Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Pagi yang lembut mulai menyentuh tanah, membelai dedaunan yang masih berembun. Cahaya keemasan matahari merayap perlahan di sela-sela tirai kamar, membawa kehangatan yang mengusir sisa dingin malam. Di kamar mandi, derai air pancuran terdengar menenangkan. Alma berdiri di bawahnya, menunduk, membiarkan air mengalir dari ujung rambut hingga menyusuri punggung dan kakinya. Uap hangat mengepul, membungkus tubuhnya dalam kabut tipis.
Dengan gerakan pelan, ia menggosok telapak tangannya. Lapisan tipis seperti kulit mati mulai mengelupas, terlepas satu demi satu. Semakin dikupas, permukaannya kian melebar dan tampak sedikit menjijikkan. Potongan itu jatuh ke lantai marmer, tersapu aliran air yang mengalir menuju saluran pembuangan.
Bukan kulit mati sesungguhnya. Melainkan silikon halus yang ia gunakan untuk menyamarkan sidik jarinya, lapisan tipis yang semalam ia lupa lepaskan. Sesaat, Alma memandangi telapak tangannya yang kini tampak bersih dan polos, lalu menghela napas singkat. Ia melanjutkan ritual mandinya, membilas sisa busa sabun, kemudian keluar untuk mengeringkan tubuh.
Dengan rapi, ia mengenakan seragam sekolah, menyisir rambutnya hingga jatuh teratur di kedua bahu. Sebuah pita kecil berwarna hitam ia sematkan di samping kepala, menambahkan sentuhan anggun yang kontras dengan wajahnya yang masih menyimpan sisa kantuk.
Tangga kayu berderit pelan saat langkahnya menurun menuju lantai dua. Aroma roti panggang dan teh melati menyambutnya begitu ia tiba di ambang ruang makan. Di sana, Isabella duduk anggun di ujung meja, Arthur di sisi kanan, dan Daniel yang tampak santai dengan lengan baju digulung. Mereka bertiga telah menunggu. Alma adalah yang terakhir tiba, sedikit terlambat dari jadwal sarapan keluarga.
Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan, tidak ada langkah tergesa membawa piring atau menuangkan minuman. Kediaman keluarga Morrison menjunjung tinggi kesetaraan; saat pemilik rumah duduk untuk makan, para pekerja pun beristirahat untuk melakukan hal yang sama. Tradisi ini telah mengakar turun-temurun, menciptakan suasana rumah yang lebih hangat dan manusiawi.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Alma lembut, menarik kursi dan duduk di sisi Isabella.
"Pagi juga, sayang," balas Isabella sambil tersenyum, tangannya membalik piring kosong Alma lalu menaruh hidangan ringan di atasnya. Potongan roti gandum hangat, olesan mentega, dan selai stroberi mengeluarkan aroma manis yang menggoda.
"Terima kasih, Mamah," ucap Alma tulus.
Sarapan berlangsung dalam suasana damai. Denting sendok yang menyentuh cangkir dan suara lembut obrolan kecil mengisi ruangan. Hingga Arthur, dengan suara tenang namun sarat ketegasan, memecah keheningan.
"Alma," ujarnya sambil menatap putrinya, "setelah semua kejadian kemarin... Ayah berharap kali ini kau benar-benar akan terbuka mengenai identitasmu."
Pisau mentega yang dipegang Alma berhenti di udara. Ia menatap Arthur, seolah berharap permohonan di matanya cukup untuk menghentikan pembahasan itu. Namun Arthur hanya menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Ayah tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Semua ini demi kebaikanmu."
Keheningan sejenak melayang di udara, hingga akhirnya Alma mengangguk pelan. "Baiklah..." jawabnya, nyaris berbisik.
Isabella tersenyum tipis, tatapannya penuh pengertian. Ia terlalu mengenal sifat putrinya, sedikit keras kepala, namun lembut di dalam. "Alma, percayalah... tidak ada yang akan berubah. Kau tetap bebas melakukan apa pun seperti sebelumnya. Kami tidak akan pernah membatasi langkahmu," katanya sambil mengusap punggung tangan Alma.
Alma menatap ibunya, lalu mengangguk dengan lebih mantap.
Daniel yang sejak tadi menyimak, menyandarkan punggung ke kursinya. "Lagi pula, Alma," ujarnya dengan nada ingin tahu, "Kakak masih tidak mengerti... apa sebenarnya tujuanmu menyembunyikan identitas?"
"Untuk ketenangan," jawab Alma singkat, menatap roti di piringnya.
Daniel terkekeh. "Ketenangan atau kebebasan?" godanya, mencoba mencairkan suasana.
Alma menoleh sebentar, tersenyum samar. "Mungkin... keduanya."
Arthur menghela napas, kali ini lebih ringan, sedikit lebih lega karena Alma tidak menolak. Sarapan pun berlanjut, diiringi sinar matahari yang menembus jendela besar, menciptakan kilau hangat di meja makan keluarga Morrison. Sebuah pagi yang terasa utuh dan harmonis.
🥀🥀🥀
Alma duduk anggun di kursinya, jemarinya membalik halaman demi halaman buku dengan ketenangan yang nyaris mustahil dimiliki oleh seseorang yang tengah menjadi pusat perhatian satu kelas penuh. Di antara suara gesekan kursi, bisik-bisik pelan, dan tatapan yang dilemparkan tanpa malu, ia tetap tak tergoyahkan. Seolah seluruh sorot mata itu hanyalah latar belakang yang tidak berarti. Ia sudah terbiasa. Tatapan yang menyelidik, mengukur, bahkan terkadang memuja atau mencibir, adalah bagian dari kehidupannya mulai sekarang.
Sejak ia melangkah turun dari mobil pagi ini, bahkan langkahnya menuju gerbang sekolah seperti sebuah pertunjukan gratis bagi para penonton yang haus akan bahan gosip. Seakan-akan setiap gerakan kecilnya terekam untuk dianalisis, disalahartikan, dan kemudian disebarkan seperti api yang menjilat keringnya dedaunan di musim kemarau.
Suara dentuman keras tiba-tiba memecahkan ritme hening itu.
Pintu kelas terbanting terbuka, menimbulkan gema yang memantul di dinding.
"ALMAAA!!!"
Suara milik Sherin menggema di seluruh ruangan, cukup nyaring untuk membuat beberapa siswa yang sedang menulis tersentak kaget. Langkah-langkah tergesa menghantam lantai, diiringi oleh Karin yang berjalan di belakangnya sambil meringis, kedua tangannya menutup telinga.
Sherin berhenti tepat di depan meja mereka, napasnya sedikit memburu, mata bulatnya membelalak seperti baru saja menemukan rahasia negara.
"Alma, kau... Kau ini... Astaga! Apa rumor di artikel itu benar? Kau... putri keluarga Morrison!"
Nada bicaranya bukan nada bertanya. Itu lebih menyerupai tuntutan yang tak memberi ruang untuk mengelak. Alma menutup bukunya perlahan, gerakan yang disengaja untuk memberi jarak pada interogasi yang akan datang. Ia tahu momen ini akan terjadi, cepat atau lambat dan semalam, gosip yang meledak di forum internal sekolah hanyalah undangan untuk kekacauan pagi ini.
Karin, yang kini berdiri di sisi Sherin, menatap dengan ekspresi yang lebih terkendali, meskipun sorot matanya memantulkan rasa ingin tahu yang sama. "Ya, aku juga penasaran. Kalau soal rumor orang lain, aku tidak mau ketinggalan," ucapnya datar, namun intonasinya menyiratkan ia menunggu pengakuan langsung.
Alma menarik napas tipis sebelum akhirnya menjawab, suaranya tetap tenang, tanpa riak. "Tenang. Aku akan menjelaskan semuanya... satu-persatu."
Karin melangkah setengah maju, matanya menyipit. "Jadi? Artikel itu benar?"
Hening sepersekian detik terasa panjang sebelum Alma akhirnya mengangguk.
Sherin langsung menutup mulutnya, menahan teriakan yang nyaris lolos, namun hanya bertahan sesaat.
"Oh. My. God!" serunya, kali ini setengah berbisik, setengah menjerit. "Kau dengar itu, Karin, Dia mengakuinya! Ini... ini adalah plot twist terbesar dalam hidupku! Teman semejaku ternyata putri dari salah satu dari lima keluarga konglomerat paling berpengaruh di negeri ini!"
Beberapa siswa di sekitarnya yang pura-pura tak mendengar, mulai saling melirik. Suara Sherin terlalu nyaring untuk diabaikan.
Sementara itu, Karin hanya mengangkat sebelah alis, reaksinya tetap jauh lebih dingin. "Jadi selama ini kau sengaja menyembunyikan statusmu? Tidak ada seorang pun di sekolah ini yang tahu?"
Alma memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tenang namun tegas.
"Aku tidak pernah menganggap itu sesuatu yang perlu diumbar. Lagipula, aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk menjadi headline gosip harian kalian."
Sherin langsung mencondongkan tubuhnya, ekspresinya penuh rasa ingin tahu, seperti seorang reporter yang baru saja mencium bau berita eksklusif. "Tapi, Alma... berita tentang putri keluarga Morrison bukanlah hal biasa. Ini sensasional! Dan kau harus sadar, mulai sekarang seluruh pusat perhatian akan tertuju padamu."
Alma menghela napas, bibirnya melengkung tipis, setengah senyum yang tidak benar-benar ramah.
"Percayalah, aku sudah cukup siap menghadapi segala drama yang akan menyusul."
Karin menyilangkan tangan di dada, nada suaranya berubah menjadi lebih menyelidik. "Kalau kau sudah siap, berarti kau juga sudah memikirkan konsekuensinya. Aku penasaran... bagaimana sekolah akan menanggapi ini. Apalagi, seorang Arcturus yang harusnya menjadi Polaris..."
"...dan Polaris hanya untuk yang memiliki pengaruh setara," potong Sherin cepat, matanya berbinar seolah pembicaraan ini adalah hiburan terbaik minggu ini.
Ia lalu menurunkan suaranya, meskipun semua orang di radius tiga meja masih bisa mendengar. "Hei, kalian tau ada satu hal lagi yang menghebohkan. Kabarnya... akan ada siswi baru pindahan dari luar negeri. Dan gosipnya, dia bukan orang sembarangan. Kau tahu sendiri, pertengahan semester bukan waktu biasa untuk menerima siswa baru, kecuali dia punya koneksi yang sangat kuat."
Karin menoleh cepat. "Dari keluarga mana?"
Sherin mengangkat bahu, senyum penuh misteri bermain di bibirnya. "Belum ada yang tahu pasti. Tapi yang kudengar, dia akan ditempatkan di kelas kita."
Tatapan Alma meredup sedikit, seolah awan kelabu merayap di langit biru. Ia tetap diam, membiarkan Sherin menikmati sorot mata penuh rasa ingin tahu yang mengelilingi mereka. Dalam benaknya, ia sudah tahu bahwa 'orang itu' akan segera datang. Kehadirannya bukan kebetulan, melainkan langkah pertama dari permainan panjang yang akan menguji kesabaran, kecerdikan, dan mungkin... kesetiaan.
Permainan yang memakan waktu, memutar balik kebenaran menjadi ilusi, dan memaksa topeng-topeng yang selama ini rapi melekat untuk jatuh satu per satu.
Dan Alma... ia ingin tahu.
Di antara kedua wajah yang tersenyum ramah dan mata yang berpura-pura jernih, siapa yang akan menjadi yang pertama dilucuti topengnya.
🥀🥀🥀
"Jasmine, ini untukmu."
Langkah Jasmine yang baru saja meninggalkan gerbang sekolah menuju mobil pribadinya terhenti. Seorang pemuda tampan berdiri menghadangnya, menyodorkan sebuket bunga lili putih yang segar dan harum.
Jasmine menerima buket itu dengan senyum manis yang tampak begitu memikat. "Terima kasih, Derby," ucapnya lembut.
Derby, yang tak lain adalah pemuda tersebut, tersenyum lebar penuh kebahagiaan, terutama karena bisa melihat senyum itu hanya untuknya. "Sama sekali tidak masalah. Malam ini... apakah kau memiliki acara? Aku sebenarnya ingin..."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Jasmine memotong dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Maaf, Derby. Malam ini aku sudah memiliki janji dengan mamaku."
Senyum Derby sempat meredup, namun segera ia paksa kembali. "Ah... tentu saja, tidak masalah." Dalam hati, ia sedikit lega, setidaknya penolakan itu bukan karena ada pria lain. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok di sekolah."
Begitu punggung Derby menghilang dari pandangan, senyum manis Jasmine lenyap seketika, berganti dengan tatapan dingin penuh rasa muak. Ia melempar buket bunga itu ke arah sopir pribadinya. "Buang benda menjijikkan itu," ujarnya datar sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.
Sang sopir, tanpa bertanya, melaksanakan perintah. Buket lili yang tadi begitu dijaga Derby kini berakhir di tempat sampah pinggir jalan, lalu ia kembali duduk di kursi kemudi.
Mobil bergerak melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan yang menanjak menuju kawasan perbukitan. Di sana, deretan vila-vila mewah berdiri anggun bak istana pribadi. Kendaraan itu akhirnya berbelok memasuki gerbang tinggi salah satu vila, yang dijaga ketat.
Jasmine turun, langkahnya ringan namun penuh sikap angkuh. Tasnya ia lempar begitu saja kepada seorang pelayan yang sigap berdiri di dekat pintu masuk.
Di ruang utama yang luas dan dingin, seorang wanita paruh baya dengan penampilan menawan tengah duduk santai, menyesap teh melati dari cangkir porselen. Ia adalah Erika, mamahnya.
"Kau sudah datang," ujar Erika datar, hanya melirik sekilas sebelum meletakkan cangkir. Tanpa basa-basi, ia menambahkan, "Malam ini kita akan kembali. Persiapkan dirimu."
Jasmine hanya duduk di sofa yang sama, bersandar santai, memancarkan aura acuh tak acuh.
"Dan ini," Erika menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Tugas dari ayahmu setelah kita kembali nanti. Jangan membuatnya kecewa."
Dengan gerakan malas namun penuh rasa ingin tahu, Jasmine merobek segel amplop tersebut. Isinya, tiga foto lelaki berbeda, lengkap dengan data pribadi mereka. Bibirnya melengkung dalam tawa pendek. "Strategi ayah rupanya berubah? Atau... pewarisnya mulai kehilangan kemampuan?"
Tatapan Erika mengeras. "Jaga sikapmu di sana nanti, Jasmine. Ini adalah kesempatan kita. Jangan sia-siakan."
Jasmine menoleh, senyumnya tipis namun sarat sindiran. "Tentu saja. Lagipula, kalau bukan aku yang memulai semua ini... apa itu kau, Mamah? Kita tidak akan berada di pengasingan seperti ini kalau kau dulu punya kekuasaan yang lebih besar. Kau hanya memiliki status bayangan sebagai seorang simpanan yang disingkirkan oleh istri sahnya. Kalau saja kau lebih pintar memainkan permainan ini, kursi istri Perdana Menteri sudah menjadi milikmu sekarang."
Kata-kata itu bagai bilah tipis yang menyayat, namun Erika tidak bisa membantah. Semua yang diucapkan putrinya adalah kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
Jasmine kembali menatap foto-foto itu, jemarinya mengusap permukaan kertas seakan membelai wajah-wajah yang terpotret. "Tapi tenang saja, Mamah. Aku akan menjalankan perintah ayah dengan senang hati. Ini... akan menjadi permainan yang menyenangkan. Menaklukkan mereka tidak akan sulit bagiku. Aku bahkan bisa membuat mereka berlutut... mencium kakiku."
Mata Jasmine berkilat. Ketiga lelaki itu, Kaiden, Leon, dan Calvin. Bukan sekadar target. Mereka adalah trofi yang akan ia rebut dan pajang di lemari kemenangannya. Ia akan menjadi umpan yang begitu manis, hingga para "lebah" itu tidak akan pernah bisa keluar dari sarangnya.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?