calla hanya bisa pasrah, mencengkeram bahu kokoh suaminya dengan sisa tenaga yang ada.
Waktu seolah berjalan sangat lambat di dalam kamar yang sunyi itu. Hanya ada suara kecapan halus dan deru napas mereka berdua yang saling memburu, memenuhi keheningan malam pangkalan.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu memabukkan, Alaric perlahan menjauhkan bibirnya. Ia melepaskan pagutan mereka dengan berat hati, menyisakan benang saliva tipis yang langsung terputus di udara.
"Haaah... haaah..."
Calla terengah-engah dengan wajah yang merah padam sepenuhnya. Bibir mungilnya kini tampak sedikit bengkak dan basah, sementara matanya sayu menatap Alaric dengan pandangan kosong yang sangat menggoda.
Alaric pun tidak jauh berbeda. Napas sang Komandan memburu anarki, dadanya naik turun dengan cepat menahan gejolak gairah yang sudah membakar bagian bawah tubuhnya hingga terasa sangat sesak dan menegang maksimal.
"Paksu..." panggil Calla lirih dengan suara serak yang teramat seksi.
Alaric buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Calla, menghirup aroma apel di sana dalam-dalam demi menenangkan detak jantungnya yang sudah seperti genderang perang. Kedua tangannya meremas pinggang Calla dengan sangat erat, menahan tubuhnya sendiri agar tidak berbuat lebih jauh.
"Tahan... Calla... Cukup untuk malam ini," bisik Alaric terbata-bata, suaranya sangat berat dan serak di dekat telinga istrinya.
"Kenapa? Padahal... Paksu juga mau kan?" tanya Calla polos, merasakan ketegangan luar biasa dari tubuh Alaric yang menempel padanya.
Alaric menarik kepalanya perlahan, menatap mata kucing Calla dengan tatapan mata elang yang penuh dengan kabut hasrat, namun ada ketegasan prinsip di dalamnya. Ia mengusap sisa air liur di sudut bibir Calla dengan ibu jarinya yang kasar dengan sangat lembut.
"Saya sangat menginginkanmu, Ismut. Sangat," aku Alaric jujur tanpa menutupi apa pun lagi. "Tapi tidak sekarang. Tidak di kamar rumah dinas ini dengan status kita yang baru sah secara agama."
Calla mengerjapkan matanya yang mulai jernih kembali. "Maksud Paksu?"
"Saya ingin menghormatimu, Calla. Saya ingin menjaga dirimu dengan terhormat," Alaric membelai pipi Calla yang masih terasa panas. "Kita tunggu sampai resepsi pernikahan resmi kita selesai bulan depan. Setelah semua keluarga dan negara menyaksikan pernikahan kita secara utuh... baru saya akan mengambil seluruh hak saya atas dirimu tanpa ada beban sedikit pun. Paham, Sayang?"
Mendengar kata 'Sayang' yang pertama kali keluar dari bibir kaku Alaric, ditambah dengan alasan yang begitu mulia dan penuh penghormatan, hati Calla mendadak meleleh sepenuhnya. Rasa kagum dan cintanya pada om-om tentara ini melesat naik menembus awan.
Calla tersenyum sangat manis, lalu menjatuhkan kepalanya di atas bahu kokoh Alaric, memeluk leher suaminya dengan erat.
"Paham, Paksu Komandan kesayangan Ismut," bisik Calla lembut, hatinya dipenuhi rasa aman yang luar biasa. "Ismut bakal tunggu sampai malam itu tiba. Tapi kalau cuma ciuman denda kayak tadi tiap malam... tetep boleh kan?"
Alaric mendengus geli, rasa tegang di tubuhnya perlahan mulai mengendur digantikan kehangatan yang menenangkan. Ia mengecup pucuk kepala Calla dengan sayang. "Boleh, Ibu Alaric. Tapi sekarang, turun dan tidur yang benar."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨